Wednesday, 6 February 2019

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 18

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 18




Translator : Sai Kuze

Chapter 18 - Rencana Kolaborasi [Bagian 1]


Hanya beberapa orang saja yang akan mengunjungi ruangan ini, maka aku membuka pintu dan mengundang orang yang mengenakan jubah abu-abu.

Bahkan dengan jubahnya, mudah untuk mengidentifikasi orang yang dimaksud berkat dadanya yang sangat diberkahi sementara dia menatap Chiome yang sedang memberi makan Ponta, buah beri kering.
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 18

Saturday, 2 February 2019

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 17

Translator : Sai Kuze

Chapter 17 - Ibukota Olav [Bagian 2]


Ada topi besar di kepalanya dan matanya menatap langsung ke arahku. Dia memiliki rambut hitam pendek dan mengenakan pakaian hitam yang sepertinya memudahkannya untuk bergerak.

Meskipun tingginya hanya sekitar 150 cm, sarung tangan di lengannya, pelindung kakinya dan belati di pinggangnya tidak memberikan kesan seorang gadis kota.


Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 17


Mata gadis itu tertuju pada Ponta sejenak sebelum menatapku kembali.
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 17

Sunday, 20 January 2019

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 16

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 16



Translator : Sai Kuze

Chapter 16 - Ibukota Olav [Bagian 1]


Hari berikutnya, Ariane dan aku berteleportasi ke lokasi yang menghadap gerbang kota Hoban menggunakan 【 Transfer Gate 】. Kami tidak berlama-lama, lalu aku langsung mulai menggunakan 【 Dimensional Step 】 berulang kali untuk melanjutkan perjalanan ke arah ibukota Rhoden.

Elf yang kami selamatkan kemarin berada di rumah Dylan di Raratoia dan bersiap untuk meninggalkan desa keesokan harinya.

Tadi malam aku benar-benar menikmati hidangan lezat dan mandi di rumah Ariane. Ketika aku mendapatkan sebuah rumah, aku akan memastikan diriku akan menikmati yang namanya mandi.
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 16

Saturday, 12 January 2019

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 15

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 15



Translator : Sai Kuze

Chapter 15 - Pemberontakan di Hoban [Bagian 2]


Saat fajar, aku melirik ke langit yang belum menunjukkan jejak-jejak sinar mentari.

Hoban terasa senyap sementara ketegangan di udara terus meningkat dan menyebar ke seluruh kota.

Satu-satunya suara yang bisa didengar adalah suara Ariane, Sil, dan kakiku saat kami berjalan menuju jembatan batu sejak kemarin.
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 15

Saturday, 24 November 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 14

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 14



Translator : Sai Kuze

Chapter 14 - Pemberontakan di Hoban [Bagian 1]


"Bahkan jika kau mengatakan itu akan menimbulkan masalah, kami tidak dapat memenuhi tujuan kami jika kami tidak memasuki kastil."


Ariane berbicara dengan nada kesal kepada anak laki-laki yang memangang tangannya di depannya.

Anak laki-laki ini telah memberitahukan lokasi jalan rahasia menuju kastil kepada kami, namun dia mengatakan kepada kami untuk tidak menggunakannya.
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 14

Saturday, 17 November 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 13

Translator : Sai Kuze

Chapter 13 - Mengunjungi Hoban [Bagian 2]


Ariane dan aku saat ini mengikuti anak laki-laki itu melalui gang-gang sempit.

Kami sepertinya menuju ke arah gerbang selatan, dekat dengan tempat kami berteleportasi memasuki Hoban.

Ketika kami meninggalkan area pusat kota yang tak terawat yang mengelilingi istana feudal lord, jumlah orang-orang yang berlalu-lalang dan rumah-rumah yang bagus secara bertahap berkurang, berjalan menuju daerah dengan suasana sepi.

Ketika anak laki-laki itu berhenti begitu kami mencapai daerah kumuh yang berjajar di dinding selatan kota.

Bau busuk dan binatang yang aneh menutupi tanah, bau yang tidak sedap, dan bahkan Ariane sampai meringis di dalam jubahnya.


"Di sini."


Namun, sepertinyanya terbiasa dengan baunya, bocah itu berjalan menyusuri gang rumit dan sempit itu sebelum memasuki salah satu gubuk.

Atapnya agak rendah jadi aku harus membungkuk ketika memasukinya, dan gubuk memiliki banyak lubang dengan empat orang di dalamnya.

Ada seorang gadis lajang yang tidur di bawah selimut kain tua di dalam gubuk, dan bocah laki-laki itu dengan perlahan mendekati gadis itu sebelum menggelengkan kepala dengan lembut.


"……Onii Chan?"


Sepertinya usianya terpaut satu tahun antara anak laki-laki itu dan gadis yang memanggilnya.

Dia memiliki rambut hitam seperti anak laki-laki itu, tetapi miliknya agak panjang dan tidak terawat.


“Bagaimana kamu mendapatkan luka itu? Apakah para penjaga yang melakukan ini padamu?”


Ketika gadis itu benar-benar bangun, dia perlahan duduk dan memandang cemas ke arah kakaknya sementara air mata mulai berkumpul di matanya.


“Ini tidak ada apa-apanya. Aku membawa seseorang yang bisa menyembuhkan kakimu.”


Anak laki-laki itu menyeka darah dari sudut mulutnya ketika dia menjawab sebelum mengalihkan pandangannya ke arahku seolah-olah menyuruh memperkenalkan diri.

Gadis itu mengikuti garis pandang anak laki-laki itu dan akhirnya menyadari kehadiran kami. Ketika dia melihatku, dia menjadi takut dan bersembunyi di bayangan anak laki-laki itu.


“Tidak perlu takut, aku bukan salah satu dari tentara atau ksatria feudal. Aku Arc, hanya seorang petualang biasa. Seseorang di belakangku adalah temanku. Maafkan kami karena telah membangunkanmu."


Gadis itu diam-diam membuka mulutnya ketika Ariane yang terselubung menawarkan anggukan kecil dengan mata masih tertutup, dan Ponta mulai menggoyangkan ekornya dengan cepat sementara dia masih dipegangi dekat dada Ariane.

Ekspresi gadis itu sedikit rileks ketika dia melihat Ponta.


“Tuan Arc, tolong sembuhkan kaki adikku Shea. Aku mohon padamu."


Anak laki-laki itu memiliki ekspresi serius saat dia menurunkan kepalanya ke lantai.

Sembari memberikan anggukan yang murah hati, aku menarik kembali selimut kain dari gadis yang disebut Shea untuk melihat kakinya.

Kaki kurus gadis itu diikatkan dengan potongan-potongan papan menggunakan tali.


"Aku bertanya pada seorang lelaki tua di lingkungan itu untuk memeriksa kakinya, tetapi dia mengatakan ini tidak bisa disembuhkan ..."


Anak laki-laki itu menjelaskan asal mula papan sembari melihat kaki adik perempuannya.

Papan-papan itu berfungsi sebagai penopang untuk kakinya karena kedua tulangnya patah. Aku tidak tahu apakah dia akan lumpuh atau bahkan tidak jika dia sembuh sendiri. Sepertinya perlu memakai sihir pemulihan tingkat menengah dari kelas bishop.

Ketika aku dengan lembut menggerakkan kakinya, Shea menjadi berlinang air mata dan meringis kesakitan.

Tulang-tulangnya sepertinya belum terbentuk.


"Sudah hampir sebulan, tetapi lukanya tidak menunjukkan tanda-tanda sembuh ..."


Aku memperhatikan anak perempuan itu yang sedang mengepalkan tangan dan hampir menangis.

Sangat penting untuk mendapatkan makanan yang tepat agar patah tulang bisa sembuh, dan mengingat keadaan tempat ini, sepertinya dia tidak mendapat makanan yang layak.


"Kau dapat mempercayaiku. 【 Major Heal 】."


Aku menempatkan tangan kananku di atas kaki Shea dan melemparkan mantra kelas bishop. Daerah lukanya tertutupi dengan cahaya yang hangat.

Kakak laki-lakinya hanya menyaksikan pemandangan yang fantastis itu dengan takjub.

Sementara Ariane hanya mendesah dan mengangkat bahunya saat dia melihat dari belakang.

Ketika aku menggerakkan tanganku, Shea menatap kakinya dan menyentuh mereka karena ketakjuban.


"Onii-chan, kakiku tidak sakit lagi ..."

"Benarkah!?"


Sementara anak lak-laki itu itu berteriak, Shea dengan senang hati melepaskan ikatan dari kakinya dan mencoba berdiri; Namun, dia tidak memiliki kekuatan di kakinya dan segera jatuh ke belakang.


“Tulang-tulang itu baru saja terhubung kembali. Jangan berlebihan."


Karena dia tidak menggerakannya selama hampir sebulan, kakinya telah kehilangan kekuatan untuk berdiri.

Dia juga tidak mendapatkan cukup makanan, seluruh tubuhnya setipis kayu mati. Dalam situasi ini, bahkan jika patah tulangnya sembuh, tulangnya bisa patah lagi setiap saat.


"Nak, ambil ini dan belikan adikmu sesuatu yang bergizi untuk dimakan."


Aku mengatakannya ketika aku mengeluarkan lima koin emas dari kantong kulit yang diikatkan di pinggangku dan mengulurkannya kepada anak lelaki itu.

Meskipun anak laki-laki itu terkejut sesaat, dia memfokuskan kembali pikirannya dan dengan cepat mengalihkan pandangannya dari koin.


“Aku Sil, bukan pengemis! Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya, anda tidak perlu mengasihaniku ?!”

“Bukan Sil, aku tidak menganggapmu pengemis. Aku tidak suka kebanggaanmu itu. Namun, kau perlu memikirkan apa yang paling penting bagimu sebelum kau menjawab. Daripada melihat ini sebagai mengasihani, terima ini sekarang dan membalas budilah dengan penuh semangat. Ini untuk adik perempuanmu.”


Aku menggunakan kalimat itu untuk membenarkan campur tangan kami, dan secara keseluruhan itu terdengar sangat persuasif bagiku.

Sil memikirkannya sejenak sebelum dia berbicara dengan malu.


"……Baik. Namun, tolong ubahlah koin itu menjadi tembaga bukan emas! Karena penampilanku, aku tidak bisa pergi berbelanja dengan koin emas.”


Sil tentu saja membuat argumen yang masuk akal.

Seorang anak dengan koin emas akan menjadi tanda yang mudah di daerah kumuh, dan aku menduga toko-toko itu akan menjual makanannya terlalu mahal.

Tidak, para penjaga yang agresif bisa juga merampasnya.


"Oh itu benar. Sil, kau lebih bisa diandalkan …… ”


Sedikit malu dengan kesadaranku, aku menawarkan beberapa pujian untuk Sil.


"...... Bukankah tuan ini terlalu ceroboh?"


Mengabaikan tawa Ariane yang tertahan di belakangku, aku mengambil kantong kulit dari tas koperku dan menyerahkannya pada Sil.

Selama waktu luang yang aku miliki ketika aku tinggal di penginapan, aku menyortir koin emas, perak, dan tembaga ke dalam kantung-kantung yang terpisah.

Kantung-kantung itu penuh sesak dengan koin, hingga 「 Jingle Jingle 」 bisa terdengar ketika kantungku jatuh ke tangan kecil Sil. Dia jelas-jelas terkejut dengan beratnya.


“Berapa banyak koin …… ada di sini ……”

“Seharusnya sekitar 300 koin. Aku dapat menambahkan beberapa perak jika kau suka?"


Ketika aku menawarkan untuk memberinya lebih banyak, Sil melihat kantung di tangannya sebelum dia menggelengkan kepalanya seperti mainan rusak.


“I-Ini lebih dari cukup! Tolong tunggu di sini sebentar.”


Sembari berdiri ketika dia berkata demikian, dia mengangkat papan lantai di sudut dan menyeka debu yang sama, memperlihatkan kotak kayu yang telah terkubur di tanah.

Sil melepas penutupnya untuk mengungkapkan sepuluh koin tembaga, dan dia seperti melindungi kantung itu dengan menempatkan kantung kulit di dalam kotak sebelum menutupnya kembali.

Sepertinya dia biasanya menyembunyikan uang dan barang-barang berharga di sana.

Ketika Sil selesai dia dengan malu-malu menurunkan matanya dan tersenyum sembari memberikan ucapan, "Terima kasih, tuan."

Tidak peduli di dunia mana kau berada, melihat senyum anak selalu meninggalkanmu dengan perasaan yang baik.


"Shea, kakakmu adalah anak yang baik."


Sementara aku terkekeh dan menepuk-nepuk kepala kakaknya, Shea mengangguk dengan senyum penuhnya saat kakaknya dipuji.



Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 13


» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 13

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12

  Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12




Udah lama nggak update, hampir setengah bulan yak, yah  mau gimana lagi, sibuk euy.
Garapin skripsi beberapa orang, kan mayan tambah-tambah selagi nganggur  😂


Translator : Sai Kuze

Chapter 12 - Mengunjungi Hoban [Bagian 1]


Keesokan harinya, aku menggunakan 【 Transfer Gate 】 untuk berteleportasi dari Raratoia menuju save point di pohon besar yang aku buat kemarin.

Setelah itu, tidak ada masalah dan kami berhasil mencapai Hoban sebelum tengah hari.

Bahkan, tidak terlalu jauh dari lokasi bekas penyerangan yang aku temui kemarin.

Kota Hoban terletak di dataran luas antara gunung Annette di sebelah utara dan gunung Parnassus di selatan. Di masing-masing kaki gunung, timur dan baratnya terdapat hutan belantara.

Hoban berada di tengah-tengah dataran dan dikelilingi oleh dinding luar berbentuk persegi.
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12

Tuesday, 30 October 2018

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 54 Bahasa Indonesia

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 54 Bahasa Indonesia



Translator : Sai Kuze

Chapter 54 - Menguasai Mantra Tunggal


Kami tidak lagi bertarung murni untuk pertunjukan, dan apa yang akan dimulai mulai saat ini adalah pertarungan sungguhan, berakhir sampai kami kehabisan stamina atau kalah dalam pertarungan.

Rodwell akan menggunakan seluruh kemampuannya sehingga akan sulit untuk menghindari seperti sihir sebelumnya. Dan karena alasan itu, aku menghabiskan batu sihir berharga untuk mengubah topografi arena tetapi ... dia tidak goyah.
» Anda baru saja membaca: Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 54 Bahasa Indonesia

Monday, 29 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 11

Translator : Sai Kuze

Chapter 11 - Strategi yang Terlupakan



Butuh sekitar tiga puluh menit sejak saat itu, kelompok sang putri menyelesaikan persiapan kereta lalu pergi ke arah timur, dan tak lama kemudian sosok mereka telah menyusut di kejauhan.

Aku menyingkirkan cabang pohon yang aku gunakan untuk menyembunyikan kepalaku.

Berdasarkan dengkuran yang terdengar, Ponta tampaknya tidur siang di atas pelindung kepalaku.

Berdiri perlahan agar tidak membangunkannya, aku mendesah pelan untuk menenangkan hatiku.

Hatiku tersapu ke arah di mana kereta itu menghilang dengan pikiran yang menyebabkan keringat dingin tak berhenti.

Apa yang aku pikirkan adalah seorang gadis bangsawan yang sederhana sebenarnya anggota dari beberapa keluarga kerajaan. Aku menghidupkan kembali mereka dengan sihir dan itu dianggap sebagai berkah para dewa.

Ketika aku menjadi cukup tenang untuk berpikir, aku menyadari kebangkitan adalah sihir yang sangat dicari, seperti sepasang saudara yang mencari batu filsuf untuk menghidupkan orang mati.
(TL Note: Mungkin referensi Fullmetal Ballcemist)

Manusia yang kubangkitkan tidak menjadi undead dan aku tidak melihat apapun sebagai efek sampingnya.

Sepertinya itu tidak selalu menghidupkan kembali semua yang mati, ada bagian-bagian yang kondisinya tidak jelas.

Ketegangan yang aku rasakan saat melemparkan sihir juga harus dipertimbangkan.

Meskipun sihir kebangkitan dan pemulihan adalah hal yang biasa dalam game, jika aku berlebihan di sini aku mungkin akan diakui sebagai orang suci atau sesuatu yang lain. Tidak, jika ditangani dengan tidak benar, hal itu bisa menghasilkan pembentukan agama baru. Maka akan ada kemungkinan agama baru memulai perang suci yang meliputi seluruh dunia.
(TL Note: Arc Kami-sama)

Akan berbeda jika itu adalah gadis desa atau putri bangsawan rendah yang dibangkitkan setelah kecelakaan, tetapi situasinya seratus kali lebih buruk karena itu adalah menghidupkan kembali putri yang telah terbunuh.

Satu hal yang pasti …… sejarah telah berubah selamanya.

───Tidak, di era seperti ini, bangsawan pastilah memiliki banyak putri, jadi sejarah tidaklah terlalu terpengaruh, …… Yah ku pikir sih begitu.

Selain itu, karena tidak ada saksi pastilah aku aman - mungkin inilah yang terbaik untuk menghindari menggunakan sihir kebangkitan sebanyak mungkin yang aku bisa.

Di dalam otakku, sebuah majelis nasional berkumpul sedang berdebat untuk mengatasi masalah ini.


“Hmm. Tidak ada yang terjadi."


Keputusan ini menang dengan mayoritas suara  terbesar dan dalam beberapa saat, masalah itu dilupakan.

Agar tidak menganggu Ponta, aku berbalik perlahan dan kembali menuju jalur tempatku datang tadi.

Waktu sudah berlalu cukup lama sejak aku meninggalkan Ariane di hutan. Mengikuti penanda yang aku tinggalkan, aku menggunakan 【 Dimensional Step 】 untuk menerobos hutan.

Tak lama, aku menemukan tiga serigala putih besar dengan kaki belakang mereka terikat dan tergantung di dahan pohon, kepala mereka tertuju ke tanah.

Di pangkal pohon tempat serigala bergelantungan, duduk seorang dark-elf wanita yang sepertinya agak merajuk.
(TL Note: ngambek)

Dia duduk dengan mengangkat lututnya menyebabkan puncak kembarnya terdorong keatas lebih dari biasanya; aku pikir dia terlihat senang saat melihatku, tetapi dia kembali merajuk sesaat kemudian.


“Oi! Kau ini kemana saja?"

"Uh, maaf. Aku sedikit tersesat.”


Aku mendorong semak ke samping dan meminta maaf padanya sebelum berjalan menuju pohon dengan serigala yang tergantung.


"Dengan begini darah sudah selesai dikeringkan ...... Tolong bawa kita ke Raratoia."

“Ah, itu benar! Seharusnya aku mencari lokasi teleportasi yang cocok… .. ”


Aku kelupaan, Ariane telah memintaku untuk pulang sebentar ke Raratoia dan itulah alasan yang aku lupakan sejak awal.

Mendengar pernyataanku, dia mulai menatapku dengan ekspresi tertegun, seolah-olah dia tidak bisa mempercayainya.

Protesnya dapat dimengerti, sekitar satu jam yang lalu, aku pergi dengan alasan untuk menemukan penanda lokasi yang cocok.


“Tunggu, aku belum selesai …… Aku melupakan tujuanku karena aku sibuk mencari jalan kembali. Kali ini, aku akan mencari penanda lokasi yang cocok.”


Saat membela diri, aku mengalihkan perhatianku kearah gunung Annette yang mengintip di atas pepohonan, dengan cepat memberi tahu Ariane tentang tujuanku berikutnya.

Mempercayakan Ponta padanya yang masih tertidur, aku dengan tergesa-gesa berlari melewati hutan dengan 【 Dimensional Step 】.

Mengharapkan perasaannya yang sedang kesal akan disembuhkan oleh wajah tidur Ponta, aku mulai mencari lokasi yang bisa digunakan untuk 【 Transfer Gate 】.

Sepuluh menit kemudian aku sampai di sebuah dataran yang luas.

Di tengah dataran ada pohon besar yang dikelilingi semak-semak.

Meskipun berada di tengah hutan, pemandangan ini cukup mengesankan.

Aku melirik pohon yang menjulang tinggi dan menyadari aku satu-satunya orang yang berada disini, yang menyaksikan bunga-bunga bermekaran.

Itu mirip sekali seperti di Jepang, dan jika ini adalah duniaku yang dulu maka disekitar pohon itu akan ada ikatan jerami Shinto, tidak diragukan lagi.
(TL Note: Itu lho pohon2 Jepang yang biasanya diiket pake lilitan jerami yang bentuknya kek Gespernya Sasuke pas jadi murid Orochimaru)


"Hmm, sepertinya tidak ada masalah di sini."


Sembari bergumam pada diriku sendiri di hutan, aku mengukir tempat misterius ini dalam ingatanku. Untungnya, itu tidak terlalu sulit dilakukan karena pemandangan ini begitu mengesankan dan aku dengan cepat berangkat.
.
Langit yang terlihat di antara cabang-cabang pepohonan telah berawan, dan perlahan hujan mulai turun dari langit yang berwarna abu-abu.

Setelah kami berteleportasi ke Raratoia, perjalanan kami melewati hutan mungkin terhambat oleh cuaca.

Aku menggunakan 【 Dimensional Step 】 untuk kembali ke tempat di mana aku meninggalkan Ariane dan Ponta dan mulai berjalan keluar dari semak belukar.

Kemudian, di hadapanku, aku melihat Ariane memendam wajahnya di perut Ponta.


  Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 11

» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 11

Saturday, 27 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 10

Akhirnya ada waktu nerjemahin ini projek !!!!
Yang nanyain PDF Volume 2, seperti yang sudah saya katakan, PDF dibuat tiap 1 volume kelar.
Dan Chapter 10 ini masih ada dipertengahan volume 2, so sabar wae.

Untuk jadwal update projek ini sendiri, bisa dilihat di halaman "Schedule".
Dan karena domain blog ini sudah diupgrade menjadi TLD, menyebabkan tidak akan muncul dipencarian dalam beberapa waktu kedepan. Mayan .com $1.25 minat PM.
😂 

Maka dari itu saya sangat mengharapkan para pembaca memberikan komentar dan juga menyebarkan postingan ini di akun sosmed masing-masing.




Translator : Sai Kuze

Chapter 10 - Sesuatu yang Tidak Masuk Akal


Di bawah langit yang gelap dan berawan, dibalik bayang-bayang pepohonan di hutan saat aku melangkah ke arah teriakan yang kudengar beberapa waktu yang lalu.

Bau darah secara bertahap mulai bercampur dengan angin, dan suara gemuruh telah mereda. Hanya suara kakiku yang bergerak menembus semak-semak yang dapat terdengar saat ini.

Tak lama, jalur itu memperlihatkan jalanan yang membentang di antara hutan dan jurang.

Aku sekarang berdiri di tepi jurang yang dalamnya sekitar tiga meter.

Banyak mayat tersebar di jalanan dan bau darah bercampur ke seluruh area.

Di beberapa tempat, lubang-lubang tanah dan beberapa kobaran api masih menyala disana-sini. Pertarungan sengit sepertinya baru saja terjadi.

Ada lima serigala besar sedang menyantap mayat yang berserakan di sekitar medan pertempuran ini. Mereka menggerogoti tubuh, dan suara patahan tulang bergema di seluruh area.

Kelima serigala pastilah para Haunting Wolves yang kami kalahkan beberapa saat lalu, karena beberapa dari mereka memiliki bekas luka dari Ariane.

Ketika para Haunting Wolves tengah menyantap mangsanya. Begitu mereka melihatku, yang muncul dari semak-semak, mereka mengangkat kepala mereka dan mununjukan taring mereka padaku sembari perlahan-lahan mundur.

Sorotan mata mereka yang penuh waspada terus berlangsung cukup lama.


"Hiyattt !!!"


Ketika aku mengangkat tanganku di langit dan menyerang dengan kecepatan penuh sembari berteriak, jubahku berkibar ditiup angin, Haunting Wolves berbalik dan berlari.

Teriakanku yang keras itu secara tak terduga cukup efektif; bahkan Ponta terkejut hingga ia melingkar di leherku, membentuk sebuah syal wol bahkan sebelum aku menyadarinya.

Meminta maaf kepada Ponta, aku mengelus-elus bulu lembutnya.

Sebuah kereta kuda hitam besar terhenti di dekat pusat mayat-mayat yang berserakan, dan mayat-mayat di sekitarnya adalah ksatria dengan armor yang bagus. Mereka sepertinya berusaha melindunginya.

Melihat pemandangan ini memunculkan kesan seorang bangsawan dan pengawal mereka.

Keempat kuda yang diikat di bagian depan kereta itu tampaknya sudah mati, tetapi dua kuda dibelakangnya yang tidak bisa pergi kemanapun sedang meringkuk sembari menggaruk-garuk tanah dengan kuku-kuku mereka.

Selain itu, beberapa mayat yang sepertinya bandit tersebar di seluruh wilayah, dan aku belum melihat satu pun yang masih bernafas.

Ketika aku melihat Haunting Wolves beberapa saat yang lalu, aku percaya apa yang terjadi di sini adalah karena keterlibatan Ariane dan diriku sendiri, tetapi sepertinya itu tidak benar.

Dengan ringan aku melompat dari tepi jurang sedalam tiga meter, lalu memastikan untuk tidak menginjak siapa pun saat aku semakin mendekat.

Mayat-mayat berarmor yang terlihat cocok sebagai para pengawal memiliki bekas luka dari pedang dan panah. Hampir tidak ada dari mereka yang memiliki bekas gigitan dari Haunting Wolves.

Ada beberapa tubuh yang telah hangus hitam, mungkin dikarenakan serangan sihir, tetapi beberapa dari mereka dibunuh menggunakan senjata manusia.

Sementara aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku berbalik ke arah bandit yang telah diserang oleh Haunting Wolves. Para pengawal kemungkinan besar telah mati pada saat bandit-bandit itu diserang.

Tubuh bandit di samping para pengawal tewas oleh pedang, tetapi kebanyakan dari mereka memiliki bekas gigitan dari Haunting Wolves. Ada seseorang yang kehilangan lengannya sementara yang lain terbaring di tanah dengan perutnya robek.

Ada mayat yang berpakaian seperti priest Shinto dan kepalanya hilang, tidak menyisakan apa pun kecuali mayat yang mengerikan.

Sembari memikirkan kekejaman dunia dan para dewa, aku berjalan menuju kereta, menghindari tumpukan mayat sebaik mungkin.

Pintu kereta terbuka, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan telah terjatuh darisana. Kereta itu berlumuran darah, dan seorang gadis bangsawan yang tewas dengan gaun mewah sedang berbaring di lantai.

Darah itu meresap ke dalam rambut pirangnya yang panjang dan membasahi bibirnya sementara itu dadanya memiliki luka yang jelas disebabkan oleh senjata tajam.

Berdasarkan posisi pengawal dan lokasinya di kereta, gadis ini sepertinya cukup penting.

Darahnya masih hangat dan kulitnya belum pucat, kemungkinan waktu kematiannya belum lama.

Aku bahkan bisa melihat bekas-bekas air mata di sudut matanya, namun matanya yang setengah tertutup itu kosong, meninggalkan gadis itu dengan ekspresi tertidur.


“Kyua〜 ……”


Ponta menjerit sedih sembari masih melilit di leherku.

Membelai kepala Ponta, aku akhirnya memikirkan salah satu kemampuan sihirku.

Aku tahu tidak ada gunanya menggunakan sihir penyembuhan pada orang yang sudah mati. Namun, kelas pope dan bishop memiliki sihir pembangkitan.

Itu adalah mantra dasar di dalam game, jadi pertanyaannya adalah apakah itu akan bekerja di dunia ini seperti kegunaannya di dalam game.

Jika aku tidak salah, kelas menengah bishop memiliki mantra 【 Revival 】 yang dapat membangkitkan seseorang dengan 10% dari total HP mereka. Bahkan jika seseorang dihidupkan kembali dengan 10% dari HP mereka setelah terluka parah, jika luka mereka tidak segera disembuhkan mereka akan sekarat dan mati lagi.

Kelas Pope level tinggi memiliki mantra 【 Revival 】 yang sepenuhnya menyembuhkan target, tetapi aku penasaran bagaimana mantra itu bekerja dalam kenyataan.

Perasaan tidak menyenangkan merayap ke arahku saat memikirkan kematian gadis muda itu, jadi aku meletakkan tanganku di atas tubuhnya dan mempersiapkan diriku untuk mengeluarkan mantra sihir.


"【 Revival 】"




Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 10


» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 10

Wednesday, 17 October 2018

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 53 Bahasa Indonesia

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 53 Bahasa Indonesia



Translator : Sai Kuze

Chapter 53 - Pertunjukan di antara yang Terkuat


Aku setuju untuk bertarung melawan kepala sekolah, dan rincian serta peraturannya sudah dipersiapkan sebelumnya.

Pertama-tama, tempat pertarungan adalah arena sekolah. Kami dapat bertarung sepenuh hati dan tidak dapat dihindari lagi menunjukan sihir-sihir kami kepada para siswa.

Tetapi jika kepala sekolah bertarung melawanku dengan serius, aku khawatir tentang dampak yang mengenai sekitar arena. Karena kami akan menggunakan serangan jarak jauh, kemungkinannya tinggi peluru sihir mengenai para penonton. Ketika aku memikirkannya, tampaknya penanggulangan untuk itu telah diatasi.

» Anda baru saja membaca: Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 53 Bahasa Indonesia