Saturday, 31 March 2018

Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 5


Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 5

Aku berkeliling untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kenalan ku di setiap tempat.


Aku tidak akan bisa kembali selama satu setengah tahun.

Jika ada masalah yang terjadi disana, maka mungkin butuh waktu dua tahun.


Dua tahun adalah waktu yang lama.

Tidak baik jika aku tidak melakukannya dengan benar hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.


Tempat pertama yang aku kunjungi adalah ruang anggota staf.

Ini tempat Jinas.

Tidak akan baik jika aku tidak memastikan untuk mengurus prosedur formal seperti mengurus pekerjaan kantor.


Sama seperti biasanya, dia memiliki setumpuk dokumen di depannya saat dia bekerja dengan penuh semangat.


"Permisi, wakil kepala sekolah Jinas."

"Ah, ternyata Rudeus-san. Sudah lama ya. Aku dengar kamu berhasil dalam eksperimen skala besar atau sesuatu di tempat Seven Star-san."

"Ya, itu berkat bantuan dari Zanoba dan Cliff."

"Begitukah?"


Sepertinya cerita dari eksperimen itu telah sampai ketelinga Jinas.

Aku bertanya-tanya bagaimana informasi tak terduga itu tersebar.


"Lalu, untuk apa hari ini?"

"Ya, aku harus melakukan persiapan untuk absen sekitar dua tahun atau lebih."

"Dua tahun kah?"

"Sesuatu yang penting telah muncul."

"Ternyata begitu..."


Bukannya aku berusaha menghindari topik itu, tetapi Jinas tidak mencoba menanyakan apa pun lebih dari itu.


"Aku mengerti. Aku akan mengurus dokumen untuk ketidakhadiran sementara dari sekolah, pada saat kau kembali, tolong tunjukkan dirimu di depanku lagi."

"Apakah tidak apa-apa absen selama dua tahun?"

"Jika itu adalah siswa normal maka itu tidak akan menjadi sesuatu yang baik, tetapi itu diizinkan sebagai hak istimewa khusus untuk siswa khusus."


Aku yakin itu seperti akan dianggap putus sekolah.


"Terima kasih banyak."

"Tidak, sistem siswa khusus adalah untuk itu."

"Lalu, selain itu bisakah aku meminta untuk mengizinkan siswa yang dikenal sebagai Elinalize untuk diperlakukan mengambil absen? Dia bukan siswa khusus, tapi dia bermaksud untuk pergi bersama dengan ku sebagai seorang pendamping."

"Begitukah ... aku mengerti. Akan kucoba membuatnya bisa entah bagaimana."


Jinas dengan senang hati mengatakannya.

Ini adalah pembicaraan yang sangat dihargai.

Aku mengucapkan terima kasih kepada Jinas dan meninggalkan ruangan anggota staf.



» Anda baru saja membaca: Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 5

Friday, 30 March 2018

Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 4

 Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 4

Ruang penelitian Cliff.

Setelah Cliff melihat kami, dia datang untuk menunjukkan kepada kami suatu alat sihi berbentuk popok dengan senyum diwajahnya.


"Coba lihat ini, aku sudah memperbaikinya sedikit dan itu menjadi lebih kecil. Dengan ini, bahkan jika kamu memakainya untuk waktu yang lama itu tidak akan terlalu ketat diselangkanganmu dan menyebabkan rasa sakit ..."

"Cliff-senpai, apa kamu mencintai Elinalise-san?"


Aku terganggu dengan kata-kata ku dan bertanya langsung ke intinya.

Cliff menatapku dengan wajah bingung.


"Itu sudah jelas, kan?"


Itu adalah wajah seperti ketika ditanya, [Kemarin, apakah kamu sudah makan?]

Seperti yang diharapkan dari dia, ku pikir.


"Apakah kamu berniat untuk terus mencintainya tidak peduli apa yang terjadi?"

"Tentu. Aku suka Lize. Kau tahu itu, kan?"

"Aku ingin mendengar kata-kata itu."


Aku menjelaskan situasinya.

Kemungkinan bahwa keluarga ku mengalami kesulitan.

Bahwa ayah ku memiliki hubungan yang mendalam sebagai teman dengan Elinalise dan dia ingin pergi membantu mereka.

Itu akan menjadi perjalanan yang panjang.

Selama waktu itu, probabilitas tinggi bahwa Elinalise akan berakhir berhubungan dengan pria lain.

Selain itu, aku berbicara tentang berbagai hal.


"..."


Cliff tetap diam sambil mendengarkan seluruh cerita.

Dan kemudian dengan datar mengatakannya.


"... Jika aku mencoba dan pergi bersamamu, aku tak kan bisa apa-apa dan menjadi beban."


Itu benar, tetapi kata-kata itu sulit untuk dibalas.

Orang yang menjawab bukan Aku, tapi Elinalise.


"Itu benar. Jujur, kekuatan fisik Cliff tidak akan mampu."


Jika itu adalah Elinalise yang biasa, maka dia akan terus lebih mononjol.

Namun, kali ini dia mengatakannya dengan jelas untuk menolak mentah-mentah.


"Aku mengerti..."


Cliff menatap kebawah dengan penyesalan.

Gerakan itu terasa seperti menikam dadaku.

Aku bertanya-tanya, betapa dia sangat peduli dengannya. [1]

Jika dia melakukan perjalanan, maka Elinalise tidak punya pilihan selain melakukan hubungan seksual dengan pria lain.

Tidak peduli berapa banyak Cliff menerima dia di dalam hatinya, bahkan jika dia mengerti bahwa itu karena kutukan, aku yakin itu masih sesuatu yang memilukan.


"Hei, Elinalise-san, kenapa kita tidak membawa Cliff-senpai. Dia bisa menggunakan sihir penghalang juga. Bahkan Exorcismnya sudah ditingkat Mahir. Pastinya dia mungkin kurang dalam kekuatan fisik, tapi aku yakin dia akan berguna ... "

"Tidak, tidak apa-apa Rudeus. Selama waktu kita bertualang bersama, aku hanya memperlambat kalian. Aku yakin, kali ini juga, bahkan jika aku ikut dalam perjalanan, aku akan berakhir sebagai penghalang. "


Sambil mengatakan itu, Cliff menempatkan alat sihir seperti popok di tanganku.


"Rudeus."

"Ya."

"Aku mempercayakan Lize kepadamu."

Sejujurnya, aku pikir dia akan menangisi tentang hal itu.

Namun, ternyata lebih dari yang aku duga, sepertinya Cliff memahami kekuatannya sendiri.


"Lize."


Cliff menghadap ke arah Elinalise.

Dan kemudian, dari ketinggian yang agak rendah darinya, dengan lembut memeluknya.


"Cliff.."


Kemudia keduanya saling berpelukan erat.


"Lize. Setelah kau kembali, mari kita adakan upacara pernikahan. Kutukan itu masih belum dihilangkan, tapi kita akan membeli rumah untuk kita berdua dan tinggal di sana bersama-sama. Aku sudah membuatmu merasa tidak nyaman karena kita hanya melakukan itu sampai sekarang kan? Itu mungkin terdengar seperti itu."

"Ah, Cliff, tapi kau tahu aku adalah wanita yang kejam. Kali ini juga, aku sebenarnya berencana untuk pergi diam tanpa memberitahumu."

"Upacara pernikahan akan menjadi upacara Milis, tapi apakah itu baik-baik saja? Meskipun Lize bukan orang yang percaya Milis .."


Aku ingin tahu apakah Cliff sengaja mengabaikan kata-kata Elinalise.

Dalam hal apapun, untuk Elinalise itu adalah hal yang baik.

Hanya dengan mendengar kata-kata itu dari Cliff, sepertinya dia diliputi emosi.


"Ah, Cliff..aku mencintaimu! Lebih dari siapapun di dunia ini!"


Elinalise mendorong Cliff.


Beberapa waktu kemudian Cliff telah ditelanjangi dan aku meninggalkan ruang penelitian.

Mulai sekarang, saatnya untuk mereka berdua.

Hambatan akan ditinggalkan di sini.


Namun, Cliff itu, dia benar-benar tahu perasaan Elinalise tidak nyaman dengan janjinya untuk menikah ketika dia mengatakan itu.



» Anda baru saja membaca: Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 4

Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 3


Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 3

Satu jam kemudian.


"Kalau begitu, mari kita putuskan rutenya."


Elinalise kembali ke kamarnya sendiri dan dengan cepat kembali membawa peta besar.

Untuk perjalanan itu pasti ada sesuatu yang dia siapkan dan tinggalkan.

Kami berdua mempelajari peta itu.

Jalan dan lokasi rinci dari kota-kota tidak ditulis, itu adalah peta sederhana dengan hanya bentuk benua dan lokasi pegunungan.


Beberapa hari belakangan ini Elinalise pasti sedang menyelidiki rute tercepat.

Lokasi kasar Lapan dan berbagai titik penting di sepanjang jalan memiliki tanda di sebelahnya.

Seperti dugaanku, ada dua rute.


"Untuk sementara semakin cepat kita tiba di Lapan, semakin baik bukan?"


Elinalise mengarahkan jarinya ke jalan pintas.

Rute yang masuk dari utara.


"Tapi, rute yang masuk dari utara berbahaya lho."


Rute ini berbahaya.

Kami juga tidak tahu jalan. Ini adalah rute di mana kita tidak punya pilihan selain melintasi benua yang berbahaya.

Aku memiliki kepercayaan diri yang cukup dalam kemampuan ku sendiri untuk melawan monster.

Tidak ada kekhawatiran tentang potensi tempur.

Meskipun aku mengatakan itu, tanah yang tidak dikenal masih menakutkan.


"Jika aku ingat dengan benar Rudeus, kamu bisa berbicara dengan bahasa Fighting God kan?"

"Eh? Ya. Walau tidak terdengar sangat asli."

"Kalau begitu akan lebih baik jika kita menyewa pemandu ketika kita sampai ditempat yang sebenarnya."

"Aku mengerti."


Mengikuti saran Elinalise kami memutuskan tentang rute dalam sekejap, karena dia biasa bepergian.

Setelah itu, kami secara kasar memutuskan alur perjalanan.


Pertama, kita akan membeli kuda di kota ini.

Kami akan melakukan perjalanan dengan jumlah barang bawaan yang minimal yang diperlukan sampai di Kerjaan Asura.

Jika barang bawaan terlalu berat maka kecepatan gerakan akan menjadi lamban.

Semakin enteng kita, semakin banyak jarak yang bisa kita tempuh.

Sepanjang jalan kami akan terus mengganti kuda-kuda kami, bergerak secepat mungkin menuju kota pelabuhan Asura.


Setelah kami tiba di kota pelabuhan Asura, di sana kami akan membeli dan menyiapkan peralatan dan makanan.

Khususnya bahan makanan, itu tidak menegaskan bahwa kita akan dapat membeli apa yang kita butuhkan di Benua Begaritto.

Harga barang di Asura sangat tinggi, tapi setidaknya dalam hal makanan, kita tanpa ragu dapat mengumpulkannya.


Setelah persiapan selesai, kita akan naik kapal ke Benua Begaritto.

Di kota pelabuhan kami akan menyewa pemandu.

Bergantung pada situasinya, kita bisa menyewa sejumlah pengawal juga.

Elinalise akan melakukan negosiasi pada saat itu. aku penerjemahnya.

Dengan bantuan pemandu kami akan melintasi Benua Begaritto dan tiba di Lapan.

Di sana kami akan bergabung dengan Paul dan yang lain dan memecahkan masalah.

Lalu kita akan kembali menggunakan rute yang sama.


"Setidaknya sampai Asura, ini adalah perjalanan yang sudah kita lakukan beberapa kali jadi itu akan baik-baik saja. Masalahnya adalah memilih apa yang kita bawa ketika akan ke Begaritto ..."


Ini tidak seperti kita bisa membawa apa saja dan segalanya.

Jika kita bisa mendapatkan sesuatu seperti kereta, itu akan mudah, tetapi Begaritto adalah tanah gurun yang selalu ditutupi pasir.

Kemungkinan besar ada beberapa jenis transportasi lain yang digunakan.

Jika aku membandingkannya dengan Benua Sihir, itu akan menjadi kawanan seperti kadal.

Menurut prediksi ku seharusnya ada sesuatu seperti unta.


"Itu adalah sesuatu yang akan kita selesaikan entah bagaimana bergantung pada pengalaman."

"Seperti yang diharapkan dari kebijaksanaan orang tua."

"Tolong jangan memujiku."


Aku juga seorang petualang selama lima tahun atau lebih.

Meskipun aku mengatakan itu, jika aku dibandingkan dengan veteran ternama seperti Elinalise, aku masih bisa menyebut diriku seorang amatir.

Hal itu lebih baik ku serahkan kepadanya.


"Karena kita memiliki kekuatan fisik, kita harus bisa bergerak dengan kecepatan yang sangat cepat."

"Benar."


Elinalise mungkin baik-baik saja, tetapi masalahnya adalah seberapa jauh aku akan mampu mengatasinya.

Aku telah melanjutkan pelatihan ku, tetapi aku masih bertanya-tanya apakah akhirnya aku akan memperlambat Elinalise karena dia sering bepergian.

Meskipun aku pikir itu akan baik-baik saja.


"Karena ada kuda yang dibesarkan untuk tujuan perjalanan jarak jauh di sekitar sini, itu pastinya ada."


Tujuannya adalah untuk tiba di Asura dalam waktu kurang dari dua bulan.

aku tidak tahu berapa lama perjalanan di kapal itu, tetapi kita bisa berasumsi satu bulan.

Tidak satu pun dari kami yang pernah ke Begaritto, tetapi karena tampaknya medan disana cukup sulit, kami akan mencoba pindah ke tujuan kami dalam waktu setengah tahun.


... Satu-satunya jalan akan memakan waktu sekitar delapan bulan.

Itu cukup cepat daripada yang diasumsikan sebelumnya.

Aku memiliki perasaan bahwa jika aku menggunakan sihir maka aku dapat mengurangi itu lebih banyak lagi, tetapi pemikiran yang dangkal dari seorang amatir dapat menyebabkan beberapa kesalahan. Sangat mungkin bahwa itu akan berakhir dengan mengambil waktu yang tidak perlu juga.

Di sinilah aku ingin pergi dengan metode kedatangan yang lebih dapat diandalkan.


Selain itu, ada berbagai hal lain yang perlu kita ingat ketika mengkonfirmasi satu per satu hal diperjalan.

Aku akan mengatakan, 'seperti yang diharapkan dari seorang veteran seperti Elinalise'.

Dia merapikan rincian untuk menghindari pertentangan pendapat yang muncul selama perjalanan.

Perselisihan yang sia-sia tidak dapat dihancurkan hanya dalam satu hari.

Bahkan sampai ke detailnya, kami mengkonfirmasi setiap hal.


"Masalahnya adalah..."


Pada akhirnya Elinalise meletakkan tangannya di dagu dan membuat wajah yang sulit.

Aku merasa bahwa kami memutuskan semua poin utama, tetapi aku ingin tahu apakah ada hal lain.


"Ini tentang kutukan ku."

"Ah..."


Jika dia tidak melakukan hubungan seksual dengan pria, dia akan mati.

Jika itu adalah perjalanan yang disengaja, maka itu baik-baik saja.

Tidak apa-apa untuk menemukan mitra yang relevan di kota yang ia hampiri.

Jika itu menjadi perjalanan yang panjang, maka ada kemungkinan juga untuk berpasangan dengan party dari suatu tempat juga.

Namun, dalam perjalanan terburu-buru, akan ada saat-saat ketika tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu.


".."

"...."


Kami berdua tetap diam.

Ada metode untuk mengatasinya.


Akan baik bagi ku untuk menjadi mitra.

Aku seorang pria juga.

Sebelum kami mamasuki akademi, itu berbeda dari saat aku membentuk party dengan Elinalise.

Jika aku diberitahu untuk bekerja sebagai mitra, maka aku bisa melakukan sesuatu seperti menjadi mitra.


Namun aku tidak ingin mengkhianati Sylphy atau Cliff.


"Selama perjalanan, Elinalise-san dan aku tidak bisa melakukannya."

"Ya itu benar."

"Mari kita coba menggunakan sesuatu seperti rumah bordil di jalan."


Selama perjalanan, kita tidak akan saling berpegangan tangan.

Kita harus membuatnya jelas.

Jika kita tidak melakukan itu, kita mungkin berakhir secara bertahap bergerak ke arah di mana kita akhirnya melakukan sesuatu.


"Kalau dipikir-pikir, salah satu alat sihir itu? Itu bisa melemahkan efek kutukan kan?"

"Jika aku membawanya keluar, maka Cliff akan .."

"Kamu tidak bermaksud bicara dengan Cliff kan?"


Sepertinya Elinalise bermaksud untuk diam-diam meninggalkan Cliff.

Tidak peduli apa, bukankah itu akan membuat Cliff sedih?


"Tidak ada gunanya jika kamu tidak berbicara dengan Cliff."

"Tetapi aku.."

"Tolong serahkan padaku. Aku tidak akan membiarkan ini berakhir dengan buruk."


Kami mulai menuju tempat Cliff.



» Anda baru saja membaca: Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 3

Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 2

 Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 2

Pertama aku memutuskan untuk berbicara dengan Elinalise.

Jika Sylphy mulai menangis ketika aku berbicara dengannya, maka mungkin semua tekadku akan pudar.

Pertama dengan membicarakannya dengan orang-orang terdekat, aku ingin memperkuat tekad ku.


Aku memanggil Elinalise ke ruang kelas yang kosong di sekolah.

Di sana, aku diberitahu bahwa aku telah memutuskan untuk pergi ke Benua Begaritto. Dia membuat wajah pahit.


"Kau tahu, Rudeus, aku bilang tetap berada disini?"

"Ya, tapi ..."


Sementara aku ragu untuk mengatakannya, Elinalise mengatakannya.


"Kau tahu, yang pertama, surat itu, mungkin saja Gisu melompat menuju kesimpulan?"

"Melompat menuju kesimpulan ya?"

"Aku yakin kamu juga tahu Rudeus, tapi pria itu kerap kali selalu melompat menuju kesimpulan tanpa mengkonfirmasi hal-hal penting dulu."


Yah, aku yakin ada hal-hal seperti itu juga.

Gisu adalah tipe yang tidak menceritakan seluruh kebenaran saat bergerak dan melakukan semua hal dibalik layar.


"Kali ini juga, kemungkinan itu sangat mungkin. Tanpa diduga, satu bulan atau lebih kemudian mungkin ada kasus kita mendapatkan surat yang mengatakan, [Penarikan Pernyataan Sebelumnya, Zenith Aman.]"

"Aku sudah mempertimbangkan kemungkinan itu juga."


Setelah melaksanakannya dan pada saat kami tiba di sana, Paul dan yang lainnya telah menyelesaikannya.

Itu akan menjadi perbedaan dalam penyampaian.

Itu pasti kemungkinan yang ada tapi ...


"Tapi, coba pikirkan sedikit, bukankah aneh kalau Gisu akan tahu lokasiku?"

"...Ha?"

"Waktu ketika aku mengirim surat setelah memutuskan tempat tinggal ku adalah satu setengah tahun yang lalu. Jika Gisu telah berada di Benua Begaritto selama lebih dari setengah tahun, bagaimana dia mengetahui lokasi kita dan mengirim surat?"


Hanya dengan bergerak, itu akan memakan waktu hampir satu tahun.

Bahkan mengirimkan surat akan memakan waktu yang cukup lama.

Ini tidak seperti kita bisa menggunakan ponsel atau surat.

Bahkan pengiriman ekspres khusus, membutuhkan lebih dari setengah tahun untuk tiba.

Waktunya tidak sesuai.


Jika Gisu telah bergabung dengan Elinalise, berpisah segera dan langsung pindah ke Benua Begaritto, maka itu akan tetap lebih baik.

Bagaimana mungkin seorang pria yang selalu berada di Benua Begaritto tahu lokasi kita?


"Kemungkinan besar, Gisu sudah bergabung dengan ayah dan yang lainnya. Kemudian dia mendengar lokasi ku dan mengirim surat menggunakan pengiriman ekspres."

"Lalu, mengapa pengirimnya Gisu?"

"Entah itu penilaian Gisu atau sesuatu yang berhubungan dengan harga diri ayahku, kurasa."

"Harga diri...?"


Elinalise meletakkan tangannya ke dagunya dan mempertimbangkannya.

Paul menulis surat yang dikirimkan kepada ku juga, bahwa dia menyerahkan semuanya kepada ku.

Hal itu mungkin mengganggu dan membuatnya sulit untuk meminta bantuan.


Elinalise menatapku.

Namun dia membuat [Hmm] dan mempertimbangkannya lagi.

Pada akhirnya dia akhirnya mengangguk setuju.


"... Itu tidak bisa dihindari, kan? Ayo kita berdua pergi bersama."


Aku tidak tahu kesimpulan macam apa yang dia dapatkan.

Namun, sambil tersenyum pahit, Elinalise mengatakannya.

Hampir seperti dia tahu itu akan berakhir seperti ini.


Kami akan pergi bersama ke Benua Begaritto sebagai party dua orang.

Itu rencana kita.



» Anda baru saja membaca: Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 2

Thursday, 29 March 2018

Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 1

 Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 1

Benua Begaritto.


Benua itu adalah daratan berbeda yang dipisahkan oleh lautan.

Tempat tujuan kami adalah Kota Labirin Lapan, pedalaman di sisi timur benua.


Ada dua jenis rute untuk menyeberang ke benua.

Metode perjalanan ke tepi Benua Tengah, kota pelabuhan Raja
Naga - East Port dan kemudian bergerak menyeberang dengan perahu.

Itu berarti kau memasuki Benua Begaritto dari sisi timur.

Ini agak tidak pasti, tapi itu adalah jalan yang aman.


Rute lainnya adalah rute menaiki perahu dari kota pelabuhan di Kerajaan Asura dan memasuki Benua Begaritto dari sisi utara.

Ini agak berbahaya karena itu berarti melintasi Benua Begaritto, tetapi itu dengan pasti dapat mengurangi waktu yang diperlukan.


Mempertimbangkan kedua hal itu, yang pertama akan memakan waktu 18 bulan.

Dan yang terakhir akan memakan waktu 12 bulan, atau setidaknya bisa dikatakan berada di kisaran itu.

Bahkan jika kita dapat menemukan beberapa metode yang efisien untuk bergerak, kita dapat mengatakan sejak awal masih tidak mungkin melakukan perjalanan pulang-pergi dalam waktu tujuh bulan.

Dengan kata lain, aku tidak akan tepat waktu untuk kelahiran anak ku.


Itu bukan satu-satunya masalah.


Kali ini aku benar-benar menentang saran Hitogami.

Meskipun, karena itu dia, fakta bahwa aku akan tidak taat itu mungkin ada dalam asumsinya.

Namun, jika aku menentangnya secara langsung, ku pikir ceritanya akan berbeda.

Jika aku mengatakannya, selama waktu kita menyeberang ke Benua Tengah, itu hampir seperti tidak pergi ke Kerajaan Shirone.

Tanpa pernah bertemu Zanoba, itu berarti Lilia dan Aisha akan tetap jadi tahanan.

Hanya, dalam hal ini, hal-hal mungkin telah berubah jadi aku tidak akan berakhir bertemu Orsted.

Jika aku melakukan itu, aku bertanya-tanya apa yang terjadi selama ini.

Tanpa masalah khusus, kami akan tiba di kamp pengungsi.

Namun, aku bertanya-tanya apakah itu akan berakhir dengan malam pertamaku bersama Eris dan kemudian berpisah?

Sekitar 10 tahun kemudian, setelah mencari tahu tentang Lilia dan yang lainnya, aku bertanya-tanya apakah aku akan menyesalinya.


Benar, pria itu mengatakan bahwa aku akan menyesalinya.

Saran dari terakhir kali tidak berubah dari saran kali ini juga, bahwa aku akan menyesalinya.

Kemungkinan besar itu bukan sesuatu yang terkait dengan waktu.

Jika aku pergi ke Benua Begaritto, aku akan menyesalinya.

Aku tidak tahu penyesalan seperti apa yang akan terjadi.


Ada beberapa hal yang dapat aku bayangkan.

Misalnya, bisa jadi ... aku mungkin kehilangan sesuatu.

Tangan kanan atau tangan kiri.

Atau, Paul atau Zenith ...

Tidak, aku harus berhenti memikirkannya terlalu dalam.


Bagaimanapun, jika aku memutuskan untuk tidak berangkat dan tidak pergi, maka aku akan berakhir dengan hidup satu atau dua tahun lagi dipenuhi rasa khawatir tanpa henti.

Sebagai akibatnya, jika aku mendengar pemberitahuan tentang seseorang yang telah meninggal, mungkin aku dikritik oleh Paul atau Gisu yang telah usang.


Ada sejumlah kemungkinan.

Aku tidak punya pilihan selain pergi.

Meskipun tahu aku akan menyesalinya.




» Anda baru saja membaca: Novel Mushoku Tensei Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 1 Bagian 1

Wednesday, 28 March 2018

Novel OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 2 Bagian 4


Seeking Salvation

Novel OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 2 Bagian 4

Part 4


Mereka berjalan di sepanjang jalan E-Rantel. Tujuan kelompok adalah penginapan yang diberitahu penjaga gerbang kepada mereka adalah kelas tertinggi di kota ini, Shining Gold Pavillion.

Neia menatap kerumunan orang di sepanjang jalan.

Kata-kata Ryurarius telah memberinya kesan bahwa bangsa ini dipenuhi demihuman dan undead. Namun, kenyataannya berbeda - sebagian besar pejalan kaki adalah manusia.

Satu-satunya undead yang dilihatnya adalah kelompok undead yang sama seperti yang mereka lihat di dekat gerbang kota, serta undead berbentuk kuda dengan tulang dan kabut yang menarik gerbongnya. Tidak ada jenis lain selain mereka.

Di sisi lain, ada banyak jenis demihuman.

Sekelompok Goblin berbaris di jalan-jalan dalam formasi dekat, masing-masing memancarkan aura seorang veteran berpengalaman. Itu segera menghancurkan kesan Neia tentang Goblin. Tidak, bukan hanya Neia yang seperti itu. Terengah-engah kejutan datang dari rombongan paladin.

Ada juga demihuman dengan wajah kelinci berseragam maid sedang mengayuh, demihuman seperti katak, tapi dia hanya melihat satu contoh dari masing-masing ras di kota.

Rasanya lebih normal dari yang ku bayangkan ... yah, tidak itu normal, tapi tetap saja, ini sangat mirip dengan bangsa manusia. Kau tidak bisa mengatakan bahwa itu di bawah ibu jari seorang raja undead yang mengerikan.

Tak ada rasa takut di wajah warga yang berjalan di sepanjang jalan. Neia tidak yakin ini karena mereka telah menyerah, mereka sudah terbiasa, atau mereka memutuskan tidak perlu khawatir tinggal dengan undead. Namun, tidak ada tanda-tanda kekacauan di jalanan. Terkadang, dia bahkan mendengar suara anak tertawa.

Ini jauh lebih baik dibanding Jaldabaoth, ku kira.

Saat itu, Remedios tiba-tiba menghentikan kudanya. Karena pemimpin mereka, yang sedang berjalan di kepala kelompok tersebut, telah berhenti, mereka tidak punya pilihan kecuali mengikutinya.

"Permisi, Dwarf-san. Bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan? "

Remedios sedang menangani tiga dwarf yang sedang bekerja di pinggir jalan. Ada juga tiga Skeleton yang melakukan pekerjaan tanah di bawah perintah dwarf.

Kejutan budaya yang dia terima setelah memasuki kota itu begitu besar sehingga dia sekarang tidak banyak melihat Skeleton. Bahkan ada sedikit lega dalam pikirannya yang datang dari melihat lawan yang bahkan bisa dia lawan.

"Apa? Siapa kalian Dari kerajaan mana asalmu?

"Saya minta maaf karena telah berbicara dengan menunggang kuda. Namun, kami berasal dari Holy Kingdom, dan kami mencari Shining Gold Pavilion. Bisakah kita bertanya bagaimana menuju ke sana? "

"Shining ... Shining Gold Pavilion? Ahhh, itu tempat yang berkelas. "

Dwarf memberi mereka penjelasan kasar. Namun, itu sedikit berbeda dari apa yang dikatakan penjaga gerbang kepada mereka, dan sepertinya mereka diarahkan ke tempat yang benar. Namun, tujuan sebenarnya tidak menanyakan arah.

"Kalau begitu. Terima kasih banyak. Gustav, beri mereka apresiasi. "

Gustav turun dari kudanya dan mengeluarkan kantong koin kecil.

"Tentunya tidak perlu memberikan ini hanya untuk menunjukan arah kan?"

"Tidak apa-apa. Lagi pula, kami telah menyela pekerjaan anda. "

"Sungguh? Kalau begitu, terima kasih. "

Dwarf menerima pemberian Gustav, dan tersenyum.

"Nah, ketika kita mendapatkan beberapa makanan, kami akan berterima kasih kepada pria dan wanita Holy Kingdom untuk itu."

"Tidak, tidak perlu ... ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini?"

"Hm? Anda tidak tahu? Kami sedang membangun jalan. Yang Mulia sendiri memintanya dari kita. Meskipun terutama penduduk yang sedang melakukan pekerjaan, kami di sini untuk melayani sebagai penasihat teknis. "

Gahahahaha, para dwarf tertawa terbahak-bahak.

"Oh begitu. Dan undead di sana adalah ...? "

"Mereka Skeleton yang dipinjamkan Yang Mulai pada kami, bukan? Ahhh, sejujurnya, Anda tidak bisa mengalahkan undead dalam melakukan pekerjaan manual murni. Ini tentu saja mengubah pandangan saya tentang mereka. "

"Mengontrol undead, ya ..."

"Tidak seperti ada yang terke ... Baiklah, saya kira itu tidak bisa membantu karena kamu pengelana. Tetap saja, ini hanya bisa terjadi di Sorcerous Kingdom, bukan? Saya pernah mendengar bahwa undead menunjukkan keberadaan mereka di desa-desa terdekat. Lagipula, mereka bisa menyelesaikan pekerjaan membosankan seperti menanam dan sebagainya hanya dengan perintah. Lihat di sini, undead tidak kebosanan, mereka tidak tidur, dan mereka tidak makan. Selain itu, mereka juga mengerti apa yang ingin kita katakan, jadi mereka melakukannya dengan fantastis saat diberi tugas sesuai kemampuan mereka. Keadaan menjadi apa adanya, Anda bahkan tidak perlu bekerja seperti anjing lagi. Bahkan kerajaan kita pun mulai memanfaatkannya juga. "

"Di kerajaan Anda, yang anda maksud sebuah bangsa Dwarf yang terpisah dari Sorcerous Kingdom?"

"Oh benar. Dari situlah kita berasal, tapi sekarang kita tinggal di distrik demihuman Sorcerous Kingdom. "

"Daerah Demihuman?"

"Ya. Di situlah semua ras yang bukan manusia hidup. Mereka bilang dulunya adalah distrik orang miskin di kota ini, tapi dirobohkan. Kemudian, dibangun kembali untuk membiarkan ras dari semua jenis hidup nyaman. Lagipula, itu masih membutuhkan beberapa waktu sebelum selesai, tapi bekerja di tempat tinggal untuk ras yang lebih kecil dari kalian manusia - seperti kita dwarf, misalnya - sudah dimulai. "

"Kami di sini untuk menangani pekerjaan bangunan itu!"

Rekan Dwarf melompat ke dalam percakapan.

"Oh begitu. Tapi jika distrik orang miskin dirobohkan, kemana penduduk asli pergi? "

Mata Remedios menuju undead.

"Kami tidak terlalu yakin, tapi saya pikir mereka dikirim ke desa atau sejenisnya. Ada banyak desa yang hancur dan ditinggalkan di sekitar sini, dan kudengar mereka dikirim ke sana untuk membangun kembali dan mengerjakan ladang di sana. Di situlah bisa memerintahkan undead sangat berguna. Jika saya tidak salah, mereka telah memulai pertanian skala besar dengan undead, atau semacamnya. Itu sebabnya harga pangan di kerajaan ini cukup murah. "

"Tidak masalah harganya murah! Yang penting itu bagus! Dan anggurnya! Ohhh, aku menggemukkan diri setelah pindah ke kota ini! "

"Jika saya kembali gemuk seperti ini, istri saya akan berteriak" Where's my share "pada saya. Sebaiknya saya langsing sebelum pulang ke rumah! "

"Ahhhh, kami benar-benar beruntung mengambil kesempatan."

Guhahahaha, para dwarf tertawa lagi.

"Terakhir, ada undead berbentuk kuda. Anda tahu nama mereka? "

"Tidak tahu. Tetap saja, tidak masalah jika kita tidak tahu, kan? Mereka tidak merugikan siapa pun. Mereka adalah sekantong tulang, namun mereka sangat kuat, membuat mereka cocok untuk memindahkan barang, bukan? "

"Sama disini. Semoga beruntung untuk kalian semua!"

Setelah memberi ucapan selamat kepada para dwarf, kelompok itu terus menuju penginapan itu sekali lagi.

"Kapten, mengapa Anda menanyakan nama undead itu?"

Neia bingung. Dia mengira itulah yang paling disukai Kapten.

"... Gustav. Itu karena tingkahmu aneh saat melihat benda itu. "

"Sungguh…?"

"Katakanlah, apakah kau tahu nama undead itu?"

"... Nah, ada sebuah nama yang muncul dalam pikiran ... tapi saya pikir saya pasti telah membuat kesalahan. Tidak mungkin, saya mungkin keliru. Aku tidak bisa membayangkan undead seperti itu bisa dikendalikan. "

"H - mm ~ Nah, jika kau mengatakannya, maka jadilah itu."

Dan itulah akhir dari itu.

Tak lama kemudian, instruksi yang mereka ikuti membawa mereka ke penginapan mewah, mungkin Shining Gold Pavilion yang telah direkomendasikan oleh penjaga gerbang kepada mereka. Sementara namanya tertulis di papan nama, tulisan Kingdom berbeda dengan Holy Kingdom, jadi mereka hanya bisa menebak kasar. Kingdom dan Empire dulu adalah kerajaan yang sama, jadi ada banyak kesamaan di antara keduanya, namun Holy Kingdom tidak pernah terikat dengan salah satu kerajaan tersebut, jadi ada perbedaan besar di antara keduanya.

"Gustav, pesankan kamar kita."

"Dipahami. Oi, kalian berdua, ikut bersamaku. "

Gustav membawa dua paladin bersamanya ke penginapan. Beberapa menit kemudian, salah satunya kembali.

"Kapten, kami sudah berhasil memesan kamar. Kandang kuda berada di belakang penginapan, jadi mereka ingin kita membawa kuda-kuda itu ke sana. "

"Baiklah, aku mengerti. Squire Baraja, bawalah kuda-kuda kesana. "

"Mengerti!"

Dia mengikatkan kuda-kuda itu ke sebatang pohon di depan penginapan, lalu dia membawa mereka ke kandang kuda satu per satu. Mengurus kuda adalah tugas seorang petugas, tapi penginapan itu juga diwajibkan untuk membantu juga, dan Neia menerima niat baik mereka dan memasuki penginapan.

Mungkin itu untuk menangkal bau kandang kuda dari memasuki penginapan, tapi ada keharuman di udara yang membuatnya memikirkan hal itu.

Apakah dari beberapa jenis aroma kayu atau parfum?

Dari luar, tampaknya memiliki tingkatan yang sama dengan penginapan dari Kingdom, tapi setelah melihat bagian dalam, itu tidak bisa dibandingkan. Dia bahkan merasa sedikit tidak nyaman berjalan di dalamnya dengan tubuhnya yang kotor - mandi untuk mereka pada dasarnya hanya membilas dengan air sampai mereka pikir mereka tidak berbau - dari perjalanan jauh.

Neia melangkah maju ke ruangan yang telah diberitahu oleh staf penginapan, dan mengetuk pintu.

"Siapa itu?"

"Squire Neia Baraja."

Di depan pintu berdiri seorang paladin dengan armor. Karena perbedaan besar antara E-Rantel dalam imajinasinya dan kenyataan, dia merasa bahkan saat itu juga yang dibutuhkan untuk menghilangkan kepenatan dari perjalanan terasa memalukan, dan dia ingin melakukan langkah sesegera mungkin.

"Kau datang tepat pada waktunya. Kita akan memulai rapat. "

Sementara dia bertanya-tanya apakah dia perlu ambil bagian, tidak ada gunanya bertanya terlalu banyak. Orang-orang di atas telah berbicara, dan menaati mereka adalah tindakan yang tepat.

"Kalau begitu mari kita mencari juru bicara Sorcerer King seperti yang kita rencanakan. Gustav, aku mengandalkanmu. "

"Tentu saja, Kapten. Tapi apa lagi yang harus kita lakukan selain itu? Rencana awalnya adalah untuk bertemu orang-orang yang berkuasa dan meminta bantuan mereka ... "

Karena Momon adalah seorang petualang, mereka semula berencana menuju ke Guild Petualang. Namun, menurut Ryurarius, the Guild Petualang sekarang pada dasarnya ditutup, dan permintaan ditangani oleh Sorcerer King. "

"Kalau begitu hentikan tentang Guild. Mari kita lihat apakah kita tidak bisa menarik beberapa petualang yang tidak berguna dan orang-orang penting untuk datang ke Holy Kingdom. "

"Saya mengerti, kalau begitu -"

Gustav memberi perintah kepada dua paladin, dan mereka segera melalukan gerakan.

Neia bertanya-tanya seperti apa tugas yang akan diberikannya.

Biasanya, ini adalah tugas seorang petugas untuk memoles armor dan pedang paladin, mencuci pakaian mereka, di antara tugas-tugas lain. Menyetrika dan merapikan pakaian kusut mereka juga merupakan bagian dari itu. Kebanyakan paladin sekarang telah mengalami pengalaman seperti itu.

Tentu saja, kapten kami yang sangat berbakat, yang menjadi paladin dalam satu kesempatan, mungkin tidak akan mengalami hal seperti itu ...

"Lalu bagaimana dengan yang lain? Apakah mereka akan menunggu di dalam penginapan? "

"Ahh, ketika aku mengumpulkan desas-desus di Kingdom, aku dituntun untuk percaya bahwa ini akan menjadi kota yang suram dan gelap. Namun, ini jauh lebih biasa dari perkiraanku ... Aku percaya membiarkan beberapa orang di luar tidak akan menimbulkan masalah? "

"Meskipun sulit untuk mengatakannya pada tahap ini, saya yakin seharusnya tidak ada bahaya mendadak dalam hal itu."

"Apakah begitu? Lalu mintalah beberapa orang pergi ke kuil dan melihat apakah mereka bisa membantu mengenalkan kami pada Momon. "

"Penguasa kota ini adalah Sorcerer King, undead. Tidak akan terlalu bagus untuk memiliki ikatan dengan kuil, kan? "

"Tetap saja, kita adalah teman sejati. Ke mana kita harus pergi jika tidak ke kuil? "

Gustav memiliki wajah yang kompleks di wajahnya. Remedios ada benarnya.

"Itu ... juga benar."

"Dan selain pemandangan yang telah diizinkan oleh Sorcerer King untuk kita lihat, juga bagus untuk melihat dan mendengar tentang kehidupan di kota ini dari masyarakatnya. Bukan?"

"Anda ada benarnya disitu ..."

Tapi apa yang harus mereka lakukan jika mereka melihat sesuatu yang mereka, seperti paladin, tidak bisa mentoleransi?

Gustav mengalami kesulitan untuk merespons karena dia memikirkan pertanyaan itu.

Neia menjawab pertanyaannya sendiri.

Paladin adalah makhluk yang mewujudkan keadilan, jadi mungkin hal yang benar untuk dilakukan oleh paladin adalah dengan mengecam Sorcerer King. Namun, jika akibatnya berarti Sorcerer King tidak akan membantu Holy Kingdom, yang berarti bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan rakyat dari penderitaan mereka, apakah itu masih merupakan tindakan yang benar?

Dia ingat bahwa ayahnya pernah mengatakan bahwa dia tidak mengerti keadilan paladin. Dia tidak banyak memikirkannya selama hari-harinya berlatih dengan tujuan untuk menjadi paladin dalam pikirannya. Tapi sekarang setelah Holy Kingdom berada dikeadaan ini, mungkin hatinya menjadi lembut dan lemah, tapi saat ini dia memikirkan hal ini.

Mungkin keraguannya bisa dikesampingkan jika dia bisa bertanya kepada ibunya, tapi ibunya tidak lagi tinggal di antara orang-orang yang hidup.

Pada akhirnya, dia hanya bisa mengandalkan dirinya untuk menemukan jawabannya.

Seiring Neia terus memikirkan hal-hal ini, dialog berlanjut. Sepasang paladin akan pergi ke kuil Four Gods, sementara dua kelompok lagi akan mengumpulkan informasi di kota. Remedios dan yang lainnya akan tinggal di belakang untuk mengurus apapun yang mungkin terjadi.

Seperti yang diharapkan, Neia diperintahkan untuk memoles armor mereka.

Setelah pertemuan berakhir, Neia merawat armor semua orang.

Dia membersihkan dari kotoran dengan kain lembap.

Seperti yang bisa diduga dari magic armor, itu tidak rusak dan tidak dapat dipemyokan. Jika ada penyok, seseorang harus memalu mereka dari dalam, tapi jika jari seseorang tidak terbiasa, itu akan membuat permukaannya tidak rata dan jelek. Karena Neia tidak yakin akan keahliannya dalam hal itu, magic armor yang dipakai paladin adalah yang terbaik dari semuanya.

Dia sangat senang mengubur hati dan pikirannya dalam pekerjaan, jadi dia tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Dan juga, dahinya bermanik-manik dengan keringat, Neia membersihkan armor milik semua orang.

? ? ?

Juru bicara mereka bersama Sorcerer King datang lebih awal dari yang diperkirakan. Neia tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Itu karena hal itu dijadwalkan terjadi pada hari setelah Gustav pergi untuk memohon kasusnya.

Paladin Holy Kingdom - yang dilewati oleh Neia - menemukan bahwa kediaman Sorcerer King yang mereka datangi cukup jelek. Mungkin cukup mencolok bagi seseorang yang memerintah kota sekelas ini, tapi sama sekali tidak sesuai dengan seseorang yang menyebut dirinya raja. Tidak ada keheningan, rasa hening dari sejarah, tidak ada aura kekekalan, dan itu tidak menunjukkan keinginan seseorang yang memegang kekuasaan. Rasanya seperti bangunan yang dibangun untuk keperluan praktis.

Itu terlalu menyedihkan dibandingkan dengan istana Kingdom atau Holy Kingdom. Namun, inilah tempat tinggal Sorcerer Kingdom. Karena ini pernah menjadi kota wilayah Kingdom, dia mungkin telah memutuskan untuk menggunakan fasilitasnya setelah mengendalikannya.

Saat paladin melepaskan helm mereka dan mengamati ini, ada sedikit bekas penghinaan yang hanya bisa diambil oleh Neia. Mungkin mereka membandingkan lingkungan sekitar dengan istana kerajaan di tempat asal mereka.

Siapa yang bisa menyalahkan mereka untuk itu?

Dan kemudian, Neia melihat Ghost Ship yang sebelumnya mereka temui. Serta undead berjalan di sepanjang jalan.

Mengapa seorang raja yang memegang kekuasaan atas undead pada tingkat itu memilih tinggal di istana tua yang lusuh?

Aku punya firasat bahwa ada beberapa alasan untuk itu ... jika dia menginginkan istana mewah, yang harus dia lakukan hanyalah memerintahkan para dwarf untuk mengarahkan undead yang tak kenal lelah untuk membangun satu ...

Saat mereka melewati gerbang istana, ada dua barisan undead, yang mirip dengan yang pertama kali mereka temui saat datang ke kota. Tidak seperti undead yang mereka lihat di gerbang, mereka lebih langsing dan menyilang tombak mereka di udara di antara mereka.

Bendera tergantung dari ujung tombak yang disilangkan. Di sebelah kanan ada bendera Sorcerous Kingdom, dan di sebelah kiri ada bendera Holy Kingdom.

Di bawah bendera itu ada bagian yang bisa mereka lewati.

Setelah itu, musik dimainkan. Sementara itu adalah lagu yang belum pernah dia dengar sebelumnya, mungkin paling baik menerima ini sebagai bagian dari upacara keseluruhan semuanya.

Neia mengingat nasihat yang dia terima satu kali.

Faktor terpenting untuk melawan mantra adalah memiliki pikiran yang jernih.

Tidak, tidak mungkin ini bisa menjadi serangan magic. Jika ini jebakan, tidak perlu menaikkan bendera Holy Kingdom.

Neia berjalan dengan cara yang tampak seperti cara yang mencolok, sekaligus memindai sekelilingnya.

Ada penjaga kehormatan dan bendera Holy Kingdom. Ini adalah pertanda jelas bahwa Sorcerer King sedang memperlakukan delegasi mereka sebagai tamu kehormatan; Dengan kata lain, dia mengakui Neia dan yang lainnya sebagai duta besar Sorcerous Kingdom, yang berarti Neia juga harus menjunjung tinggi reputasi Holy Kingdom.

Hal itu membuatnya senang, tapi pada saat bersamaan itu membuatnya mengalami perut keram karena stres.

Dia berjalan di sepanjang jalan di bawah bendera yang menggantung, dan pada akhir perjalanan itu - Neia menghisap napas dengan terkejut.

Dia adalah kecantikan kelas dunia.

Dia cantik... kecantikannya sungguh tak dapat dipercaya...

Dia memiliki kecantikan yang tak bernoda untuknya. Gaun putihnya yang luar biasa mahal tidak memiliki cacat dan noda.

Senyumnya yang penuh kasih sudah cukup untuk membuatnya, wanita yang mungkin keliru menjadi malaikat. Namun, kenyataannya tidak begitu, mengingat sepasang sayap hitam gagak itu tumbuh dari pinggangnya.

"Selamat datang, tuan dan nona di Sorcerous Kingdom. Izinkan saya untuk memperkenalkan diri, Saya adalah Guardian Overseer dari berbagai Penjaga Lantai dan Penjaga Area seluruh wilayah Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown. Untuk menggunakan istilah yang lebih akrab bagi anda, saya memegang posisi Perdana Menteri. "

"Saya bersyukur atas sambutan hangat Anda. Saya adalah pemimpin utusan diplomatik Holy Kingdom, Remedios Custodio, dan saya sangat bersyukur bahwa Anda telah mengatur pertemuan dengan kami. "

"Tidak perlu terima kasih. Yang Mulia Sorcerer King sangat prihatin atas perkembangan di dalam Holy Kingdom, dan Yang Mulia telah mengatakan bahwa meluangkan waktu untuk Anda adalah sesuatu yang bisa kami lakukan. "

"Kami sangat bersyukur untuk itu."

Albedo tersenyum penuh, dan kehadirannya menghancurkan kata-kata Remedios sampai bawah kakinya. Keindahannya yang tidak normal sedemikian rupa sehingga bahkan anggota dari jenis kelamin yang sama - tidak, justru karena mereka memiliki jenis kelamin yang sama - akan ditelan olehnya. Garis pandang Albedo dengan cepat berkedip-kedip di atas semua orang, termasuk Neia.

"Sekarang, Yang Mulia menunggu anda, jadi aku akan membimbing anda ke aula. Dapatkah saya merepotkan Anda untuk mengikuti di belakangku? "

"Y-ya, tentu saja. L-lalu, bagaimana dengan pedang kita? "

"Ah, ya, tentang masalah itu."

Albedo tersenyum geli.

Kenapa dia tersenyum seperti itu, Neia bertanya-tanya. Mereka tidak mungkin membawa senjata ke hadapan seorang raja, jadi biasanya mereka diminta menyerahkan senjata mereka. Ini juga menunjukkan kepercayaan pada pihak lain.

"Biasanya, kami akan menahan mereka untuk diamankan, tapi tidak perlu untuk itu. Anda bisa membawanya. "

Albedo mengatakan sesuatu yang tidak bisa dipahami Neia.

Remedios juga bertanya "mengapa?" Tentunya seseorang yang telah menghabiskan seluruh waktunya bersama Holy Queen akan memiliki lebih banyak alasan untuk mempertanyakan hal ini.

Dihadapkan dengan keraguan mereka yang dibenarkan, Albedo tersenyum sekali lagi.

"Tentunya, ini karena kita mempercayai tamu terhormat kita dari Holy Kingdom, dan juga karena kita, sebagai bangsa yang berisi banyak undead, pastilah tampak seperti kerjaan yang aneh bagi Anda. Oleh karena itu, saya merasa bahwa membiarkan anda membawa pedang anda akan membuat anda merasa nyaman. Tentu saja, kami tidak berniat melukai kalian semua. Tapi jika anda ingin meninggalkan mereka bersama kami, kami pasti bisa mengakomodasi permintaan itu. "

"Kemudian, kerajaan kita akan dengan ramah menerima niat baik Yang Mulia ... bolehkah saya meminta Anda untuk memegang pedang semua orang selain diri saya sendiri? Saya minta maaf, tapi saya membawa harta nasional kerajaan saya, jadi saya harap Anda mengerti saat mengatakan bahwa saya tidak dapat meninggalkannya di tangan Anda. "

"Saya mengerti."

Albedo melirik ke samping, dan udead yang muncul membawa pedang mereka untuk diamankan.

Mungkin ada paladin yang tidak senang memberi pedang kepada undead, tapi karena Kapten mereka telah memerintahkannya, tidak mungkin mereka menolak.

Neia memandang Albedo saat menyerahkan senjatanya.

Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya saat dia terus tersenyum dengan senyuman indah miliknya. Sebaliknya, orang bisa mengatakan bahwa dia telah melihat mereka dengan niat baik murni, seolah-olah dia menyukai kebaikan hati Neia dan yang lainnya. Namun, apakah penilaian Neia benar? Misalnya, jika ada kerutan yang lebih dalam lagi -

- Dia membiarkan orang bersenjata berdiri di depan tuannya. Apakah itu karena perintah Sorcerer King? Atau ... apakah karena dia tahu tidak mungkin kita menyakitinya?

Sorcerer King adalah magic caster yang sangat hebat. Apakah ini karena kesombongannya bahwa tidak ada jumlah paladin dari Holy Kingdom yang bisa mengalahkannya?

Atau mungkin dia memiliki undead penjaga yang selalu siap di dekatnya. Albedo-sama tidak terlihat seperti dia memiliki kemampuan bertarung ...

Perdana Menteri yang kecantikannya jauh dari kekejaman mungkin tersenyum lembut.

"Sekarang, semua orang. Sorcerer King menanti. Silakan pergi dan menemuinya. "

? ? ?

Ruang tahta itu juga tidak semewah yang dia bayangkan. Sepertinya sudah dirapikan setelah diambil alih, tanpa renovasi apapun.

Namun tahta itu sendiri berkilau cerah; Orang bisa mengatakan itu bersinar dengan sinar keemasan. Tentunya itu bukan ditempa emas murni; itu pasti disepuh emas dengan perak. Tapi meski begitu, orang bisa melihat berapa banyak usaha dan biaya yang harus diambil untuk melakukannya, seukuran takhta.

Kemudian, bendera di belakang takhta sama mengesankannya. Itu terbuat dari beberapa jenis kain dan berwarna hitam legam, dengan kedalaman yang tak terhingga untuk itu. Sedikit perubahan pada tingkat cahaya bisa membuat orang berpikir bahwa itu adalah ungu tua.

"Silakan masuk, Yang Mulia."

"Semua orang, membungkuk, "perintah Remedios.

Paladin membungkuk ke undead; Bahkan jika Neia terkejut dengan bagaimana Remedios bisa membuat keputusan seperti itu, dia tidak memberikan perlawanan saat dia jatuh tertelungkup dan menundukkan kepalanya. Itu karena dia adalah seorang pengawal yang telah dia pelajari dalam latihan seremonial itu. Dahulu, pengalamannya dengan pertemuan kerajaan pada saat dia melihat sekilas Holy King satu kali, sebagai seorang pengawal. Dia buru-buru menundukkan kepala saat dia menggerakkan matanya, dengan panik melihat sekilas para paladin di sekelilingnya.

Sepertinya ... semuanya baik-baik saja.

Tentu saja, itu adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pandangan mereka. Mungkin jika dia melihat mereka langsung, mereka mungkin sedikit berbeda dari dirinya sendiri.

Itu akan baik-baik saja! Saya tidak dimarahi oleh siapapun bahkan di depan Holy King-sama. Ayah bilang aku melakukannya dengan baik juga, dan dia bahkan memujiku.

"Mengumumkan kedatangan Yang Mulia, Ainz Ooal Gown."

Ketika Albedo berbicara dari tempat dia berdiri di depan dan di samping kelompok mereka, Neia mendengar suara yang sangat samar yang hanya bisa dia ambil, seperti kertas robek, diikuti oleh suara langkah kaki dan suara 'tok', sesuatu yang terdengar keras memukul tanah. Segera, dia merasakan seseorang duduk di atas takhta.

"Izin telah diberikan, angkat kepala kalian."

Sangat sulit bernafas saat ini. Melihat terlalu dini atau terlambat akan menjadi pelanggaran etika. Setelah tertunda beberapa detik, dia diam-diam mengangkat kepalanya.

Dan kemudian, makhluk di depan Neia menarik perhatiannya.

Dia, dia adalah Sorcerer King, Ainz Ooal Gown ...

Titik-titik lampu merah menyala di dalam tungkai matanya dari tengkoraknya yang telanjang, penampilan undead yang tidak biasa. Namun, Neia tahu dia sama sekali berbeda.

Hal pertama yang mengejutkannya adalah bajunya.

Dia berpakaian lebih kaya dari pada seorang bangsawan pada pesta itu untuk merayakan pewarisan gelarnya.

Panjang dan jatuhnya jubahnya terasa sangat nyaman, dan lengan baju itu sangat longgar. Ujung dan lengan baju itu dihiasi dengan emas dan ungu. Itu diikat di pinggang dengan selempang, tapi aneh dan tidak aneh pada saat bersamaan. Aneh mungkin, memancarkan rasa eksotis, dan "indah" adalah satu-satunya kata yang bisa dia gunakan untuk menggambarkannya.

Setelah itu, dia mengenakan sarung tangan yang warnanya sama dengan pakaiannya, dilengkapi pelat logam yang berkilau dalam semua warna pelangi, dan tangan itu memegang sebuah mystic staf yang tampak seperti tujuh ular melilit satu sama lain. Itu pastilah sumber suara keras dari tadi.

Namun, itu adalah lingkaran cahaya obsidian dari belakangnya yang benar-benar mengejutkan.

... Apakah dia benar-benar salah satu undead? Tidak mungkin...

Di benak Neia, undead adalah makhluk seperti Zombie, Skeletons, Ghasts, dan makhluk lainnya.

Dalam hal ini, Sorcerer King tidak mungkin digambarkan sebagai salah satu undead di mata Neia. Wajahnya yang hampir misterius tidak membuatnya takut. Sebenarnya, seseorang bahkan bisa mengatakan bahwa ia memiliki kemurnian dan kesucian dalam dirinya.

Dia adalah makhluk yang hebat, makhluk yang mengagumkan, makhluk yang kekuatannya melebihi kapasitas pikirannya untuk dipahami - dengan kata lain, dia adalah Supreme Being.

Neia melupakan Albedo, yang berdiri di samping takhta, dan dengan lembut menatap Sorcerer King.

Apa yang membawanya kembali ke indranya adalah "Baiklah," yang dikatakan Sorcerer King.

"Kalian telah menempuh perjalanan jauh dari Holy Kingdom, Remedios-dono, dan tuan-tuan dan pelayan dari ordo paladin."

"Terima kasih banyak, Yang Mulia."

"Meskipun kami bisa mengatur perjamuan selamat datang untukmu, saya percaya tidak ada dari kalian yang berminat untuk hal seperti itu. Oleh karena itu, saya telah meluangkan waktu dari jadwal sibuk saya untuk mengatur pertemuan dengan kalian. Karena itu, daripada membuang-buang waktu dengan permainan kata-kata yang tidak berguna - berdebar kencang di seputar semak-semak dan pujian yang tidak tulus - mari kita langsung ke inti permasalahannya. Saya percaya tidak ada keberatan atas pengungkapan penuh?

"Sama sekali tidak, Yang Mulia."

"Sangat baik. Kemudian, beritahu saya keadaan Holy Kingdom saat ini. Berbicara tanpa tipuan atau kelalaian akan memungkinkan kita di Sorcerous Kingdom untuk membantumu dengan lebih baik. "

Setelah Remedios menunjukkan pemahamannya, dia menuangkan hatinya ke luar tentang keadaan Holy Kingdom.

Neia tidak mengerti apa alasan yang menyebabkannya begitu kenal dengan informasinya. Meski begitu, sangat mungkin Remedios merasa dirinya sendiri merepotkan.

Isi omongannya sama seperti yang dikatakan Gustav pada Blue Rose, dan dia mengakhiri dengan mengatakan bahwa situasi di garis depan dalam keadaan menegangkan. Dia mungkin tidak ingin mengatakan sesuatu seperti Holy Kingdom telah hancur dalam semalam ke kerajaan lain, apalagi ke raja undead.

"Begitu, saya mengerti. Karena itu, apa tujuanmu datang ke kerajaanku? "

"Kami ingin mengajukan perohonan kepada Yang Mulia; Mereka mengatakan bahwa petualang yang dipanggil Momon telah bersumpah untuk Anda, dan jika kita bisa meminjam warrior yang bisa bertarung seimbang dengan Jaldabaoth, tidak akan ada kerajaan yang perlu kita takuti. Saya mohon Anda mengirim warrior Momon ke negara kami. "

Cahaya merah di mata Sorcerer King tiba-tiba lenyap, dan kemudian menyala kembali beberapa saat kemudian.

"Seperti yang kupikirkan. Saya juga telah menyiapkan sebuah jawaban untuk kemungkinan ini - yang tidak akan ada. "

"Bolehkah saya meminta alasan yang menyebabkan jawaban itu?"

"Nah, ini adalah tanda hitam di bangsaku. Namun, Momon, untuk saat ini, adalah bagian tak tergantikan dari kerajaanku. Justru karena dia ada disini membuat hati orang-orang bisa hidup dengan tenang. "

"Tapi apakah Anda tidak memerintahkan pasukan undead, Yang Mulia?"

"Huhuhu," Sorcerer King tertawa pelan. "Sepertinya tuan-tuan dan nona-nona Holy Kingdom telah melihat kekuatan undead ku dan menganggapnya cukup memuaskan. Kemudian, tidakkah kalian akan menerima pinjaman dari pasukan undead ini menggantikan Momon, saya yakin kalian semua telah melihat bahwa semua undead yang saya komando cukup kuat. Mereka seharusnya bisa menghilangkan perlawanan para demihuman. "

Remedios tidak bisa berkata apa-apa.

Dia mungkin membayangkan dirinya sendiri memimpin pasukan undead kembali ke Holy Kingdom. Tidak, itu tak terbayangkan. Memerintahkan undead benar-benar bertentangan untuk menjadi paladin.

Memang benar bahwa undead membuat banyak keuntungan sebagai tentara. Mereka tidak perlu makan, mereka bisa berbaring menunggu di tengah hutan purba, dan orang bisa menyebut mereka tentara yang ideal.

Namun, mendaftarkan undead - yang disebut musuh semua makhluk hidup karena kebencian mereka terhadap kehidupan - ke dalam kekuatan mereka lebih menakutkan daripada yang lainnya. Sebagai permulaan, membawa pasukan bangsa lain ke kerajaan sendiri merupakan sumber kegelisahan. Setelah memecahkan masalah mereka, mereka kemudian bisa melanjutkan untuk menaklukkan Holy Kingdom.

"Dalam, dalam kasus itu ..."

Sorcerer King terkekeh pada gagapan Remedios.

"Memang, Remedios-dono. Ada orang-orang di kerajaanku yang berpikir dengan cara yang sama seperti Anda. Menggunakan undead untuk pertanian, mengolah ladang dan keamanan adalah semua aplikasi yang diterima orang-orang. Tapi sayangnya, di antara warga saya yang memiliki sedikit kontak dengan kegiatan ini belum sepenuhnya menerimanya. Tentu saja, situasinya jauh lebih baik daripada saat saya baru saja menetapkan peraturan saya, tapi lebih banyak waktu akan dibutuhkan untuk itu. Momon bisa mendengarkan kekhawatiran mereka dan membiarkan mereka dalam banyak hal. Jika saya mengirimnya keluar sekarang, tidak ada yang tahu bagaimana ketidakpuasan orang-orang bisa meletus. "

"Kalau begitu, pasti kita paladin bisa tinggal di belakang dan menyelesaikan pekerjaan membangun kepercayaan pada undead, bukan? Banyak orang tahu bahwa paladin adalah musuh dari undead. Oleh karena itu, bukankah sangat efektif jika kita tinggal di belakang dan menyatakan bahwa undead Yang Mulia bisa dipercaya? "

"Umu ... itu adalah usul yang patut dipertimbangkan."

Setelah kurun waktu singkat, Sorcerer King menampukan mukanya ke tangan yang tidak membawa tongkatnya.

"... Hm. Sepertinya ada kesalahpahaman pada orang asing yang tidak sesuai, tidak. Seseorang bisa mempercayai seseorang yang mengalami kesulitan yang sama seperti mereka; Tentu tidak mungkin mereka mempercayai seseorang yang muncul entah dari mana dan mengatakan undead adalah teman mereka, bukan? Seperti yang saya pikir, Anda tidak akan bisa menggantikan petualang peringkat adamantite, yang sudah terkenal di seluruh kota ini. "

Logikanya sempurna.

Karena itu, dia tidak bisa membantahnya dengan logika. Selain itu, Remedios merasa bahwa menggunakan bentuk daya tarik emosional pun akan menjadi kurang efektif.

Sorcerer King lalu bertanya kepada Remedios yang berkata-kata:

"--Sangat baik. Lalu mari kita ubah topiknya. Saya ingin bertanya tentang beberapa orang yang tidak Anda sebutkan, Remedios-dono. Dulu, Momon memberitahuku bahwa Jaldabaoth memerintahkan pelayan dengan kekuatan yang cukup besar. Bolehkah saya bertanya apakah tuan-tuan dan nona-nona telah bertemu dengan orang-orang berpakaian seperti itu di Holy Kingdom? "

"Kami belum menemukan orang yang berpakaian seperti itu di Holy Kingdom. Sebenarnya, kami baru mengetahui tentang mereka untuk pertama kalinya saat kami melibatkan Blue Rose of dari Kingdom dalam percakapan. "

"Begitu ... yang berarti pelayan itu mungkin kartu truf Jaldabaoth? Atau apakah itu berarti mereka aktif di lokasi lain? "

"Kita tidak bisa memastikannya."

"... Saya percaya Anda menyebutkan bahwa Holy Kingdom Selatan masih bertahan. Apakah Anda menjaga komunikasi rahasia dengan mereka? "

"Sampai batas tertentu, ya."

"... Jadi mereka belum menyusup ke selatan, kalau begitu? Mungkin aku terlalu banyak memikirkan sesuatu. Umu ... "

Sorcerer King tiba-tiba melihat ke langit-langit.

"Apakah Yang Mulia merasa bahwa kaki tangan Jaldabaoth telah menyusup ke selatan?"

"Saya tidak mengatakan itu. Tapi saya berpikir bahwa jika dia memiliki pion yang begitu kuat, mengapa dia belum menggunakannya ... dan saya yakin saya meminta pengungkapan penuh pada awalnya, bukan? Oleh karena itu, izinkan saya menyampaikan pendapat langsung - imbalan apa yang dapat ditawarkan Holy Kingdom kepada saya dengan bantuan kerajaanku? "

Ini adalah pertanyaan yang sangat normal dan sepenuhnya bisa diharapkan. Namun, menjawabnya sangat sulit.

"Kami bisa menawarkan persahabatan, kepercayaan, dan rasa hormat dari kerajaan saya."

Sorcerer King mendengus pada jawaban Remedios.

Namun, orang tidak dapat menyimpulkan bahwa jawaban Remedios salah. Ada kalanya semua itu adalah paladin yang perlu masuk ke dalam pertempuran hidup atau mati. Orang yang memperjuangkan sebuah desa miskin yang tidak mampu membayar imbalan yang layak dan menantang gerombolan demihuman akan diangkat sebagai contoh paladinhood.

"Itulah yang paladin katakan. Mungkin salah satu teman masa lalu saya mungkin saja bersedia melakukan tindakan berdasarkan itu sendiri. Tapi sayangnya, kata-kata seperti itu tidak bisa menggerakkanku. Saya telah mengatakan sebelumnya untuk mengeluarkan sanjungan yang tidak berarti. Bisakah Anda memberi saya keuntungan nyata? "

Apakah dia mengatakan bahwa Momon-dono adalah teman Sorcerer King? Apakah dia berbicara dengannya begitu akrab karena dia bukan hanya bawahan?

Saat Neia merenungkan pertanyaan itu, Remedios tetap diam.

Tidak.

Kebenaran yang tidak bisa diucapkan adalah bahwa Remedios Custodio tidak memiliki janji untuk melakukan semacam itu.

Apa yang akan terjadi setelah mereka mengalahkan Jaldabaoth?

Tentu saja, mereka perlu memberi nama Holy King berikutnya. Namun, kemungkinan orang seperti itu mengindahkan kata-kata paladin akan sangat rendah. Jika dia dipilih dari bangsawan selatan, yang tidak pernah bergabung dengannya, Remedios dan yang lainnya mungkin ditempatkan di bawah tahanan rumah karena ketidakmampuan mereka melindungi Holy Queen.

Dalam kasus itu, bahkan jika mereka menempa sebuah perjanjian dengan Sorcerer King, tidak ada jaminan bahwa perjanjian tersebut benar-benar akan dihormati. Tidak, sebelum itu, sangat meragukan bahwa kelompok ini bahkan memiliki hak untuk mewakili bangsa mereka. Pada akhirnya, tujuan sebenarnya dari delegasi duta besar ini adalah untuk membangun simpati di kalangan rakyat jelata yang tidak mengerti situasinya.

Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat janji. Tidak seorang pun bisa mewakili seluruh kerajaan; satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah rajanya.

"Maafkan aku, Yang Mulia. Saya adalah Wakil Kapten Gustav Montanis, bertugas di bawah Kapten Custodio. Izinkan saya untuk berbicara atas namanya. "

Sorcerer King dengan ringan mengangkat dagunya, untuk menunjukkan bahwa pria itu harus melanjutkan.

"Terima kasih banyak. Yang Mulia meminta sesuatu adalah sesuatu yang tidak dapat kami jamin. Bahkan jika kita merebut kembali wilayah Holy Kingdom, memulihkan wilayah yang telah dihancurkan Jaldabaoth akan memakan waktu yang sangat lama. Saya tidak percaya kami dapat menawarkan apapun yang kami janjikan di sini dengan tingkat tergesa-gesa. Namun, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Yang Mulia, yang merupakan bahaya Jaldabaoth. "

"Umu ... teruskan saja."

"Baik. Ras demihuman yang tidak terorganisir yang mengancam Holy Kingdom di masa lalu sekarang berada di bawah tangan Jaldabaoth. Jika Jaldabaoth tidak dihentikan sekarang, dan dia diizinkan untuk menyembunyikan dirinya sendiri, tidak ada yang tahu persiapan apa yang bisa dia lakukan dan di mana dia akan menunjukkan dirinya lagi. "

"Dengan kata lain, Anda mengatakan bahwa sekarang adalah waktu terbaik untuk membunuhnya, mengingat bahwa dia telah menunjukkan wajahnya. Oleh karena itu, seseorang harus memberantas benih dari potensi perselisihan sesegera mungkin. Itukah yang kamu katakan? "

"Seperti yang Anda katakan. Saya tidak mengharapkan apapun dari Yang Mulia. Oleh karena itu, bisakah kita memohon kepada Anda untuk mengirim Momon-dono? "

"Aku tahu. Ini adalah alasan yang sangat dimengerti. Memang sudah saatnya Jaldabaoth ini dimusnahkan. "

"Dalam hal itu--"

Saat wajah Gustav bersinar dengan gembira, Socerer king mengulurkan tangan untuk menghentikannya sebelum memukul staffnya ke tanah.

"Namun, pengiriman Momon masih sangat sulit. Bahkan jika dia mengirim Jaldabaoth, ketidakhadiran Momon akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam situasi politik kita dan membuat rakyat khawatir. Dalam hal ini, apa yang harus dilakukan? Jika saya memiliki lebih banyak waktu untuk menstabilkan politik internal kerajaan saya, saya kemudian akan mengirimkan Momon - dengan persetujuannya, tentu saja. Mengingat apa yang baru saja Anda katakan, Anda seharusnya bisa bertahan lebih lama, bukan? "

"Tapi, tapi tentu saja ... berapa lama waktu yang dibutuhkan?"

"Umu ... Albedo, bagaimana menurutmu?"

Perdana Menteri yang telah lama beridiri sisinya ini melapor ke tuannya untuk pertama kalinya.

"Setelah mempertimbangkan serangan demihuman secara bertahap ke dalam bangsa kita, maka akan menunda prosesnya lebih dari yang diantisipasi. Mungkin butuh waktu beberapa tahun. Ya ... kalau kita punya lima tahun, itu tidak akan menjadi masalah. "

"Seperitu itulah. Saya percaya Anda tidak memiliki pertanyaan? "

Lima tahun. Gustav mencicipi kata-kata itu di mulutnya sebelum dengan lembut menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, waktunya ..."

"Saya mengerti ... memang. Seharusnya aku mempertimbangkan situasi kerajaanmu. Bagaimanapun, ini adalah permintaan dari kerajaan sahabat. "

Sorcerer King menempatkan penekanan khusus pada kata-kata "kerajaan sahabat"

"Kerajaan kita akan melakukan yang terbaik untuk mempersingkat waktu ini. Albedo, berapa waktu minimum yang dibutuhkan untuk melaksanakan ini? "

"Kalau begitu, kira-kira tiga tahun lagi? Namun, itu bisa menyebabkan keresahan di kerajaan kita. "

"Itu tidak bisa ditolong. Kita menyelamatkan kerajaan sahabat. Aku pikir akan ada beberapa nyawa melayang di pihak kita ... yah, secara metaforis. "

Sorcerer King sepertinya sedang bercanda, tapi tidak ada yang tertawa.

".. Hmm. Nah, bagaimana dengan itu? Kami telah mempercepatnya dua tahun. "

Dia sudah membuat konsesi dua tahun, tapi bahkan tiga tahun terlalu lama. Berapa banyak kerusakan yang bisa terjadi selama waktu itu? Dan kemudian, ada pertanyaan apakah Holy Kingdom bahkan bisa bertahan sebagai bangsa selama waktu itu - tidak, tidak mungkin mereka bisa melakukannya. Namun, jika mereka keluar dan mengatakan itu, mungkin bahkan janji mengirim Momon setelah tiga tahun mungkin akan diperdebatkan juga.

Namun, kemungkinan keselamatan Holy Kingdom terbentang di depan mata mereka.

Mungkin dia datang ke sini untuk saat ini. Dia harus mempertaruhkan nyawanya.

Setelah mempersiapkan diri untuk kematian, Neia menarik napas panjang, dan berbicara.

"Saya meminta maaf dengan tulus, Yang Mulia Sorcerer King."

"...Siapa kau?"

[Volume 12 Chapter 2 Bagian 4 selesai.]
» Anda baru saja membaca: Novel OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 12 Chapter 2 Bagian 4

Tuesday, 27 March 2018

Novel Svens Bahasa Indonesia Prolog

Novel Svens Bahasa Indonesia Prolog

Yang aku hadapi di halaman mansion adalah saudara perempuan ku. Keberadaan yang sempurna.Jika seseorang di luar sana benar-benar dicintai oleh Tuhan, itu mungkin akan menjadi seseorang seperti dia.

(Mengapa ini terjadi)

Aku menahan napas, dan mencengkeram pedang yang kupegang di satu tangan dengan kedua tanganku. Ujungnya bergetar.

Bukan hanya kelelahan. Emosi ketakutan juga terlihat pada bilahnya.

"Hah hah…"

Pedang di tanganku itu nyata. Rapier milik saudari ku juga nyata. Bagi kami untuk saling serius dengan senjata, aku tidak akan pernah berpikir itu waras.

Namun, orang yang mengusulkan duel ini, tidak diragukan lagi, adalah dia.

Memakai gaun, dia berbicara saat dia menatapku tanpa minat.

"Apakah kau masih ingin melanjutkan ini, onii-sama?"

Saat dia memanggilku onii-sama sekarang, dia biasanya bahkan tidak menyebut namaku. 'Kau,' 'benda itu,' dan frasa lain semacam itu adalah bagaimana dia biasanya menunjuk padaku.

Tapi tidak ada orang di sekitarnya yang pernah menemukan kesalahan dalam hal itu.

Dia mengenakan gaun berwarna gading dan sepatu merah. Meskipun kami berdua saling menyerang, tidak seperti aku, dia sama sekali tidak berkeringat.

Seolah-olah dia akan pergi ke suatu tempat yang formal, pakaiannya teratur dengan baik. Rapier yang dipegang tangannya adalah sebuah karya yang dibuat oleh seorang ahli yang terampil.

Itu dihiasi dengan ornamen, dan gagang itu dihiasi dengan bola kuning. Permata yang tidak bisa dibuat lagi di era saat ini adalah alat khusus yang menghasilkan special skill.

Rapier yang telah dimasukkan ke dalam adalah Magic Item, sebuah senjata yang disebut Magic Sword. Itu barang langka yang tidak bisa dibeli bahkan dengan seratus koin emas.

Dengan pedang di tangan sangat tidak cocok dengan penampilannya, sosok berdiri saudariku berantakan.

Tahun ini, dia akan berusia tiga belas tahun. Mengalir, rambut emas melambai di kepalanya. Sosoknya, tidak sesuai dengan usianya, cukup menggairahkan.

Mata birunya menatapku dengan dingin.

Menggigil menjalar di tulang punggungku.

Mengerikan. Aku ingin berlari. Tapi aku tidak bisa.

"Belum. Kita belum selesai! ”

Aku dengan paksa menahan rasa takut dan melangkah maju.

Aku memiliki keyakinan dalam skill berpedang yang telah ku latih. Aku yakin bahwa aku tidak akan kalah dengan orang dewasa.

Keluarga Walt… untuk meneruskan status bangsawan mulia kami, aku menerima pelatihan yang berat sejak usia muda. Aku yakin pada pedangku.

Tapi…

"Hah, kamu sangat lambat."

Di masa lalu, aku juga seorang anak ajaib. Penuh talenta. Mereka selalu menghujani ku dengan pujian. Untuk menjawab harapan orang tua dan keluarga ku, aku putus asa dalam semua usaha ku.

Tapi usaha itu, sebelum adik yang lebih muda dua tahun dariku, tidak berguna.

Jelas, saudari ku seorang perempuan. Karena pedang dianggap tidak perlu untuknya, dia tidak mengambilnya selama bertahun-tahun. Dia hanya diajarkan dasar-dasar, dan yang harus dia ketahui hanyalah bagaimana memegangnya dan mengayunkannya.

Meski begitu, aku tidak bisa menang melawannya.

"Ap-!"

Kami bertarung untuk jumlah waktu yang tidak diketahui, dan tubuhku ditutupi banyak luka sayatan. Bahkan ketika aku menebasnya, dia dengan mudah mengelak dengan sedikit gerakan. 
» Anda baru saja membaca: Novel Svens Bahasa Indonesia Prolog

Novel Isekai Ryouridou Bahasa Indonesia Prolog


Novel Isekai Ryouridou Bahasa Indonesia  Prolog

Ketika aku datang, aku berada dihutan yang aneh. Aku terbaring di hutan yang aneh.

"Eh....?"

Aku melihat sekeliling sembari mengantuk.

Di tengah hutan.

Tidak, ditempat pertama "Hutan yang ku kenal" tidak ada, bagiku yang terlahir dan dibesarkan ditengah-tengah pusat kota.

Sebelum itu, Jepang tidak seharusnya memiliki hutan hujan lebat dengan nuansa amazon.

Sebuah pohon besar yang terlilit dalam bentuk aneh.

Daun pakis raksasa.

Bunga yang tampak beracun.

Tangisan burung yang tidak aku tahu.

Cabang dan dedaunan tebal menumpuk diatas kepala, begitu banyak hingga warna langit tidak terlihat.

(Di mana ini?)

Sementara terpendam ditengah rumput-rumput yang tumbuh subur, aku memikirkan sesuatu.

Seragam koki, celemek putih, sepatu putih, semua serba putih.

Dibagian dada ada logo hitam bernama "Tsurumi-ya".

Kain putih terikat dikepala, setelan sehari-hari. (TL note: Kain yang sering dipake Soma)

Kenapa aku, terlihat seperti ini, berbaring ditempat seperti ini.

Aku duduk bersila dan mencoba mengingat hal-hal dari sebelum aku tak sadarkan diri.

Lalu..... Ketika aku mencoba menggerakkan tubuhku, sesuatu menyentuh tanganku.

Keras, halus, sesuatu yang terasa seperti olahan kayu.

Ketika aku menarik benda yang terkubur dirumput yang tumbuh subur... Ini adalah sesuatu yang terbungkus sarung putih, salah satu pisau Santoku. (TL note: Pisau Jepang)

Dirawat dengan baik, gagangnya kayu hitam.

Panjangnya 21 cm.

Aku tidak perlu menariknya keluar dari sarung kayu putihnya untuk tahu. Ini adalah sesuatu yang ayah ku nilai lebih dari hidupnya, karya toko peralatan makan Kyoto "Sakaki-ya" pisau Santoku.

Dan. Saat aku melihatnya. Aku mengingat segalanya.
» Anda baru saja membaca: Novel Isekai Ryouridou Bahasa Indonesia Prolog