Thursday, 24 May 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 2

Translator : Sai Kuze

Chapter 2 - Serangan Kejutan Tidaklah Pengecut [Bagian 1]




Kami terus melaju dijalanan yang rusak dengan kecepatan tinggi. Ketika para pengawal yang menunggangi kuda mengawal kereta ini berjalan di sampingnya, suara kuda-kuda itu bergema. Kereta bergung-guncang dari waktu ke waktu saat roda-rodanya menyerempet batu-batu di pinggir jalan.

Aku diam-diam mengawasi bagian belakang kereta, menatap jendela melihat kebelakang. Di sebelah kanan jalan adalah sungai, dengan permukaan air yang diterangi oleh sinar yang memudar, disekitarnya diwarnai dengan cahaya senja. Sebuah hamparan bukit yang agak miring berada di sebelah kiri, dan sekelompok hewan bisa terlihat bergerak di sepanjangnya. Lurus di depan, semak-semak kecil mulai berjejeran disepanjang pinggiran jalan, dan mulai memantulkan bayangan mereka ke jalanan.

Hanya suara roda kereta dan tapal kaki kuda yang bergema di seluruh area, tanpa ada sesuatu yang aneh. Namun, para pengawal tampaknya telah terdiam. Itu karena situasi tak terduga yang ditemui kelompok itu beberapa saat yang lalu.

Lauren Ojou-sama, sebagai wakil dari keluarga Rubierute, telah menghadiri pesta dansa yang diadakan oleh keluarga Diento. Ketika kami melakukan perjalanan pulang, sekelompok bandit menyergap party kami. Dengan munculnya lebih dari dua puluh thief, sembilan dari pengawal keluar dari formasi untuk menahan mereka selama mungkin dan mencegah pengejaran terus berlanjut.

Hanya lima prajurit dan satu kesatria yang tersisa bersama kereta ini. Dan tidak ada tanda-tanda dari pengawal sebelumnya yang menyusul dari belakang.

Di dalam kereta, mengamati pemandangan yang dilewati melalui jendela, Lauren Ojou-sama memiliki ekspresi cemas. Rambut panjangnya yang berwarna chestnut bergoyang-goyang, dan tampaknya telah kehilangan semua kilauannya karena ketegangan dan kecemasan. Dia memiliki wajah yang kecil dan bulu mata yang tipis, dengan mata cokelat terangnya menyiratkan semacam perasaan gelisah.

Gadis berusia enam belas tahun itu juga mengenakan gaun biru terang yang mewah, cahaya matahari terbenam yang masuk melalui jendela kereta menjadikannya sedikit berwarna merah.

Di dalam kereta, satu-satunya orang lain adalah diriku, pelayannya. Meskipun suasana seperti ini biasanya cocok untuk obrolan santai, sekarang tak satu pun dari kami berbicara sepatah kata pun.

Setelah beberapa saat, kecepatan kereta tiba-tiba melambat, kemudian ringkikan kuda terdengar. Jendela kusir dibuka, dan dia memberikan permintaan maaf.


"Maaf, Ojou-sama. Kuda-kuda tidak bisa bertahan lebih lama, jadi sekarang anda harus berjalan. ”


Sejak saat bandit-bandit itu menyergap hingga sekarang, kuda-kuda itu terus-menerus menarik kereta. Tampaknya mereka sudah mencapai batasnya. Seperti yang diduga, itu adalah tugas yang sulit bahkan untuk empat kuda. Yah, jika disebutkan lagi, kuda kesatrialah yang paling menderita.

Ketika aku mengintip ke luar jendela, aku melihat pria paruh baya mengikat kudanya di samping kereta. Dia adalah salah satu ksatria yang melayani keluarga Rubierute, Maudlin-sama. Para pengawal yang tersisa berkumpul di sekelilingnya.

Maudlin-sama selesai menyeka keringat dari leher kudanya dengan handuk. Rambutnya pendek dan rapi, dan dia memiliki kumis yang rapi. Meskipun ia mengenakan armor ringan, penampilannya mengungkapkan otot kekar dibaliknya.


"Maudlin-sama, apakah para bandit sudah tidak mengejar?"


Dari jendela kereta, aku bertanya sambil melihat ke arahnya.

“Aku khawatir dengan jumlah pengawal yang dikirim melawan bandit sangat sedikit, tetapi karena tidak ada yang datang untuk mengejar, mungkin kita sudah aman. Sampaikan ini, jika kau berkenan, kepada Ojou-sama. "


Sebagai tanggapan, Maudlin-sama menunjukkan senyuman meyakinkan.


"Begitukah? Aku akhirnya bisa tenang setelah mendengar ini. ”


Aku melihat jalanan di depan kereta.

Semak-semak yang berjejeran di pinggiran jalan lebih jauh ke belakang kini tersebar di sepanjang jalan. Bukit yang terlihat dari jalanan sekarang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Saat aku melihatnya, aku tidak bisa menahan perasaan aura yang menindas di belakang leherku. Sensasi yang menusuk membuatku mengerutkan alisku.

Setelah melihatku, Maudlin-sama juga dengan penuh waspada mengawasi daerah sekitarnya. Tepat saat kami melihat sesuatu, suara hembusan angin terdengar saat beberapa anak panah terbang ke arah kami.


"Goha-"


Dengan suara yang membosankan ketika anak panah menancap daging, dua anak panah menghantam si kusir. Pada saat itu, roda kereta terbentur batu di jalan, menyebabkan tubuhnya memantul dan terlempar. Mayat sang kusir kemudian menghalangi roda, mencegahnya bergerak.

Selanjutnya, banyak anak panah terbang dari semak-semak, menusuk dua pengawal.


"Sial! Ada penyergapan lagi ?! Bagaimana ini bisa terjadi!!"


Tiba-tiba muncul dari puncak bukit di sebelah jalanan, dengan suara kepakan tali kuda, enam bandit maju menuju kelompok itu. Anak-anak panah yang mengalihkan perhatian tak terbantahkan lagi memungkinkan para bandit yang menunggangi kuda mendekati mereka. Dan dua pengawal tertusuk oleh panah, dan yang lainnya roboh saat melawan bandit dalam sekejap. Tepat saat kesatria Maudlin-sama menebas salah satu bandit yang mendekat dengan pedangnya, dua orang muncul dari semak-semak untuk mengambil kuda yang tak ada penunggangnya.


“Rita-dono! Keretanya !! ”


Mendengar suara Maudlin-sama, aku merasa kepalaku mulai berpikir jernih. Aku bergegas keluar dari kereta dan menyingkirkan tubuh kusir keluar dari jalur roda. Dengan roda belakang sekarang yang sudah bebas, kereta bisa bergerak lagi.

Aku mencoba menaiki kursi kusir yang berlumuran darah, dan lalu seragam pelayanku ditarik dari belakang, memaksaku jatuh ke tanah. Punggungku menghantam tanah dengan keras, dan semua udara di paru-paruku dipaksa keluar. Dari sudut mataku, aku melihat salah satu pengawal roboh di tanah.

Bandit yang telah menarikku ke bawah dan sekarang menyeret diriku menghadap padanya. Dia memiliki senyum vulgar di wajahnya.


"GUAAAA !!!!"


Pada saat itu, suara maskulin yang penuh dengan rasa sakit terdengar keluar. Ketika aku melihat ke arah suara itu, sebuah pemandangan yang tidak dapat dipercaya terjadi di depan mataku.

Salah satu pengawal di belakang Maudlin-sama pedangnya menembus di antara salah satu celah armor Maudlin-sama. Maudlin-sama berbalik dengan cepat.


“Casuda !? Jadi kau yang memandu mereka !! ”


Setelah ditikam dari belakang, Maudlin-sama mencoba memutar tubuhnya untuk menebas mantan pengawal Casuda. Namun, lawannya yang selincah kuda, dengan senyum samar, mengambil kesempatan untuk menjatuhkannya ke tanah.

Tiba-tiba, seorang bandit dengan fisik yang sedikit lebih baik daripada yang lain melompat dari kudanya dan menikam leher Maudlin-sama dengan pedangnya. Darah menyemprot keluar, dan tanah di sekitar Maudlin-sama diwarnai merah.


"Hei, dengah hati-hati keluarkan Ojou-sama dari dalam kereta."


Bandit itu memberikan instruksi kepada yang lain sambil memperlihatkan gigi kuningnya. Dia memiliki penampilan menonjol yang dilengkapi dengan rambut panjang diikat kebelakang punggungnya, dengan jenggot berantakan yang menutupi rahangnya dan menutupi lehernya. Dia membawa pedang bermata satu dengan lengan yang ditutupi sebuah bekas luka. Pria ini sepertinya pemimpin para bandit ini.

Mengikuti perintahnya, bandit lainnya turun dari kuda mereka dan berlari kearah kereta. Pintu kereta itu terbuka, dan Lauren Ojou-sama ditarik keluar.


“Tidaaaak! Lepaskan aku sekarang juga !! ”


Meskipun Ojou-sama putus asa, meronta-ronta, lengannya dicengkram oleh dua pria. Aku ditangkap dengan cara yang sama dan diseret.


"Hei! Berhati-hatilah saat melepas pakaiannya! Kita bisa menjualnya dengan harga tinggi! ” Pemimpin bandit berteriak pada keduanya yang memegangi Ojou-sama.

"Boss, karena aku membunuh orang itu, bisakah aku mencicipinya ..?" Salah satu bandit yang menanggalkan pakaian bertanya pada pemimpin.

"Dasar bodoh!! Aku yang pertama kali mencicipinya !! Kau bisa mendapat giliran setelah aku selesai !! ”

“T-tunggu sebentar! Aku informan jadi aku yang harus melakukannya terlebih dahulu !! ”


Casuda, mantan pengawalnya dengan lantang memprotes bos bandit itu. Bos melotot ke arahnya dengan sorot mata yang berbahaya, dan kemudian dengan santai menusukan pedangnya ketenggorokan Casuda.


"Gyahu !?"


Teriakan lemah diucapkan oleh si pengkhianat saat sebuah pedang menjulur dari belakang kepalanya. Casuda jatuh seperti boneka yang talinya dipotong, sementara bandit lainnya menyaksikan dengan senyum jahat di wajah mereka.


"Sejak awal, aku tidak akan memberimu bagian!"


Saat bos mengatakan ini, dia menendang kepala pria yang sekarang sudah mati. Dengan suara yang membosankan, tengkoraknya hancur saat lehernya berputar ke arah matahari terbit.


"Hiii!"


Ojou-sama berteriak sebentar saat melihat ini. Noda kuning menyebar di celana dalamnya, dan genangan kecil muncul di bawahnya.


"Yieks, gadis itu mengompol!"


Para bandit yang memegang Ojou-sama menggerutu, pria-pria di sekitarnya mulai tertawa vulgar.


“Kita tidak bisa menjual pakaian dalam yang kotor, lepaskan.”


Menuruti kata-kata bos, pakaian dalam bernoda itu dilepas dengan cepat. Bau embun basah Ojou-sama ditatapi mata cabul para pria.


"Tidaaaak !!! Biarkan aku pergi!!"

Putus asa ingin menjauh dari tatapan banyak pria, dia mengayunkan kakinya berupaya untuk melarikan diri. Namun, bos membuat salah satu bandit menahan kakinya ke bawah, sementara dia melepas celananya dan memperlihatkan benda kotor miliknya.


"Berhenti! Apakah kau tahu apa yang akan terjadi jika kau melakukan hal semacam itu !! ” Aku menyuarakan kemarahanku kepada mereka.

"Sebelum mengkhawatirkan orang lain, pertama-tama kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri!"


Sebagai salah satu dari beberapa pria yang memegangi diriku mengatakan itu, dia dengan sembrono membuka seragam pelayan sederhanaku. Bra miliku juga dirobek, dan salah satu payudaraku terlihat. Aku menutupinya dengan cepat, tetapi kemudian dengan kasar aku dilempar ke tanah.


"Aku akan membuatmu merasa kenikmatan bersama dengan Ojou-sama di sana, hahaha!"


Ketika pria itu tertawa, semburan bau tidak enak menyasar wajahku. Dia kemudian mulai menarik celananya ke bawah. Kedua lenganku dipegang oleh salah satu pria, sementara salah satu kakiku dipegangi oleh yang lain. Saat benda itu tergantung di atasku, bos sedang mempersiapkan untuk menyerang tempat pribadi Ojou-sama dengan sekali gerakan.

Lalu - sebuah bayangan besar muncul di belakang para bandit.

Itu adalah peristiwa yang terjadi dalam sekejap. Seorang kesatria yang menjulang tinggi berdiri di belakang bos bandit di atas Ojou-sama.

Dengan armor yang bersinar berkilauan dengan warna putih dan biru dan dihiasi dengan detail terbaik, dia tampak seolah-olah dia adalah seorang ksatria suci dari sebuah dongeng. Jubah hitam pekat yang berkibar di belakangnya sepertinya terbuat dari langit malam yang berbintang itu sendiri. Pelindung kepala menutupi wajahnya, dan, karenanya, ekspresi dan emosinya semuanya tersembunyi.

Pedang yang terangkat di tangan kanannya tampaknya memiliki panjang tak terkira, dan menekan dengan kehadiran luar biasa saat pedang itu dilapisi dengan kilauan cahaya nila misterius.

Pedang kesatria itu melintas ke arah bos dan bandit yang menahan kaki Ojou-sama. Pedang itu bergerak seolah-olah bisa memotong udara, dan meninggalkan jejak cahaya di belakangnya. Ksatria itu membuat sebuah gerakan, dan dengan tebasan terbalik, pedang melepaskan gelombang kilauan cahaya lagi. Gelombang cahaya pedang itu seolah-olah menutupi langit dengan cahaya berkilauan di antara kedua pria yang memegang pergelangan tangan Ojou-sama.

--Semuanya terjadi dalam hitungan detik.

Pada saat berikutnya, batang milik bos terlepas. Para bandit yang memegangi kaki tidak terlihat bagian leher keatasnya, kepala mereka berguling-guling di tanah menghadap ke arah matahari terbit. Para bandit yang memegangi pergelangan tangan kepala mereka telah terbelah menjadi dua, darah menyemprot dengan luar biasa menutupi semak-semak di dekatnya, mewarnai pemandangan yang sudah diwarnai oleh matahari terbenam bahkan lebih merah.

Tubuh bagian atas bos roboh di dekat Ojou-sama, dan dengan ngeri dia menendangnya menjauh. Tubuh bagian bawah yang tersisa melepaskan cairan berawan putih dari benda tertentu yang berdiri tegak di genangan darah.

Para pria yang menyodorkan benda kotornya saat mengelus-elus perutku dan pria yang memegangiku, otak mereka akhirnya menyadari bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.


"Uwaaaah !!! M-monsteeer !!! ”


Kedua laki-laki itu bergegas pergi, tetapi laki-laki yang celananya dipelorotkan tersandung, dan jatuh di dekat diriku. Sebelum aku menyadarinya, ujung pedang kesatria sudah diayunkan, dan pria itu roboh di tanah seperti katak yang telah diinjak.

Ksatria perak menarik pedangnya dari pria yang tertusuk, dan berbalik ke arah pria yang masih berlari. Perlahan-lahan, dengan satu gerakan, dia mengayunkan pedangnya, sekali lagi mengirimkan tebasan kilat putih. Dari yang terlihat, dia hanya menebas udara di depannya, sementara pria itu telah berlari cukup jauh. Namun, tubuh bagian atas dan bawah dari pria yang melarikan diri itu terpisah, roboh ke tanah.

Sampai para bandit menjadi bongkahan daging, ksatria itu tidak berbicara; Aku hanya duduk di sana dan berkedip tiga kali. Dengan ayunan ringan, ksatria perak menyarungkan pedangnya. Dia kemudian melihat ke arah kami, dan suara sedikit teredam bisa terdengar dari dalam helm yang benar-benar menyembunyikan ekspresinya.


"Apa kalian baik baik saja?"


Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 2


[ Volume 1 Chapter 2 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌

» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 2

6 comments: