Thursday, 24 May 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 3

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 3
 

Translator : Sai Kuze

Chapter 3 - Serangan Kejutan Tidaklah Pengecut [Bagian 2]


Jalanan disepanjang aliran sungai itu tidak terasa seperti jalanan yang sebenarnya bagiku.

Hanya tempampang dataran rata ditempat ini, satu-satunya indikasi bahwa ada lalu lintas adalah adanya jejak roda kereta. Aku mengikuti hilir sungai menggunakan 【 Dimensional step 】.

Ketika aku melihat kereta berhenti di depanku.

Aku akhirnya bisa menemukan penduduk dunia ini, tetapi atmosfernya telah mati.

Untuk menyelidiki, aku berpindah ke lokasi terdekat, dan mengamati kereta. Seorang lelaki berbadan besar tampak menyodorkan pedangnya ke arah seorang pengawal. Berbaring di tanah, adalah mayat lima pengawal lainnya. Seseorang yang berhadapan dengan bandit roboh ke tanah, hanya enam bandit dan dua wanita yang dibiarkan hidup. Itu jelas arahnya akan kemana, dan terus berkembang.

Jika aku ingin menyelamatkan kedua wanita, aku harus mengurus enam bandit yang bisa membunuh tanpa ragu-ragu. Namun, keluar dan hanya berteriak "Hentikan, kalian" tidak akan menghentikannya.

Jika ini adalah game, maka peralatan imbaku saat ini akan memungkinkanku untuk sehat walafiat jika aku menantang mereka. Namun dalam kenyataannya, hasilnya bisa berkebalikan dari apa yang aku harapkan.

Hanya ada satu strategi yang bisa aku pakai untuk menang, aku harus meluncurkan serangan mendadak. Strategi ini semuanya tergantung pada serangan pembuka. Namun, kemungkinan akan sangat menguntungkan bagiku dengan rencana ini. Bagaimanapun aku selalu bisa menggunakan 【 Dimensional step 】 jika serangan gagal. Pertama, aku harus menganalisa siapa yang paling kuat.

Dalam penglihatanku langsung, pria yang telah kutargetkan memerosotkan celananya ke bawah mengekspos pantatnya yang bulukan.

Aku mencabut pedangku dari sarungnya, senjata kelas mythical 【 Holy Thunder sword 】 siap melepaskan sedikit kekuatan yang mampu menebang pohon dengan satu pukulan. Baiklah, aku sudah siap.

Dalam sekejap, aku berada di belakang bandit dengan menggunakan sihir transfer.

──Ketika ditanya hasilnya, serangan mendadak itu sukses besar. Malahan, itu adalah kemenangan luar biasa.

Bahkan sebelum mereka dapat bereaksi, empat orang tidak mampu melakukan tindakan. Dan dua yang mencoba lari dengan cepat dibereskan.

Di tempat pertama, aku tidak punya niat membiarkan seorang bandit melarikan diri. Itu seperti keadaan diriku telah memasuki mode pertempuran, ketika aku melihat seseorang yang mencoba menggerakan tubuh aku bergerak seketika. Menunjukkan punggungmu ke pemangsa adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau lakukan, ketika mencoba melarikan diri darinya. Itulah mengapa aku menggunakan 【 Flying Dragon slash 】 untuk memberikan serangan fatal ......

Meskipun itu untuk menyelamatkan para wanita, aku tidak merasakan apa-apa setelah aku membunuh. Aku ingin tahu apakah ini adalah efek mental?

Aku mulai melihat sekeliling, karena aku tersadar dengan perasaan tidak enak bahwa ada hal penting yang kulupakan.

──Nah, bahkan jika aku memikirkannya sekarang, sepertinya tidak mungkin aku akan menemukan jawabannya ……

Selain itu, karena ancaman para bandit telah dibereskan, aku mungkin bisa membuat para wanita ini membawaku ke kota terdekat.

Sedangkan untuk dua wanita, aku mengalami sedikit kesulitan untuk mencarikan suasana ini, aku mencoba untuk meredakan ketegangan mereka dengan berbicara.


"Apa kalian baik baik saja?"


Aku menanyai kedua wanita itu, berbicara dengan nada normal, seolah-olah kami sama-sama seorang pengelana biasa.

Nada itu cocok digunakan setiap kali aku memainkan game.

Itu adalah cara dasar untuk bermain, meskipun aku biasanya harus mengetik di keyboard sebelum aku dapat berbicara. Bahkan jika kami tidak memainkan peran, kebanyakan orang akan bertindak seperti itu, setidaknya ...... aku pikir mereka akan melakukannya.

Ngomong-ngomong, setting karakterku di sini adalah sebagai seorang warrior, dan aku memiliki kualifikasi seorang ksatria suci. Sebuah kutukan telah mengubahku menjadi kerangka, jadi aku berkeliaran mencari cara untuk menyembuhkannya. Aku seorang warrior yang baik di awal usia 40-an …… itulah setting yang aku siapkan untuk sebuah jawaban jika ditanya.

Salah satu dari dua wanita itu masih seorang gadis, dan memiliki rambut berwarna cokelat. Dia duduk di sana tertegun, bermandi darah para bandit. Memang, itu agak menyedihkan ……

Wanita lainnya berusia 20-an dan mengenakan sisa-sisa pakaian pelayan. Di memilik rambut ikal pendek berwarna merah, dan menatapku dengan mata cokelatnya yang tajam. Pakaiannya robek di sekitar dadanya dan dia mencoba menutupi payudaranya dengan lengannya. Tidak banyak darah mayat terciprat padanya.


“Kalian harus membersihkan diri di sungai. Aku akan membereskan kekacauan ini saat kalian melakukannya.

“Y-Ya, terima kasih banyak. Saya akan membawa ojou-sama ke sana. ”


Mendengar kata-kataku si pelayan berambut merah, berlari ke kereta dan mengeluarkan sebuah koper, dia kemudian membungkus gadis itu, yang disebut sebagai ojou-sama, dengan kain dan membawanya ke aliran sungai.

Kemudian, aku melihat sekeliling lagi.

Ada 6 mayat bandit, dan 7 mayat pengawal. Adegan yang mengerikan. Ini seperti melihat adegan kecelakaan yang mengerikan dari sinetron Indosiar. Ada juga 12 kuda, tidak termasuk yang diikat pada kereta. Berdasarkan pelana dan perlengkapan lain pada kuda, 6 dari mereka tampaknya milik para bandit.

Seekor kuda diwaktu begini. Bisa setara dengan mobil modern. Menjual keenam kuda milik para bandit pasti menutupi biaya petualanganku. Bisakah aku juga mendapatkan uang dari menjual senjata orang mati juga? Senjata-senjatanya juga pasti sangat berharga, karena pada dasarnya senjata adalah gumpalan logam.

Aku memutuskan untuk membuang armor kulit yang tampaknya tidak terlalu berharga, di samping itu sebagian besarnya berlumuran darah.

Aku mencari sesuatu ditubuh salah satu bandit. Benda seperti kantong kulit terikat di pinggangnya. Aku melonggarkan tali untuk memverifikasi isinya, 4 keping perak seukuran koin 100 yen, dan 15 keping berbagai warna seukuran koin 10 yen. Ukiran yang sama terdapat diatas semuanya.

Ini sepertinya uang yang digunakan di sini. Koin perak dan tembaga? Membandingkannya dengan koin yang kau lihat di Jepang, ini membuatku terdiam bahagia. Jadi inilah yang disebut rasa kekayaan.

Setelah beberapa saat, aku yakin aku telah melucuti semua benda berharga dari para bandit.

Setengah bagian tubuh bos yang mengambang dalam sup merah, mengantongi 6 keping emas seukuran koin 1 yen. Itu mungkin koin emas, meskipun kecil namun relatif berat.

Dari keseluruhan bandit aku mendapatkan 6 emas, 31 perak, dan 67 tembaga. Mungkin ini adalah jumlah yang kecil, tetapi aku tidak tahu tanpa mengetahui harga-harga didunia ini.

Ada 6 pedang, 1 senjata seperti mace, dan 3 belati.

Senjata-senjata itu aku kumpulkan dalam karung yang ku temukan di salah satu kuda para bandit.

Mayat para bandit bertumpuk di sisi jalan. Apakah aku sudah terbiasa dengan adegan seperti ini dari sinetron-sinetron Indosiar? Aku merenung saat aku memperhatikan ketidakpedulianku terhadap tindakan yang aku lakukan.

Aku melemparkan 【 Flame 】 pada tumpukan mayat. Dari tanganku muncul sebuah kobaran api, menelan tumpukan mayat para bandit.

Ketika mereka dihanguskan menjadi abu, mereka dapat berguna bagi tanaman sebagai pupuk.

Tiba-tiba aku melihat, sebuah tembaga jatuh di dekat api.

Aku mengambilnya dan melemparkannya ke api, aku tidak tahu apakah perahu sungai Styx ada di sini atau tidak, tetapi setidaknya salah satu dari mereka pasti dapat menyeberangi sungai sekarang.
(TL Note: 'Styx' sungai menuju akhirat)

Ketika aku melihat api dan asap berterbangan ke atas, kedua wanita itu kembali.

Ojou-sama berambut coklat segera masuk ke kereta, dan penampilannya kini sudah lebih baik. Pelayan mengeluarkan tas kulit yang diikat ke bagian belakang kereta dan mengambil beberapa kain cadangan dari situ,


"Dengan tubuh para bandit sudah dikremasi, apakah selanjutnya kalian ingin aku kawal dan membawa sisanya?"


Aku bertanya padanya tentang perawatan mayat lain. Dia berhenti sebentar, dan memikirkannya.


“Mayat akan diambil nanti oleh prajurit yang lain. Hanya senjata dan kuda yang akan dibawa kembali, terima kasih telah menawarkannya.” Dia menjawab, membungkuk dengan sopan.

"Aku mengerti."


Aku membalasnya dengan singkat, dan mulai menggerakkan tubuh.

Pelayan itu menaiki kereta untuk berganti pakaian, dan menutup tirai.

Menemukan karung lain, aku menaruh senjata para pengawal di dalamnya, dan meletakkannya di bagian belakang kereta.

Aku kemudian mengikat kuda para pengawal ke kereta, dengan tali yang aku temukan dari bawaan para bandit.

Adapun kuda bandit, lima di antaranya diikat dengan kuat. Sekarang seharusnya sulit bagi mereka untuk berlari, dan aku dapat membawa kuda-kuda ke kota dengan menarik talinya.

Kuda yang aku kendarai tampak sedikit keberatan oleh beban armorku ...

Setelah beberapa saat pelayan muncul mengenakan pakaian barunya.


"Kali ini anda menyelamatkan kami dari situasi berbahaya, kami benar-benar berterimakasih."


Pelayan itu dengan lembut menyilangkan lengannya, dan membungkuk dengan tulus.


“Secara kebetulan aku sedang beristirahat disekitar seini. Antar aku ke kota berikutnya dan kita akan impas. ”


Aku merasa sedikit bersalah berkata seperti itu padanya, yang terpenting perjalanan ke kota adalah tujuanku.


"Terimakasih banyak!"


Pelayan itu, tanpa menyadari maksudku, memiliki ekspresi gembira, ketika dia mengucapkan terima kasih lagi dan naik ke kursi pengemudi.

Ketika kereta mulai bergerak dengan tenang, aku menaiki kudaku sendiri berjalan di sampingnya. Kuda-kuda lainnya ditarik dengan tali, dan segera menyusul dari belakang.



[ Volume 1 Chapter 3 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌

» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 3

5 comments: