Thursday, 31 May 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 6

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 6
 

Translator : Sai Kuze

Chapter 6 - Mencari Pekerjaan sebagai Petualang [Bagian 1]


Keesokan harinya, sinar matahari memasuki ruangan melalui jendela kayu.
Aku meregangkan tubuhku, yang kaku karena duduk di tempat tidur dengan punggung bersandar ke dinding. Meskipun tubuhku ini tidak memiliki otot, ini adalah kebiasaan lamaku. Menyadari hal ini, aku meregangkan leherku dan berdiri.

Panas sinar matahari memenuhi ruangan ketika aku membuka jendela. Jendela menghadap ke jalan utama, jadi aku sudah bisa melihat aktivitas di jalanan dengan melihat keluar jendela.

Sesuatu seperti sebuah pasar terlihat, aku bisa melihat orang-orang berjualan sayuran dan daging panggang, ada juga pedagang yang menjual karya seni dan perhiasan. Itu tidak mengherankan jika tempat itu menjadi ramai.

Setelah aku memverifikasi isi barang bawaanku dan mengecek bahwa aku masih memiliki jumlah uang yang tersisa, aku meninggalkan penginapan. Tidak ada orang di meja kasir, dan para tamu pergi sesuka hati. Tampaknya membayar di muka adalah norma di sini. Model bisnis yang ceroboh.

Aku memasuki jalan utama membawa karung penuh senjata di atas bahuku. Orang-orang di jalanan menatapiku, membuatku merasa tidak nyaman. Aku penasaran apakah jenis armor ini masih tidak biasa di dunia ini?

Mencoba untuk menghindarinya, aku memutuskan toko senjata sebagai pemberhentian pertamaku.

Menuju ke barat dari jalan utama, aku melihat papan nama dengan pedang & kapak di atas salah satu toko. Memasukinya, aku melihat bahwa toko itu penuh dengan senjata dan alat pelindung.
Dari belakang, seorang pria paruh baya diusia menengah muncul. Pria itu memiliki ekspresi terkejut di wajahnya, sebelum dia mulai berbicara.


"Danne-sama, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"

“Aku ingin menjual ini. Laku berapa?"


Aku mengeluarkan senjata dari karungku dan menaruhnya di meja satu per satu. Semuanya kecuali salah satu dagger karena mungkin berguna di masa depan.

Pemilik toko mengambilnya satu per satu, sehingga dia dapat memeriksa kondisi masing-masing senjata. Dia meletakkan tangannya di rahangnya sambil menentukan harga, sebelum dia melihat ke arahku lagi.


"15 suk untuk curved sword, 5 untuk setiap straight sword, 7 untuk mace, 1 suk dan 5 sek untuk belati. Curved sword dapat dijual jika aku mengasahnya ulang, tetapi pedang lainnya intinya sudah rusak dan perlu diperbaiki. Mace rusaknya hanya sedikit, jadi aku bisa langsung menjualnya."

"Aku tidak keberatan."

"Baiklah, totalnya 50 suk dan 5 sek."


Dia pergi ke belakang dan memberikan 50 koin emas dan 5 koin perak. Aku taruh di kantong kulitku dan meletakkannya di pinggang.

Dengan menjual senjata dan kuda, aku mendapat cukup banyak uang. Penginapan yang aku tinggali biayanya 1 sek permalam, karena 10 perak sama dengan 1 emas, aku bisa tinggal di sana selama lebih dari seminggu hanya dengan satu koin emas.

Namun, aku tidak tahu kapan uang akan diperlukan di dunia ini. Aku harus menemukan cara untuk mempunyai dana untuk keadaan darurat ……

Ketika pemilik toko kembali setelah meletakkan senjata itu, aku bertanya kepadanya,


"Maaf, apakah kau tau cara mendapatkan penghasilan tetap untuk seorang pengelana?"

“Penghasilan tetap? Dengan perlengkapan yang sangat bagus, bukankah tuan sudah dipekerjakan sebagai seorang petualang? Petualangan biasanya tidak harus membayar biaya untuk meninggalkan dan memasuki kota. ”


Tampaknya biasanya membutuhkan biaya untuk memasuki dan meninggalkan kota. Sejak aku memasuki Rubierute dengan kereta tuan feodal, aku tidak menyadari tentang itu.

Petualang hanya harus menunjukkan sertifikasi mereka kepada penjaga gerbang dan mereka akan dibiarkan masuk. Karena tugas para petualang sering membuat mereka keluar-masuk dari kota, mereka dibebaskan dari biaya tersebut. Anggota asosiasi pedagang tampaknya memiliki aturan yang sama, namun mereka dikenai pajak tergantung pada jumlah dan jenis barang yang mereka bawa.

Aku berterima kasih kepada pemilik toko senjata dan kemudian pergi. Guild petualang berada tepat di seberang jalan toko senjata. Di sebelahnya ada bangunan asosiasi pedagang.

Bangunan guild petualangan memiliki dua tingkat, dan yang luar biasa hanya papan berbentuk pedang & perisai. Ketika aku membuka pintu gandanya, aku melihat sebuah meja resepsionis di seberang pintu masuk. Yang aneh adalah meja itu dikelilingi jeruji besi, memberikan suasana didalam kesan seperti kebun binatang.

Satu beruang duduk di kandang. Tunggu, itu tubuh pria bukan beruang. Dia memiliki janggut pendek dan rambut pendek hitam mengkilap, daerah di sekitar mata kirinya terdapat bekas luka yang besar, lengan berototnya tampak siap meledak, dan dadanya yang terbuka ditutupi rambut.

Apakah selera wanita di dunia ini masih ketinggalan jaman? Melihat sekeliling, aku hanya melihat penampilan seperti itu di lubang neraka ini.

Aku perlahan mendekati resepsionis yang seperti beruang. Beruang bermata satu itu menatapku, seolah-olah aku adalah lawannya.


"Aku ingin bergabung dengan guild petualang."


Di seberang kandang, ekspresi beruang bermata satu itu mengeryit, ketika aku menyatakan tujuanku. Hasil akhir dari distorsi itu adalah senyuman yang menakutkan, yang jelas tidak seperti dia sering tersenyum ... Ini memberikan arti yang lain untuk istilah "senyum tak ternilai".


“Lihatlah perlengkapanmu, sepertinya kau tidak punya masalah keuangan. Penerimaan guild petualangan termasuk pemeriksaan latar belakang. Serta uji kekuatan. Jika kau bisa memburu binatang buas, monster, atau bandit, bawa buktinya ke sini untuk menyesuaikannya. Mudah kan? ”


Kau mengatakan tentang binatang buas, tetapi masih ada satu hal lagi seperti monster.

Datang ketempat ini aku melihat kawanan hewan di daerah perbukitan, tapi aku tidak berpikir aku menemui monster atau jika aku menemuinya aku tidak memperhatikan mereka. Aku mengingat kembali pemandangan yang indah itu.

Bagaimanapun, salah satu target untuk penaklukan adalah bandit? Maka akankah kepala yang baru dipotong dihitung sebagai bukti …… Namun bandit yang aku tangkap kemarin sudah dikremasi, jadi aku tidak bisa menggunakannya.


"Aku mengerti. Beberapa binatang buas, akan kubawa ”


Meninggalkan bangunan guild petualang, aku berjalan menuju gerbang barat.

Di tengah kota, ada tempat-tempat pengawetan yang menjual kulit. Benda-benda seperti dompet koin kulit dan tas kulit ada di mana-mana. Aku mengambil sesuatu saat melewati salah satu toko. Itu adalah botol minuman berukuran besar, dengan gabus kecil yang menempel di atasnya. Botol itu sepertinya bisa menampung air sebanyak satu botol bir. Item yang diperlukan untuk setiap pengelana.


"Berapa harganya?"

"Tuan, bagaimana kalau 1 suk?"


Pedagang itu tertawa, sambil memberitahuku harganya 1 emas. Satu emas sepertinya agak mahal, karena ini pada dasarnya hanya botol air. Suasana tampaknya menunjukkan bahwa dia menjualnya padaku terlalu mahal karena melihat penampilanku. Aku harus mencairkan suasana ini dengan sedikit ancaman.


"Satu suk ... hah ?!"

"Tunggu! Tuan. Itu hanya bercanda! Bagaimana 2 sek dan 5 sok? Hihihi …… ”


Harganya langsung jatuh ke 2 perak dan 5 koin tembaga. Itu 1/4 harga asli. Mungkin harganya masih mahal, tapi karena harganya lebih murah daripada sebelum aku membelinya. Aku menyerahkan 3 koin perak, dan menerima lima tembaga sebagai kembaliannya. Sulit untuk menemukan koin perak, karena kantongku penuh dengan emas. Mungkin aku harus membeli dua kantong lagi dan memisahkan koin berdasarkan tipenya.

Selain botol minuman aku juga membeli karung besar untuk menempatkan hasil buruan yang aku buru. Aku membayar dengan 10 koin tembaga untuk meringankan dompetku sedikit.

Kebetulan, aku membeli sate kelinci dari toko yang menjual makanan. Satu tusuk berharga dua keping tembaga, dan dibungkus dengan kertas seperti daun untuk dibawa bepergian.

Mengambil jalan memutar bagian perumahan pribadi menuju keluar dari kota, aku melihat ruang terbuka kecil di depan gerbang barat. Saluran air dari batu dibangun di sepanjang jalan. Tampaknya menyediakan air bersih, ketika aku melihat pedagang mengisi botol air dan istri mereka dari dekat rumah mengisi botol besar dengan air. Lebih jauh ke hilir ada wanita mencuci sayuran dan bahkan lebih jauh kesana ada orang-orang yang sedang mencuci pakaian. Aku merasa bahwa gerbang timur juga memiliki saluran air seperti itu, tetapi aku tidak menyadarinya karena terlambatnya aku datang ke kota ini.

Kerumunan itu dengan tenang memberi jalan ketika aku mendekati saluran air, Itu seperti kisah Nabi Musa, tetapi itu bisa dihubungkan dengan orang-orang ini secara naluriah menghindari potensi bahaya.

Aku mengisi botolku dengan air sebelum menutupnya. Seharusnya sekitar 1 atau 2 liter? Kemudian kuletakkan di karungku sebelum menuju ke pintu gerbang.

Sepertinya ada pemeriksaan barang bawaan di gerbang, karena bawaan milikku harus diperiksa sebelum aku bisa pergi. Di sekitar antrian para pedagang, tampak seseorang seperti penjaga. Mungkin karena pajak yang dibayar, tidak ada banyak orang di antrianku keluar dari kota.

Ketika aku akhirnya mencapai gerbang, aku dihentikan oleh penjaga gerbang.


"Berhenti! Bayar 3 sek untuk meninggalkan gerbang ini.


Menanggapi hal itu, aku mengambil paspor yang aku dapat dari Rita kemarin. Penjaga gerbang melihatnya, dan mereka tidak menyukaiku dengan memberikannya pada penjaga yang lain untuk memeriksa apakah itu nyata. Mungkin lebih baik jika aku berbicara.

Ketika aku meninggalkan gerbang dan menyeberangi jembatan batu, aku berhenti dan melihat pemandangan seluruh area. Di ladang ada orang-orang yang menyirami tanaman. Pada setiap leher petani ada tanda pengenal kayu yang mungkin digunakan sebagai paspor.

Sambil berjalan pergi, aku memikirkan hal-hal sepele seperti itu karena kota semakin jauh dan jauh.

Aku tidak menggunakan 【 Dimensional step 】 segera karena aku tidak ingin lebih menonjol dari yang sudah aku lakukan sebelumnya. Aku memiliki cukup masalah dengan penampilanku sendiri.

Sampai sekarang, aku belum melihat ada yang menggunakan sihir. Jika sihir tidak umum di dunia ini, maka aku bisa diperlakukan sebagai penyihir atau monster dan dibakar hidup-hidup. Bahkan jika memang ada, pasti sangatlah menakutkan ada seseorang yang bisa menggunakan sihir manipulasi ruang waktu. Jika itu menjadi sesuatu yang biasa maka apa gunanya ada kuda.

Jadi untuk sekarang, aku akan bergerak dengan berjalan kaki.

Ketika jalanan menanjak di lereng yang landai, keindahan seluruh pemandangan dapat disaksikan. Di sebelah kiri adalah sungai besar yang melengkung ke arah barat daya. Di bawah bukit, jalan terbagi menjadi dua, salah satunya jalanan disepenjang aliran sungai, sementara yang lainnya mengarah ke arah barat laut. Ladang tidak terlihat di luar bukit ini, dan tidak ada lagi orang-orang di jalanan. Tanpa adanya yang melihat aku bisa mulai menggunakan 【 Dimensional step 】 untuk bergerak.

Aku memutuskan untuk mengambil jalur barat laut. Karena aku tidak memiliki peta dan tidak tahu lokasi penanda yang dapat diidentifikasi, tidak akan aneh jika aku tersesat terlalu jauh dari jalanan.

【 Dimensional step 】 nyaman ketika aku memiliki bidang visi yang jelas. Bahkan jarak 1 kilometer bisa dianggap enteng. Satu-satunya kelemahannya adalah bahwa aku dapat dengan mudah terlihat di dataran terbuka yang jelas. Segala sesuatu akan merepotkan jika aku ceroboh.

Saat berjalan di jalur barat laut, aku melihat daerah berhutan di sisi jalan. Pastilah ada binatang buas yang sesuai syarat guild petualang untuk diburu.

Aku mendarat di tepi hutan, dan memulai perjalananku memburu binatang buas. Jika ada monster berbahaya di sini, maka aku selalu bisa melarikan diri.

Di hutan, aku mulai mencari buruan. Jarak yang bisa aku tempuh dihutan lebih pendek dibandingkan di dataran terbuka. Armorku lebih terlihat juga. Kamuflase seorang pemburu, aku tidak melakukannya.

Ketika hutan mengarah ke sungai, aku akhirnya menemukan sepasang babi hutan. Panjang mereka kurang lebih 1 meter, mereka memiliki tubuh gemuk yang ditutupi oleh bulu putih, dan dua gading mereka sangat runcing.

Tampaknya mereka berdua bersantai di dekat sungai ini. Aku berdiri di antara celah dua pohon, dan memegang pedangku. Cahaya biru pucat muncul, saat bunyi logam bergesekan dengan sarung pedang terdengar.

Ketika babi hutan mencoba untuk lari, aku menggunakan 【 Dimensional step 】 untuk muncul di depan mereka. Ketika aku selesai mematerialisasi, aku sudah berada di tengah ayunan untuk memotong kaki belakang babi hutan. Aku meneruskannya dengan mengayunkan lagi, sehingga kaki belakang babi hutan terlempar terbang.

Babi hutan hanya berbaring di tanah, mengeluarkan teriakan seperti jeritan. Bergerak cepat, aku menusuk perut keduanya dengan pedangku. Darah memuncrat keluar dari usus dan batang kakinya, teriakan kedua babi masih saja keluar.

Airnya berwarna merah, karena tercemar darah babi sampai kearah hilir.

Karena babi hutan dapat dimakan, membawa mereka pulang seharusnya memberikan penghasilan tambahan. Aku pernah mendengar bahwa yang terbaik adalah menghindari instant kill dalam kasus-kasus seperti ini, jika tidak darah akan tertinggal di dalam tubuh dan mengotori daging. Dengan membiarkan jantung memompa darah keluar, tidak akan ada bau yang tertinggal di daging.

Aku pikir itu adalah cara yang sangat kejam untuk menikmati daging yang bagus, teriakan babi hutan menjadi lemah.

Lalu aku teringat sate kelinci bumbu sambel kacang yang kubeli pagi ini. Duduk diatas batu disebuah rawa, aku melepas helmku. Angin berhembus menyebabkan pepohonan dihutan bersuara, sembari suara tenang aliran air bergerak melintasi daerah itu. Setelah melakukan peregangan sedikit dan menghirup udara segar, aku menarik sate kelinci dari karungku.


"Itadakimasu"


Setelah menepok kedua telapak tanganku, aku membuka bungkusan sate kelinci, dan menggigitnya. Aroma sambel kacangnya merebak, dan kenikmatan dagingnya asin sempurna. Dalam waktu singkat dagingnya habis. Aku mengeluarkan air minum yang aku dapatkan pagi ini, dan meneguknya.

Sepertinya aku bisa makan dan merasakan seperti biasa, bahkan dengan tubuh aneh ini.


"Terimakasih untuk makanannya"


Selesai dengan makananku, aku mencuci tanganku di air sungai dan duduk lagi.

Aku beristirahat sejenak.


[ Volume 1 Chapter 6 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌


» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 6

3 comments: