Tuesday, 8 May 2018

Novel OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 13 Chapter 2 Bagian 3

Ainz Dies

Novel OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 13 Chapter 2 Bagian 3


Bagian 3


Banyak orang berdiri di tembok kota dengan Neia, menyaksikan pertempuran yang berlangsung.

Sementara banyak orang yang mengubah sudut pandangnya setelah diselamatkan olehnya, mereka bukan satu-satunya di sini.

Ada preist dan paladin di sini juga. Neia tidak bisa melihat Remedios dari tempatnya berdiri, tetapi dia cukup dekat sehingga Neia bisa mendengarnya berbicara.

Satu-satunya anggota staf komando yang tidak ada di sini adalah Gustav dan Caspond.

Semua orang yang menonton pertempuran itu diam - tidak, itu hanya karena tidak ada kata-kata untuk menggambarkan pertempuran.

Mereka seharusnya tahu ini.

Para anggota Blue Rose mengatakan bahwa tingkat kesulitan Jaldabaoth di atas 200. Dengan kata lain, ini seperti bertarung dengan naga besar dalam bentuk manusia. Pertempuran didalam kota itu bisa saja mengarah menjadi sebuah tragedi besar.

Mereka seharusnya bersyukur bahwa hanya satu distrik kota yang hancur. Banyak rumah terbakar dan gumpalan asap putih melayang dilangit, tetapi total korbannya hampir tidak ada.

Sambil menonton pertempuran, ia telah melihat topan, api, serangan petir, dan manifestasi kekuatan luar biasa lainnya yang berada di luar pengetahuan manusia biasa. Setiap pelepasan energi ini bisa dengan mudah mengambil nyawa yang tak terhitung jumlahnya.

Terutama--




"Cantiknya…"


Apa yang benar-benar menggerakkan hati Neia adalah bola cahaya putih yang dilihatnya dua kali.

Itu adalah kekuatan yang menghabiskan semuanya dan membuatnya menghilang tanpa jejak. Rasanya seperti sesuatu yang baik untuk Neia, meskipun dia tidak bisa memastikan apakah itu benar-benar seragan dengan atribut divine. Kehancuran luar biasa yang dia lihat setelah menghilangnya cahaya itu membuatnya takut, tetapi akhirnya kekaguman pada kekuatan besar yang menang.


Sepertinya pertempuran masih berlangsung. Aku tidak percaya pertempuran masih belum berakhir setelah menggunakan semua mantra itu ... Jaldabaoth sangat kuat.

Dia telah mendengar tentang hal itu, dan dia bahkan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Namun, pemikiran Neia masih terlalu naif. Kenaifan itu sekarang hancur sepenuhnya.

Raja yang ia layani - meskipun hanya untuk sementara, dan hanya di dalam Holy Kingdom - sedang bertempur. Dia merasa kagum padanya itu sepertinya wajar saja sebagai bagian dari tugas pengawal nya, yang mengapa Neia menontonnya dari sini. Namun, jika dia bisa--

--Neia dengan erat meremas busur yang dia bawa.

Jika ada seseorang yang melihatnya dari dekat, mereka akan melihat beberapa bentuk lain yang bertarung melawan Sorcerer King selain Jaldabaoth. Mereka adalah maid iblis, yang dinilai memiliki level 150. NEIA tidak bisa melakukan apa-apa tapi mengagumi kekuatan Sorcerer King yang mempu menandingi begitu banyak musuh kuat sekaligus tanpa kesulitan.

Pada saat inilah Neia akhirnya menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri. Dia iri terhadap rakyat dari Sorcerous Kingdom - rakyat yang dilindungi oleh keadilan itu sendiri. Betapa bahagianya mereka tinggal di kerajaan yang diperintah oleh makhluk seperti itu.


"Kelemahan adalah dosa, jadi kau harus menjadi kuat, atau dengan rendah hati menerima keadilan yang serupa dengan Yang Mulia."


Pada saat inilah Neia menyuarakan kata-kata yang telah dia pikirkan selama ini. Cara dia mengulanginya beberapa kali terdengar sangat mirip doa.

Tiba-tiba, ada ledakan besar saat meteor jatuh.

Ia melemparkan puing-puing bangunan tinggi ke udara, dan mereka jatuh kembali ke bumi bersama hujan kerikil dan pasir.


"Kapten ... tidak Jaldabaoth ... terlalu kuat?"

"Ya itu benar."


“Sorcerer King - Yang Mulia juga sangat kuat. Jika dia menjadi musuh bangsa kita ... apa yang akan kita lakukan? ”

"Ya itu benar."

"Kapten?"

"Ya itu benar."


Dia bisa mendengar Remedios berbicara dengan tiga paladin.

Para paladin yang mengajukan pertanyaannya mungkin tidak melihat bagaimana Remedios akhirnya dipermainkan seperti anak kecil bahkan setelah melepaskan kekuatan pedang sucinya dan menikam Jaldabaoth dari belakang.

Ahh, mungkin mereka tidak melihatnya. Namun, siapa pun yang melihat pertarungan itu akan mengerti. Baik Sorcerer King dan Jaldabaoth kekuatannya tidak terbayangkan. Namun, sudah terlambat untuk memikirkan hal-hal seperti itu sekarang. Tidak--


Jika Yang Mulia menjadikan kerajaan ini sebagai kerajaan bawahan, kita tidak akan harus menderita karena invasi demihuman lagi.

Neia terkejut betapa sempurnanya ide itu, dan bahkan sedikit takut.

Bergabung dengan Holy Kingdom… jika dia adalah pemimpin tirani yang menakutkan, bahkan aku tidak akan memikirkannya. Tetapi Sorcerer King tidak seperti itu. Dia adil. Kalau begitu ... aku harus mengumpulkan orang-orang yang merasakan hal yang sama denganku!

Neia merenungkan masalah itu.

Banyak orang datang untuk menghormati dan mengidolakan Sorcerer King. Ada orang-orang yang tertarik pada kekuatannya yang luar biasa, mereka yang merasa senang karena terbebaskan dari penderitaan, mereka yang membenci para demihuman dan yang senang bahwa dia telah membalas dendam atas nama mereka, dan banyak lagi yang lainnya.

Diantara mereka Neia akan memilih orang-orang yang selalu berdoa untuk kedamaian kerajaan ini, dan kemudian membiarkan mereka mendengar kata-katanya.

Neia tahu bahwa dia masih muda dan tidak memiliki pengalaman hidup. Namun, orang dewasa yang mempunyai akal sehat bisa menghentikan Neia jika mereka merasa bahwa penilaiannya salah.


Mari mulai dengan mencari di antara bawahanku di unit pemanah.

Ada orang-orang di antara mereka yang kehilangan seseorang yang mereka cintai dan memiliki dendam kebencian di dalam hati mereka. Mungkin lebih baik mencoba membujuk yang seperti itu, karena Neia bisa mengerti apa yang mereka rasakan.

Saat dia merenungkan ini, dia mendengar suatu bahaya ketika ledakan yang sangat besar terdengar.

Setelah itu, di kejauhan, sebuah bangunan tinggi mulai runtuh.


Sorcerer King tidak akan menghancurkan bangunan itu tanpa alasan. Neia menyipitkan matanya untuk mencoba dan melihat apa yang sedang terjadi, tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi di bangunan ketika runtuh di tengah-tengah awan debu yang mengepul.

Itu diikuti oleh serangan petir besar-besaran dari langit.

Sepertinya dia sedang menjalankan beberapa rencena di sini, seperti yang diharapkannya.

Setelah beberapa saat, segala macam mantra yang terlihat menghancurkan kota, dan situasi itu berulang.

Neia merasa tidak nyaman.

Kekuatan mantra-mantra itu begitu kuat, tapi mungkinkah mana Sorcerer King masih bisa bertahan?

Neia menggelengkan kepalanya dan membuang rasa takut dan kegelisahan dari hatinya.

Itu akan baik-baik saja! Sorcerer King pasti sudah memperhitungkan semua ini! Dia sudah membuang begitu banyak mana di kerajaan ini, tapi meskipun begitu--


Namun, secara hipotetis, jika Jaldabaoth menang, tidak akan ada keselamatan untuk dunia ini, hanya ada keputusasaan. Apa yang harus dia lakukan jika itu terjadi?

Yang Mulia, aku mengandalkanmu!

Dan kemudian, dua sosok melayang ke langit, seolah-olah keinginan Neia terkabulkan.

Satu sosok berbentuk titik hitam terbang seperti ombak, sementara sosok lain mengejarnya sembari mengepakkan sayap merahnya dan meninggalkan jejak api di belakangnya.

Fakta bahwa tak  ada maid yang mengikuti mereka hanya berarti satu hal - Sorcerer King telah mengalahkan mereka para monster berlevel 150 sembari bertempur melawan Jaldabaoth.


- Dia luar biasa!

Neia begitu tersentuh sehingga dia menggigil.

Yang Mulia lebih kuat dari Jaldabaoth!

Memang. Tidak perlu memikirkan hal lain.

Disi lain, para maid jauh lebih lemah dari Jaldabaoth, dan Jaldabaoth setingkat di bawah Sorcerer King. Itulah mengapa dia bisa mengalahkan mereka saat bertarung dengan Jaldabaoth.

Neia berjuang untuk menahan kegembiraannya. Saat dia dengan hati-hati mengukir kekaguman seseorang yang dia hormati di matanya, dia sangat dipenuhi kegembiraan yang sepertinya akan meledak keluar darinya.

Jantung Neia berdetak kencang, sampai hampir merasakan sakit.

Mereka semua menonton adegan yang suatu hari akan diabadikan dalam kisah heroik.

- Tidak, itu tidak benar.

Sepertinya mereka akan bertarung lagi di udara.

Banyak efek ledakang dilangit.

Masing-masing mantra ini mungkin bisa menghancurkan seluruh distrik kota, dan mereka saling melemparkannya secara membabi buta. Namun, mereka terlihat indah dari kejauhan.

Meski begitu, itu adalah pertukaran kekuatan dalam wilayah yang tidak pernah bisa dijangkau oleh manusia.

Ini adalah...

Saat dia melihat ke sisi lain, dia melihat orang-orang yang berjejer melihat diatas tembok kota menelan ludah mereka. Tampaknya mereka juga mengerti. Mereka menyaksikan pertempuran udara dalam keheningan, dengan penampilan tulus di wajah mereka.

Seseorang merapatkan tangannya untuk berdoa, dan beberapa orang di sampingnya mengikutinya - dan segera hampir semua orang di tembok kota merapatkan tanganya ketika mereka melihat ke langit.

Rasanya seperti mereka sedang beribadah.


... Ini mitologi ...


Neia tidak tahu berapa lama waktu berlalu, tetapi akhirnya - ada keributan di antara mereka.

Di depan mata semua orang, salah satu bentuk di langit jatuh ke arah timur - dan kemudian menghilang.

Pertempuran sudah berakhir.

Ketika semua orang memperhatikan dengan seksama, bentuk yang tersisa perlahan turun. Penglihatan Neia lebih baik daripada kebanyakan, jadi dia melihatnya lebih dulu. Itu mengejutkannya sehingga dia menutup mulutnya.

Ketika yang lain melihat titik api merah, semua yang berada tembok kota terdiam. Namun, tidak ada yang mencoba melarikan diri. Semua orang yang telah melihat pertempuran tahu bahwa tidak ada gunanya berlari.


Dengan sayapnya yang berapi-api, pemenangnya (Jaldabaoth) menunjukkan dirinya.

Meskipun dia adalah pemenang dalam nama, itu adalah pemandangan yang tragis.

Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Setengah wajahnya tampaknya telah hancur, dan luka-lukanya yang dalam mengeluarkan darah segar. Mungkin itu karena suhu tubuhnya, darahnya mendesis karena mendidih, ketika dia turun ke tembok kota suara itu tidak berhenti sama sekali.


Itu menunjukkan betapa sengitnya pertarungan.


"Tidak mungkin…"


Sebuah suara berat, namun agak sedih bergema di seluruh tembok kota, seolah-olah untuk menghapus gumaman Neia.


“... Benar-benar musuh yang hebat. Dia adalah salah satu yang terkuat yang pernah kuhadapi selain Momon. Aku meremehkannya. Bodoh sekali. Memimpin demihuman hampir menjadi tidak berarti. Namun - ya, bagaimanapun, dia sudah mati. "


Neia tidak percaya ini. Karena itu, dia berteriak:


"Kau bohong!"


Jaldabaoth berbalik menatap tajam Neia, tapi dia tidak bergeming meskipun bermandikan tatapan makhluk dari tingkat yang sama sekali berbeda darinya. Emosi yang intens di dalam hatinya menggantikan rasa takut yang ia miliki.


"Aku tidak berbohong."

"Yang Mulia sangat buruk dalam lelucon ... jadi kau pastilah berbohong, kan?"

"Aku tidak berbohong."


Kata-kata Jaldabaoth telah berulang kali memukul Neia cukup keras untuk menghancurkan jiwanya.

Dunia tampak bergoyang di bawah kakinya.

Neia langsung mengerti mengapa Sorcerer King telah kalah dari Jaldabaoth. Tidak perlu memikirkannya.

Itu hanya karena kerajaan ini tidak membawa Evileye dari Blue Rose dan Nabe dari Darkness dua magic caster yang mampu melawan para maid iblis.

Tidak, ada alasan lain selain itu.


“Jika undead itu dalam kondisi prima, aku mungkin telah dikalahkan sebagai gantinya. Tapi untuk berpikir dia benar-benar menghabiskan mana untuk menyelamatkan manusia sepertimu - benar-benar, dia adalah orang bodoh yang tidak tahu prioritasnya. Untuk itu, aku berterima kasih. ”


Aku tahu itu, kelemahan benar-benar adalah dosa!

Neia yakin dia benar.


“Untuk itu aku akan memberi kalian hadiah. Hadiahnya adalah hidup kalian. ”


"...Apa artinya?"


Jaldabaoth mendengus senang mendengar pertanyaan itu dari sumber yang tidak dikenal.


"Aku mengatakan bahwa aku akan membiarkanmu hidup, setidaknya untuk saat ini."


Seseorang menghela nafas lega, tetapi Neia sangat marah.


"Omong kosong! Omong kosong! Omong kosong! Itu semua bohong! Semua yang kau katakan itu bohong! Siapa yang akan percaya dengan perkataan iblis !?”

“Sepertinya kau tidak dapat menerima kenyataan. Apakah kau gila, manusia? Menyedihkan. ”Jaldabaoth menunjuk ke Neia. "Hilang ... aku mengerti," dan kemudian dia segera menarik jarinya.

"Apa yang salah! Jaldabaoth! ”

“Kau bermaksud memprovokasiku dan dengan demikian membuktikan aku berbohong? ... Apakah menghilangkan nyawamu sangat berarti? Aku tidak bisa memahaminya, tetapi tampaknya memang demikian. ”


Gigi Neia berderak saat dia merapatkannya.

Jaldabaoth pasti berbohong.

Dia pastilah seorang pembohong, mahluk yang akan mengatakan kebohongan konyol seperti Sorcerer King sudah mati.


“Aku tidak akan mengizinkannya. Hidupmu telah diselamatkan. Sekarang, aku akan kembali untuk saat ini. Aku harus memulihkan luka-luka ini. Selama waktu itu, kau bisa menangis karena putus asa. ”


Saat Jaldabaoth hendak lepas landas dengan sayapnya, tangan Neia bergerak dengan pikiran mereka sendiri.

Dia menyiapkan busurnya - dan melepaskan tembakan.

Dia telah menembaknya dari belakang, tanpa memberi dia peringatan tentang tembakannya.

Namun, Jaldabaoth segera berbalik dan menangkap panah itu. Meskipun lukanya parah, dia masih sangat lincah.

Jaldabaoth berbalik untuk menghadapi Neia, dan kemudian matanya beralih ke busur Neia, Ultimate Shootingstar Super. Setelah itu, fitur murka-Nya berubah sedikit.


“Ohh !? Ah! Sungguh ini senjata yang luar biasa! Aku belum pernah melihat senjata seperti ini begitu lama! Tadi itu sedikit lagi, hampir membunuhku! ”


Jaldabaoth menggerakkan tangan dengan ekstrem seperti dia mengatakan itu. Dia tampak tenang, tetapi juga cukup cemas.


“Senjata macam apa ini! Bagaimana cara membuatnya? "

"Seolah aku akan memberitahumu!"


Apa yang dia pikirkan? Pikiran Neia mendidih dengan kebencian yang meluap-luap.

Bagaimana dia bisa mengatakan pada pembohong ini apa yang telah dia pelajari dari Sorcerer King?


"Bagaimana aku bisa memberitahu pembohong sepertimu !?"

"Muu, ah, jangan, jangan bilang padaku, apakah itu dibuat dengan ukiran rune?"


Jantung Neia tersentak sejenak saat dia mengatakannya. Meskipun ia berhasil menenangkan dirinya sedikit, hatinya sakit setelah mengingat sosok penuh kasih dari Sorcerer King sekali lagi, kemarahannya bangkit kembali.


"Kau salah!"


Neia berteriak seperti dia telah mengabaikan yang lain, dan Jaldabaoth mengerang. Menerima itu sebagai pembuka, Neia menembak lagi.

Sasaran berikutnya adalah kakinya, yang sulit dijangkau tangan.

Kali ini, Jaldabaoth dengan panik memindahkan kakinya untuk menghindari panah.

Dia mewaspadainya! Mungkin busur ini bisa--!

Hanya ada satu alasan mengapa Jaldabaoth sangat menghindari tembakannya ketika dia tidak peduli ditikam di belakang oleh pedang suci. Apa lagi yang bisa terjadi jika busur ini tidak bisa menyakitinya.

Hati Neia dipenuhi dengan penyesalan saat matanya penuh dengan air mata.

Dia menyadari bahwa dia seharusnya bergabung dengan pertempuran itu bahkan jika dia akan mati dengan cepat, jika mungkin dia bisa menyerangnya dengan Ultimate Shootingstar Super. Dia seharusnya mengambil bagian, bahkan jika itu hanya untuk menjadi perisai. Jika dia punya, maka mungkin--

Neia meluncurkan panah lain.

Jaldabaoth menggerakkan kepalanya. Panah itu meleset dan terbang ke bagian yang tidak diketahui.


"Rasakan ini, sialan!"


Dia menembak lagi.

Dan lagi.

Tapi tak satu pun dari tembakannya mengenai sasaran. Terlepas dari ukuran dan lukanya yang parah, dia masih menghindari serangan Neia dengan mudah.


"Rune--"

"--Diam!"


Neia menembakkan panah lain untuk menutup mulut Jaldabaoth.

Namun, itu juga meleset.

Mengapa, mengapa tidak ada yang membantu menyerangnya?

Dia bisa mengerti ketidakmampuan mereka untuk menyerang Jaldabaoth karena dia di udara. Namun, meski begitu, bagaimana mereka bisa membiarkan iblis pembohong yang telah membunuh Sorcerer King yang paling baik hati pergi demgan bebasnya?


"..Muu. Yah, eh, jika seperti itu ... [Greater Teleportation]. "


Jaldabaoth tiba-tiba menghilang.


"Kembali kesini!!!"


Neia melihat sekeliling.

Yang dilihatnya hanyalah wajah-wajah terkejut karena apa yang dilakukan Neia, Jaldabaoth tidak terlihat dimanapun.


“Motherfucker! Dia kabur!"

"Tenang!" Remedios berteriak.


Teriakan yang keras dari seseorang yang kuat dapat menimbulkan tekanan tersendiri, dan biasanya itu akan membuat Neia kembali ke akal sehatnya atau bahkan membuatnya membeku. Namun, itu tidak lebih dari mengganggu Neia sekarang.


"Bagaimana aku bisa tenang !?"

“Squire Neia Baraja! Apakah kau meminjam senjata itu dari Sorcerer King? Mengapa dia begitu tertarik? ”

“Jangan tanya aku pertanyaan yang tidak relevan seperti itu! Lebih penting lagi, kita perlu menemukan Yang Mulia! Aku melihat dia jatuh ke timur! Kita perlu mengirim regu penyelamat! ”

"Tentunya dia pasti sudah mati."

“Bagaimana dia bisa mati !? Bagaimana bisa Yang Mulia mati !? ”


Neia secara naluri menarik kerah Remedios, tetapi Remedios dengan mudah menepisnya dan Neia jatuh ke tanah.


“Apakah kau sudah lebih tenang sekarang? Tidak ada yang bisa bertahan hidup setelah jatuh dari ketinggian seperti itu. "

"Tenang? Kau benar-benar mempercayai kata-kata iblis? Kapten, apakah kau menjual jiwamu padanya !? ”


Ekspresi Remedios berubah, dan kemudian marah.


"Squire! Sialan kau, ada hal-hal yang kau bisa dan tidak bisa katakan! ”


Dia meraih kerah Neia dengan kekuatan yang luar biasa, dan Neia merasa sulit bernapas.


"Kalian berdua! Tenanglah! Dinginkan kepala kalian! ”


Para paladin, priest, prajurit dan yang lainnya dengan cepat mengelilingi Neia dan Remedios untuk memisahkan mereka.

Neia terengah-engah saat dia berteriak:


"Kita perlu mengirim regu untuk menyelamatkan Yang Mulia!"

“Kita tidak bisa menyia-nyiakan sumber daya kita untuk itu!”

"Beraninya kau mengatakan itu!"


Neia ingin berdiri dan memukul Remedios, tetapi orang-orang di antara mereka menghentikannya.


“Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan kepadamu!” Setelah sedikit mendinginkan diri, Neia berbicara kepada orang-orang yang menghentikannya.

“Bisakah kau melepaskanku? Ada yang harus aku lakukan. ”

"Kemana kau pergi !?"

Menanggapi pertanyaan itu, Neia melihat Remedios dengan ekspresi yang benar-benar tidak percaya di wajahnya.


“Mata macam apa itu !? Apakah itu mata seorang pengawal yang melihat seorang paladin !? ”


Hmph, Neia mendengus.


“Pertama, aku akan meminta Yang Mulia Pangeran untuk mengatur regu penyelamatan untuk Sorcerer King. Setelah itu, aku akan langsung menuju Sorcerous Kingdom dan memberi tahu mereka apa tepatnya yang terjadi pada Yang Mulia, dan kemudian aku akan meminta bantuan untuk Yang Mulia. ”


Mengingat situasinya, pastilah akan terjadi hal buruk jika menuju Sorcerous Kingdom. Meski begitu, dia masihlah pengawal Sorcerer King, dan dia harus menyelesaikan tugasnya.

Neia tidak yakin apakah dia bisa dengan aman mencapai Sorcerous Kingdom dari sini, tapi dia harus pergi, bahkan jika itu berarti kematiannya.


"Ohhh, jika kau pergi menuju Sorcerous Kingdom, biarkan aku pergi denganmu, Baraja-san!"


Orang yang berbicara adalah mantan prajuriit, yang telah pensiun dan menjadi pemburu. Dia telah dipuji karena kemampuan memanahnya dan telah bergabung dengan unit Neia.


“Jangan khawatirkan aku, aku sudah cukup dewasa, aku tidak akan menyesal.”

"Baldem-san!"


Dari nadanya, dia tahu bahwa dia mengerti nasib seperti apa yang menunggu dia bahkan jika mereka mencapai Sorcerous Kingdom dengan aman.


“Hei, Neia-chan. Jangan lupakan aku! "

"Kau juga, Codina-san !?"

“Aku akan pergi juga. Bukan untukmu, tetapi jika itu untuk Sorcerer King maka itu tidak bisa dihindari. ”

"Bahkan Mena-san?"


Semua orang yang berkemampuan di unit Neia melangkah maju, satu demi satu. Dengan bantuan mereka, mungkin mereka bisa mencapai Sorcerous Kingdom dengan aman. Namun--


"Terima kasih banyak. Tapi semua orang, bisakah kalian bergabung dengan regu penyelamatan? ”

"Apa yang kalian katakan? Kalian adalah salah satu orang yang berjuang menyelamatkan Holy Kingdom dan orang-orang yang menderita dari cengkeraman iblis itu, bukan? Di mana prioritas kalian !? ”

“Apa yang kau katakan, Kapten !? Mungkinkah ada sesuatu yang lebih penting daripada menyelamatkan Yang Mulia !? ”

"Tentu saja! Saat ini, pada saat ini, berapa banyak rakyat Holy Kingdom yang kalian pikir ada yang hidup di neraka yang dibuat oleh demihuman untuk mereka !? Mungkinkah ada sesuatu yang lebih penting daripada menyelamatkan mereka !? ”

"Tentu saja! Itu-- ”

“- Apa yang kalian lakukan !? Untuk apa semua teriakkan ini !? ”


Adu argumen segera berhenti ketika penengah muncul. Dia Caspond.


“Kapten Custodio, bukankah seharusnya kau segera kembali? Di mana Yang Mulia? Bagaimana dengan Jaldabaoth? Apa yang terjadi? Bisakah seseorang menjelaskannya? ”


Caspond terdengar seperti dia telah kehilangan arah, dan suaranya bergema keras dalam kesunyian yang menyedihkan.



***



Ruang pertemuan sangat sempit, dengan para paladin, priest, bangsawan yang telah menjadi tahanan baru-baru ini dan para paladin kehormatan yang telah dipanggil ke sini. Dikatakan, tidak ada ruangan yang lebih baik untuk digunakan, karena Jaldabaoth telah menghancurkan salah satu yang digunakan Caspond sebelumnya.

Caspond telah membuka rapat darurat setelah menerima laporan dari seorang paladin, dan dia telah menginstruksikan semua personel inti untuk berkumpul di ruangan ini.

Setelah semua orang berkumpul, Caspond dan Remedios masuk dengan langkah cepat.

Semua orang membungkuk ketika pangeran masuk. Neia adalah salah satu dari mereka, karena dia tidak punya dendam terhadap Caspond.


Caspond berdiri di depan semua orang dan mulai berbicara.


“Terima kasih sudah datang ke sini. Aku ingin mendiskusikan rencana masa depan kita. "


Meskipun itu seharusnya menjadi diskusi, hanya ada satu hal yang Neia harus lakukan, dan dia yakin itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Saat Neia hendak berbicara, Caspond mengangkat tangannya untuk menghentikannya.


“Aku yakin semua orang memiliki kekhawatiran mereka sendiri, tetapi aku berharap kalian akan mendengarkanku terlebih dahulu."


Caspond memandang semua orang yang berkumpul di sini.


“Aku percaya banyak orang telah menyaksikan sejauh mana kekuatan Jaldabaoth yang melebihi imajinasi kita ... ya. Sementara aku menyesal mengatakan ini, kita harus menerima kenyataan bahwa tak seorang pun di kerajaan ini yang bisa menang melawan dirinya. ”


Beberapa orang mengerutkan kening dalam keheningan, lalu mengintip pada Remedios, yang dianggap sebagai yang terkuat di Holy Kingdom. Setelah mengetahui bahwa dia setuju dengan pendapat Caspond, tanda-tanda ketakutan dan kekecewaan muncul di wajah mereka.


“Namun, terlalu dini untuk menyerah pada keputusasaan. Jika kita tidak dapat mengalahkannya, maka kita akan membatalkan rencananya dengan cara lain dan membuatnya menyerah untuk mencoba menaklukkan Holy Kingdom. Kita tidak akan mengusirnya langsung, tetapi secara tidak langsung. Caspond menunggu beberapa detik untuk kata-katanya didengar yang lain, dan kemudian berbicara kesimpulannya. "Apa yang akan kita lakukan adalah membantai semua demihuman yang dipimpinnya."

“Kenapa kita melakukan itu?


Caspond melihat seseorang mengajukan pertanyaan dan mengangguk kepada mereka.


“Di masa lalu, Jaldabaoth membuat kekacauan di Kingdom. Saat itu, dia bertarung dengan seorang warrior tertentu dalam duel, dan kemudian dia kalah dan melarikan diri. Pada saat itu, dia memimpin pasukan iblis, tetapi bukan pasukan demihuman. Dengan kata lain, dia datang untuk memimpin pasukan demihuman setelah kalah dengan warrior itu. ”


Caspond memandang berkeliling, seolah-olah untuk melihat apakah semua orang mengerti.


“Dengan kata lain, dia menggunakan pasukan demihuman sebagai perisai hidup untuk menghindari agar dia bertempur satu lawan satu dengan warrior itu. Bukankah Jaldabaoth mengatakan sesuatu seperti itu ketika dia mengalahkan Yang Mulia? Sesuatu tentang memimpin pasukan demihuman hampir menjadi tidak bermakna, atau sesuatu. ”


Itu masuk akal.

Saat itu, itu tidak masuk akal, tapi setelah mendengar penjelasan itu, sulit untuk memikirkan alasan lain.


“Dengan kata lain, pasukan demihuman seperti armor dan stamina ketika dia bertarung dengan warrior itu lagi. Apa yang akan Jaldabaoth lakukan jika dia kehilangan pasukan demihuman? Akankah kekuatannya berkurang? Kapan warrior itu mungkin muncul di depannya lagi setiap saat? Atau mungkin - akankah dia memilih untuk melarikan diri? ”

"Aku mengerti ... kalau begitu apakah anda berniat untuk meninggalkan kota ini, mengalahkan pasukkan demihuman selatan, dan kemudian bergabung dengan Selatan untuk mengusir para demihuman?"


Setelah seorang priest tmengajukan pertanyaannya, seorang bangsawan yang diselamatkan menjawabnya.


“Itu akan bagus. Berkat kekuatan Sorcerer King, hampir 40 ribu demihuman telah musnah. Para demihuman telah kehilangan banyak kekuatan tempur mereka, bukan? Sisanya pastilah menuju ke Selatan. Jika kita mengerahkan semua prajurit dikota ini yang telah diselamatkan untuk menyerang habis-habisan dan menyerang mereka dari belakang dalam serangan dari depan dan belakang, kita pastilah bisa mengusir pasukan demihuman. Dengan begitu, kita akan dapat bergabung dengan pasukan Selatan dan mengambil kembali tanah kita.


“--Aku mengusulkan sebaliknya. Kita akan mengambil kembali kota besar terdekat di sebelah barat, yang merupakan benteng utara Kalinsha. ”

"Kenapa begitu, bolehkah aku bertanya?"

"Dia benar. Semua kota besar di barat seperti Kalinsha, Prart, Rimun dan ibu kota Hoburns akan sangat sulit untuk diambil. Banyak nyawa akan hilang. Mengapa kita tidak melawan demihuman selatan sebagai gantinya? Apakah menghancurkan kekuatan tempur demihuman tidak lebih sesuai dengan rencanamu, Pangeran-denka? ”

"Aku mengerti. Semua kekhawatiran kalian yang masuk akal. Aku merasa senang atas kenyataan bahwa banyak orang yang hadir. Namun, apakah itu tindakan yang bisa dipahami oleh rakyat? ”


Ada tatapan bingung di wajah banyak orang di sini.


"Bagaimana dengan ini? Pergi ke selatan menyiratkan bahwa kita akan meninggalkan - meskipun hanya sementara, kita masih mengabaikan mereka - hasilnya semua orang yang dipenjara banyak yang tak terselamatkan. Bisakah orang-orang - bisakah rakyat memahaminya? ”

"Itu, itu ... tapi itu lebih masuk akal, akan ada kesempatan lebih tinggi untuk menyelamatkan mereka, bukan?

"Kau seorang baron, kan?"


Caspond berbalik untuk melihat pria paruh baya yang mengajukan pertanyaan itu.


“Y-ya. Saya yakin kita pernah bertemu sekali, Pangeran-denka. ”

“Ahh, begitulah. Sekarang, apakah semua orang dari wilayahmu telah diselamatkan? ”

“Ah, tidak, belum. Saya dipenjara bersama Yang Mulia, jadi saya tidak tahu tentang wilayah saya ... ”

"Aku mengerti. Jadi ketika kau bergabung dengan pasukan Selatan dan mengambil kembali Utara, rakyat mungkin mengatakan kau melarikan diri ke Selatan. "


Wajah bangsawan itu membeku.

Ketika seseorang berpikir dengan tenang tentang hal itu, bangsawan itu benar. Namun, tidak ada jaminan bahwa semua orang - terutama mereka yang menggeliat kesakitan - akan dapat melihat apa yang dikatakan oleh bangsawan itu. Itu kemungkinan besar akan ada orang yang mengatakan “kenapa kau tidak menyelamatkan kami sebelumnya, keluarga kami dibantai oleh demihuman” dan mengarahkan rasa kebencian mereka pada para bangsawan. Neia telah melihat orang-orang seperti itu sebelumnya.

Namun, tidak ada yang mengatakan itu di kamp penjara yang telah dibebaskan oleh Sorcerer King. Mengingat sihirnya sangat ampuh - yang kadang-kadang bisa menghancurkan tembok kota dalam sekali serang - dan fakta bahwa ia adalah raja bangsa lain, tak seorang pun akan berani marah kepadanya karena alasan pribadi.


“Juga, aku telah berniat untuk berbicara dengan pemilik wilayah satu persatu setelah ini. Dalam hal ini, kita sebaiknya melakukannya sekarang. ”

“... Kami semua kelelahan. Sebaliknya, apa yang akan para bangsawan dari Selatan lakukan? Khususnya, apa yang akan dilakukan bangsawan lain tentang bangsawan yang telah meninggalkan kampung halaman mereka? "


Aroma lengket politik dan hak istimewa mulai mengisi udara.

Meskipun kedengarannya tidak dapat dipercaya untuk Neia, apakah ini yang diinginkan para bangsawan? Mereka mengangguk berulang kali.


“Pangeran-denka. Wilayah kami ... ”

“Aku ingin kalian berpura-pura bahwa kalian tidak mendengar apa yang akan terjadi selanjutnya. Itu karena aku tidak dapat menjamin apa pun. Namun, hak istimewa para bangsawan Selatan mungkin akan meningkat secara tiba-tiba. Itulah mengapa kalian harus memilih metode terbaik untuk kondisi pascaperang. ”

"Tunggu sebentar!"


Salah satu paladin mengeluarkan suara.


“Bagaimana kita bisa menumpahkan banyak darah hanya untuk perselisihan perebutan wilayah !?”

"Ya! Itu Benar! ” Priest bernama Siliaco berteriak dengan suara keras. "Yang terpenting adalah cara menyelamatkan lebih banyak nyawa!"


“... Menghindari demihuman tidak berarti semuanya berakhir, kan? Jika Selatan mencoba mendapatkan keuntungan, maka kita akan mengalami kesulitan menolak tuntutan para bangsawan Selatan. Dan tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan mengenakan pajak yang berat pada rakyat yang kelelahan. ”

“... Sekarang setelah Holy Queen mati, akan sangat buruk jika Holy King selanjutnya dipilih oleh para bangsawan Selatan. Namun, jika kita bisa menunjukkan hasil nyata dengan kekuatan kita, maka setidaknya ... ”


Ada dua faksi di ruangan itu sekarang.

Fraksi bangsawan dan faksi para paladin dan priest.

Kedua belah pihak berselisih. Berbicara tentang Remedios, para paladin mencoba untuk memberitahunya versi sederhana dari apa yang dikatakan Pangeran.


Neia bukan bagian dari faksi. Dia hanya mengikuti arus percakapan dalam keheningan. Itu karena Neia sudah memutuskan apa yang akan dia lakukan, jadi tidak masalah kesimpulan apa yang mereka capai pada akhirnya. Sebaliknya, dia ingin menyampaikan sarannya sendiri dan berangkat secepatnya.

Yang mengatakan, berbicara tentang hal-hal yang tidak relevan di sini hanya akan merusak suasana hati, dan orang-orang yang telah membantuku mungkin tidak akan membantuku lagi ...

Tak lama setelah mendengarkan berbagai topik yang membosankan, dia memutuskan untuk melemparkan isyarat lagi ke Caspond setelah ruangan ini malah dijadikan ajang perdebatan.


“Pangeran-denka mengenai topik ini. Mungkin kita harus membiarkan dia selesai berbicara? ”

“Ahh. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku bermaksud untuk mengambil kembali Kalinsha. Ini juga menguntungkan secara militer. Sebenarnya, kota ini terlalu sempit, dan sebagian besar telah hancur. Tinggal di sini akan menjadi sulit, jadi aku ingin memiliki basis markas yang lebih besar dan lebih kokoh. Selain itu, dengan mengambil kembali kota besar, kita akan memiliki keuntungan ketika berhadapan dengan para bangsawan Selatan. Juga, Kalinsha dimaksudkan untuk menghentikan serangan musuh, jadi pastilah masih memiliki persediaan senjata, dengan asumsi mereka belum pindahkan. ”

"... Saya menyetujui proposal untuk mengambil kembali kota besar."

“Ahhh, saya sedikit gelisah tentang sanitasi kota seperti ini. Banyak orang yang menggigil kedinginan juga. ”


Namun, mereka melanjutkan dengan mengatakan, "kita perlu menghindari sejumlah besar kematian".


"Memang. Itulah mengapa ini adalah waktu terbaik untuk menyerang benteng musuh. Bagaimanapun, Jaldabaoth tidak bisa melakukkan tindakan apapun sekarang. ”


Tidak ada yang tahu berapa lama luka Jaldabaoth akan sembuh, tapi pasti dia akan pulih sebelum pasukan demihuman benar-benar dikalahkan.

Selain itu, sangat tidak mungkin dia akan menunjukkan wajahnya sebelum melakukan pemulihan total. Setelah mengetahui keberadaan seorang prajurit yang kuat seperti Momon, dia pasti akan memasukkan kemungkinan Momon muncul dalam pertimbangan sebelum mengambil tindakan. Karena itu, jika dia bertindak, itu tidak akan terjadi sebelum dia hampir sepenuhnya pulih.

Dikatakan, tidak peduli berapa banyakpun kekuatan yang mereka miliki, Holy Kingdom akan kalah setelah Jaldabaoth mengambil sebuah tindakan. Karena itu mereka harus mengambil benteng sekarang.

Jadi begitulah. Setelah mendengarkan penjelasan itu, Neia menyatakan persetujuannya juga.


“- Dalam hal itu, tampaknya satu-satunya hal yang tidak kalian sukai adalah jumlah orang yang harus mati untuk ini. Dapatkah aku menganggap itu berarti bahwa kalian akan memberiku dukungan kalian jika aku dapat meminimalkan jumlah kematian? ”


Semua orang yang hadir mengangguk, dengan pengecualian Remedios. Neia tidak keberatan, tapi setelah mempertimbangkan alur percakapan, dia menyadari bahwa itu akan buruk jika hanya satu orang yang tidak mengangguk, jadi dia mengangguk dengan yang lain.

Adapun Remedios, beberapa orang melihat wajahnya dan melihat bahwa dia sepertinya tidak memiliki alasan khusus, jadi mereka memilih untuk mengabaikannya.


“Maka diputuskan. Kita akan membahas rincian dari merebut kembali Kalinsha sesudahnya. Sekarang, - topik kita selanjutnya. ”


Caspond mendesah keras dan kemudian berbalik ke Neia.


"Ini menyangkut kematian sang Sorcerer King."


“Pangeran-denka, saya dengan tulus meminta maaf, tapi saya harap anda akan segera mengubah pernyataan itu. Kematian Sorcerer King belum dipastikan. Itulah yang dikatakan Jaldabaoth kepada kita. Akan sangat bodoh untuk mempercayai sepenuhnya perkataan iblis. "


Neia mengamati Remedios dan melanjutkan, “Saya pikir lebih mungkin dia mencoba menipu kita.”


“Kalau begitu, mengapa dia tidak kembali? Dia bisa mengeluarkan mantra teleportasi, kan? ”

"Mungkin dia tidak bisa bergerak karena luka-lukanya, mungkin dia kehabisan mana, mungkin ada banyak alasan untuk itu."


Remedios tidak menanggapinya lebih jauh.


"Itu benar. Itu sebabnya aku ingin mendengar dari kalian semua. Menurutmu apa yang harus kita lakukan? ”

"Tidak ada gunanya bertanya apa yang harus kita lakukan!" Teriak Neia, memaksakan kata-kata keluar seperti dia mencoba untuk mengeluarkan mereka melalui giginya. “... Kupikir kita harus mengirim regu penyelamatan dan menyampaikan berita ini ke Sorcerous Kingdom pada saat bersamaan. Jika memungkinkan, aku ingin menjadi pembawa pesan. ”


"Aku mengerti. Itu yang kau pikirkan, Squire Baraja. Bagaimana dengan yang lain? "


Saat Caspon melihat kesekeliling orang-orang yang berkumpul, salah seorang bangsawan angkat bicara.


"Saya punya pertanyaan. Sementara Sorcerer King seharusnya jatuh didaerah timur, mengingat kita akan membuat operasi penyelamatan di wilayah yang dikendalikan demihuman, bukankah lebih baik menunggu sampai kita memiliki beberapa informasi konkrit sebelumnya ... ”


“Itu akan sangat terlambat,” Neia segera membalas.


“Semakin kita menunda, semakin Yang Mulia akan terkena bahaya. Saya menyarankan agar kita melakukan penyelamatan secepatnya. ”


Mayoritas setuju dengan pendapat Neia. Apa yang dikatakannya masuk akal.


"Dalam hal itu, kita harus mengirim regu penyelamat pada saat yang sama sebagai utusan ke Sorcerous Kingdom."

“... Aku punya sesuatu yang ingin aku konfirmasi denganmu, karena kamu memiliki peran pengawal Yang Mulia. Apakah kau pikir Sorcerer King mengatakan kepada orang-orang di kerajaannya bahwa ia akan datang ke Holy Kingdom? ”


Neia mulai berpikir.


“Saya minta maaf, tapi saya tidak yakin. Namun, saya merasa itu tidak aneh baginya untuk memberitahu bawahannya di Sorcerous Kingdom, karena dia pernah pulang kembali ke kerajaannya dengan mantra teleportasi. ”

"Kalau begitu, aku rasa kau seharusnya tidak mengirim utusan ke Sorcerous Kingdom."

"Mengapa!?"


Neia memelototi para bangsawan yang tidak melakukan apa-apa selain ketidakberesan. Pangeran mundur dua langkah dan wajahnya pucat di bawah tatapan tajam itu. Orang-orang di sekitar bangsawan itu juga mundur darinya.


“Tidak, ah, tolong tenang dan dengarkan. Itu, eh, itu karena itu akan membawa masalah. Tunggu! Tolong tenang dan dengarkan aku. Ketika kau berpikir tentang hal itu secara normal, ada kemungkinan bahwa pasukan bala bantuan Sorcerous Kingdom akan membalas dendam pada kita, apakah aku salah? Dan balas dendam adalah satu hal; mereka mungkin akan mengambil Holy Kingdom juga. Dan ... ah, kenapa begitu? Siapa yang mengatakan bahwa Sorcerer King tidak bertujuan untuk itu selama ini? ”


"Tunggu sebentar!" Neia sangat marah hingga dia benar-benar merasa pusing. “Kalau begitu, ijinkan saya mengajukan pertanyaan sendiri! Jika Yang Mulia kembali ke kerajaannya dengan teleportasi, apa yang akan dia pikirkan tentang Holy Kingdom, orang-orang yang sudah tahu apa yang terjadi tetapi tidak mengatakan apa-apa? ”



Semua orang yang dilihatnya mengangguk setuju. Di tengah semua ini, Remedios berbicara.


“Yah, itu tidak bisa membantu, kan? Kerajaan kita tidak memiliki kehormatan bodoh itu sekarang. Kita akan meminta maaf setelah semuanya berakhir. "

"Bahkan jika kau--"


Neia begitu marah sehingga dia akan berteriak, dan kemudian dia mendengar suara tepukan dari sampingnya. Dia melihat ke samping, dan melihat bahwa itu Caspond. Karena Pangeran ingin berbicara, semua yang Neia bisa lakukan adalah tetap diam.


“Squire Baraja. Izinkan aku untuk memilih orang-orang yang akan pergi ke Sorcerous Kingdom. Bagaimana tentang itu? Lagi pula, jika kita mengirim beberapa sedikit orang sekadar sebagai utusan, tidakkah kerajaan lain berpikir kita mengolok-olok mereka? ”

"Itu, seperti yang anda katakan ..."


Penjelasannya masuk akal. Dalam keadaan normal, mereka pasti akan memilih seorang bangsawan untuk menjadi utusan kerajaan dibanding pengawal yang meminjam busur sihir dari Sorcerer King. Namun, apakah dia benar-benar mengirimkan utusan? Dia menemukan bagian itu sulit dipercaya. Meski begitu, akan sangat buruk untuk menunjukkan bahwa dia tidak mempercayai kata-kata Pangeran.


"Aku senang kau mengerti."

"Dalam hal itu, izinkan saya untuk memimpin beberapa orang ke timur."

"Memang. Aku sangat ingin mengirimmu juga, tetapi kita masih tidak tahu di mana Sorcerer King jatuh. Dia mungkin sepuluh kilometer jauhnya atau bahkan seratus kilometer. Jika keadaan memburuk, ia mungkin jatuh ke Abelion Hills, yang dikendalikan Jaldabaoth. Bahkan jika aku membiarkanmu pergi ke tempat itu sendirian, akankah kau memiliki cara untuk menemukan Sorcerer King?"


Neia tidak dapat menjawabnya.

Menemukan tempat para demihuman tinggal di medan yang asing adalah tugas yang mustahil. Dia bisa dengan mudah membayangkan regu pencari berbakat dengan anggota berbakat bertemu demihuman lalu kesulitan dan disapu bersih.


"Bertahan di perbukitan, menyelinap melewati pengamatan demihuman dan mengumpulkan informasi," Caspond menghitung dengan jari-jarinya. Jika kau pergi ke sana tanpa persiapan, kau hanya akan bunuh diri secara tidak langsung, dan apa gunanya regu penyelamatan yang berakhir dengan kegagalan? ”

"Lalu, kalau begitu apa anda punya cara lain !?"

"Tentu saja."

"Eh?"


Bagaimana bisa ada? Ketika dia memikirkan pertanyaan itu, itu mudah dijawab. Mata Neia melebar karena terkejut, dan kemudian Caspond menyesuaikan diri sebelum memberi tahu Neia jawabannya.


"Yang kau butuhkan adalah menemukan seseorang yang tahu medan perbukitan."


Neia berkedip, dan Caspond tersenyum padanya.


"Dengarkan. Yang perlu kita lakukan adalah mendapatkan tawanan demihuman dan minta dia memimpin jalan. Bukankah lebih aman untuk memerintah demihuman untuk bertindak sebagai pemandumu? ”

"Ah."


Memang itulah masalahnya. Manusia akan mengambil risiko yang tidak masuk akal untuk memasuki tanah itu. Namun, itu akan menjadi masalah yang berbeda jika mereka memiliki pemandu.

Namun, ada juga masalah dengan itu yang tidak bisa diabaikan.

Jika mereka hanya mengancam tawanan demihuman untuk menunjukkan mereka jalan, maka jika tahanan bersedia membawa mereka bersamanya, kelompok pencari akan menuju ke kematian mereka. Para Orc yang dia temui sebelumnya sepertinya tipe yang tidak peduli apakah mereka hidup atau mati.


Mereka akan membutuhkan demihuman yang dapat dipercaya, tetapi di mana mereka akan menemukannya?

Apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan demihuman yang bisa dipercaya?

Neia memeras otaknya, tetapi ketika dia memikirkan demihuman, dia hanya bisa memikirkan mereka datang kepadanya hanya untuk membunuh, dan dia tidak bisa membayangkan mereka menerima tawaran untuk membantunya.


Tidak, Orc dan Grand King Buser terasa seperti manusia - aku mengerti, menawan keluarga mereka ... tidak, jika kita bisa mengurung raja seperti Buser, sukunya mungkin akan mematuhi kita.

Atau di sisi lain, suku yang marah mungkin membuat perlawanan habis-habisan. Selain itu, bagaimana mereka bisa menangkap raja demihuman yang hebat seperti Buser--

Ketika Neia berjalan tanpa tujuan di labirin mental, mengejar jawaban yang tidak bisa ia temukan, pintu kamar terbuka dan seorang paladin menerobos masuk.


Dia terengah-engah dan melihat sekeliling interior ruangan, tetapi dia mendekati Caspond bukannya Remedios.

Mungkin dia tidak ingin orang lain mendengar berita apa yang dia miliki. Dia membawa Pangeran ke sudut ruangan dan berbisik ke telinganya, tetapi pendengaran Neia mendapat potongan-potongan dari percakapan mereka. Di antara itu semua, informasi terakhir menarik minatnya.


Dia mengatakan "maid bilis".

“Tuan-tuan, sesuatu yang mendesak telah muncul, Sayangnya, pertemuan akan berakhir di sini. Aku harap kalian akan mulai memikirkan cara-cara untuk mengambil kembali Kalinsha. Juga, Kapten Custodio, ikut denganku. ”


[Volume 13 Chapter 2 Bagian 3 SELESAI]


Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌
 
» Anda baru saja membaca: Novel OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 13 Chapter 2 Bagian 3

20 comments:

Rifqi M.N said...

Yoi makasih mimin

Anonymous said...

makasih min

Wahyu Fatoni said...

Mantab gan

Unknown said...

Pertamax gan,jangan lupa intermission nya ^^

Anonymous said...

sehat terus min biar ane bisa baca terus wkwk

Muharror Ahmad said...

Keren min..lancrootkan suhu..

Admin OGAMI said...

Mantap lanjut wkwk
Ainz lagi ngopi di abelions hell

Red Vermillion said...

Intermission nya min

adib adib said...

Thanks,lanjutkan Aniki

Tauhidan said...

yoss

Anonymous said...

Thank min

Anonymous said...

Chapter 2 bag 2 b
GK ada di daftar isi

hananda eka said...

Omega keluar nih

Anonymous said...

sejak kapan npc lantai 8 di ijinin keluar?
dan status Aureola Omega masih dipegang penuh oleh Ainz, kecuali Rubedo yang boleh di gerakkan oleh selain Ainz(Albedo).


Gw baca dari vol 12 sampai vol 13 chapter 2 baru nyadar kalau si Remedios Custodio itu cewek.

SULAEMAN KOMARA said...

mereka doppelganger , yg asli mah di nazarick

Anonymous said...

kan emang mereka doppelganger(pleiades), dan Aureola Omega tugasnya buat Buff para doppelganger. yang jadi pertanyaan sejak kapan npc lantai 8 di ijinkan keluar? dan keluar yang dimaksud itu gimana? kalau keluar di dalam artian "tidak langsung" Aureola Omega udah keluar dari dulu.

Anonymous said...

kalo saya gak salah baca sih ada tulisan kek 'mereka dibuff sebelum datang kesini atau semacamnya lah'
jadi persepsi saya sih albedo si aureola ngebuff selagi doppel pleadis masih di nazarik. lagian juga di ple ple pleadis saya jga kaya pernah baca kalimat yang bilang aureola punya skill komandan ato apa gitu, yang memungkinkan doi atur pleadis lain
tapi ini mungkin yah (kalo ingetan saya masih oke)

Anonymous said...

Aureola kata ainz di chapter ini emang tugasnya buff, dan gak keluar. Tapi yang dimaksud keluar di atas itu keluar yang bagaimana, lagian cuma 1 npc doang yang di lantai 8 boleh keluar tanpa izin Ainz dulu(Rubedo).

Unknown said...

Sebenernya iblis yg berbadan besar dan bersayap itu demiurge atau lord evil of wrath ya...?
Apa lord evil of wrath itu nyamar(ngaku-ngaku) jadi demiurge..?
Soalnya deskripsi fisiknya sama..
kaya pas di volume 12 yg demiurge lawan remedios...

Unknown said...

mantaf mkash min sampe nangis gue baca nya nice translator

Post a Comment