Tuesday, 12 June 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 11

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 11
 

Translator : Sai Kuze

Chapter 11 - Bentuk Kota [Bagian 1]


Aku melakukan perjalanan disepanjang sungai sprite menggunakan 【 Dimensional step 】. Diperjalanan aku melihat beberapa desa kecil, yang dikelilingi oleh dinding kayu berukuran kecil. Setelah beberapa saat aku melihat kota Koruna yang merupakan versi Rubrier yang lebih kecil. Kota itu dikelilingi oleh dinding batu. Sambil memperhatikan sekelilingku, aku terus berjalan lebih jauh lagi.

Pegunungan calcutta dapat dilihat di arah barat daya, saat aku tiba dipercabangan menuju sungai utama yaitu sungai rydell. Sungai rydell terlihat mengalir kearah timur dari pegunungan calcutta dan tampaknya berakhir melewati ibukota. Lebih jauh ke hilir sungai tujuanku, Diento, mulai terlihat.



Perjalanan yang memakan waktu 3 hari, selesai dalam waktu kurang dari setengah hari dengan metode perjalananku.

Kota Diento terletak di hulu sungai sprite sebelum sungai terhubung kembali ke rydell, sungai utama. Ukuran kota mungkin 3 kali ukuran Rubierute? Ladang di sekitarnya juga sangat luas. Di kejauhan, dinding-dinding besar yang melindungi kota dapat terlihat. Telebih, dindingnya berlapis ganda, dan terdapat rumah-rumah penduduk dibaliknya. Di dalam setiap dinding ada parit yang mengelilingi rumah-rumah. Hampir tampak seolah kota itu sendiri adalah benteng raksasa.

Saat dinding kota diwarnai dengan warna matahari terbenam, aku memandanginya tanpa terhalang apapun. Jika sebuah kota seperti ini berada di zaman modern maka akan terdaftar di situs warisan dunia, karena keindahannya dapat menangkap hati siapapun yang melihatnya.

Membersihkan pikiranku, aku melanjutkan menuju gerbang masuk Diento. Orang-orang yang bekerja di ladang dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Dari sini aku menuju kota dengan berjalan kaki. Perpindahan instan yang mencolok mungkin akan terlalu menarik perhatian.

Namun, jaraknya cukup jauh dari sini ke kota. Mungkin aku harus mempercepat langkahku?

Aku mulai berjalan dengan cepat sehingga jubahku mulai berkibar. Orang-orang di depanku terkejut dan memberikan jalan ketika mereka menyadari langkah kakiku. Ini adalah kecepatan yang biasa saja, tapi aku pikir itu sedikit menakutkan bagi orang lain.

Seorang pria setinggi 2 meter dengan full armor bergerak dengan langkah kaki cepat ......, Tidak heran mereka terkejut ......

Tak lama gerbang kota mulai terlihat, jadi aku kembali menggunakan kecepatan langkah normal. Jika aku mendekati gerbang seperti sebelumnya, aku tidak diragukan lagi akan dilihat sebagai orang yang mencurigakan.

Dindingnya sekitar 7 meter, dan tentara dikerahkan sebagai penjaga dinding. Ketika aku melewati gerbang besar itu, gerbang kedua terlihat. Gerbang ini terletak tepat di dasar bukit. Aku mendaki lereng landai dan tiba di dinding kota kedua, untuk memasuki kota aku menunjukkan sertifikasi petualangku.

Semua bangunan di kota sepertinya terbuat dari batu. Bangunan berlantai tiga berjejer disepanjang jalan, dan jalan-jalan penuh sesak dengan orang-orang yang datang dan pergi sesuka mereka. Untuk pertama kalinya sejak aku datang ke dunia ini, aku dikelilingi oleh kehidupan kota yang sehat seperti adanya pedagang dijalanan dan pelayan panti pijat berteriak menawarkan pijat plus-plus kepada orang-orang yang lewat dan orang-orang yang melanjutkan pekerjaan mereka.

Rasanya sedikit nostalgia.

Tata letak jalan tampak rumit, dan mungkin butuh waktu untuk menghafalnya. Ketika aku memasuki bar terdekat, aku menemukan beberapa orang sedang minum setelah pulang kerja hari ini. Aku menanyakan lokasi penginapan pada paman penjaga bar.


“Permisi, aku mencari penginapan. Apakah kau tahu tempat yang bagus? ”

“Lantai dua dan tiga kami adalah penginapan! Harganya 2 sek per malam, Tuan? "


Pemilik bar merekomendasikan penginapannya sendiri. Aku penasaran, bisakah aku memesan makanan dibar dan memakannya di kamar lantai dua?


"Bolehkah aku memesan makanan dan menyantapnya di kamarku?"

"Tidak masalah. Ah! Pastikan saja anda mengembalikan nampannya setelah selesai makan. Satu kali pesanan makan harganya 3 sok, setiap waktu! "


Aku memberikan paman itu 2 perak dan tiga koin tembaga, dan dia segera mulai menyajikan nampan makanan. Nampan sudah ditangan, aku menaiki tangga ke kamarku yang sudah diberitahukan. Aku membuka kunci pintu kamar di lantai tiga, dan menyadari ternyata suasana kamar lebih baik dari penginapan yang biasa aku tinggali. Tempat tidurnya kokoh, dan selimutnya lembut. Ada meja kecil dan tidak hanya kursi tetapi juga dudukan kaki disana.

Duduk di salah satu kursi, aku meletakan makanan dan melepas pelindung kepalaku.

Ini adalah makanan layakku setelah sekian lama. Terdiri dari sup, salad, dan sepotong roti berwarna hitam, semua disajikan di atas nampan kayu. Daging sepertinya tidak tersedia. Roti hitam terasa sama dengan roti yang aku makan sebelumnya. Tapi rasanya agak lumayan ketika aku mencelupkannya ke dalam sup untuk supaya tidak terlalu keras. Ini adalah sup kacang yang dibumbui dengan kaldu ayam. Cukup enak. Sedangkan untuk salad, ada dua jenis sayuran yang ditaburi cuka dan garam. Apakah itu selada dan endive? Tidak, agak diragukan mereka menggunakan sayuran yang sama bersamaan.
(TL Note: 'Endive' nama sayuran lalapan)

Setelah memakai pelindung kepalaku, aku mengembalikan peralatan makan ke lantai satu. Paman itu memandangku dengan aneh ketika aku mengembalikan peralatan makan. Mungkin aneh bagi seorang tamu memakai armor hanya untuk mengembalikan peralatan makan, setelah menyantap makanan dikamarnya. Namun paman itu tetap diam.

Ketika aku kembali ke kamar, aku menyandarkan punggungku ke dinding dan tertidur seperti biasanya. Selimut itu tetap di tempat tidur, tidak ada alasan memakainya karena aku sudah memakai armorku.

Pagi berikutnya, suara bel terdengar dari suatu tempat. Terbangun oleh suara itu, aku turun ke lantai satu dimana paman bar sedang melakukan sesuatu di dapur. Tidak seperti penginapan sebelumnya, tempat ini tidaklah sepi dipagi hari.

Aku menempatkan kunci kamar di meja dan memanggil paman yang berada di dapur sebelum pergi.

Setelah sedikit bertanya, aku tiba di bangunan serikat petualang kota ini. Bangunan itu memiliki tiga lantai, tetapi strukturnya tidak jauh berbeda dengan bangunan guild lainnya. Tetapi ada lebih banyak karyawan di belakang meja. Tak satu pun dari mereka terlihat seperti beruang yang dikurung. Ada banyak petualangan di depan papan permintaan. Petugas dan petualang semuanya laki-laki, mungkin saja tidak banyak petualangan perempuan.

Paling tidak kupikir mereka akan mempekerjakan wanita cantik untuk menjadi resepsionis ......

Di depan papan permintaan, aku mendengar percakapan antara dua petualangan saat aku melihat plakat permintaan.


"Party lima orang dari pasukanku pergi berburu empat hari yang lalu dan belum terdengar kabar mereka sejak saat itu."

“Mungkinkah mereka telah dikalahkan bandit atau monster? Tempat ini dekat dengan hutan elf. Monster-monster disana biasanya cukup kuat kan? ”

"Tidak, mereka pasti menuju kaki pegunungan calcutta didekat ibukota ......"


Di dunia ini, bagian luar kota penuh dengan bahaya. Hidup dan mati menjadi tidak pasti ketika kau pergi ke luar kota.

Namun demikian, datang ke sini akhirnya memberikanku konformasi tentang adanya ras elf. Aku belum melihat ada non-manusia dikota. Lagipula, elf hidup di hutan, tempat diluar jangkauan survivabilitas manusia.

Karena aku berada di dunia lain, aku ingin melihat apa yang ditawarkannya. Pikiran itu terlintas di benakku setelah mengkonfirmasi isi plakat permintaan. Karena populasi yang lebih besar, ada lebih banyak permintaan, tetapi sebagian besarnya hanya tugas-tugas kecil. Sepertinya aku tidak dapat menemukan pekerjaan bagus kecuali aku bergabung dengan pasukan petualang.

Sepertinya aku akan berburu sesuatu di hutan hari ini dan menjualnya. Aku mempertimbangkan pasukan petualang saat aku pergi.

Didekat penjual yang menjual buah kering, aku memutuskan untuk membelinya. Karena buahnya terlihat seperti stroberi, anggap saja begitu. Pria itu mengatakan stroberi liar tumbuh di barat. Setelah aku menyerahkan 8 koin tembaga, si penjual mengambil beberapa stroberi menggunakan sendok dan menaruhnya didalam sebuah kantong. Tampaknya buah beri hanya tersedia dipertengahan tahun, dan kesegarannya tidak akan bertahan setengah hari. Aku memasukannya di kantong kecil dan menaruhnya di tasku.

Saat menuju gerbang, aku dengan seksama mendengarkan percakapan orang-orang disekitarku. Tidak lama kemudian aku mencapai gerbang selatan dinding bagian dalam. Menunjukkan sertifikasiku kepada penjaga gerbang, lalu melewati gerbang.

Jembatan batu itu memiliki panjang sekitar 300 meter dan memiliki enam lengkungan indah yang membentang dari ujung ke ujung. Mungkin lebar jembatan bisa memuat tiga kereta sekaligus? Ada banyak orang yang datang dan pergi, kebanyakan dari mereka memasuki dan meninggalkan kereta. Disini mungkin menjadi pusat transportasi.

Setelah melewati jembatan, barisan pegunungan calcutta dapat terlihat disebelah kanan dan pintu masuk menuju hutan dihadapanku. Di sisi kiri ada hamparan rumput, karena terlihat hewan-hewan sedang bersantai di balik pagar disana. Ada sapi, domba, dan bahkan kuda. Ada juga ladang lain yang terlihat. Sungai rydell mengalir dari hulu menuju hutan, tetapi sungai itu cukup terbuka.

Tidak mungkin bagiku untuk berburu di dekat kaki pegunungan calcutta karena banyak orang di sekitar daerah itu. Aku mengganti arah tujuan, dan mulai bergerak ke arah barat daya. Aku tak melihat aliran sungai rydell saat aku melanjutkan perjalanan.

Lebatnya pohon-pohon di sekitar tumbuh hingga sinar matahari terhalang, sehingga sulit untuk melihat. Tidak seperti hutan di kaki pegunungan naga liar, ketebalan pohonnya tidak terlalu lebar, tetapi masih ada sedikit ruang untuk melaluinya. Aku tidak akan bisa mengayunkan pedang dua tanganku di sini. Tidak, aku bisa mengayunkannya, tapi aku akan menebang semua pohon di sekitarku. Di tempat seperti ini, mungkin sulit untuk menangkap buruan tanpa menggunakan perangkap.

Sampai saat ini aku sudah melihat binatang-binatang kecil, tetapi mereka selalu menghilang ke dalam semak-semak.

Dengan kerapatan pohon ini, akan sulit untuk menggunakan 【 Dimensional step 】 disini. Aku tanpa tujuan berkeliaran di sekitar hutan selama satu jam sebelum menyadari tanda dari 5 makhluk lain yang mengarah padaku. Aku pikir mereka mungkin serigala atau sesuatu yang lain karena mereka mengepungku ketika mereka mendekat.

Namun, yang mendatangiku adalah kelompok lima orang bandit, yang masing-masing memiliki senyum lebar di wajah mereka. Rambut mereka kotor, mereka semua memiliki janggut, dan masing-masing membawa belati di tangannya.


“Oh, mau kemana? Ksatria-sama, hehehe. "

“Begini saja, kami bisa membuat kau tetap hidup, jika kau bersedia menyerahkan semua yang kau pakai? Harga yang murah, bukan? Ha ha ha."

“Menemukan seorang ksatria sendirian didalam hutan, kita sangatlah beruntung! Ha ha ha"


Jadi mereka mengejekku. Mereka tampaknya bersikap sombong karena keuntungan pemahaman lokasi disini. Mata para bandit diselimuti oleh keserakahan, karena mereka menatapi diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Bahkan jika kau berpikir aku tidak bisa menarik pedangku, itu masih terlalu dini untuk bersikap sombong. Aku menggunakan 【 Dimensional step 】 untuk langsung berpindah kebalik seorang bandit. Memusatkan kekuatan ke dalam kepalanku, dalam sekejap pukulanku melumatkan kepala bandit. Suara “paan” terdengar saat pecahan dan kepingan kepala terbang ke mana-mana, dan tubuh bandit itu roboh. Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan kekuatan pada pukulan itu. Aku tak berpikir kepalanya bisa sampai pecah.

Ini seperti melihat video slow motion, saat wajah para bandit menjadi pucat. Aku mengambil kesempatan ini untuk mendaratkan pukulanku ke dagu dari dua bandit terdekat. Rahang keduanya melayang terbang. Darah menyembur dari mata, telinga, dan sisa-sisa mulut mereka, saat mereka roboh ke tanah.


"Mon-Monsterrrrr !!!!!!!!!!!"

"Di-Dia bukan manusiaaaa !!!"


Bandit yang agak jauh menunjukkan punggungnya padaku. Dari posisiku, aku melemparkan 【 Rock Bullet 】, dan sebuah batu sebesar kepalan tangan menembus punggung bandit yang melarikan diri. Meskipun mantra dasar seorang mage, kekuatannya lumayan juga. Lubang besar terlihat pada pakaian kulit yang dikenakan bandit itu.

Itu yang keempat. Berpikir demikian, aku melihat sekelilingku dan melihat yang terakhir gemetaran di antara pepohonan saat dia melarikan diri.

Di hutan lebat ini, aku tidak bisa menggunakan 【 Dimensional step 】 untuk menangkap si bandit, yang dengan terampil menghindari pepohonan seperti monyet. Aku harus mengandalkan kemampuan fisikku untuk mengejarnya.

Bahkan ketika aku menyingkirkan semak-semak kesamping, bandit itu, yang mengetahui daerah ini dengan baik, dengan cepat meningkatkan jaraknya dengan berlari jauh melewati pepohonan. Untuk mencoba dan menutup jarak, aku mulai berlari di ruang yang lebih terbuka, ketika kakiku terjerat oleh sesuatu. Aku terangkat keatas, sepertinya kakiku terjerat tali, diangkat ke udara oleh berat batu yang dijatuhkan.


"Ha! Kau benar-benar idiot karena terkena perangkap sederhana seperti itu !! ”


Pencuri yang melarikan diri itu berhenti berlari dan melihat ke arahku, dengan ekspresi puas di wajahnya. Namun gaya gravitasi dari batu yang terjatuh dengan cepat membalik saat talinya putus dan terpental ke arah terbitnya matahari. Tali itu putus karena aku menarik kakiku yang terikat dengan paksa.

Ketika aku mulai berlari lagi, jebakan lain diaktifkan. Kali ini adalah dinding tombak yang dimaksudkan untuk menusuk mangsa yang menginjaknya. Aku hanya menerobosnya hingga tombka itu hancur. Selanjutnya, sebuah tiang kayu menuju ke arahku. Dengan satu pukulan kuat, tiang kayu meledak dan serpihan kayu tersebar di mana-mana, bahkan tali penghubungnya pun putus.

Banyak perangkap dipasang diarea terbuka. Karena seperti ini, aku hanya harus berlari melalui area yang lebih lebat dengan kekuatan yang lebih besar.


"Hyaaaaaaaaaaaa !!! Mon-monsterrrrrr !! ”


Melihat diriku menerobos semua jebakan dengan mengandalkan kekuatan belaka menyebabkan bandit itu melarikan diri dengan berteriak lagi. Meskipun begitu, dia masih bisa melewati pepohonan dengan baik.

Aku mengejar dengan cepat dari belakang. Seperti tank yang melaju kencang, jika pepohonan atau batu hancur ketika ku lalui.


"Hahaha, kemana kau akan lari?"

"Ahhhhhhhhhhhh !!!"


Sebuah ketegangan aneh terasa saat aku mengejar bandit itu, dan sebuah kalimat seperti seorang kolonel tentara menyelip keluar dari mulutku. Bau amonia tersebar diudara, karena selangkangan pencuri yang melarikan diri terlihat basah. Sepertinya dia kencing di celana karena takut, tetapi dia terus melarikan diri dengan terampil.

Tidak lama kemudian, tebing dengan tinggi sekitar 7-8 meter muncul saat kami keluar dari semak belukar. Ada sesuatu seperti gua di sisi tebing, dan dikelilingi oleh pagar untuk mencegah hewan masuk.

Gua itu tampaknya markas para bandit, tetapi dua penjaga di depannya hanya memiliki ekspresi bosan.

Pria yang kencing dicelana dan lari terbirit-birit menuju para penjaga. Penjaga itu bingung dengan penampilannya dan berpikir sejenak. Mengambil kesempatan, aku menggunakan 【 Dimensional step 】 untuk mendekati pria itu dan menarik pedangku. Dalam sekejap ketiga pria itu ditebas dalam sekali serang. Sangat mudah untuk mengejar di tempat yang terbuka seperti ini.

3 mayat dipotong secara diagonal, dan mereka menyemburkan darah yang menyebabkan area disekitar berwarna merah dan berbau anyir.

Tiba-tiba, suara dan langkah kaki dapat didengar dari dalam gua, dan mereka menuju ke arah ini. Melempar tasku di dekat pintu masuk, aku menyiapkan pedangku dan menunggu para bandit yang tersisa muncul. Aku pasti dikirim kedunia ini sebagai pahlawan kebenaran.

Akhirnya seorang lelaki berkepala botak dengan tubuh kekar keluar dari gua membawa kapak.


"Hah! Siapa kamu, keparat !!! ”


Pria berkepala botak melihat pemandangan di pintu masuk gua dan meneriakkan kata-kata itu sebelum melompat dan mengayunkan kapaknya. Dalam sekejap, aku mendekatinya dan menusukkan pedangku ke tubuh pria itu dengan sekuat tenaga. Tanpa merasakan perlawanan apapun, pedang menembus perut dan membelah perutnya.

Dengan tubuhnya terbelah menjadi dua, pria berkepala botak itu bergumam tentang beberapa jenis monster baru, saat roboh ke tanah.

Para bandit lainnya menyaksikan dari belakang dalam keadaan terkejut. Ketika aku melangkahi isi perut dari benda yang jatuh ke tanah, yang lain mulai mengangkat senjata mereka dalam keadaan panik.

Aku menghindari serangan mereka dengan mudah, dan menebasnya satu per satu dengan satu tebasan pedangku. Hanya tiga orang yang tersisa di dekat pintu masuk gua, dan hanya sekitar dua orang yang bisa menggunakan senjata dengan leluasa.

Ketika bandit terakhir roboh ke dalam genangan darah, keadaan sekitar menjadi sunyi. Lebih dari selusin mayat berada di dalam gua. Angin dingin bertiup melalui area tersebut dan mengguncang dedaunan, karena aroma darah tercium. Ketika aku mengayunkan pedangku lagi, tetesan darah mengalir, membuat cahaya biru misterius bersinar.

Aku terus melangkah kedalam gua.

Gua ini tidak terlalu besar, ketika aku mencapai jalan buntu setelah hanya berjalan 100 meter ke arah kiri. Bagian dalam gua menjadi lebih seperti aula, karena masih ada lampu yang menyala dan tanda-tanda seseorang tidur di sini.

Di antara perbekalan pokok, aku menemukan sebuah kotak kayu yang besar. Suasana dan penampilan membuatnya terlihat seperti peti harta karun.

Sejumlah besar koin emas, yang para bandit telah simpan, berada di dalam peti ini. Kalau kugabungkan dengan koin emas di kantongku, jumlahnya mungkin melebihi 500 keping. Seukuran koin 1 yen, tetapi beratnya sama dengan koin 500 yen. Berat totalnya lumayan karena ada lebih dari 500 koin disini.

Ada juga banyak senjata yang tersisa, jadi untuk saat ini aku kumpulkan saja yang kelihatannya bagus


[ Volume 1 Chapter 11 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌


» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 11

2 comments:

Danyelos said...

Lanjut min, semangat terus

Ardhi Yahya said...

Ngeri juga si arc :v

Post a Comment