Thursday, 21 June 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 14

Translator : Sai Kuze

Chapter 14 - Hanya Lewat [Bagian 2]


Ketika aku memanggil Ponta yang sedang minum di tepi sungai, dia berjalan ke arahku sembari menggonggong dengan riang. Sementara aku menunggunya sembari duduk dengan lutut terangkat, dia menggunakannya untuk melompat ke pundakku sebelum akhirnya menempatkan dirinya pada posisi seperti biasa di atas kepalaku. Aku mengambil dan mengupas beberapa pistachio dari tasku, sehingga dia dengan gembira mengibas-ngibaskan ekornya.

Setelah berjalan melalui bagian sungai yang dangkal, aku memasuki hutan di seberang sungai.

Dari tempat ini hingga didepan sana, aku berada di wilayah para elf. Namun, atmosfir di hutan sama sekali tidak mencekam. Sebaliknya, dengan sinar matahari yang menembus puncak pohon, rasanya cukup menyenangkan.

Namun, tidak ada noda darah di area ini.

Sebaliknya, ada tanda-tanda seseorang telah menginjak area ini. Mungkinkah luka orang itu terbasuh setelah menyeberangi sungai, sehingga darah hanya muncul di area seberang sungai sebelumnya?

Mungkin ini berarti para bandit seharusnya menganggap area ini berbahaya.

Jika itu yang terjadi, maka jika aku tetap mencari sesuatu diarea ini, tidak ada kemungkinan bagiku untuk dapat menemukan tanda lainnya untuk mengejarnya. Sepertinya aku hanya bisa mencarinya perlahan dengan berjalan.

Karena aku tidak terpaku pada waktu, aku berjalan santai melewati hutan bersama Ponta. Kadang-kadang, kacang-kacangan tertentu akan menarik perhatiannya; setelah menggunakan sihir angin untuk mengambilnya dari pohon, dia akan menikmatinya di atas kepalaku.

Tak lama, cahaya matahari mulai memudar, secara bertahap mewarnai hutan menjadi merah. Pada saat inilah kami menemukan sesuatu yang terlihat seperti sebuah jejak roda. Lebarnya dapat dilalui satu kereta. Semak-semak telah disingkirkan menjadikannya hampir bisa dianggap sebagai sebuah jalan.

Jalan itu membentang dari arah timur laut ke arah barat daya.

Karena hari sudah mulai gelap, aku menuju ke arah barat daya, menuju arah pintu keluar hutan. Dari kepalaku, uapan mengantuk Ponta bisa terdengar secara berkala.

Lebih jauh menyusuri jalan, aku mendengar suara senjata berbenturan satu sama lain.

Aku keluar dari jalan, bergerak perlahan melalui semak-semak saat aku mendekati sumber suara. Ada kereta barang dengan sekelompok kecil orang di sekitarnya, mereka mengeluarkan senjata dan wajah mereka diselimuti dengan tampang mengancam.

Orang-orang yang mengelilingi kereta barang itu memiliki warna jubah yang sama, senjata dan perisai mereka diposisikan dalam formasi untuk melindungi kereta. Mereka jelas sangat berbeda dibandingkan dengan sekelompok bandit biasa dengan peralatan seadanya.

Kereta barang yang diposisikan sedikit di belakang mereka ditutupi dengan kain hitam, menyembunyikan isinya. Namun, aku merasakan tanda-tanda kehidupan di bagian dalam kereta; di sana pasti ada orang yang disembunyikan di dalamnya.

Seorang lelaki kurus di samping kereta mengangkat pedangnya, tetapi tidak seperti penjaga di depannya, pedangnya bergetar saat tangannya menariknya dari pinggulnya.

Mayat tiga pria yang ditancapi anak panah mengelilingi kereta barang. Mereka tampaknya menjadi korban serangan dadakan.

Di antara pria-pria dengan gairah yang meningkat di dekat bagian depan kereta, seorang pria yang memiliki tubuh gagah mengeluarkan erangan kesakitan sebelum dia ambruk ke tanah. Saat dia ambruk, aku melihat sosok penyerang yang menarik pedangnya sebelum dengan waspada mengamati sekelilingnya.

Dengan sekali lihat pada wanita cantik yang berdiri di sana dengan memegang sebuah pedang tipis, jelas bahwa dia bukanlah manusia.

Kulitnya yang berwarna lila sangat mulus; rambut panjangnya putih seperti salju. Telinga runcingnya melengkapi mata tajamnya, yang bersinar dengan warna emas yang aneh di hutan yang gelap ini. Dibandingkan dengan elf yang pernah kulihat sebelumnya, telinganya juga lebih pendek.
(TL Note: 'Lila' warnanya merah muda)

Wanita itu mengenakan sebuah gaun berlengan panjang dengan sebuah hem sedang yang membuatnya dapat bergerak dengan leluasa. Korset kulitnya berfungsi sebagai pelindung, sementara jubah abu-abunya berkibar tertiup angin dibelakangnya.
(TL Note: 'Korset kulit' itu lho yg bentuknya mirip kek 'Kozwi sledingshot hanya ada di jaco')


Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 14



Sosoknya mencerminkan seorang prajurit veteran.

Namun, daya tarik feminin yang memukau terpancar dari tubuh yang dibalut pakaian biasa itu. Kain di dadanya seperti bisa robek kapan saja karena menahan beban berat kedua (.)(.)-nya. Di bawahnya, sebuah pinggang ramping menekankan kaki indah dan bokong semoknya.

Jika seseorang mampu mengalihkan pandangan dari sosok cantiknya bahkan hanya untuk sesat, maka mereka akan dapat melihat pedang perak yang berkilau di tangannya yang menebas kencang, menebas satu demi satu para pria.

Kadang-kadang, para pria mencoba mengepungnya, tetapi mereka malah mundur setelah menerima beberapa tembakan anak panah yang ditembak dari jauh di belakang mereka.

Sembari menggunakan dahan tebal pohon besar sebagai pijakan, dan batangnya sebagai pengganti perisai, pemanah, yang memiliki ciri penampilan yang sama dengan pria yang aku lihat didekat Diento, terus menembakkan anak panah.

Dengan rambut pirang berwarna zambrud, mata berwarna hijau, dan telinga runcing panjang bersama dengan tubuh ramping, dia tidak diragukan lagi adalah seorang elf. Namun, elf itu tampaknya orang yang berbeda dari yang aku temui di dekat kota.

Keduanya menyerang kelompok yang jumlahnya sekitar dua puluh. Mereka cukup terampil dalam pertempuran sehingga mereka dengan mudah mengatasi kerugian akan jumlahnya. Ketika Ponta dan aku diam-diam mengamati dari semak-semak, entah bagaimana, setelah beberapa menit, pertempuran akan berakhir, aku mendengar seorang pria meneriakan sumpah serapah di dekat belakang kelompok itu. Kemudian, dia mulai berlari menuju kereta barang.

Setelah pria itu menarik kain yang menutupi kereta barang, dia mengarahkan pedangnya ke salah satu penyerang sambil berteriak padanya.


"Wanita!! Menyerahlah !! Kalau tidak, aku akan melubangi tubuh mereka !!! Elf yang disana juga !! ”


Dengan nadinya yang menonjol dan air liur menyembur keluar dari mulutnya, pria itu berteriak.

Pedangnya diarahkan ke kurungan besi di dalam kereta barang di mana empat anak dikurung. Dengan rambut emas, mata zamrud, dan telinga panjang, mereka semua adalah elf.

Anak-anak, mungkin takut pada pedang yang diacungkan pada mereka, mengeluarkan isak tangis dari penutup mulut mereka. Pada saat yang sama, air mata mulai berkumpul di sudut-sudut mata mereka.

Ketika wanita itu berhenti mengangkat pedangnya mempertimbangkan ancaman itu, para pria di sekitarnya menghela nafas lega. Bersamaan dengan itu, mereka mulai secara bertahap merapatkan pengepungan mereka.


"Bajingan─! Manusia yang tak tau malu !!! … Daripada menyerah pada kalian dan menahan rasa malu untuk seumur hidup, penduduk hutan lebih baik mati dengan bangga !!! ”


Bersamaan dengan teriakannya, ujung pedang wanita itu diangkat kembali. Kebencian dan kemarahan yang lebih kuat berkilau dari matanya. Tekanan dari aura gelap yang mengelilinginya menyebabkan pria yang mendekat menjadi ragu.

Elf yang terletak di pohon merenungkan apa yang harus dia lakukan dan tidak mengangkat busurnya. Dalam situasi ini, jelas bahwa beberapa elf yang disandera akan dikorbankan.

Mungkin ini adalah semacam naluri seorang pria untuk mendekati, meskipun hanya sedikit, pada wanita cantik dengan kulit berwarna lila.


“Hmm, sepertinya kau berada disituasi yang sulit. Ijinkan aku untuk membantu. ”


Dalam atmosfir menegangkan ini, setelah menurunkan Ponta dari atas kepalaku dan menaruhnya disekitar leherku demi keselamatannya, aku mendekati pria didekat kereta barang sembari mengatakannya dengan nada polos.

Untuk sesaat, hanya desiran udara yang terdengar.

Jika seorang ksatria perak yang mengenakan jubah hitam tiba-tiba muncul dari semak-semak, siapapun pasti akan curiga. Pria yang mengancam tadi sepertinya kebingungan dengan keadaan ini.


"Membantu? Bantu ... ” Dengan ekspresi bingung yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu, dia bergumam pelan.


Aku menutup jarak menuju pria lengah yang sepertinya masih kebingungan.

Meskipun aku bisa saja berteleportasi untuk memperpendek jarak, aku ragu-ragu untuk menunjukkannya di depan banyak orang. Ini adalah situasi yang rumit, karena masih belum diketahui apakah mengalahkan para penculik akan memberikan kesempatan untuk membentuk hubungan persahabatan dengan para penduduk hutan.


“Ba-baiklah! Aku dengan senang hati akan memberimu hadiah jika kau menangkap dark-elf itu !!! Namun, pastikan untuk menangkapnya hidup-hidup !!! ”

"Apa!! Apa yang anda pikirkan !!! Kita tidak bisa mempercayai orang yang mencurigakan seperti itu; apa anda gila!!!"


Ketika pria yang pola pikirnya benar-benar salah, mengeluarkan kata-kata itu seolah-olah itu adalah gagasan yang bagus, salah satu anggota kelompoknya memprotes. Seperti yang diharapkan, masih ada setidaknya satu orang yang mampu berpikir rasional dalam situasi ini.


“Menyebalkan, sangat menjengkelkan, diamlah !!! Kalian semua sangat tidak kompeten sehingga kalian bahkan tidak bisa mengatasi seorang wanita !!! Tangkap dia dengan cepat !! Kita tidak bisa membiarkan spesies langka seperti itu lolos !!! ”


Kelompok ini tampaknya handal, tapi bagaimana bisa orang tak kompeten seperti pria itu bisa ada di sini? Aku penasaran siapa pemimpin yang bertanggung jawab atas kelompok penculik ini? Meskipun, pada titik ini, aku kira itu tidak masalah ...

Jadi, dia rupanya dark-elf ya ... Penampilannya sangat berbeda dari elf. Meskipun, dalam game, dark-elf lah yang memiliki telinga panjang, bersama dengan mata merah dan kulit coklat gelap; penampilan mereka di dunia ini tampaknya sangat berbeda.

Terlebih, mengingat mereka adalah spesies langka, jumlah mereka mungkin sedikit.

Sambil memikirkan pikiran yang tidak relevan seperti itu, aku mendekati pria yang tidak kompeten itu dalam waktu singkat. Bahkan dengan full armorku, berkat tubuhku yang sangat perkasa, aku bisa menutup jarak dalam sekejap mata.

Aku menarik pedangku dan menebas lengannya ─ yang dia gunakan untuk mengayunkan pedangnya tadi. Seakan dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, dia memiliki wajahnya tercengang saat dia menarik nafas terakhirnya. Setelah tubuh bagian atasnya ambruk, setengah bagian bawah yang lembap roboh ke tanah dan menyemburkan isi jeroan ke celananya yang terlihat mewah.

Semua orang tercengang melihat pemandangan yang baru saja mereka saksikan. Namun, pada saat berikutnya, dark-elf kembali sadar.

Sementara pria lainnya masih kebingungan, dia mengambil kesempatan untuk menebas tiga pria.

Seorang pria mencoba untuk mendapatkan kembali kesadarannya, tetapi sebelum dia malakukannya, aku berlari ke depannya dan membelahnya menjadi dua dengan mengayunkan pedang dari atas kepalanya, seolah-olah aku seperti sedang membersihkan jeroan ikan. Kepanikan dan ketakutan memenuhi para pria ketika teriakan bergema di udara.

Anak panah dari atas, milik elf yang berada di pohon, membunuh semua yang mencoba melarikan diri.

Dalam hitungan menit, keheningan yang menyelimuti sekitar mulai menghilang, dengan hanya suara serangga dan gemerisik daun yang memecah keheningan. 



[ Volume 1 Chapter 14 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌

» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 14

3 comments: