Tuesday, 26 June 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 16

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 16
 

Translator : Sai Kuze

Chapter 16 - Menunggu untuk Menyusup [Bagian 1]


“Kalau begitu, pertama, aku akan bergabung dengan Danka yang sudah menyusup ke Diento. Ikuti aku.

"Tentang itu ... Bisakah aku menyarankan sesuatu?"


Untuk memperkuat hubunganku dengan para elf, mungkin lebih baik untuk menunjukan salah satu kemampuanku. Selain itu, penampilan ini membuat operasi penyusupan tidaklah mungkin dilakukan. Namun, dengan penggunaan 【 Dimensional Step 】 yang memungkinkan telerpotasi jarak pendek, menyelinap ke suatu tempat tanpa terlihat tidak akan menjadi sesuatu yang sulit.

Karena aku mengenakan full armor perak ini jika aku ketahuan sedang membebaskan para elf yang sedang dikurung, aku akan sangat menarik perhatian untuk dijadikan target dan kemungkinan mereka akan mencariku dikota, tidak dapat bergerak sembarangan, begitulah kenyataannya. Karena itulah yang terjadi, dengan menggunakan sihir ini untuk diam-diam melakukan penyelinapan, tidak perlu khawatir dilihat seseorang selama penyelamatan.


"Saran? Sepertinya kau sedikit terlalu santai; sebelum mencapai Diento, hutan sudah gelap. ”


Saat dia dengan lembut menahan rambut putihnya yang indah yang berkibar tertiup angin, dia tampaknya sedikit meragukan apa yang ingin kukatakan.


"Ariane-dono, apa kau tahu tentang sihir teleportasi?"

“...? Aku tau itu, tapi apa hubungannya dengan itu? ”


Aku melihat sedikit kilau kewaspadaan di matanya. Apakah topik sihir teleportasi itu sesuatu yang tabu? Tetapi setelah sampai sejauh ini, tidak mengatakan apa pun bukanlah pilihan ... Mempersiapkan diri untuk yang terburuk, aku melanjutkan.


“Aku bisa menggunakan sihir telportasi; dengan itu, kita bisa segera tiba di Diento. Penyusupan serta melarikan diri dari penjara pastilah jauh lebih mudah jika kita menggunakannya selama melakukan penyelamatan. ”

“Sihir teleportasi!? Tidak mungkin?! Seseorang yang bisa menggunakan kemampuan yang hanya diceritakan dalam legenda ?! Bahkan kita para elf yang mengandalkan penggunaan alat sihir hampir tidak bisa menggunakan sihir semacam itu ... !! ”


Kedua mata emasnya melebar; ekspresinya adalah salah satu bukti keterkejutan yang sangat jelas. Setelah beberapa saat, Ariane kembali tenang, dia dengan kebingungan menutupi mulutnya dengan tangannya.

Sepertinya para elf memiliki pengetahuan tentang sihir teleportasi, itu bukan suatu hal yang bisa digunakan berdasarkan kemampuan sihir satu orang. Namun, dengan menggunakan alat sihir mereka, para elf mampu menggunakan sihir teleportasi ... dan berdasarkan nada tadi, manusia tampaknya tidak memiliki alat seperti itu untuk melakukan sihir teleportasi; kalau tidak, mungkin itu adalah kasus di mana mereka tidak bisa menggunakannya. Melihat wajahnya yang panik, fakta bahwa para elf mampu menggunakan sihir teleportasi mungkin adalah rahasia yang dijaga ketat.


“Lupakan apa yang baru saja kau dengar! Tidak ... buktikan bahwa kau bisa menggunakan sihir teleportasi. Seandainya itu benar, aku tidak akan mengungkapkannya pada siapapun, tetapi kau juga harus berjanji untuk merahasiakan sesuatu yang ku ucapkan sebelumnya! ”


Nada bicara dan tingkah lakunya sangat memaksa, dengan maksud untuk tidak menerima penolakan, menuntut dariku balasan langsung. Dalam kasus di mana manusia mengetahui akan keberadaan teknologi super yang memungkinkan penggunaan hal-hal seperti sihir teleportasi, keinginan akan teknologi ini bisa dijadikan alasan terbaik untuk memicu perang antara kedua ras; itu sesuatu yang harus diperhatikan. Berurusan denganku yang telah mengetahui keberadaan tentang teknologi itu bisa saja memungkinkan hal tersebut terjadi, tapi ...

Memiliki dua orang yang saling berbagi rahasia mereka pasti bisa memberikan jaminan bagi kedua belah pihak.


"…Aku mengerti. Mengenai pembicaraan tentang sihir teleportasi elf, aku berjanji untuk menjaga mulutku tetap tersegel. ”


Kata-kata janji yang bombastis kuberikan kepadanya.


"Baik. Kalau begitu, bisakah kau tunjukkan sihir teleportasi secara langsung? ”


Dengan jubah abu-abunya yang berkibar, Ariane berdiri dengan tangannya di pinggangnya, membuat pose yang menakutkan, tatapannya menuntut sebuah pembuktian.

Ponta sepertinya mengerti situasinya. Memanggil sihir angin dengan gonggongan kecil, dia melayang ke tempat biasanya, duduk di atas pelindung kepalaku.

Setelah mempersiakan semua barang bawaanku sebelum berangkat, aku memanggul tas dan memanggil Ariane sebelum mengaktifkan mantra.


“Seperti yang disepakati. Kalau begitu, membuka jalan didekat kota Diento. 【 Transfer Gate 】! ”


Saat mantera diaktifkan, lingkaran sihir selebar tiga meter yang memancarkan cahaya putih kebiruan muncul, melebar di bawah kaki kita. Hari semakin gelap, dengan bayang-bayang pepohonan besar di hutan yang lebat. Cahaya Sebuah cahaya misterius fantasi mewarnai pepohonan itu, dan secara tiba-tiba, pemandangan di depan mataku sepenuhnya masuk ke dalam kegelapan.

Namun, hanya dalam sekejap, menyadari bahwa pemandangan hutan sebelumnya telah menghilang, kami berdiri di lokasi yang sama sekali berbeda.

Dengan tangan yang tersingkap, Ariane memasang ekspresi terkejut di wajahnya setelah melihat hasilnya. Kedua mata emasnya terbuka lebar saat dia menatap semua pemandangan sekitarnya.

Senja sudah mendekat, dengan warna ungu mewarnai langit. Angin bertiup lembut menyapu padang rumput, membelai rumput, dan menciptakan suara gemerisik yang menggelitik telinga.

Didekat sana, ada jembatan batu dengan enam lengkungan, di bawahnya aliran Sungai Rydell dapat terlihat. Di luar titik itu, pemandangan tak terputus dari tembok kota yang melindungi Diento muncul dengan sendirinya.


"Aku terkejut ... Tidak, untuk mengetahui seseorang yang mampu menggunakan sihir teleportasi tanpa rapalan ... bahkan sekarang, aku merasa seperti sedang bermimpi ... Ini tentu saja adalah kemampuan terbaik untuk menyelamatkan saudara-saudaraku."


Sambil melihat sekelilingnya dengan memasang wajah penuh kekaguman, dia berbalik dan memberiku senyum lebar. Dia tampaknya benar-benar senang bahwa rencana misi penyelamatan yang akan datang lebih terjamin.


“Meskipun itu sihir yang nyaman, itu tidaklah tanpa kelemahan. Bepergian ke suatu tempat mengharuskan diriku sudah pernah ketempat itu, serta ingatan yang jelas tentang lokasinya. Untuk tempat-tempat dengan pemandangan serupa seperti hutan atau bagian dalam gua, itu mungkin tidak bisa dilakukan ... ”

“Meski begitu, itu sudah cukup! Sihir teleportasi yang digunakan para elf, di tempat pertama, tidak dapat terhubung ke area di luar lingkungan mereka dengan kondisi tertentu, belum lagi sangatlah membutuhkan banyak mana ... ”


Sepertinya ada berbagai batasan dengan penggunaan sihir teleportasi elf; Namun, kemampuan itu masih jauh lebih unggul dari teknologi transportasi saat ini.


“Yah, aku tidak bisa terus-terusan terkejut selamanya. Sebentar lagi, kita memasuki Diento. ”


Saat Ariane mengatakan itu, mempersiapkan diri, dia menarik tudungnya hingga menutupi matanya dan benar-benar menutupi tubuhnya dengan jubahnya, memakainya seperti pakaian, sebelum mulai melangkah menuju kota Diento.

Sebagai dark-elf, kulitnya yang berwarna merah muda tentunya berbeda dari para elf normal dan manusia, hal ini membuatnya cukup menarik perhatian. Tanpa menutupi seluruh tubuhnya seperti ini, dia mungkin akan segera ditemukan.

Dalam kasusku, karena armor menutupi tubuh kerangkaku, menjadikan tidak ada yang bisa melihatnya. Kita sedikit mirip, meskipun situasinya sedikit berbeda denganku karena dia memiliki tubuh daging dan darah yang sebenarnya.

Dengan mengenakan jubah hitamku sendiri, armor perak yang mewah benar-benar tertutupi sebelum aku mulai berjalan di belakangnya, mengikuti jejaknya.

Meskipun senja mewarnai kota Diento, seperti yang diharapkan dari pusat lalu lintas, sejumlah besar orang-orang yang menaiki kereta masih melintasi jembatan untuk memasuki kota. Pada saat ini, tanpa ada yang meninggalkan kota, aliran orang-orang bergerak ke satu arah.

Menyebrangi jembatan, kami melewati gerbang pertama bersama aliran orang-orang sampai kami tiba di gerbang kedua. Berjalan sembari mengenakan persenjataan lengkap dan menutupi kepala hingga ujung kaki didalam jubah hitam, entah bagaimana menyebabkan orang-orang didepanku mulai menjauh. Karena itu bukan hal yang sangat mengganggu, aku dengan santai maju menuju gerbang kedua.

Saat menunjukkan sertifikat petualangku, aku berbicara atas nama Ariane yang sepenuhnya tertutup.


“Di belakangku adalah rekanku. Berapa biaya masuknya? ”


Penjaga gerbang melihat Ariane sekilas, tidak menunjukkan minat khusus terhadap banyak orang yang mencoba memasuki kota, dan membuka mulutnya, membalas dengan nada kasar.


"Biayanya 1 sek."


Dari kantong kulit di pinggangku, aku mengambil koin perak dan menyerahkannya kepada penjaga, setelah itu aku memasuki kota bersama dengan Ariane.

Dengan matahari sudah terbenam, cahaya dari lampu-lampu yang tersebar bersinar di jalanan, bercampur dengan energi yang meluap dari kerumunan yang hidup. Ketika kami berjalan melewati kerumunan di alun-alun sebelum menuju gerbang selatan, aku bertanya kepada Ariane tentang rencana kami selanjutnya.


“Umu, kita sudah berhasil memasuki Diento, tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Ariane-dono?”

“Melewati gerbang tepat setelah melewati jembatan pasti sampai disebuah alun-alun ... Disitu adalah tempat pertemuan dimana aku harus menunggu Danka. Aku kira dia akan menemukan kita di sini. "


Dengan itu, dia berjalan melewati kerumunan yang melonjak menuju sudut di alun-alun, punggungnya disandarkan di dinding sebelum dia memusatkan perhatian pada kerumunan orang-orang. Setelah mengikutinya, aku bersandar di dinding dan mengalihkan pandanganku ke arah kerumunan yang sama.

Danka adalah elf yang sebelumnya aku temui di luar kota ini. Terakhir kali, untuk menyembunyikan telinga panjang elfnya, dia mengenakan tudung. Namun, saat ini aku tidak dapat menemukan seseorang yang cocok dengan deskripsi dirinya dalam garis penglihatanku.

Beberapa saat kemudian, seseorang mendekat ke arah kami. Dengan jubah berwarna rami, tudung menutupi matanya, orang itu berjalan ke arah kami.

Ketika Ariane juga memperhatikan orang ini, dia menegakan dirinya, memisahkan diri dari dinding sebelum memberikan tanggapan.


"Ariane, mengapa pria ini ada di sini?"


Berhenti di depan kami, pria berjubah berwarna krem ​​itu bertanya pada Ariane dengan suara rendah. Aku mengenali suara ini; suaranya sama dengan pria yang aku temui di luar kota.


"Ini hanya perkembangan kecil ... Kali ini, aku mempekerjakan seorang petualang untuk memberikan sedikit bantuan."

"Apakah kau serius?!"


Suara Danka dipenuhi dengan keterkejutan dan amarah.

Yah mau gimana lagi; sesuatu seperti mempekerjakan seorang manusia yang dengan sukarela ingin menyelamatkan para elf yang ditangkap oleh manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami.


"Tidak enak membicarakan ini sembari berdiri ... mari cari tempat untuk duduk."


Setelah mengatakan itu, Ariane segera meninggalkan alun-alun. Danka pasti sudah menilai bahwa tidak ada gunanya berdebat di sini karena dia dengan enggan mengikuti di belakangnya. Meniru apa yang dilakukan Danka, aku mengikuti di belakang mereka.

Setelah meninggalkan alun-alun, kami memasuki jalanan utama, lokasi perdagangan di mana banyak kedai berjejeran di sini. Di depan kedai-kedai ini, tertata meja dan kursi untuk para pelanggan, menjadikan tempat ini seperti suatu desa kedai.

Disana-sini, duduk mengelilingi meja, orang-orang dari kedai-kedai sekitarnya berteriak-teriak sembari memesan makanan dan alkohol.

Ariane duduk di sebuah meja kosong, lalu bertanya pada Danka mengenai membeli minuman keras dan makanan ringan.


“Danka ~, aku ingin makan daging panggang yang ditusuk itu! Dan minuman alkohol yang cocok untuk dimakan bersamanya, please. Arc, bagaimana denganmu? ”

"Aku tidak usah."


Daging panggang dari kedai itu mengeluarkan aroma yang sangat nikmat dan harum, tetapi tidak mungkin aku bisa melepas pelindung kepalaku di depan kerumunan seperti ini. Meskipun aku tidak merasa lapar dengan tubuh ini, aku tidak punya pilihan selain menahan keinginan untuk makan dengan normal.


"Kenapa harus aku ..."


Meskipun Danka menggerutu, dia tetap pergi menuju kedai untuk membeli apa yang diminta Ariane. Sembari memperhatikan dari belakang, aku duduk di meja yang sama dengannya, sementara Ponta yang menempel di puncak kepalaku turun ke meja dan duduk.

Tampaknya bau lezat itu mungkin telah merangsang rasa laparnya.


"Kyu ~ n."


Setelah dia mengeluarkan gonggongan yang terdengar sedikit menyedihkan, Danka kembali dengan membawa alkohol di dalam wadah kayu yang tampak seperti gelas bir dan tusukan daging panggang, sembari membawa sepiring biji-bijian seperti kacang untuk cemilan. Setelah menempatkan semuanya di atas meja, dia mengambil tempat duduk juga.


“Karena aku bertarung melawan para penculik di hutan, perutku keroncongan. Arc, orang ini adalah Danka Neil Maple. Seperti diriku, dia juga seorang warrior elf, dan, belakangan ini, menjadi orang yang telah mengumpulkan informasi di kota ini. Danka, pria dengan armor itu adalah Arc. Dia secara tidak sengaja bergabung dan membantuku dan Donnaha dalam pertempuran dengan para penculik di hutan. ”


Hmm? Dia mengatakan Maple barusan ... nama itu terdengar sangat familiar. Itu dia, nama keluarga yang sama dengan nama seseorang didepan mataku yang menjejali pipinya dengan tusukan daging panggang lezat, Ariane Glenys Maple.


"Jika aku tidak salah, aku ingat Ariane-dono juga memiliki nama belakang Maple, tetapi apakah kalian berdua saudara kandung?"


Danka mengangkat alisnya sedikit karena pertanyaanku, sementara Ariane tertawa geli, mengunyah daging panggannya dan menggoyang-goyangkan tusukannya. Mata Ponta bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti setiap gerakan tusuk sate yang bergoyang.


“Nama standar para elf adalah kombinasi dari nama sendiri, nama orang tua dari jenis kelamin yang sama, dan nama desa tempat tinggal. Meskipun aku memiliki saudara laki-laki dan perempuan dari desa yang sama, kami berdua bukan anggota dari keluarga yang sama. Sederhananya kita ini berasal dari ibukota Great Canada Forest, Maple. ”


Sistem penamaannya sangat berbeda dari sistem penamaan di Jepang.

Bagaimanapun, apakah Great Canada Forest yang dikenal sebagai ‘Forest of the Elves’ dan ‘Lost Forest’? Selain itu, untuk nama ibukota hutan yang disebut Maple ... adalah tempat yang terkenal dengan sesuatu seperti produksi sirup yang berlimpah ??


"Apakah 'Great Canada Forest' adalah tempat yang sama yang disebut manusia sebagai 'Forest of the Elves'?"

“Manusia sepertinya menyebutnya begitu. Setelah kami membangun sebuah kota elf yang besar disana, Patriarch-sama sang pendiri memberinya nama, 'Great Canada Forest'. Nama ibukota hutan, Maple, adalah salah satu nama yang diputuskan oleh pendiri pertama. ”


... Mungkinkah eksistensi seperti diriku pernah datang ke dunia ini? Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, nama-nama 『 Canada 』 dan 『 Maple 』 tampaknya bukanlah sebuah kebetulan. Namun, ketika dia berbicara tentang kepala suku pertama ... seolah-olah kisah itu terjadi cukup lama.


"Sejak kapan ibukota hutan, Maple, dibangun?"

"Mungkin sekitar delapan ratus tahun yang lalu?"


Sambil berbicara, Ariane memiringkan kepalanya sedikit ke satu sisi, terlihat sedikit ragu, dan mengalihkan tatapannya ke arah Danka, yang memberinya anggukan kecil. Setelah itu, dengan batuk, dia mengubah topik pembicaraan.


“Suatu hal yang sepele sekarang, tidakkah kau setuju? Mengesampingkan itu, apakah kau benar-benar yakin membawa orang ini di operasi kali ini? ”


Danka berhasil mengarahkan percakapan tanpa henti itu ke salah satu yang berkaitan dengan misi saat ini.

Ariane memberi isyarat agar Danka mendekat dengan tangannya. Setelah dia mendekat, dia membisikkan sesuatu ke telinganya.

Ketika dia selesai berbicara, di bagian dalam tudungnya, ekspresinya berubah menjadi sesuatu seperti keterkejutan. Mendekat ke arahku, Danka dengan cukup terampil bertanya dengan suara kecil yang mirip dengan bisikan.


"Kau, apakah seseuatu mengenai menggunakan sihir teleportasi sebuah kebenaran ?!"

"Ya, meskipun ada beberapa batasan, aku bisa menggunakannya."


Meskipun aku tidak berpikir bahwa ada orang yang bisa mendengar kami karena kebisingan di sekitar, aku masih menjawab dengan nada rendah.

Danka memandangku dan Ariane bergantian dengan ekspresi tak percaya. Ariane memberi Ponta sepotong daging dan mulai bermain dengan telinga segitiga, tidak memperhatikannya ...


"Lalu? Kau mengatakan bahwa kau menemukan markas mereka? Bagaimana situasinya? ”


Sambil menarik telinga Ponta, memisahkan dirinya, dan membelai kepalanya, Ariane menanyai Danka tentang markas yang ia temukan.

Danka akhirnya tenang, dengan ekspresinya digantikan oleh ekspresi serius, dan lalu berbicara.


"Ah, benar. Markas penculik terletak di distrik lampu merah dekat gerbang timur. Karena masih ada banyak orang tak lama setelah matahari terbenam, kita akan menunggu hingga jalanan mulai sepi di malam hari untuk menyusup. Selain itu, ada juga beberapa penjaga; sepertinya cukup banyak orang didalamnya ... ”

Daripada berada di distrik bangsawan yang mengelilingi istana bangsawan feodal di jantung kota, markas itu tampaknya berada di distrik lampu merah di dekat gerbang timur. Itu adalah area yang ku hindari karena aku tidak ingin mendapat masalah yang melibatkan orang-orang aneh di sana.


"Sudahkah kau mengetahui jumlah elf yang dikurung di sana?"

“Menurut informasi yang aku dapatkan dari informanku, ada empat. Dengan kemungkinan beberapa sudah terjual sebelumnya ... ”

“Karena kami menggagalkan rencana mereka untuk pengisian kembali persediaan hari ini, maka hanya tersisa empat elf yang dikurung dimarkas itu. Karena kita memiliki sihir Arc kali ini, pelariannya seharusnya cukup mudah."

"Jadi, kita harus menunggu di sini hingga waktunya tiba ..." 



[ Volume 1 Chapter 16 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌


» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 16

2 comments: