Friday, 1 June 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 7

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 7
 

Translator : Sai Kuze

Chapter 7 - Mencari Pekerjaan sebagai Petualang [Bagian 2]


Meskipun ini adalah dunia yang berbeda, ini tidak terasa fantasinya. Terus terang, disini hanya terasa seperti dunia diera Abad Pertengahan. Tidak ada pulau terbang, elf, atau bahkan monster biasa seperti goblin. Aku mendengar didunia ini ada monster, tetapi mereka kemungkinan hanya versi yang lebih besar dari hewan normal.

Saat ini, elemen yang paling fantasi di sini adalah diriku. Meskipun kerangka, aku bisa makan, berjalan, berbicara, dan bahkan menggunakan sihir.

Tampaknya satu-satunya indikator bahwa ini adalah dunia lain adalah bahwa rupanya ada hewan buas yang seperti monster.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu mendekat dari dalam hutan. Dengan suara langkah kaki semakin dekat, suara oinks babi menjadi lebih terdengar.

Dari balik semak-semak muncul tiga ekor babi berjalan dengan dua kaki yang tingginya sekitar seratus enam puluh sentimeter.

Mereka memiliki postur bungkuk, lengan tebal, dan membawa pentungan yang terbuat dari batang pohon. Mereka juga memiliki kulit kemerahan dan tidak mengenakan apa-apa. Berdiri dengan kakinya yang pendek, perut mereka menonjol kedepan.

Fantasi akhirnya muncul.

Mirip seperti orc didalam game, tetapi ada beberapa perbedaan kecil. Tampaknya memiliki kecerdasan lebih rendah daripada yang ada di game, karena orc ini tidak memiliki senjata atau armor. Mereka adalah sumber exp untuk para player berlevel 20-40.

Jika hanya ini, aku pasti bisa menanganinya dengan sedikit gerakan. Tubuhku saat ini berada di level tertinggi 255 karena hardcore grinding yang ku lakukan.

Batas level normal adalah 250, tetapi batas itu dihapus dengan memenuhi persyaratan khusus. Kenaikan satu level setelah melewati batas level akan diberikan sepuluh kali peningkatan status normal dari level normal, jadi kemampuanku yang sebenarnya pastilah sama dengan karakter berlevel 300.

Ketiga para Orc tampaknya sedang saling berkomunikasi. Salah satunya melihat dua babi hutan yang terbaring di sungai dan mengatakan sesuatu. Dia memberi isyarat dengan cara yang mengindikasikan perburuan yang bagus.

Ketika mereka akhirnya menyadari sosokku duduk di batu di dekatnya, seekor lainnya mengeluarkan teriakan melengking.


"Pigii ~~~ !!"

“Buhitsu !? hugotsuhugotsubuhi !! ”


Teriakan itu seperti memperingatkan yang lainnya, karena mereka semua mengangkat pentungan mereka dan datang menyerangku. Kecepatannya tidaklah cepat sedikitpun. Aku bisa dengan mudah melihat getaran di perut mereka yang menonjol saat mereka berlari.

Memakai pelindung kepalaku, aku seketika berpindah di belakang mereka. Aku melanjutkannya dengan mencabut pedangku, dan memotong leher orc yang paling lambat.


"Buhiyutsu !?"


Kepala Orc terputus dari dagu ke atas.

Para Orc yang lain terkejut karena musuhnya menghilang, dan putus asa mencari-carinya. Kemudian mereka berdua akhirnya menyadari sesuatu.

Aku mengayunkan pedangku dari kanan ke kiri, dan tidak merasakan perlawanan saat kepala orc yang paling lambat melayang terbang dan tubuhnya roboh. Ada darah memuncrat keluar dari tubuh orc yang mati.


“Pigitsu !!? pigii ~~~ !!! ”


Dua orc yang tersisa berteriak, dan mulai berlari lebih dalam ke hutan.

Aku tidak mengejar mereka karena aku sudah memiliki 2 babi hutan dan 1 kepala orc.

Aku menjatuhkan kepala Orc kedalam air, untuk membersihkan darahnya. Meskipun ini adalah kepala Orc, itu tampak seperti kepala babi bagiku. Ngomong-ngomong aku menyimpannya di inventory gameku.

Kepala pasti dihitung sebagai bukti penaklukan.

Aku pergi ke dua babi hutan di tepi sungai, dan mulai mengikat keduanya dengan beberapa tali tombak yang aku miliki. Keduanya pasti berbobot lebih dari 100 kg tetapi karena level tubuhku, aku hampir tidak merasakan apa-apa.

Aku bergerak melewati pepohonan saat aku mulai meninggalkan hutan. Aku sedikit tersesat ketika aku berjalan, tetapi aku akhirnya bisa melihat jalanan.

Di jalanan, aku menyadari cahaya matihari sudah mulai memudar. Seharusnya sekitar jam 3 sore kan?

Melihat sekeliling ketika aku hendak berpindah, aku berjalan kembali ke Rubierute. Ketika aku sampai di persimpangan jalan, aku melihat orang lain berjalan menuju kota. Dari sini ke kota, Sepertinya aku harus melakukan perjalanan dengan berjalan kaki.

Satu jam kemudian, aku mencapai gerbang timur kota. Dengan sederhana aku menunjukkan surat izinku dan masuk ke dalam.

Orang-orang yang datang sebelum diriku terkejut, ketika mereka melihat buruan yang aku bawa. Lagi pula itu bukan sesuatu yang bisa dibawa oleh seorang pengelana biasa dengan satu tangan.

Ketika aku tiba di guild petualang, aku hanya berjalan melalui pintu ganda untuk masuk. Tidak berubah sejak pagi ini, beruang bermata satu duduk di dalam jeruji besi. Tidak ada orang lain di sini tetapi seorang pria melakukan pekerjaan administrasi di belakang.

Bibir paman beruang itu sepertinya berputar, saat aku berjalan menuju meja resepsionis.

Aku sejujurnya mengira jeruji besi ini dimaksudkan untuk melindungi seseorang di meja, tetapi melihat paman itu, aku membayangkan bahwa maksud sebenarnya adalah untuk menjaga binatang yang berbahaya agar tidak keluar.


“Sedikit lebih awal. Sudahkah kau memburu sesuatu? ”


Menanggapi hal itu, aku mengambil babi hutan dari atas bahuku dan meletakkannya di lantai. Lalu aku menempatkan tas buruanku diatas meja, dan mengambil kepala orc.


“Ini ketiganya. Bisakah aku mendapat sertifikat petualang? ”

“Yah, aku tidak menyangka mendapatkan ketiganya hanya dalam setengah hari. Apakah itu satu orc dan dua burba liar. Lalu mana daging dan batu sihir orcnya? ”


Babi liar sepertinya disebut burba. Sepertinya daging orc bisa dimakan. Satu potongnya sepertinya terjual seharga 5 sek.

Pada akhirnya, karena orc adalah monster, mereka tampaknya memiliki batu sihir sebagai intinya. Ketika aku mengatakan bahwa aku tidak mengambil batu sihir, pria itu tertawa dan berkata, “Kau benar-benar tidak kekurangan uang ya”. Batu sihir orc seukuran jari kelingking, dan harganya 1 sek. Sepertinya aku kehilangan satu koin perak.

Rasanya sangat menyiayiakannya ketika aku membahas biaya satu malam di penginapan murah. Lain kali, aku harus mengumpulkan sebanyak mungkin yang aku bisa.

Setelah pemeriksaan buruan yang diburu, pelat logam seukuran kalung nama anjing ditempatkan diatas meja.


“Ini bukti sertifikasi petualang. Kau harus membayar biaya registrasi 3 sek dan beritahu namamu. ”

"Tulis saja Arc."


Setelah mengucapkan namaku, aku menyerahkan 3 keping koin kepada paman, dan mengambil pelat sertifikasi petualang. Ada nomor seri 5-digit yang ditulis dalam angka seperti romawi, serta 3 bintang yang terukir di dalamnya.

Ketika aku menatap lempengan itu, huruf yang tidak dikenal diterjemahkan di kepalaku. 『Kerajaan Rhoden, petualang cabang Rubierute』 terukir diatasnya. Ini agak aneh.

Itu mengingatkanku, aku dapat memahami orang-orang yang aku ajak bicara dengan baik. Sungguh ini ...

Tidak ada masalah dengan membaca atau menulis.


"Untuk apa bintang-bintang ini?"

“Itu digunakan untuk mengukur kemampuan para petualang. Tiga bintang berarti kau mampu menangani Orc sendirian. Level tertinggi adalah tujuh, tetapi orang-orang seperti itu jarang ditemukan. ”


Paman seperti beruang bermata satu itu mengeluarkan aura yang mustahil, saat dia tertawa dan tersenyum.

Di antara tujuh peringkat, tiga bintang tampaknya tidak baik atau buruk. Tampaknya menjadi peringkat 『 Normal 』 di guild.


"Biasanya petualang hanya memilih pekerjaan dari papan di sana."


Di dekat pintu masuk ada papan pekerjaan, yang ditutupi sepenuhnya dengan papan kayu berukuran kecil. Itu mirip dengan papan kayu prediksi nasib yang ditemukan di sebuah kuil.
(TL Note: Agar lebih jelas coba nonton anime2 genre romance episode ada kuil-kuilnya)

Aku mengambil salah satu papan kayu dengan tanganku. Tulisan langsung diterjemah di dalam kepalaku, dan deskripsi teks muncul di pikiranku.

Masing-masing papan kayu ini tampaknya mewakili permintaan. Mengamati papan-papan itu, tampaknya sekali permintaan itu selesai, mereka mengelupasnya sehingga yang permintaan baru bisa diukir di atasnya. Kertas mungkin barang kelas atas.

Aku memutuskan untuk melihat permintaan untuk saat ini.


"Permintaan tugas."


Mayoritas permintaan adalah permintaan tugas, pemusnahan kutu daun di ladang, mengumpulkan tanaman di ladang, mengangkut puing-puing bangunan, membersihkan saluran air. Akan lebih akurat untuk menyebut guild petualang sebagai guild pembantu. Komposisinya juga agak rendah.


“Satu persen permintaan yang bagus membutuhkan banyak kekuatan manusia, sehingga guild lokal memberikan permintaan seperti itu secara teratur. Jika kau mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan maka kau harus menjelajahi bagian guild tentara bayaran. Petualang yang mengambil permintaan itu tahu untuk menambah uang saku, dan itu adalah cara yang bagus untuk membangun reputasimu. ”


Melakukan pekerjaan tentara bayaran tidaklah mungkin, kemungkinan wujud nyataku bisa ketahuan jika aku melakukannya.

Aku harus melakukan pekerjaan sederhana untuk saat ini, untuk merasakan suasana di sekitar sini. Memikirkannya, aku mengambil salah satu papan permintaan dari papan pekerjaan dan meletakkannya di atas meja.

Itu adalah permintaan dari desa Rata untuk mengawal koleksi ramuan medis. Hadiahnya cukup rendah, karena hanya satu koin perak. Aku mengambilnya karena aku sedikit tertarik dengan ramuan medis.

Paman yang seperti beruang berekspresi penasaran, ketika dia membaca papan permintaan.


“Sungguh, apa kau serius? Terus terang, ini adalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan upahnya. ”

"Tidak masalah. aku hanya tertarik pada koleksi herbal. "

"Kau gila. Kau tidak bisa bersikap lunak pada klien dengan permintaan seperti ini. Lebih baik kau mengambil permintaan yang lain. ”


Paman seperti beruang mengatakan demikian, saat dia memulai prosedur penerimaan permintaan. Permintaan itu dari seorang gadis desa berusia 13 tahun.


“Ketika pencarian selesai, klien menyerahkan kepadamu papan penyelesaian permintaan. Ketika kau menyelesaikan permintaan maka kau diberi papan penyelesaiannya juga, kau akan dibayar dengan itu. ”


Aku meninggalkan bangunan guild setelah mendengar informasi tetang jalan menuju desa itu dan berterima kasih kepada paman yang seperti beruang.

Aku kemudian masuk ke bangunan asosiasi pedagang. Beberapa waktu yang lalu, paman yang seperti beruang mengatakan aku harus membawa buruan yang aku buru kesini, sehingga mereka dapat membelinya dariku.

Bangunan asosiasi pedagang lebih besar dari bangunan guild, dan ada lebih banyak staf untuk menangani jumlah pengunjung yang lebih banyak.

Meja resepsionis gedung asosiasi dibagi oleh jendela-jendela berlapis besi, dan ada banyak karyawan yang bekerja di belakangnya. Ketika aku memanggil salah satu staf, seorang pria paruh baya keluar untuk menyambutku.


"Halo. Ada yang bisa saya bantu?"

"Aku di sini untuk menanyakan cara menjual sesuatu disini."


Aku menunjukkan dua burba di atas bahuku pada resepsionis. Resepsionis kemudian mengarahkanku ke perwakilan gudang. Keluar dari bangunan, kereta berhenti di seberang jalan, dan aku mengemas buruan sebelum dibawa ke lokasi gudang untuk melihat cara menjualnya.

Seorang pemuda kurus keluar menuju meja dengan buruanku di atasnya. Kemudian memulai pemeriksaannya pada buruanku. Aku juga membawa kepala orc juga.


“Harganya 7 sek dan 5 sok untuk dua burba, dan 1 sek untuk kepala orc. Totalnya 1 suk dan 6 sek. ”


Burba itu bernilai 7 keping perak dan 5 keping tembaga satuannya, sedangkan kepala itu bernilai satu perak. Sementara aku memikirkan hal-hal semacam itu, anggota staf menyerahkan satu koin emas dan lima koin perak. Dan memberikan sebuah koin tembaga ekstra.

Aku memasukan uang di kantongku dan pergi.

Matahari sudah lama terbenam, dan senja mulai mewarnai daerah itu.

Aku akan menginap di sini lagi, lalu berangkat ke desa Rata pagi harinya.



[ Volume 1 Chapter 7 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌


» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 7

6 comments: