Sunday, 1 July 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 18

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 18
 

Translator : Sai Kuze

Chapter 18 - Operasi Dijalankan [Bagian 1]


Distrik lampu merah terletak di daerah dekat gerbang timur Diento. Lebar jalannya tidak terlalu lebar; setiap sisi dihiasi dengan pertokoan yang mencurigakan.

Tempat itu dipenuhi dengan segerombolan pemabuk, dan mereka berkeliaran disekitar sembari bahu-membahu, menyenandungkan lagu-lagu riang dengan wajah memerah, dapat dilihat.

Hanya pada malam hari hampir semua toko menghentikan kegiatan mereka. Cahaya redup yang keluar dari deretan pertokoan dan lampu jalan yang berjauhan menambah gelap lorong-lorong gang itu.

Cahaya bulan, yang merupakan sumber cahaya utama penerangan jalanan ini, tidak dapat menembus gang-gang antara deretan bangunan yang padat.

Di lorong seperti itu, warrior elf Danka dengan tenang melangkah, memimpin jalan. Selama keheningan di tengah malam, suara langkah-langkah kaki yang agak keras menginjak jalanan batu terdengar menggema.

Sesaat kemudian, Danka yang berada didepan tiba-tiba berhenti, setelah itu Ariane juga menghentikan langkahnya.

Ketika Danka mengintip dari sudut gang, menganggukan dagunya ke arah Ariane, Ariane mengalihkan pandangannya ke bangunan yang disebutkan sebelumnya.

Sepertinya kami telah tiba di bangunan yang menjadi target kami.

Aku melihat tanda dari dua orang yang menjaga bagian belakang bangunan. Bangunan dengan tiga lantai yang terbuat dari batu itu, dilihat dari lokasinya yang berada dekat dengan gerbang timur, masih terlihat sangat besar.

Bangunan di sekitarnya sangat rapat, dan hampir tidak ada celah diantaranya. Di depan bangunan, ada gerbang dengan jeruji besi, dengan dua pria yang tampak seperti penjaga bersiaga di depannya. Selanjutnya, di sisi lain gerbang, di dalam struktur yang mirip dengan halaman depan, ada sekitar empat bajingan yang bisa terlihat duduk berhimpitan didekat lampu, berceloteh tentang sesuatu, dan kadang-kadang tertawa dengan kencang.

Karena kedua penjaga itu benar-benar terlihat dari luar jeruji, bahkan jika mereka dikalahkan, yang lain akan segera menyadarinya, membuat serangan kejutan akan menjadi sulit. Jeruji besi yang kokoh juga dapat bertindak sebagai perisai yang akan memperlambat serangan frontal.

Menyerang bangunan itu dari depan akan membuat daerah disekitar menjadi kebingunan dengan cepat mereka akan menyadari ada hal aneh yang terjadi. Aku pikir menyerang sendirian mungkin akan sangat sulit.

Tatapan Danka pada Ariane menanyakan tentang apa yang harus kita lakukan. Ketika Ariane memalingkan matanya, melihat ke arahku, tepi bibir menawannya yang mengintip keluar dari bawah tudung terangkat sedikit.

Melihat ini, Danka menatapku dengan ekspresi putus asa di wajahnya.


"Armor itu tidak cocok untuk penyusupan... musuh akan menyadari suaranya."


Amor yang aku miliki berbeda dari amor berkualitas rendah: armor ini tidak akan membuat suara bising, tetapi tidak sepenuhnya tidak mengeluarkan suara.

Peralatan semacam itu tentu saja tidak cocok untuk misi penyusupan, tetapi bagiku dengan tubuh kerangka, melepaskannya menjadi hal yang mustahil.

Sementara aku memikirkan hal semacam itu, memikirkan apa yang harus dikatakan, Ariane berbicara lebih dulu.


"Karena kita harus membantai semua orang itu ketika sudah menyelamatkan teman kita, seharusnya tidak menjadi masalah tentang kita ketauan lebih awal atau tidak ..."


Sebenarnya, walaupun mereka ingin menyelamatkan saudara-saudara mereka dari gerombolan penculik itu, meninggalkan perkumpulan itu saja kemungkinan besarnya dapat membuat seseorang terluka. Kalau begitu, membunuh pimpinan gerombolan tersebut sepertinya akan lebih baik.

Dengan mengatakan itu, Ariane dengan tenang berbicara, menunjuk ke jendela kecil di atap bangunan.


"Arc, bisakah kau memindahkan kita ke jendela kecil di sana?"


Dari gang, jendela kecil dengan atap segitiga di atas bangunan tiga lantai bisa dilihat. Karena jendela tidak mengeluarkan cahaya, kemungkinan itu adalah jendela loteng.


"Ya, berteleportasi kesana sepertinya lebih mudah."

“Bagus, ayo berpindah ke gang yang lebih gelap dan berteleportasi dari sana. Karena setelah pemanggilan sihir teleportasimu, formasi sihir yang bersinar akan membuat orang-orang itu curiga. ”

“Tidak, kita akan lebih baik berpindah menggunakan 【 Dimensional Step 】 daripada 【 Transfer Gate 】 . Metode ini cocok untuk perpindahan jarak dekat. ”


Perkataanku membuat alis Ariane yang halus terangkat sedikit, dengan mengeluarkan suara yang tercampur keterkejutannya.


“Ada sihir teleportasi yang secara khusus digunakan untuk jarak dekat? Seriusan dah, sebenarnya kau ini siapa? ”

“Aku akan terbang ke atap. Lebih baik pegang pundakku. ”


【 Dimensional Step 】 adalah sihir jarak dekat yang memungkinkan segala sesuatu yang bersentuhan langsung dapat berpindah bersama denganku, tetapi mantra ini tidak akan membawa apapun yang tidak bersentuhan denganku, tidak peduli sedekat apa pun itu. Ponta untungnya selalu menempel di kepalaku, jadi tidak ada masalah di sana.

Setelah mengkonfirmasi bahwa Ariane dan Danka telah meletakkan tangan mereka di pundakku, aku mengalihkan pandanganku ke arah atap di dekat jendela kecil.


"【 Dimensional Step 】"


Pemandangan disekitar berubah sepenuhnya dalam sekejap; pemandangan sebelumnya berubah menjadi sebuah tempat yang disinari rembulan, menyinari setiap atap. Jalanan batu sebelumnya di bawah kaki kami menghilang, diganti dengan genteng. Aku dengan alami membungkuk sedikit untuk menjaga keseimbanganku karena bentuk atap ini.

Berdiri datas atap dengan full armor sangat buruk bagi jantungku. Bisa saja atapnya jebol karena menahan beratku, membuat lubang, menjadikan jantungku berdebar-debar.


"Luar biasa ..."


Postur Danka menunduk dengan lututnya, bergumam sembari melihat keadaan sekelilingnya.

Karena ada beberapa bangunan setinggi tiga lantai di kota ini, jarak pandang kami di atas atap menjadi sangat luas, memungkinkan kami untuk melihat pemandangan seluruh kota. Di arah barat daya, dibangun ditengah bukit kecil, istana tuan feodal dan siluet hitam di sebelahnya mendapat nilai sempurna untuk pemandangan indah di bawah langit malam.


"Ayo pergi."


Sembari mengecilkan suaranya, Ariane mendekati jendela atap, mengintip sembari sedikit membuka jendela kayu kecil itu. Tidak ada sesuatu seperti kaca jendela, hanya jendela yang mirip penutup kayu. Karena kaca masih dianggap sebagai barang kelas atas, menggunakannya untuk jendela loteng seperti ini pasti sangat aneh.


“Oke, tidak ada seorang pun di dalam. Kita bisa masuk dari sini. ”


Setelah mengatakannya, Ariane kemudian membuka jendela sepenuhnya, tetapi saat dia mencoba masuk ke ruangan tubuhnya tersangkut karena dada dan pantatnya yang menggairahkan, membuatnya harus sedikit menggeliat untuk melewatinya.

Ketika aku melihatnya dari bawah, kupikir jendela itu agak lebar, tetapi melihatnya dari dekat, ternyata agak kecil. Padahal Ariane dan Danka mempunyai tubuh ramping, dan mereka hampir tidak muat melewatinya.

Bagiku dengan full amorku, memikirkan tentang memasuki melalui jendela kecil ini tidaklah memungkinkan. Hanya ada satu hal yang harus dilakukan ketika menjadi seperti ini ...

Setelah Ariane berhasil melewatinya, Danka berhasil masuk dari jendela tanpa masalah. Akhirnya, ketika itu menjadi giliranku, aku melihat melalui jendela kecil yang terbuka melihat pemandangan di dalam ruangan, dan sembari merapal 【 Dimensional Step 】, tanpa kesulitan aku memasuki ruangan.


(Hei! Jika ada metode seperti itu, kau seharusnya mengatkannya tadi!)


Sembari menyaksikan diriku Ariane membesikin protesannya. Dia tampak malu tentang masalah di mana payudara dan pantatnya nyangkut dijendela. Bahkan di ruangan gelap ini, tampak jelas bahwa pipinya memerah.

Ini bukan seperti kasus dia bertubuh gemuk, jadi kupikir dia seharusnya tak perlu sangat malu.


"Tempat ini sepertinya mirip dengan gudang ..."


Mengabaikan protesannya, Danka melakukan sesuatu dengan sendirinya, bergumam dengan suara pelan, menyuarakan pendapatnya sembari memeriksa keadaan sekitar kami.

Ruangan digunakan menjadi ruang penyimpanan, dengan berbagai macam barang ditumpuk dengan rapi. Dibandingkan luas ruangan ini, barang-barang disini sangat sedikit; tidak banyak orang yang memasukinya itu dapat dilihat dari udara berdebu disini.

Danka bergerak perlahan di lantai kayu agar tidak membuat suara, dan melangkah menuju tangga kecil yang mengarah ke lantai bawah, mengintip ke bawah dan membuat gerakan yang seperti berkata, "Diamlah!".

Setelah Danka memastikan bahwa Ariane mengangguk padanya, dia mulai perlahan menuruni tangga yang terhubung ke lantai bawah.

Setelah beberapa saat terdapat tanda dari Danka yang daritadi memeriksa keadaan dibawah, lalu dia kembali muncul di loteng dengan hanya menunjukkan wajahnya dan mengisyaratkan “Ayo!” dengan tangannya.

Melihat itu, Ariane dan aku mengikuti menuruni tangga pada saat yang sama setelah Danka menuju ke lantai bawah, dan turun.

Kami sampai disebuah ruangan yang didalamnya terdapat sususan empat tempat tidur.

Dengan pengecualian Danka di tengah ruangan, tidak ada tanda-tanda kehidupan — hanya ada aroma dari karat besi yang lembab. Ada empat pria berbaring di tempat tidur mereka, tetapi tenggorokan setiap pria telah tertusuk, dan mereka semua mati karena kehabisan darah.

Sementara Danka menutupi kepala para brengsek dengan selimut untuk menyamarkan mereka saat sedang tidur, Ariane mendekati pintu di tengah ruangan dan mengintip keadaan di luar.

Tampaknya aman; Ariane memberi isyarat bagi kami untuk mendekatinya. Setelah Danka selesai mengurusi para mayat lalu kami bergerak bersama menuju ke dekat pintu, Ariane memberi arahan tanpa bersuara.

Danka berada di kanan, Ariane dikiri, dan aku berada ditengah. Kami bertiga mengangguk satu sama lain, dan pintu dibuka.

Pintu terbuka menuju koridor di depan, dengan ruangan persegi panjang yang bisa terlihat dari interiornya. Di kedua sisi ruangan ada tiga pintu dengan jarak yang sama, dan lebih jauh kesana, di sebelah salah satu pintu, tangga yang mengarah ke bawah dapat terlihat.

Lampu dipasang disepanjang lorong, menerangi keseluruhan bagian dalam bangunan.

Kecerahan ditengah ruangan ini memungkinkan untuk melihat siapapun yang mendekat dari bawah, dan mengingat bahwa pihak lain juga dapat mengetahui dengan penglihatan mereka, hal ini menjadi sangat berbahaya untuk menyelidiki pintu di kedua sisi tanpa membungkuk.

Ariane dan Danka tanpa suara mendekati pintu di masing-masing sisi dalam posisi membungkuk, berusaha mencoba untuk mengetahui keadaan di dalam. Tak lama, pintu perlahan dibuka dan pasangan itu menyelinap ke dalam ruangan masing-masing. Aku sekarang adalah satu-satunya yang tersisa di koridor ini.

Mengingat bahwa tidak mungkin untuk tidak membuat suara langkah kaki di lantai kayu saat memakai armor, aku menggunakan  【 Dimensional Step 】 untuk berpindah ke salah satu pintu yang terlihat. Sembari memikirkan sesuatu yang tidak berguna seperti apakah kakiku akan menjadi lemah jika aku mengandalkan mantra ini terlalu banyak untuk berbagai hal, aku mendekati pintu.

Pintu kayu ini berbeda dari pintu-pintu di sekitarnya hal ini mengacu tentang kesederhanaannya, pintu ini memiliki dekorasi yang bermartabat dan dilengkapi dengan pegangan yang terbuat dari logam.

Aku dapat merasakan kehadiran seseorang dari balik pintu, tetapi ketika aku menyelidiki dan mengawasinya, suasana waspada langsung lenyap. Tampaknya seseorang dibalik pintu telah merasakan kehadiranku.

Namun, seseorang yang menyadariku dibalik pintu tidak melakukan sesuatu seperti mengeluarkan suara. Aku tidak bisa berdiri di sini seperti ini sepanjang waktu tanpa bergerak, jadi aku memutuskan untuk membuka pintu, meletakkan tanganku di kenop pintu, tetapi, entah bagaimana, tampaknya terkunci. Aku mengintip kedalam melalui lubang kunci pada gagang pintu dan melihat ke dalam ruangan. Karena lubang kunci itu seperti kunci gudang sekolah dasar, aku bisa melihat ke dalam.

Sembari melihat tampilan ruangan dibalik lubang kunci, aku memutuskan tempat target dan mengaktifkan 【 Dimensional Step 】.

Aku berpindah kedalam ruangan terang dengan postur yang sama seperti ketika aku mengintip ke lubang kunci dari koridor. Bagian dalam ruangan lebih terang dari koridor di luar, dan ruangan ini untuk beberapa alasan penuh sesak dengan perabotan mencolok yang berjajar di kedua sisi.

Di tengah ruangan ada meja kopi dengan sofa berlapis kulit, dengan meja kerja cokelat di dalam ruangan. Seorang pria gendut berpakaian bagus telah terkapar dengan wajahnya berada di atas meja, tak bergerak sedikitpun.

Selanjutnya, diterangi oleh cahaya lampu, ada tiga pria bersenjata berlumuran darah tergeletak disekitarnya. Aku bisa mengatakan bahwa mereka semua sudah mati ...

Setelah itu, dari bayangan meja, seseorang yang berpakaian serba hitam menunjukan kepalanya, mengawasiku sebelum melangkah maju dan mendekat.


“Pintu seharusnya telah terkunci rapat; lalu, bagaimana Onii-san Berarmor masuk barusan? ”


Seseorang berpakaian hitam berbicara dengan suara pelan yang teredam, tetapi, daripada menjawab pertanyaan itu, aku secara tidak sengaja mengucapkan apa yang pertama kali kupikirkan.


"Ninja ..."


Mendengar perkataanku yang tidak sengaja terucap, alis seseorang yang berpakaian serba hitam dari atas ke bawah sedikit terangkat.

Dan secara bersamaan, ditutupi oleh tudung, telinga yang menempel di area di bagian atas kepalanya, dengan goyangan, bergerak merespon ...

Seseorang di depan mataku ini sepertinya seorang gadis muda yang mungil. Seluruh tubuhnya ditutupi dengan pakaian yang terbuat dari kain hitam terlihat sangat moe, pakaian yang benar-benar layak dimiliki seorang ninja. Di kakinya terdapat sebuah pelindung tipe pelindung kaki yang terbuat dari logam, dengan sarung tangan pelindung untuk lengannya, dan kepalanya mengenakan ikat kepala berwarna hitam dengan piringan logam dan terdapat sebuah mahkota emas terpahat di atasnya, dengan belati lurus yang terlihat di pinggang bawahnya.

Satu-satunya area dengan kulit yang terlihat adalah di sekitar mata birunya yang indah yang tidak menampakan sebuah emosi, sembari melihat bagian atasnya, terdapat telinga hewan berwarna hitam berbentuk segitiga. Aku juga baru menyadari bahwa ekor hitam melekat di pinggangnya dengan bentuk seperti sabuk, dengan ujung ekornya kadang-kadang bergoyang.

Telinga dan ekornya tidak terlihat seperti benda buatan; tidak peduli bagaimana kau melihatnya, keduanya terlihat sangat nyata. Setelah para elf, sepertinya aku menemukan ras baru di dunia ini.

Ninja perempuan muda itu juga memperhatikanku dengan jubah hitam panjang yang melilit tubuh berlapis armor dengan rubah hijau di atas kepalaku; Aku bisa melihat tatapannya dengan hati-hati menyelidiki seluruh tubuhku.


“Kau sepertinya bukan manusia dari tempat ini. Apakah kau juga datang kemari untuk suatu tujuan? "


Ninja perempuan muda itu menyelesaikan pengamatannya dan melemparkan pertanyaan lain padaku, membuatku sulit sekali untuk menjawab. Meskipun dia tampaknya tidak menjadi musuh, tapi ceroboh jika aku memberitahukan tujuan di balik datangnya aku kemari pada orang asing dengan mudahnya.

Sembari berpikir tentang bagaimana membalasnya, ninja perempuan muda sudah menebak tujuanku datang ke sini.


“Kau kemari untuk menyelamatkan para elf atau semacamnya ...? Jika itu yang terjadi, mereka sepertinya dikurung di penjara bawah tanah. ”


Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku pada kata-kata gadis itu. Dengan aku mengenakan full armor ini, tidak mungkin dia bisa mengetahui bahwa seseorang didalamnya manusia atau elf. Mengingat bahwa baik Ariane dan Danka sedang memeriksa ruangan lain, tidak ada elf didekatku, namun dia mampu menebak dengan benar tujuanku tanpa keraguan.

Aku memandang sejenak ke arah para penjaga tadi yang tergeletak di sekitar kakinya.

Ini kemungkinan besar perbuatannya. Meskipun tubuhnya mungil, dia tampaknya sangat terampil. Apakah dia mendapatkan informasi tentang keadaan mereka yang diculik di sini?

Setelah dia yakin akan tujuanku, tatapannya sedikit mengendur.


"Apakah tujuanmu menyelinap kemari untuk membebaskan para elf juga?"


Menenangkan diriku, aku bertanya padanya, meskipun tujuannya tampak berbeda. Dia diam-diam menggelengkan kepalanya, menolak tebakanku.


“Tujuan yang aku cari tidak ada di sini. Aku hanya mempertimbangkan apa yang harus ku lakukan terhadap para elf yang ditangkap di sini ... tapi, mungkin, sepertinya aku bisa menyerahkan mereka pada kalian. ”


Dia menarik kantung kulit besar yang tampak berat yang diletakkan di atas meja, lalu memanggulnya, mengikatnya dengan tali. Berhenti di dinding dengan jendela yang terbuka di seberang ruangan dengan kakinya di atasnya, ninja wanita muda itu berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal.


“Aku akan menyerahkan sisanya padamu; karena itu dirimu, kemungkinan kita akan bertemu lagi. Kalau begitu, sampai jumpa ... Oh ya, ada juga dua elf yang ditangkap di dalam kastil tuan feodal ... ”


Saat dia mengatakannya, meskipun membawa kantung besar dipunggungnya yang bergemerincing dengan suara yang terdengar berat, dengan gerakan yang tidak dapat diikuti, dia pergi dari jendela untuk menggenggam ujung atap, dan tiba-tiba, dengan satu putaran, tubuh di atas atap menghilang dari pandangan.

Tak lama, hawa kehadiran gadis itu memudar, menghilang dalam sekejap mata di bawah tabir kegelapan menyelimuti seluruh kota, tanpa meninggalkan jejak apapun.



[ Volume 1 Chapter 18 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌

» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 18

2 comments:

Post a Comment