Wednesday, 29 August 2018

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 51 Bahasa Indonesia

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 51 Bahasa Indonesia



Translator : Sai Kuze

Chapter 51 - Pesta yang Meriah


Sudah dua hari sejak kebodohan "revolusi" berakhir.

Kehancuran dari pertempuran masih tersebar di halaman sekolah, tetapi para siswa sendiri sudah mulai pulih.

Kelas-kelas dibatalkan untuk sementara waktu, memberi waktu istirahat dan memulihkan diri. Pada dasarnya, siswa masih diminta untuk tetap menghadiri kelas kecuali mereka yang memiliki urusan resmi di tempat lain.

Juga selama waktu ini, orang-orang kastil bertemu dengan para siswa untuk menyelidiki situasi yang terjadi.

Mereka juga melakukan penyelidikan skala penuh kepada para siswa untuk memastikan bahwa tidak ada orang dari fraksi Gregory yang tersisa. Agar semuanya tetap tersembunyi, meskipun, mereka bertemu dengan siswa satu per satu. Dan akhirnya, seluruh proses memakan waktu cukup lama.

Kami semua bersantai di Pondok Berlian, menunggu giliran kami. Gilaran kami rupanya yang terakhir, dan karena pondok jarang terlihat pengunjung kecuali untuk alasan terntentu, satu-satunya yang berada di sini adalah para murid dan aku sendiri. Aku memanfaatkan waktu luang ini untuk memberi hadiah kepada para murid atas pencapaian mereka dalam konflik baru-baru ini.


“Aniki! Sekali lagi, lagi!" (Reus)

“Sirius-sama! Aku akan yang akan menangkap selanjutnya, tolong perhatikan aku dengan seksama. ” (Emilia)

"Baiklah, baiklah. Siap? Ambillah itu!" (Sirius)


Sederhananya ... kami bermain-main sepanjang hari.

Aku melemparkan frisbee dan kedua bersaudara berlari dan menangkapnya. Aku akan mengatakan kami memiliki kegiatan yang khas untuk anak-anak seusia kami, tetapi dengan jumlah debu yang mereka sebabkan, ini terlihat seperti mereka berada dalam kompetisi seni bela diri.

Meski baru dua hari sejak kejadian yang menegangkan itu, kami sudah kembali normal.

Murid-murid yang terluka dalam beberapa hal tentu memiliki waktu yang mengerikan, tetapi kami sebagian besar tidak terluka. Sebaliknya, aku pikir ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi kita semua. Sedangkan untuk Reus, ketika dia sedang dalam suasana hati yang gelap segera setelah kejadian itu, dia sudah lama melewatinya. Sebaliknya, dia sekarang mengejar frisbee dengan wajah bahagianya.

Kebetulan, alasan kami bermain frisbee saat ini adalah karena Reus meminta sebagai hadiahnya.


"Kelihatannya sangat menyenangkan, duduk di sini menonton hampir membuatku cemburu." (Reese)

"Keduanya sangat menyukai Frisbee, selama aku yang melemparkannya." (Sirius)


Kami sudah sering bermain frisbee, tetapi mereka selalu yang akan menangkapnya setelah dilemparkan. Apakah kalian tidak bosan dengan ini?


"Reese, apakah kau ingin bergabung dengan mereka?" (Sirius)

"Terlalu sulit bagiku untuk bersaing dengan mereka berdua, jadi aku baik-baik saja dengan hanya duduk di samping sini." (Reese)

"Aku mengerti!" (Emilia)

“Tunggu, Nee-chan! Itu tidak adil!" (Reus)


Menginjak punggung adik laki-lakimu untuk mencapai frisbee itu tidak baik, Emilia.

Emilia berlari kembali kepadaku setelah berhasil menangkap frisbee. Menatapku dengan sinar di matanya, aku bisa mengatakan bahwa dia menginginkan pujian, jadi aku menepuk bagian atas kepalanya.


"Bagus, tangkapan bagus." (Sirius)

"Uhuhu ... aku berhasil!" (Emilia)

“Aku akan mendapatkannya lain kali! Aniki, cepat lempar!” (Reus)

"Jadi itu yang mereka rencanakan ..." (Reese)

“Tunggu, apa kau mengerti alasannya? Mengapa? Reese?" (Sirius)

“Itu sudah bisa diduga, bukan? Namun, Sirius-san tidak perlu memahami alasannya. Aku akan ikut serta, jadi tolong jangan melempar terlalu kencang.” (Reese)

“Oi, apa yang kau maksud, Reese?” (Sirius)


Sementara aku sibuk memikirkan mengapa Reese tiba-tiba termotivasi untuk berpartisipasi, dia sudah menggulung lengan bajunya dan berbaris di samping kedua bersaudara.


“Sepertinya kamu telah menyadari mengapa melakukan ini, Reese. Namun, tolong jangan merasa senang dan berasumsi bahwa kami hanya akan membiarkanmu menang." (Emilia)

"Aku pasti akan mendapatkan yang berikutnya." (Reus)

"Aku tidak akan menyerah semudah itu! ... Aku ingin menang setidaknya sekali." (Reese)


Aku tidak benar-benar memahaminya, tetapi permainannya menjadi jauh lebih kompetitif setelah Reese bergabung.

Pada saat kami berhenti bermain, Emilia telah menangkap sekitar 60% dari semua lemparanku, dengan Reus mengikutinya sekitar 40%. Reese juga menangkap beberapa kali, karena kedua bersaudara itu melunak padanya. Meskipun, perlu dikatakan bahwa ini semua hanya perkiraan, karena aku sudah lama lupa tepatnya berapa kali aku melemparkan frisbee.



-



Kami terus bermain seperti itu sepanjang pagi, sampai lewat tengah hari. Sekarang sudah waktunya untuk hadiah Reese, dalam bentuk aku membuat banyak manisan untuknya. Karena hari ini adalah hari pertama libur dari pelatihan yang kami miliki sejak lama, aku berencana untuk memasak habis-habisan.


“Kue, puding atau crepes. Aku bisa membuat banyak hal, adakah sesuatu yang spesifik yang kau inginkan? ” (Sirius)

"Um ... aku ingin makan semua jenis kue yang bisa dibuat Sirius-san." (Reese)

"Pilihan bagus, Reese-ane!" (Reus)


... Nanti kau bisa sakit perut jika memakan terlalu banyak kue? Tidak, jika itu Reese, dia mungkin menghabiskannya dengan cepat tanpa masalah.


“Akan terlalu memakan waktu bagiku untuk membuat segala varian, jadi tolong maafkanku jika aku membatasi ke tiga variannya. Bagaimana dengan shortcake, cheesecake dan fruitcake? ” (Sirius)

"Aku tidak keberatan! Huhu ... aku tidak sabar ..." (Reese)

“Aniki, aniki! Aku ingin makan takoyaki yang dulu pernah kau sebutkan!" (Reus)

“Aah, begitukah? Kita tidak memiliki pemanggangnya, jadi apakah kau tidak keberatan kubuatkan okonomiyaki saja? ” (Sirius)

“Aku tidak mengerti apa itu, tapi apa pun yang Aniki buat pasti lezat, jadi aku setuju saja dengan itu.” (Reus)


Aku memesan pemanggang besi bundar dari Perusahaan Galgan, tetapi aku belum menerimanya. Sementara mereka ingin tahu mengapa aku menginginkan bentuk tertentu, ketika aku menyebutkan bahwa itu untuk hidangan baru, mereka segera mematuhinya.

Karena aku akan membuat kue sekarang, aku akan membuat okonomiyaki untuk makan malam.


"Kalau begitu, haruskah kita membuat adonannya?" (Sirius)

"Aku akan membantu." (Reese)

"Kamu bisa menyerahkan mencampur adonan padaku!" (Reus)

"Sirius-sama, persiapan untuk memasak selesai." (Emilia)


Ketika aku mencoba untuk mulai mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan, aku menoleh untuk melihat Emilia yang menyajikan kepadaku peralatan yang sudah siap untuk dipakai. Mendengarkan percakapan kami sebelumnya memberi tau dia semua yang perlu diketahui tentang bahan-bahan dan metode yang akan kami gunakan untuk memasak kue. Kemampuannya sebagai pelayan sangat sempurna.


“Seperti yang aku harapkan darimu, Emilia.” (Sirius)

"Terima kasih banyak. Namun, sementara aku bisa melakukan itu, aku tidak tau bahan memasak untuk okonomiyaki. Apa yang dibutuhkan untuk itu?" (Emilia)

“Aah, jangan khawatir tentang itu sekarang. Kita akan membuatnya ketika semakin dekat dengan waktu makan malam. Sekarang, saatnya pesta kue!" (Sirius)

"Pesta kue ... kedengarannya bagus!" (Reese)



-



Aku mulai membuat kue bersama dengan murid-muridku yang berbahagia.

Aku menyerahkan tugas mencampur adonan pada Emilia dan yang lainnya, sementara diriku fokus pada tugas yang lebih sulit seperti menyiapkan dan mendistribusikan krim kocok. Karena ketiga jenis kue bervariasi dalam ukuran dan kebutuhan gulanya, aku pikir aku harus mengubah jumlah yang aku gunakan untuk mereka semua? Plus masing-masing variannya harus ku buat banyak ...

Aku menaruh adonan yang sudah selesai di oven untuk memanggang dan beridiri, dan menyimpan krim kocok dan bahan yang mudah rusak lainnya ke lemari es sehingga bahan-bahan tetap dingin. Yang tersisa sekarang adalah menunggu adonan selesai dipanggang sehingga kita bisa menyelesaikan membuat kue.


“Ini adalah keputusan yang tepat untuk membuat oven yang lebih besar. Jika aku tidak melakukannya, ini akan membuat diriku begadang hanya untuk membuat kue ini." (Sirius)

“Sirius-sama, masih banyak lagi buah Apu yang tersisa. Apa yang akan kita lakukan dengan itu." (Emilia)

“Yah, ayo makan saja.” (Sirius)

“Aku mengerti. Reus, tolong ambilkan piring. ” (Emilia)

"Ouu!" (Reus)

"Ini adalah hidangan pembuka untuk kue ya." (Reese)


Emilia menempatkan sisa buah di atas meja. Dalam situasi seperti ini, murid-muridku menolak makan di depanku. Namun, ketika aku hendak meraih sepotong, Emilia meraih satu dan menyodorkannya ke mulutku.


"Sirius-sama, tolong buka mulutmu." (Emilia)

"Tidak apa-apa, aku bisa makan sendiri." (Sirius)

"Lalu, apakah kamu tidak akan membiarkan diriku mengambil hadiahku?" (Emilia)


Emilia berkata demikian sembari merajuk, pipinya dikembungkan. Itu benar, pagi ini Emilia mengatakan dia hanya ingin melayaniku.

Biasanya, seseorang akan berpikir bahwa dia akan meminta sebaliknya, tetapi tampaknya dia tidak puas dengan hal semacam itu.

Lebih jauh lagi, ketika aku berpikir dia sudah melayaniku dengan membuatkan teh atau menyiapkan peralatan masak, ternyata itu tidaklah cukup. Aku pikir ini adalah hal lain yang dia inginkan?


"Tolong, bilang 'aah'." (Emilia)

“Karena kita sibuk selama festival panen, aku tidak menyadarinya, tapi kau benar-benar suka melakukan ini, huh?” (Sirius)

"Tentu saja. Ah, tolong biarkan aku membasuh punggungmu malam ini. ” (Emilia)

“... Jika kau menginginkannya, tapi jangan muncul tanpa pakaian.” (Sirius)

"... Baiklah." (Emilia)


Mengapa kau terlihat sangat kecewa !? Aku ingin kau terlihat setidaknya sedikit lebih sopan! Sementara aku berpikir dengan cara yang seperti kebapaan, Reese juga memegang Apu.


"T-tolong dimakan Sirius-san!" (Reese)

"Kau juga, Reese?" (Sirius)

"Ah, jika kamu tidak suka ..." (Reese)

“Tunggu, aku tidak mengatakan itu. Kalau begitu, sini kumakan." (Sirius)

"Y-ya!" (Reese)


Reese tersenyum sedikit dan mengangguk, memberiku makan dengan wajah yang sepenuhnya merah.


“... Ya, entah bagaimana aku mengerti perasaan Emilia. Meskipun itu memalukan, aku agak senang. ” (Reese)

“Karena itu adalah Reese, aku tahu kamu akan mengerti! Lain kali ... tidak, ayo basuh Sirius-sama bersama malam ini!" (Emilia)

“Eh !? … Ya, aku kira aku akan melakukannya? ” (Reese)

"Tunggu sebentar!" (Sirius)


Di tempat pertama, kamar mandinya tidak cocok untuk banyak orang sekaligus. Tidak, tunggu. Itu bukan masalahnya!

Aku tidak terbiasa, sejujurnya, berpikir disentuh oleh mereka yang telah tumbuh menjadi wanita muda yang menarik. Lebih buruk lagi, mereka berdua menyetujuinya, atau setidaknya akan menerimanya jika, aku 'menyerang' mereka dalam situasi seperti itu. Emilia, khususnya, akan melepaskan pakaiannya tanpa menahan diri. Reese akan sedikit ragu, tetapi mungkin pada akhirnya setuju untuk melakukannya.

Aku dapat mengendalikan hasrat seksualku sampai taraf tertentu, dan itu tidak seperti aku punya rencana untuk 'menyerang' mereka. Namun, tubuh ini masih muda dan di tengah pubertas. Aku lebih suka bermain aman.


“Aku akan mengatakannya pada kalian berdua, berhentilah memikirkan hal-hal seperti itu. Lebih sopanlah sedikit." (Sirius)

“Mau bagaimana lagi. Kita akan berpisah, hari ini akan menjadi giliranku, dan besok akan menjadi Reese. ” (Emilia)

"A-Aku akan melakukan yang terbaik!" (Reese)


Semakin aku menolak, sepertinya, mereka akan semakin keras merajuk. Aku akan mengizinkan mereka membasuh punggungku untuk saat ini, tetapi tidak lebih dari itu, jika itu berarti mereka akan melakukannya sedikit lebih lama.

Meskipun mungkin bodoh bagiku untuk mengatakan ini sekarang, aku tidak menyadari bahwa mereka berdua menyukaiku sampai segitunya. Aku berencana untuk membesarkan mereka dengan cara yang sama seperti yang kulakukan pada murid-murid ku di kehidupanku sebelumnya, karena aku adalah seorang lelaki tua di sana. Ini berbeda untuk mereka, karena di dunia ini kita memiliki usia yang sama.

Bukannya aku menentang gagasan menikah muda, dan tidak ada hukum di dunia ini yang menentangnya.

Namun, aku butuh lebih banyak waktu.

Aku belum mau menikah saat ini. Aku mungkin memiliki penghasilan, tetapi tidak stabil. Jika keduanya berniat menikahiku, aku akan menghormati keinginan mereka. Namun, ketika lulus dari akademi, aku berencana untuk berkeliling dunia sebagai seorang guru. Reese masih tidak mengerti implikasi penuh dari pernikahan yang aku pikir, dan aku merasa Emilia layak mendapat tanggapan yang tepat dariku. Bukan sebagai master, tetapi sebagai manusia.

Aku merasa seperti waktu terbaik untuk melakukannya setelah lulus, bertualang dengan damai kemana saja ... tetapi aku merasa tidak enak karena menjalin hubungan yang tidak jelas dengannya. Aku kira aku setidaknya harus menjadikannya tunangan ku?

Saat berdebat, Apu yang lain memasuki pandanganku, didorong ke mulutku. Kali ini, itu Reus.


"Aniki, tolong buka mulutmu." (Reus)

"Apa, kau juga?" (Sirius)

“Yah, aku juga menyukai Aniki, jadi aku ingin kau memakan yang ini juga.” (Reus)


Tentu saja, Reus dan aku tidak memiliki hubungan semacam itu. Dia mungkin berpikir ini adalah perilaku normal antara teman, tidak terkait dengan jenis kelamin atau ketertarikan.

Meskipun ini sesuai seperti yang diharapkan dari Reus, aku pikir sudah saatnya untuk memperkenalkannya ke topik-topik itu. Terus bertindak seperti ini tanpa sadar dan menjadikannya naif akan berbahaya baginya di masa depan.

... Aku pikir dia mungkin sedih jika aku menolaknya, jadi aku masih memakan Apunya.



-



Kemudian, ketika adonan kue selesai dipanggang dan aku menghias bagian atas berlapis dengan krim kocok dan buah, bunyi bel terdengar dari pintu depan.


"Aku datang." (Emilia)


Sebelum aku dapat mengatakan apa-apa, Emilia mengambil inisiatif dan berlari ke arah pintu. Suara bel dari sebelumnya adalah pengganti bel pintu, dan hanya peralatan string sederhana yang dipasang supaya berdering ketika pintu dibuka. aku bisa mendeteksi kehadiran seseorang tanpa itu, tetapi masih terasa perlu untuk sebuah rumah.

Aku menaruh sentuhan akhir pada kue kecil itu saat Emilia kembali ke dapur, ditemani oleh tamu.


“Halo, Sirius-kun. Maafkan kedatangan tiba-tibaku." (Lifell)

“Ane-sama !? Kenapa kamu ada disini?” (Reese)

“Kamu mengatakan itu seolah-olah aku tidak boleh datang ke sini. Apakah aku tidak boleh kesini?" (Lifell)

"Bukan itu yang aku maksud, aku hanya memintamu untuk memberitahuku sebelumnya, jadi aku bisa menyiapkan berbagai hal sebelum kamu tiba ..." (Reese)


Putri Lifel menyamar dan berjalan menuju pondok, kelihatannya diikuti oleh Senia dan Melt. Reese, sementara terkejut oleh penampilan mereka yang tiba-tiba, merasa senang.


“Aku tidak butuh sambutan khusus, melihat wajahmu cukup untukku. Pada catatan lain, kita sepertinya tiba pada saat yang tepat; ada cukup adegan menyenangkan di depan kami." (Lifell)


Kedua mata bersaudari itu benar-benar terfokus pada bermacam-macam kue yang dijajarkan di atas meja. Itu memang pernyataan yang akurat untuk mengatakan bahwa mereka datang pada saat yang tepat.

Meja itu agak ramai dengan tambahan tiga orang lagi, tetapi semua orang entah bagaimana bisa menjejalkan diri dan menyesuaikan diri. Awalnya, Senia menolak untuk duduk, karena dia merasa tidak pantas untuk duduk seakan dia sejajar dengan tuannya.


“Ini mungkin kunjungan tidak resmi, tapi kami tidak keberatan berdiri, kami adalah pelayan.” (Senia)

“Itu tidak bagus, di sini di Pondok Berlian, semua orang diterima di meja. Tidak masalah jika kau adalah tuan atau pelayan, orang biasa atau bangsawan. Selain itu, kami harus membalas kebaikanmu setelah insiden dengan Reese.” (Emilia)

"Benar! Itu tidak sopan terhadap Aniki jika memakan kue sembari berdiri, jadi ayo, duduk! Tolong, Melt-san, duduklah.” (Reus)

“H-hmm. Maaf soal itu… ” (Melt)


Keduanya dengan ragu-ragu duduk, setelah menyetujui perkataan kedua bersaudara. Itu mungkin mengganggu mereka, tapi itu adalah aturan bahwa tidak ada tempat untuk tradisi bodoh seperti itu di Pondok Berlian.

Selanjutnya, Putri Lifell sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Dia terus mengobrol dengan Reese, jadi tidak ada masalah.


"Ini adalah kunjungan pertama kami di sini, tapi rumah ini memiliki atmosfer yang indah di dalamnya, bukan?" (Lifell)

“Asrama sekolah juga bagus, tapi Pondok Berlian jauh lebih bagus. Di antara hal-hal lain, Sirius-san telah membuat penyesuaian yang berbeda dengan desain rumah umum untuk membuat hidup di sini lebih mudah.​​” (Reese)

"Meskipun lebih kecil dari kastil dan sanatorium, aku sangat menikmati tempat ini." (Senia)

“Sangat menyenangkan untuk mengalami hal-hal yang tidak biasa, meskipun rasanya aneh untuk melepas sepatuku dan memakai 'sandal' ini.” (Lifell)

"Aku juga tidak tenang pada awalnya, tetapi setelah kamu terbiasa, itu sebenarnya sangat nyaman." (Reese)

"Mungkin kita juga harus melakukan ini di kastil, Senia?" (Lifell)

"Lifell-sama, kastil ... bagaimanapun ..." (Senia)

“Tentu saja, itu hanya bercanda. Oh, mungkinkah ini? ”(Lifell)

“Itu oven. Semua kue yang dipanggang Sirius-san berasal dari sini! ” (Reese)



-



Sementara Reese membiarkan Putri Lifell sibuk, semua kue telah jadi. Aku memotong semuanya menjadi pas untuk satu gigitan, dan mengatur piring-piring di atas meja agar semua orang bisa meraihnya. Sementara itu, Emilia dan Senia sedang menyiapkan teh, dan aku mengatur meja. Jadi, persiapan sudah selesai.


“Ya… rasanya luar biasa melihat banyak kue ini berbaris di depanku. Aku harus mendapat pujian karena waktu keadatanganku." (Lifell)

"Aku minta maaf, tapi karena ini adalah hadiah untuk Reese, apakah anda baik-baik saja dengan memprioritaskan dirinya?" (Sirius)

“Tentu saja, aku tidak keberatan. Aku sudah senang sudah diberikan kue saja." (Lifell)

"Terima kasih banyak. Lalu, kalian bertiga, ambillah. ”(Sirius)

"Ya! Baiklah, itadakimasu. ”(Reese)


Reese memimpin, mengambil irisan dari setiap kue, dan memakannya hampir secepat dia mengambilnya.

Emilia makan satu piring dan mengambil yang lain, sementara Reus memesan dua shortcake untuk dirinya sendiri. Reese juga mengambil dua shortcake; kepribadian mereka pasti tercermin dalam pilihan makanan mereka.

Karena aku sudah cukup hanya makan satu irisan, aku malah mengarahkan kue-kue lainnya ke arah Putri Lifell.


“Masih ada banyak, jadi tidak perlu sungkan. Ini, Melt-san dan Senia-san.” (Sirius)

“Ya, kamu hebat, Sirius-kun! Ini sangat mewah, membuat tiga jenis kue sekaligus." (Lifell)

"Aku akan menerima kedermawananmu, dan aku akan mengambilnya." (Senia)

“Maaf atas masalah ini. Kalau begitu, aku akan menerima fruitcake itu." (Melt)


Tepat ketika aku hendak mengambil gigitan pertamaku, sepotong kue disodorkan ke wajahku, tentu saja oleh Emilia. Karena akan terlalu merepotkan untuk menolaknya dengan penonton yang kami miliki sekarang, aku mencoba memakannya dengan cepat dan beralih dari itu.


"Uhuhu ... bagaimana dengan yang lain?" (Emilia)

“Haruskah aku memakannya? Namun, pastikan kau memakan juga, aku tidak membuat kue ini untuk diriku sendiri." (Sirius)

“Aku sudah memakan dua jadi sudah cukup. Dengan begini, aku senang karena aku bisa melayani Sirius-sama.” (Emilia)


Emilia tampak senang membuatku memakan kue darinya. Dia sedikit terlalu bersemangat, aku mengambil cangkirku darinya saat dia mencoba untuk memberiku minuman, jadi dia tidak berakhir menumpahkan tehnya.

Putri Lifell menatap kami seolah kami pasangan, yang sedang jatuh cinta.


“Aku bisa mengerti Emilia, tapi aku terkejut kamu sudah terbiasa dengan hal itu, Sirius. Kamu tidak malu sama sekali. Jadi, bagaimana perasaanmu tentang itu, Reus?” (Lifell)

“Nee-chan mengambil kesempatan yang dia bisa, dan Aniki dilayani dengan baik, jadi aku baik-baik saja dengan itu.” (Reus)


Seorang ibu yang menyuapiku, bahkan ketika aku mampu makan sendiri. Dia melakukannya karena itu membawa kegembiraannya, tentu saja aku tidak bisa menolak. Emilia belajar dari itu, dan karena situasi di belakangnya, aku tidak malu tentang hal itu.


“Dia sepertinya tidak melakukannya dengan setengah hati. Tidak seperti adik perempuanku, itu ..." (Lifell)


Putri Lifell berpaling untuk melihat Reese, yang sibuk dengan kuenya, dengan tampilan yang sedikit tidak setuju di wajahnya.


“Manisnya kue dan rasa asam buahnya tidak bisa diabaikan, Ane-sama!” (Reese)

"…Perempuan ini. Aku mengerti bahwa kamu menikmati kue, tetapi kamu perlu mendapatkan pegangan! Jika kamu menikahi Sirius, dia mungkin akhirnya menjadi bawahanku, kan !? ”

“Eh? Eh? Ane-sama tidak suka fruitcake? ” (Reese)

"Itu salah! Itu sama sekali bukan apa yang aku katakan! Memang, tapi tidak! Berhentilah memikirkan kue!” (Lifell)


Owalah, Reese mungkin terlalu fokus pada makanannya, tetapi dengan cara tertentu, dia menarik. Seperti yang diharapkan, Lifell membiarkan tujuan sebenarnya terungkap begitu saja. Aku tidak marah, karena dia masih memprioritaskan kebahagiaan Reese, tetapi aku berharap dia menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal seperti itu di depan orang yang dimaksud.

Mereka terus bertengkar untuk sementara, sampai Reese mengerti apa yang dikatakan Lifell, dan mulai tersipu malu. Tersenyum dari kemenangannya, Lifell berbalik kepadaku dan mulai berbicara dengan tenang lagi.


"Maafkan aku. Aku agak bersemangat." (Lifell)

"Aku tidak keberatan. Ngomong-ngomong, mengapa Putri Lifell datang kesini? Apakah anda kesini untuk suatu hal?" (Sirius)

“Orang yang punya urusan di sini adalah Melt, bukan diriku. Aku datang untuk bersenang-senang." (Lifell)

"Aku mencoba untuk datang sendiri, tapi Hime-sama keras kepala dan tetap ingin ikut." (Melt)

“Ngomonglah sesukamu, tapi kau sangat menikmati perjalan kesini kan. Datang ke sini dan biarkan aku menepuk kepalamu." (Lifell)

“Tolong jangan lakukan itu sekarang, Hime! Pada dasarnya, alasanku untuk berkunjung ... ” (Melt)


Sembari mencoba menahan godaan Putri Lifell, Melt memberitahu kami alasannya datang ke sini.

Dari pemahamanku, tampaknya Melt akan menyelidiki kita secara pribadi selama wawancara.

Keputusan dibuat untuk mendedikasikan banyak staf dari kastil untuk tugas mewawancarai para siswa, sehingga kelas dapat dibuka kembali sesegera mungkin. Namun, karena tempat tinggal kami sangat jauh dari bangunan utama, butuh waktu terlalu lama untuk berkeliling. Melt menawarkan diri untuk mengambil alih tugas itu ketika mengetahui wawancara pada kami, dan datang ke sini secara pribadi untuk memberitahu kami.

Selain itu, Melt berpikir untuk memeriksa Reese dan membawa kembali beberapa kue untuk Putri Lifell, jadi dia memiliki motivasi lebih untuk ini daripada hanya tugasnya. Namun, ketika dia mendiskusikannya dengan Putri, dia bersikeras untuk ikut datang kesini juga.

Melt mengeluarkan dokumen-dokumen yang dibawanya, meletakkannya dengan ringan di atas meja.


“Jadi, seperti yang aku katakan, aku akan menjadi orang yang melakukan wawancara individu untuk kalian semua. Tentu saja, kita bisa melakukan itu setelah selesai memakan kue." (Melt)

“Biarkan aku melihatnya, Melt. Hmm ... ada banyak pertanyaan yang merepotkan. Ini dirancang untuk mengetahui sebanyak mungkin, kupikir, tapi ini akan membutuhkan waktu lama untuk melakukannya." (Lifell)

“Meskipun itu benar, berkat wawancara, kami mampu menangkap dan menangguhkan banyak siswa yang ikut serta, atau mengetahui yang mendukung mereka di belakang, revolusi. Aku minta maaf untuk menanyakan ini padamu, tapi adakah tempat di mana kita bisa mengadakan wawancara?” (Melt)

“Ada ruang kosong, sepertinya, tapi itu adalah gudang. Alternatifnya, Reus, apakah kau keberatan jika– ...” (Sirius)

"Ya, tidak ada yang mencurigakan tentang Sirius-kun dan yang lainnya ... Haruskah aku memberikan tanda tangan ku, Melt?" (Lifell)


Ketika aku sedang memutuskan di mana kami akan menjalani wawancara, Putri Lifell sudah mengisi laporan. Dia bersenandung lembut sembari terus menulis; dengan kecepatan seperti ini, dokumen akan selesai dalam waktu singkat.


"Seperti biasa, kamu melakukan apapun yang kamu suka ... Tolong jangan melakukannya terlalu jauh, itu akan merepotkan dalam beberapa hal jika kamu menandatangani dengan namamu di laporan ..." (Melt)

"Ane-sama, aku mengerti bahwa kamu tidak akan dihukum untuk itu, tetapi apakah tidak masalah jika kamu melakukan ini?" (Reese)

“Mungkin, tapi kalian tidak melakukan hal bodoh seperti itu, kan? Aku merasa seperti kami akan menjadi orang jahat jika kami memaksa kalian untuk melakukan ini, ketika kami tahu dengan jelas bahwa kalian tidak terlibat sejauh itu.” (Lifell)

“Itu benar, Lifell-sama! Sirius-sama tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Selain itu, jika Sirius-sama melakukan itu, anda pasti tidak akan tahu; itu akan tidak terdeteksi untuk waktu yang lama." (Emilia)

“Lihat, Malt? Bahkan Emilia setuju, dan dia paling dekat dengannya. " (Lifell)

"... Aku mendapatkan perasaan bahwa ada konflik kepentingan yang besar di sini, dan bukankah ada yang salah dengan pernyataan sebelumnya? ..." (Melt)



-



Dengan demikian, pekerjaan yang seharusnya memakan waktu berjam-jam terbungkus dalam beberapa menit, terima kasih kepada Putri.

Setelah itu, Reese terus didorong oleh saudara perempuannya untuk menyuapiku kue, dan kami berbincang dengan damai di malam hari.

Tepat ketika aku sedang berpikir mengemasi kue yang tersisa untuk Putri Lifell, bel berbunyi lagi di depan pintu masuk. Kami punya tamu lain.


“Siapa itu? Apakah itu ... Yang Mulia? " (Senia)

"Aku tidak berpikir itu Ayah, dia sangat sibuk hari ini." (Lifell)

“Hmm… aah, seseorang yang kami kenal. Emilia, tolong." (Sirius)

"Aku mengerti." (Emilia)


Setelah memastikan bahwa orang itu tidak berbahaya, aku meminta Emilia pergi ke pintu untuk menyambut mereka. Meskipun aku mengatakan itu bukan orang yang berbahaya, mereka mungkin datang pada saat yang buruk.


"Uhmm ... Masuklah." (Emilia)

“Maafkan aku, kalau begitu. Oh, apakah itu Putri Lifell? Aku tidak berharap untuk melihatmu lagi di tempat seperti ini." (Rodwell)

“Ara, Ojii-sama? Lama tidak berjumpa.” (Lifell)


Kepala sekolah, Rodwell, tiba.

Entah bagaimana ini pertama kalinya dia datang ke pondok, tapi tunggu, bukankah dia masih sibuk dengan pembersihan?


“... Kalian kenalan, ya?” (Sirius)

“Ayahku sudah berteman dengan elf ini sejak kecil, jadi tentu saja aku akrab dengannya. Bahkan sekarang, dia akan berkonsultasi dengan ayahku sekarang dan kemudian, minum sake di bawah sinar bulan." (Lifell)

"Aku sudah lama tidak melakukannya, tau." (Rodwell)


Dia menarik kursi dan berdesakan di meja yang sudah ketat. Entah bagaimana itu menjadi pemandangan di mana kepala eksekutif akademi, dan calon tunggal sebagai Ratu, keduanya bertemu di rumah orang biasa. Bukankah ini sedikit aneh?


“Ngomong ngomong Ojii-sama, kenapa kamu kemari? Bukankah kamu masih memiliki banyak pekerjaan?” (Lifell)

“Ya, tidak beruntungnya pekerjaan sepertinya tidak pernah berakhir. Aku datang ke sini untuk beristirahat dan memulihkan diri. " (Rodwell)


Meskipun dia mengatakan itu, entah bagaimana aku mendapatkan perasaan bahwa dia melarikan diri dan datang ke sini untuk bersembunyi.

Berurusan dengan para pelaku di balik revolusi, mereka yang mendukung, orang tua siswa yang terlibat; ada daftar panjang hal-hal yang perlu dilakukan.

Mengambil keuntungan dari siswa yang bias dan berprasangka untuk mengajarkan pelajaran kepada yang lain, aku memahami perlunya perubahan pada tingkat dasar, jadi aku mengerti mengapa itu dilakukan. Namun, masih ada orang yang bertanya mengapa sekolah itu menjadi sangat rentan di tempat pertama, dan administrasi perlu menjawabnya.

Secara pribadi, aku pikir dia akan dihapus dari posisinya setelah ini, tetapi mengingat catatan pengabdiannya, dia diabaikan dalam hal itu. Dia mungkin pecandu kue di depanku, tapi sepertinya dia luar biasa dalam tugasnya di luar itu.


“Semua formalitas; menyingkirkan pengkhianat dan pengikutnya dari gelar mereka, melembagakan perubahan kebijakan, melakukan kunjungan pribadi ke rumah setiap keluarga bangsawan ... beberapa hari terakhir ini telah sangat melelahkan." (Rodwell)


Dia mengeluh, tapi hanya dengan setengah hati. Mata dan perhatiannya terpaku pada kue yang ada di atas meja. Uh oh, dia tidak akan patah semangat dan menjadi gila karena tidak makan kue selama dua hari, kan?


"... Apakah kau ingin memakannya?" (Sirius)

"Apakah boleh?" (Rodwell)

"Kau telah bekerja dengan rajin disaat-saat sibuk ini, dan itu tidak sopan bagiku untuk menyuruhmu pulang setelah kau datang sejauh ini." (Sirius)


Dia mungkin berlari ke sini mencari tempat untuk bersembunyi, dan memikirkan manisan tanpa sadar.

Mendengar kata-kataku, kepala sekolah tersenyum. Dia mungkin berusia 400 tahun, tapi penampilannya bukan sesuatu yang bisa dicemooh. Oi, jangan membuat orang di sini jatuh cinta padamu dengan sembrono, kau dengar?
[Ini si Rodwell laki apa perempuan?]


“Iyaa… aku sangat senang. Kalau begitu, aku menerima tawaran baikmu." (Rodwell)

"Aku berencana memberikan sisanya kepada Putri sebagai suvenir, tapi ..." (Sirius)

“Ojii-sama! Sebagai seorang putri, aku melarangmu memakannya! ” (Lifell)

"Untuk menggunakan otoritas seorang putri sejauh itu ... kau serius, ya? Apakah kau juga musuhku?" (Rodwell)

“Di tempat pertama, Ojii-sama masih memiliki banyak pekerjaan yang tersisa. Karena kamu tidak menyelesaikan hal sederhana semacam itu dan malah mencoba melarikan diri ..." (Lifell)

“Ughh !? Iyaaa… haha, itu menyakitkan.” (Rodwell)

"Jadi, aku melarangmu mengambil apa yang aku ingin nikmati besok." (Lifell)

“Lifell! Setidaknya satu ... " (Rodwell)



-



Ada sedikit perselisihan, tapi untungnya Rodwell ditenangkan oleh sepotong kue, dan Putri Lifell kembali dengan selamat. Berkat dia dan Melt, wawancara yang merepotkan itu berhasil diselesaikan. Akhirnya terasa seperti gangguan sudah berakhir.

Aku juga sudah memberikan hadiah pada Reus dan Reese, jadi semua yang tersisa malam ini adalah hadiah Emilia.

Ketika Pondok Berlian kembali tenang, aku duduk di sofa, menghela napas lega.



-



“Kan sudah kubilang, jangan telanjang! Tolong, pakailah handuk!" (Sirius)

"Aku ingin Sirius-sama melihatku, yang sudah tumbuh!" (Emilia)

“Aku juga ingin kau melihatku, Aniki!” (Reus)

"Auu ... itu terlalu berlebihan sampai harus telanjang ..." (Reese)

"Kalian, ini sudah cukup!" (Sirius)


… Sepertinya gangguan belum berakhir.



-



Ekstra / Bonus

Peraturan Pondok Berlian
  1. Di dalam rumah nggak boleh make sepatu
  2. Cemilan cuma boleh dua kali sehari kecuali ada acara khusus
  3. Suka nggak suka harus makan makanan diatas meja
  4. Status sosial tidak masalah, semua orang duduk bersama dan makan
  5. Konsep 'Laporan', 'Kontak' dan 'Konsultasi' harus dijaga
  6. Jangan masuk saat Sirius mandi (Khusus untuk Emilia)
  7. Jangan menyelinap ke tempat tidur (Khusus untuk Emilia)
  8. Latihan pedang harus di luar rumah (Khusus untuk Reus)
  9. Lebih sopanlah ketika makan sembunyi-sembunyi (Khusus untuk Reese) 


[ Chapter 51 Selesai ] 




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌
» Anda baru saja membaca: Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Chapter 51 Bahasa Indonesia

3 comments: