Thursday, 6 September 2018

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Intermission 3 Bahasa Indonesia

Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Intermission 3 Bahasa Indonesia



Translator : Sai Kuze

Intermission 3 - Penantang yang Jatuh


- Bandit Bawahan -



Aku pikir sulit untuk bertahan hidup.

Aku kehilangan orang tuaku ketika aku masih muda. Aku, yang dibesarkan di panti asuhan, berjalan jauh dari panti asuhan untuk menjadi seorang petualang.

Bukannya aku tidak senang berada dipanti asuhan. Itu karena aku tau bahwa Sister-kaasan yang mengelola panti asuhan mengalami masalah dengan keuangan.
[TL Note: Dia memanggilnya sebagai ibu dan dia adalah Suster dari gereja]

Itulah mengapa aku menjadi seorang petualang untuk membantu Sister-kaasan, tetapi ternyata kehidupanku hanya diisi dengan menjual bahan mentah monster dan menangani permintaan. Berbicara tentang diriku yang keluar dari panti asuhan, kupikir aku meringankan beban panti asuhan untuk memberi makan tiap kepala ketika diriku tidak ada di sana.

Aku putus asa menjalani kehidupan ini dan sebelum aku menyadarinya, lima tahun telah berlalu.

Selanjutnya, aku menjadi tidak punya uang semenjak aku ditipu baru-baru ini sehingga diriku menjadi putus asa dan bergabung dengan organisasi bandit disekitar, [ Wolf's Fang ].

Sudah dua hari ketika aku bergabung dengan organisasi bandit menjadikanku belum mencuri apa pun atau menyerang siapa pun tetapi ... aku menertawaakan betapa rendahnya diriku.


“Ada apa, nak? Mengapa kau tertawa tiba-tiba?" (Lior)

"Aah ... jangan mengkhawatirkan ku." (??)


Pekerjaanku adalah mengawasi pedagang yang datang dari jalanan di hutan. Dan jika aku menemukan pedagang, aku akan memotong pohon terdekat untuk membuat mereka tidak bisa lewat, kembali ke tempat persembunyian, dan membuat laporan.

Jadilah aku terus melakukan pengintaian dan aku tidak menemukan satupun pedagang, tetapi seorang pak tua yang aneh.

Aku telah mengintai dari atas pohon dan ketika orang tua yang berbadan sangat besar itu tiba, dia pingsan. Sepertinya dia roboh karena dia kelaparan, jadi untuk mendapatkan makanan, aku memburu monster disekitar dan memasak sesuatu yang sederhana.

Aku berpikir untuk menjarah semua barang miliknya karena aku bandit tetapi karena aku tau semenderitanya karena kelaparan, tanpa sadar aku membantunya. Bagiku untuk melakukan hal seperti itu, aku pikir aku tidak cocok untuk menjadi seorang bandit. Pak tua yang selesai memakan makanan itu sembuh dalam beberapa saat, dia berkata dia ingin membalas kebaikanku dan aku terus menemaninya sembari mengawasi dirinya.

Dia membawa greatsword besar yang tidak normal dan otot-ototnya menonjol secara abnormal dan itu membuatku terus mengawasinya.


“Tapi tidak ada yang datang. Apakah kau tidak bosan, nak?” (Lior)

“Ini pekerjaanku. Jika aku tidak menyukainya, aku mungkin akan pergi ke tempat lain." (Bandit)

“Aku sudah menerima makanan darimu, nak. Aku terselamatkan karena makananmu." (Lior)


Aku merasa tidak enak dipanggil sebagai seorang anak-anak, tetapi karena aku tau pasti bahwa aku tidak bisa mengalahkan pak tua ini jika aku melakukan sesuatu yang buruk padanya, aku akan membiarkannya memanggilku apa yang dia inginkan. Aku tidak berpikir aku bisa mengalahkan orang tua yang membawa bongkahan besi dengan mudah.

Sore itu berlalu begitu saja dan seorang petualang terlihat, tetapi tidak ada satu pun pedagang yang lewat. Aku terus mengawasi karena aku tidak bisa melakukan hal lain dan pak tua yang duduk di dekatku menghabiskan waktu luangnya untuk merawat pedangnya. Karena dia terlihat bosan kemudian dia berbicara padaku setelah dia selesai dengan pedangnya.


“Kalau dipikir-pikir, makanan yang dimasak dirimu tadi sangat lezat. Skillmu bagus juga jadi kenapa kau tidak jadi juru masak saja daripada seorang bandit?” (Lior)

"... Aku sudah lama tidak memiliki uang dan waktu yang dibutuhkan untuk membeli makanan, tau." (Bandit)

"Begitukah? Keterampilanmu itu akan sia-sia, lho.” (Lior)


Sejujurnya, aku tidak ingin menjadi seorang petualang atau bandit tetapi aku ingin menjadi seorang juru masak. Jadi, aku bekerja keras untuk belajar memasak dan aku berharap aku bisa membuka restoranku sendiri suatu hari nanti.

Tapi kapan aku menyerah setelah mengetahui kenyataan pahit itu?

Aku tidak punya uang meskipun aku ingin menjadi juru masak. Bahkan jika aku ingin membuka toko, mempekerjakan pekerja, peralatan memasak, bahan makanan ... mereka semua membutuhkan uang. Apakah baik-baik saja bagiku untuk menjadi juru masak ketika aku tidak punya uang? Pak Tua, kau mengatakan ini dengan pandanganmu sendiri tanpa mengetahui keadaanku ...

Sembari memikirkan hal itu, aku melihat pak tua itu tanpa mengatakan apapun dan dia tiba-tiba menatapku dengan tatapan serius. Ups, apakah aku mengatakannya dengan keras?


"Nak ... sesuatu akan datang." (Lior)


Orang tua itu mengatakan itu dan mengalihkan pandangannya ke jjalanan tetapi aku tidak bisa melihat apa pun.


“Tidak ada yang datang. Kau mengatakan omong kosong, Jii-san. " (Bandit)

"Mereka akan segera datang dengan kecepatan seperti itu, tau. Lihat, di sana." (Lior)


Ketika aku melihat ke mana pak tua itu menunjuk, mereka jauh tetapi aku pikir itu adalah sebuah kereta.

... Mungkin harus kukatakan kereta itu sangat jauh, tetapi bagaimana orang tua ini menyadarinya? Meskipun aku bisa menyadarinya dengan jarak sejauh ini karena mataku yang bagus, dia mengatakannya dengan percaya diri.


"Err Jii-san, bisakah kau, kebetulan, tau bahwa kereta akan datang?" (Bandit)

“Bukan itu. Aku hanya merasakan kehadirannya. Bukankah ini wajar untuk melakukan sesuatu seperti ini sebagai seorang petualang?" (Lior)


Tidak, itu sama sekali tidak benar.

Aku melakukan pekerjaan dengan petualang menengah dan lanjutan di masa lalu tapi aku belum pernah bertemu seseorang yang dapat merasakan dari jarak sejauh itu.

Sementara aku masih ragu, pak tua itu berdiri di depan sebuah pohon besar dan menatapku.


"Langkah selanjutnya adalah memotong pohon untuk memblokir jalan, kan?" (Lior)

“Aa, aah… ya, benar. Karena aku punya kapak, aku akan memotong pohon untuk memblokir jalan. Tapi karena pohonnya besar, tidak mungkin– ...” (Bandit)


Ketika aku mengeluarkan kapak dari tasku, suara keras bergema dan pohon besar di sebelah pak tua itu roboh. Di sebelahku adalah sosok seorang pria tua yang mengayunkan pedangnya.


"Pohonnya rapuh." (Lior)

"..." (Bandit)


Mungkin butuh waktu setengah hari untuk menebang pohon sebesar itu dengan kapakku, tetapi pak tua itu merobohkannya dalam sekejap. Pohon itu roboh ke sisi jalan tetapi ... pak tua itu dengan ringan mengangkatnya dan meletakkannya di tengah jalan.

Aku melihat dengan kaget pada pemandangan itu karena pekerjaan yang paling merepotkan itu dilakukan dengan mudah.


“Jii-san… kau ini siapa?” (Bandit)

"Hmmm? Aku hanya orang tua biasa yang sedang dalam perjalanan. Tidak ada yang perlu dikagetkan, hei nak kau pasti bisa melakukannya kan?” (Lior)

"Apakah itu mungkin !?" (Bandit)

"Meskipun anak itu bisa melakukannya, itu aneh ya ..." (Lior)
[TL Note: Anak itu berarti Sirius atau Reus]


Dia berbicara pada dirinya sendiri tetapi apa yang telah aku ambil? Aku mungkin telah berurusan dengan seorang pria yang berbahaya dan aku sega mulai menyesali tentang hal ini.


“Pokoknya persiapannya sempurna. Lihatlah nak, ini bukan situasi bagimu untuk membuat wajah yang bingung, tau?" (Lior)

"Aa, aah ... tapi kita hanya bisa mengkonfirmasi mereka ketika mereka mendekat." (Bandit)


Dengan melihat dari sini, aku hanya bisa melihat kereta tapi aku tidak tau siapa mereka. Itu karena aku ingin menghindarinya berurusan dengan petualang yang kuat dan bukan pedagang,.

Aku menunggu sebentar dan akhirnya aku bisa mengkonfirmasi identitas mereka ketika mereka semakin mendekat.


“Wow, sepertinya itu adalah pedagang yang sudah kau nantikan. Lalu, segera– ... hmm, ada apa, nak?” (Lior)

"Itu ... aku tidak ragu." (Bandit)


Ada dua orang kuat yang tampaknya menjadi penjaga kereta tetapi yang menjadi perhatianku juga adalah orang yang duduk di kursi kemudi. Dengan perut gendut itu, dia mengingatkanku pada seseorang yang memiliki keserakahan akan uang. Orang itu adalah pria yang ikut campur dengan panti asuhan kami.

Dia datang ke panti asuhan berkali-kali dan ingin membawaku, yang tidak ada hubungannya dengan dia, dan anak-anak lain tetapi aku ingat bahwa Suster-kaasan menolak segalanya. Dia tampak seperti orang baik dari apa yang kami dengar tetapi kami mengerti kemudian bahwa dia adalah seorang pedagang budak. Suster-kaasan tau tentang itu tetapi dia tidak pernah berpikir untuk menjual kami bahkan setelah betapa beratnya kehidupan disana dan dia terus menolaknya dengan kuat.

Setelah beberapa saat, panti asuhan itu terbakar dan adik perempuanku meninggal karena dia terjebak di dalamnya. Setelah itu, pedagang budak tidak hanya tidak mendatangi kami untuk membantu malahan dia menghilang dari kota. Dengan demikian, aku yakin bahwa pedagang budak adalah pelakunya.

Untuk bertemu pedagang budak di tempat seperti ini ... ini juga pasti takdir.

Meskipun aku telah menjadi seorang bandit, aku masih ragu untuk menyerang orang lain, tetapi jika orang ini, aku akan menyerangnya tanpa ragu.


“Apakah dia seseorang yang kau kenal, nak?” (Lior)

“Aku tidak berhubungan dengannya tapi aku tau pria macam apa dia. Orang itu adalah pedagang budak dan dia adalah pelaku yang membakar rumahku." (Bandit)

"Hmm ... aku tidak mengerti tapi dia orang jahat, kan?" (Lior)

“Aah, itu benar. Aku senang bahwa pekerjaan pertamaku menangani dirinya. Aku bisa menyerang orang itu tanpa ragu dan aku sudah memutuskan untuk hidup sebagai bandit.” (Bandit)


Berkat pak tua itu, mereka akan terjebak di sini untuk sementara waktu. Tampaknya jumlah penjaganya sedikit sehingga aku harus pergi melapor ke markas segera. Tetapi ketika aku melihat pak tua itu, dia yang berdiri di sampingku tadi berdiri dengan megah di tengah jalan.


“O-oi Jii-san, apa yang kau lakukan !? Aku akan kembali dan memanggil teman-temanku sekarang jadi jangan mencampuri hal yang tidak perlu.” (Bandit)

“Singkatnya, tidak apa-apa untuk mengambil barang berharga dari orang-orang itu kan? Mereka mungkin akan melarikan diri ketika kau memanggil teman-temanmu, bukankah lebih baik untuk melakukannya sesegera mungkin?" (Lior)

“Mereka juga memiliki penjaga, memangnya kita berdua bisa menanganinya ?! Dengar, aku akan segera pergi ke sana dan kembali, Jii-san!” (Bandit)

“Aku tidak punya masalah dengan mereka. Selain itu, sepertinya mereka juga menyadari kita.” (Lior)


Aku memanggil pak itu untuk kembali sembari bersembunyi di balik pohon, tetapi itu sudah terlambat. Para penjaga yang berjalan di sepanjang kereta menghampiri pohon yang menghalangi jalan dan pak tua yang berdiri dengan gagah menyilangkan lengannya dan mendekat dengan hati-hati.


“Apa yang dilakukan pak tua sepertimu di tengah jalan? Kau menghalangi jadi menyingkirlah." (Penjaga 1)

“Tidak, bisakah kita hanya memindahkan pohon dibelakangnya? Hei pak tua, apa kau tau sejak kapan pohon itu ada di sana?” (Penjaga 2)

“Aku tau itu, sejak beberapa menit yang lalu. Tentu saja karena aku yang menaruhnya." (Lior)

"" Haa !? "" (Penjaga)


Oi pak tua... meskipun penjaganya sangat tidak peduli kelihatannya, mengapa kau mengakui perbuatanmu? Tiga penjaga tambahan keluar dari kereta sehingga tidak peduli seberapa kuat orang tua itu, perbedaan jumlahnya terlalu jelas.

Aku penasaran apakah aku harus melompat keluar atau tidak tetapi aku merasa seperti sudah kalah ketika jumlah mereka bertambah. Ini menyedihkan tetapi tidak ada cara lain selain menyerah karena perbuatan orang tua itu?


"Oi oi, apa yang sedang terjadi?" (Pedagang Budak)

“Tidak, bukan hanya pak tua yang memblokir jalan, dia bilang dia meletakkan pohon di belakangnya. Ini menjadi sesuatu yang merepotkan." (Penjaga 1)

“... Ini pasti merepotkan. Oi, kau pak tua di sana, apa yang ingin kau lakukan?” (Penjaga 2)

“Kau salah, aku bukan pak tua, aku hanya seorang pengelana biasa. Bagaimanapun, tinggalkan semua barang berhargamu.” (Lior)


Aku bahkan tidak mengerti apa yang dimaksud dengan 'bagaimanapun'. Selain itu, bahkan jika dia mengatakan dia adalah seorang pengelana, tidak peduli bagaimana kau melihat tindakan dan ucapannya, kau tidak dapat melihat dia sebagai bandit.

Reaksi mereka kebingungan dengan apa yang dikatakan orang tua berotot itu, tetapi pedagang itu memerintahkan para penjaganya dengan mata dingin.


“Lakukan semau kalian dengan pria tua yang lamban itu. Singkirkan dia jika dia menjadi penghalang." (Pedagang Budak)

“Kami mengerti. Karena ini adalah perintah majikan, jangan menyalahkan kami, pak tua." (Penjaga 1)

"Apakah kau pikir aku akan melakukan hal yang bodoh seperti itu?" (Lior)

“Segera tarik pedangmu. Apakah pedangmu hanya untuk hiasanan saja, dasar bodoh!” (Penjaga 2)


Ketika pak tua itu menarik pedang di belakang punggungnya dan membuat ayunan besar menuju para penjaga, angin muncul dan sangat mengguncang pepohonan di sekitarnya. Para penjaga terganggu dengan kekuatan itu, tetapi dua pengawal yang keluar dari kereta sejak awal tidak tersentak dan menyiapkan senjata melawan pak tua itu.


"Orang ini adalah lawan yang tangguh." (Penjaga 1)

“Aah, apa kau pikir kau bisa mengalahkan kami, 'Mirror brothers'?” (Penjaga 2)


Keduanya disebut 'Mirror Brothers' mengenakan pakaian dan pedang yang sama seolah-olah mereka saling bercermin. Karena wajah mereka juga mirip, kupikir mereka kembar.

Kemudian, keduanya mulai berlari ke arah pak tua itu pada saat yang bersamaan dan karena penampilan berlari mereka serupa dan melakukan zig-zag berkali-kali, itu adalah strategi mereka untuk membingungkan lawan. Strategi itu bukan masalah jika mereka terlihat dari samping tetapi itu menjadi ancaman jika dilihat dari depan.


"Kekuatan pak tua itu mungkin luar biasa, bisakah kita mengalahkannya?" (Penjaga 1)

"Terima ini!" (Penjaga 2)


Salah satu dari mereka membuat lompatan jauh sementara serangan lain dari samping pada saat yang bersamaan. Jika itu aku, aku akan terpengaruh, terlambat untuk merespon atau tidak bisa merespon dengan teknik apa pun tetapi berbicara tentang pak tua itu...


"Kalian tidak buruk tapi ini mudah karena ada yang bodoh melakukan lompatan!" (Lior)


Yang menakutkan adalah pak tua itu melompat pada saat yang bersamaan dengan lawannya, dan kemudian dia mengayunkan pedangnya. Orang yang tidak bisa menggerakkan tubuhnya di udara menyimpulkan bahwa dia tidak bisa menghindari serangan itu sehingga dia bertahan dengan pedang yang dia miliki tetapi pedang besar pak tua itu memotongnya menjadi dua.

Orang lain mengambil kesempatan dari celah itu menyerang tetapi pak tua itu lebih cepat. Sementara masih dalam posisi berayun di udara, pak tua itu berayun ke samping, pria yang satu lagi memiliki bagian tubuh atasnya yang terpisah dengan bersih dari tubuh bagian bawahnya.

Atau mungkin aku harus mengatakan, pak tua itu yang mencurigakan !? Mengayunkan pedang besar dengan ringan seperti bulu, seolah-olah dia hanya bergerak untuk membunuh.

Seriusan, siapa yang sudah aku tolong itu !?


"" "..." "" (3 penjaga lainnya)

"Apa ini? Selanjutnya! '' (Lior)


Penjaga yang tersisa benar-benar kehilangan harapan pada keanehan pak tua itu. Aku pikir masuk akal jika mereka menyerah ketika mereka ditunjukkan pemandangan seperti itu. Jika aku yang berdiri di sana, aku sudah menyerah.


“... O-oi. Kalian, bereskan dia." (Pedagang budak)

"Tidak! Dengan lawan seperti itu, tidak peduli berapa banyak kehidupan yang aku miliki, itu tidak akan cukup!” (Penjaga 3)

"Apa ini, mengapa monster seperti itu muncul di jalanan seperti ini !?" (Penjaga 4)

"Apa-apaan ini, jika kalian tidak menyerang, aku yang akan menyerang kalian." (Lior)

"" "Aku menyerah!" "" (Penjaga 3/4/5)


Mereka hanya petualang dan keputusan mereka cepat. Ketiga orang itu segera melemparkan senjata mereka dan berlutut di tanah. Pak tua itu terlihat tidak tertarik, dia melepaskan minat tempurnya dan meletakkan pedang di bahunya, mengarahkan jarinya dari penjaga yang berlutuh di tanah.


"Aku tidak akan mengambil hidup kalian jika kalian menyerah tetapi apakah kalian masih ingat apa yang aku katakan di awal?" (Lior)

"E-err ... tinggalkan barang berharga ... kan?" (Para Penjaga)

"Hmmm. Lagi pula, secara detilnya, tinggalkan juga senjata kalian. Bagaimanapun, tinggalkan tempat ini. Yah, aku mengizinkan kalian untuk pergi dengan pakaian saja." (Lior)

"Lalu, bagaimana dengan nyawa kami ..." (Penjaga)

“Aku tidak tau. Kalian sudah menjadi penjahat semenjak kalian mengetahui dia seorang pedagang budak. Tetapi jika itu adalah nyawa kalian, kupikir tidak apa-apa.” (Lior)


Pak tua itu, bukankah dia lebih berbakat menjadi bandit dibandingkan diriku?

Dan kemudian, dia terus memberikan perintah konyol untuk sementara waktu.


“Bukan hanya senjatamu, armormu! Lepaskan semuanya!" (Lior)

"Hiiii !?" (Para Penjaga)

“Ayo, keluarkan! Ambil apa pun yang kalian miliki karena aku dapat mendengar suara uang! Aku beritahu kalian, jangan mencoba menyembunyikannya!" (Lior)

"M-maaf!" (Para Penjaga)

"Aku mendengar para petualang menyembunyikan uang dipakaian mereka dalam keadaan darurat tetapi ... bagaimana jika ditempat lain?" (Lior)

"Maafkan kami, kami akan segera mengeluarkannya!" (Para Penjaga)


... Pak Tua, kau benar-benar ingin mengambil semuanya. Dia tidak tampak terlalu ingin hidup dengan cara itu tetapi jika itu hanya sikapnya, apakah dia tidak seburuk bandit?

Dia mengambil semuanya begitu saja, bahkan jika mereka melarikan diri, satu-satunya yang tersisa adalah pedagang budak. Kuda itu juga ketakutan dan tidak bisa bergerak karena pak tua itu terus menatap tajam, dan pedagang yang amatir dalam pertempuran juga tidak dapat bergerak.


“Hmm ini lebih sedikit dari yang aku harapkan. Bagaimana dengan ini, nak? Apakah ini cukup bagus?" (Lior)

“... Aku juga tidak mengharapkan menjadi seperti ini.” (Bandit)


Aku berhenti bersembunyi ketika aku melihat pak tua itu mulai menghitung uang yang ia rampas dan barang-barang berharga. Aku tidak ingin dilihat sebagai temannya dan itu sebabnya aku tidak keluar tetapi karena aku ingin bertanya kepada pedagang itu, tujuanku berbeda.


"Si-Siapa kalian sebenarnya?" (Pedagang budak)

"Aku sudah memberitahumu sebelumnya, aku hanya seorang pengelana biasa." (Lior)

“Bagaimana mungkin kau seorang pengelana biasa !? Siapa yang menyuruh kalian !? ” (Pedangang Budak)

"Aku bukan siapa-siapa. Jika aku harus mengatakannya, aku pikir kau sedang tidak beruntung karena lewat sini." (Lior)

"Jii-san, ada yang ingin kukatakan pada pria ini jadi maukah kau membiarkanku?" (Bandit)

"Hmmm." (Lior)


Apakah pak tua itu memahami suasana hatiku yang serius karena dia menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun di belakang.

Sembari merasa berterimakasih kepada pak tua itu, aku mengarahkan pedangku menuju pedagang itu. Dia takut sampai dia tidak bisa bergerak dari kursi kusir, jadi aku menanyakan sesuatu padanya.


“Hei, bukankah kau pedagang budak? Bukankah kau dulu mengambil anak-anak dari panti asuhan?” (Bandit)

“A-apa yang kau katakan? Aku tidak tau panti asuhan apapun!” (Pedagang Budak)

"Begitukah? Meskipun kau mengatakannya dengan percaya diri, pak tua di belakang tidak akan diam saja jika kau berbohong, tau?” (Bandit)


Pak tua itu mulai berpura-pura, mendengar ucapanku, dengan mengayunkan pedangnya. Angin berhembus di belakang punggungku dan aku sedikit takut tetapi aku bersyukur bahwa dia mengikuti ucapanku.


“Bagaimana dengan itu? Hidupmu bukanlah apa-apa karena aku seorang bandit. Jika kau tidak jujur, aku akan membunuhmu dan mengambil keretamu." (Bandit)

“Nuuu! Aku akan membunuhnya! Waktunya cocok!" (Lior)

“Hiiiiiiiiii! Aku tau panti asuhan! Aku mengambil anak-anak dan menjual mereka sebagai budak!” (Pedagang Budak)


Pak tua itu sepertinya marah dan memotong pohon yang dia taruh di jalan tetapi ... bukankah dia bagus dalam berakting?

Situasi di mana pohon yang tebal itu benar-benar diiris seperti kertas diperlihatkan, kejiwaan pedagang itu mudah rusak. Ini bagus, tetapi apakah perlu sampai-sampai memotong pohon itu?


“Baiklah, satu pertanyaan lagi. Bukankah kau yang membakar sebuah panti asuhan lima tahun yang lalu?” (Bandit)

"I-itu ..." (Pedagang Budak)

“Pedangku haus darah!” (Lior)

“Y-ya! Aku yang membakarnya! Karena seorang wanita keras kepala terus menolakku berkali-kali, demi balas dendam— ... ” (Pedagang Budak)


Setelah itu, suara pedagang terputus. Alasannya sederhana, itu karena aku memotong kepalanya.

Karena aku sudah menjadi petualang selama lima tahun, hal-hal seperti membunuh orang akan sering terjadi. Tapi itu karena aku diserang, dan perlu untuk menyerang mereka kembali untuk bertahan hidup. Aku membuat kemajuan karena aku tidak ingin membunuh orang tetapi berbeda jika orang ini.

Karena dia yang membakar, hidupku menjadi semakin sulit, adik laki-laki ku dan perempuanku dalam kesulitan, dan yang terpenting, adik kandung perempuanku yang berharga itu meninggal. Aku yang sudah menyerah untuk balas dendam tiba-tiba ... aku bisa melaksanakannya.

Aku menyingkirkan tubuhnya, air mataku mengalir secara alami saat aku memasukkan kembali pedangku.



-



Pak tua itu memindahkan irisan bundar pohon dari jalan tanpa berkata apa-apa sementara aku menangis sampai setelah aku tenang.


“... Terima kasih, Jii-san.” (Bandit)

"Untuk apa? Aku hanya bertindak tidak lebih dari berpura-pura menjadi bandit, tau." (Lior)

"Tetapi tetap saja. Aku berterimakasih kepadamu, aku bisa melakukan pembalasan dendamku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih." (Bandit)

"Jangan khawatir tentang itu. Aku telah menerima makanan darimu, jadi kami impas.” (Lior)

"Begitukah? Baiklah. Aku senang aku menemukanmu, Jii-san.” (Bandit)


Nah, pembicaraan suram sudah selesai jadi apa yang harus aku lakukan mulai sekarang? Bagaimanapun, aku telah merampas uang para penjaga dan mendapatkan seluruh kereta pedagang. Ini hasil kerja yang cukup bagus sebagai seorang bandit.

Namun ... kepalaku penuh dengan dendam yang membuatku lupa bahwa orang ini adalah seorang pedagang budak.

Tentu saja, di dalam keretanya ...


"... Mereka di sana seperti yang diharapkan." (Bandit)

"Hanya gadis muda dan anak-anak ya." (Lior)


Ada sebuah kandang besar, dan ada tiga budak yang dikurung di dalamnya. Seluruhnya adalah beastkin dan mereka mengenakan kerah budak, dan ini wajar bagi mereka untuk takut ketika mereka melihat pak tua dan aku yang tiba-tiba muncul.


“Err… siapa kalian? Jadi, penjaga sudah tidak ada lagi?" (Budak 1)

"Yah ... kami ..." (Bandit)


Ras kelinci yang tampaknya yang tertua di antara tiga dari mereka berbicara. Aku bingung dengan apa yang harus aku katakan tetapi pak tua itu menjawab sembari tertawa.


“Kami adalah seorang pengelana dan bandit yang kebetulan lewat. Pemilik dan penjaga untuk kereta ini telah diusir." (Lior)

"Bandit !?" (Budak 1)

“Arrgh, Jii-san, diamlah!” (Bandit)


Karena mereka semakin ketakutan ketika mereka mendengar tentang bandit, aku mengangkat kedua tanganku, Para budak akhirnya tenang, aku ditarik oleh pak tua dan mengarah ke bagian luar kereta.


“Apa yang kau rencanakan dengan anak-anak itu? Apakah kau akan kembali ke tempat persembunyianmu?" (Lior)

“Aah, kau… benar.” (Bandit)


Meskipun ada beberapa yang mendiskriminasi beastkin, bandit selalu haus akan wanita. Oleh karena itu, jika aku membawa mereka bersamaku, aku berasumsi aku akan dipromosikan. Melihat hasil hari ini, aku mungkin tidak perlu bekerja sebagai pengintai lagi.

Selain itu, jumlah uang yang akan aku hasilkan akan bertambah. Jika aku melakukannya, aku mungkin bisa membantu Sister-kaasan.

Tapi ... mata gadis-gadis ini tampak seperti mata saudara-saudaraku di panti asuhan. Mereka tidak mengatakan apa-apa tetapi mata mereka meminta bantuan.


"Akan sulit untuk membiarkan mereka bebas karena mereka sudah mengenakan kerah dan juga itu akan menjadi sulit bagi mereka untuk bertahan hidup." (Lior)

"Benar. Tapi aku ... " (Bandit)



-



"Luar biasa, kalian semua, bersulang!" (??)


Setelah itu, kami mengambil paket yang kami curi kembali ke tempat persembunyian.

Sepertinya ada sekutu yang bertindak terpisah dari kami dan menyerang perusahaan besar dan kami mengadakan pesta ditempat persembunyian karena mereka mendapat penghasilan yang cukup besar.


“Lalu, apa yang telah dilakukan para rookie !? Kau merampok seorang pedagang dan menghasilkan uang tanpa menghubungi kami." (??)

"Tidak ... aku hanya beruntung." (Bandit)

"Walaupun demikian. Sangat disesalkan. Jika pedagang yang kau serang tidak kau bawa kemari dengan barangnya, kau bisa dipuji oleh bos.” (??)


Ya ... aku membiarkan mereka pergi.

Aku menemukan kunci kerah budak dari tubuh pedagang yang aku bunuh, dan aku membebaskan para budak. Aku secara paksa memberikan separuh uang yang kurampas dan kereta, dan aku mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Aku berterima kasih kepada para gadis itu, tetapi aku dengan jujur ingin membantu mereka dan aku harus mengirim mereka ke tempat yang aman.

Tapi, aku seorang bandit. Jadi, apa yang aku lakukan adalah memberi mereka kesempatan dan terserah pada kekuatan gadis itu untuk tetap hidup setelah itu.

Aku berpisah dari mereka, membawa setengah porsi uang dan barang-barang di punggungku dan kembali ke tempat persembunyian, dan kemudian aku melaporkan hasilnya dengan cara ini.

Aku menyerang pedagang dengan penjaga yang sedikit tetapi aku tidak dapat menghasilkan banyak uang karena dia berhasil kabur membawa barang-barangnya. Selain itu, karena kuda ku mati dalam pertempuran, aku tidak dapat mengamankan kereta ...

Bos merasa jijik tetapi aku tidak disalahkan karena mendapatkan penghasilan, penilaian terhadapku naik sedikit dan aku diizinkan ikut serta dalam pesta itu.



-



Aku berfokus untuk makan karena aku tidak ingin minum tetapi aku ditunjukkan sesuatu yang berbeda di sisi lain pesta.


"Ooo–! Gaya minum pak tua itu bagus!” (??)

“Beginilah caramu meminum sake! Huhahaha!" (Lior)

“Yah, bagaimana dengan yang ini? Sake beralkohol tinggi yang aku rampas dari pedagang bisa terbakar seperti api, tau?” (??)

"Yang mana? Hmmm ... baiklah!" (Lior)


... Untuk beberapa alasan, pak tua itu mengikutiku ke tempat persembunyian.

Aku pasti berpikir bahwa dia akan mengikuti gadis-gadis itu tetapi dia mengatakan dia masih belum membalasnya sehingga dia tetap bersamaku.

Dia ingin membantu membawa uang dan barang-barang yang kurampas. Dia akan diterima jika aku mengatakan kepada mereka tentang dirinya yang berguna karena dia adalah pak tua yang kuat. Dia berpartisipasi dalam pesta itu dengan santai, aku tidak mengerti, bagaimana dia berinteraksi dengan baik dengan yang lain. Bagaimanapun juga, sake yang baru diminumnya, 'Killing Sake' bisa membuat seseorang pingsan dengan seteguk saja. Namun dia tidak meminumnya dengan cangkir tetapi langsung meminumnya.


“Pak tua yang kau bawa itu menarik. Benarkah dia bisa mengayunkan pedang itu?” (??)

“Aah, dia mengayunkannya seperti ranting. Ini adalah pertama kalinya bagiku bertemu pak tua yang kuat seperti itu.” (Bandit)

“Ya ... kelihatannya sih begitu. Ngomong-ngomong, apa pak tua itu sangat kuat? Ini semua bagus karena bos mengijinkannya tetapi akibatnya akan buruk jika dia bertindak keras.” (??)

"Aku pikir ini akan baik-baik saja." (Bandit)


Meskipun kami sudah saling kenal selama setengah hari, aku mengerti bahwa pak tua itu tidak akan mengayunkan pedangnya tanpa alasan. Ada banyak aksi ketegangan yang tinggi tetapi dia ingin membalas budi sehingga dia tidak mau membunuh selain musuh-musuhnya.

Kecuali mereka tidak memicunya, mereka tidak akan diserang oleh pak tua itu.


“Bos Oi! Aku baru saja kembali." (??)

“Ou, kau terlambat. Apa terjadi sesuatu?" (Bos)

"Bukan apa-apa, aku menemukan kereta tanpa penjaga ketika aku kembali, karena aku diserang di jalan!" (??)


Kelompok lain terlambat kembali dengan hasil.

Hasilnya entah bagaimana agak tidak terduga, mereka memasuki persembunyian dengan suasana hati yang baik karena itu.


"Mengerti! Meskipun ada jejak menjadi budak, bukankah ketiga cewek ini cantik? Kita dapat menikmati seluruhnya untuk pesta hari ini!" (??)


Mereka adalah gadis yang aku lepaskan.

Meskipun mereka tersenyum ketika kami berpisah, mereka memiliki mata putus asa ketika mereka berada di dalam kurungan.


"O-oi rookie!" (??)


Aku mulai berlari ketika aku menyadarinya, dan aku menghajar pria yang menangkap gadis-gadis itu.

Aku melindungi gadis-gadis yang tercengang itu di belakangku, aku dihadapkan pada para bandit yang memiliki mata was-was.


"... Apa yang kau lakukan, rookie?" (??)

"T-tidak ... mereka adalah adik perempuanku, jadi kurasa.... aku ingin kau berhenti?" (Bandit)


Aah, apa yang sudah kulakukan sebenarnya !?

Meskipun aku membiarkan mereka pergi diam-diam dan membuat laporan palsu ... kenapa mereka tiba-tiba tertangkap !?

Meskipun aku seharusnya meninggalkan mereka ... meskipun seharusnya aku tidak seharunya langsung menyerang, tubuhku bergerak sendiri!


"Sepertinya ... ada hukuman sebelum menyantap gadis-gadis ini." (??)

“Haruskah kita mendapatkan beberapa hiburan, kawan !?” (??)


Atas perintah bos, lima puluh bandit di dekatnya mulai membuat kebisingan. Mereka semua mengambil senjata dan perlahan mendekati kami. Gadis-gadis yang aku sembunyikan di belakang dengan menggigil menggenggam bajuku, tetapi mustahil bagi seorang pun untuk menghadapi lawan dengan jumlah ini.

Aku tidak bisa melarikan diri karena aku dikelilingi ... Aku akan mati.


"Hmmm, sepertinya ini terlalu cepat, ya kan?" (Lior)


Saat aku mendengar suara riang seperti itu ... seorang bandit terpelanting ke langit.

Sementara sepuluh bandit di dekatnya terpelanting ke langit dan jatuh ke bawah enak dipandang, pak tua itu mengayunkan pedangnya sembari tertawa. Dan sebelum aku menyadarinya, dia melemparkan mantel yang dia pegang padaku dan berteriak sembari memotong bandit di dekatnya menjadi dua.


“Hei nak! Tutupi mata gadis itu! Lindungi mereka bahkan jika kau mati!” (Lior)


Aku tidak memikirkan alasannya dan seperti kata pak tua itu, aku membungkus kepala gadis itu dengan mantelnya. Mereka menolak sedikit tetapi mereka menyerah setelah aku memeluk mereka.


“Tidak apa-apa! Jangan bergerak karena aku tidak peduli apapun akan melindungi kalian!” (Bandit)


Tidak ada dasar atau alasan tetapi aku mengatakannya dengan percaya diri. Dan ketika aku berbalik mengambil pedang untuk membela diri terhadap bandit yang menargetkan para gadis ... tempat itu menjadi neraka.


"Hahahaha! Sangat rapuh! Bahkan pohon lebih kuat!" (Lior)

"Siapa orang ini - guhaa!" (??)

"To-tolong— oguu!" (??)

“Seseorang yang bisa menggunakan sihir, lakukan— agyyaaa !?” (??)


Setiap kali pak tua itu mengayunkan pedangnya, tubuh para bandit lenyap, dan tangan atau kaki mereka berserakan. Sembari menenangkan para gadis sedikit, separuh bandit terbunuh.


"Cepat larilah dari monster ini—!” (??)

“Tidak ada yang akan bisa melarikan diri! 'Hard Break'! '' (Lior)


Ketika dia mengayunkan pedangnya sembari meneriakkan sesuatu, sebuah dampak yang tidak aku mengerti terjadi dan bandit yang berkumpul itu terpental dan tenggelam didinding. Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang terbang secara horizontal. Wew.

Sekarang aku menyadarinya ... aku tidak dibutuhkan di sini?

Meskipun aku berkata aku akan melindungi mereka bahkan jika aku mati, sebenarnya hanya melawan mereka yang melarikan diri dari pak tua tapi sepertinya tidak ada ruang bagi mereka untuk melarikan diri ya?


"Dasar bajingan! Beraninya kau membawa monster seperti itu!” (??)


Ketika aku berpikir ada satu bandit datang kearahku, aku menyiapkan senjataku tetapi bandit itu terbelah dua sebelum aku berurusan dengannya, dan ada sosok pak tua yang mengayunkan pedangnya dari belakang.


"Bukankah aku mengatakan tidak ada yang bisa melarikan diri !?" (Lior)


Err ... bahkan jika dia tidak mengatakan itu padaku, mengapa aku begitu gemetaran? Meskipun gadis-gadis itu tidak melihat atau terkena darah pak tua itu, mereka semakin gemetaran.


"Hei hei, selanjutnya!" (Lior)

“” ”Tolong—!” ”” (??)



-



Dan kemudian, neraka berakhir.

Kami melarikan diri dari ruangan yang dilumuri warna merah dan berpindah ke kamar bos yang relatif bersih.


“Sekarang sudah aman. Kalian bisa melepas mantelnya.” (Lior)

"Y-ya ... tolong." (Gadis)


Pak tua itu memintaku untuk menutupi mata mereka dengan mantel karena dia tidak ingin membiarkan gadis-gadis itu melihat pemandangan yang mengerikan. Itu pasti adegan yang mengerikan untuk seorang gadis dan anak-anak jadi tindakan pak tua itu benar.

Entah dia monster atau bukan, dia masih ingat untuk mengkhawatirkan para gadis dan anak-anak.


“Huhuhu… kalian tidak perlu takut padaku. Aku orang yang baik." (Lior)


... Aku memikirkan sesuatu yang berbeda. Bagaimanapun, aku melepas mantel mereka dan tersenyum pada mereka.


"Kalian tidak perlu khawatir saat ini karena bandit-bandit itu sudah dimusnahkan." (Bandit)

"Tidak hanya sekali tetapi dua kali ... Terima kasih banyak." (Gadis)

“Terima kasih, Onii-chan!” (Gadis 2)

"Terima kasih banyak!" (Gadis 3)


Mereka mengerti bahwa mereka diselamatkan, dan mereka memelukku sembari menangis. Aku senang tetapi ... bukan aku yang membantu mereka tetapi pak tua itu. Aku bukan orang yang seharusnya diberi ucapan terima kasih.


“Hmm, orang yang membantu kalian bukan aku tetapi pak tua itu di belakang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." (Bandit)

"Itu salah. Meskipun kamu bandit, kamu tidak hanya membebaskan kami tetapi kamu melindungi kami ketika kami tertangkap lagi. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya.” (Gadis1)

"Kamu dapat diandalkan, Onii-chan." (Girl2)

"Entah apa alasannya, kami telah diselamatkan." (Girl3)


Mereka berterimakasih sampai sejauh itu ya?

Selain Sister-kaasan, aku, yang hidup dengan putus asa, hampir tidak punya waktu untuk dihargai. Aku menjadi bahagia karena pemikiran murni mereka yang menyentuh hatiku.


“Dan kemudian Ojii-san, yang menyelamatkan kami— hiii !?” (Gadis1)

“Terima kasih, Ojii— nyaaa !?” (Gadis2)

“Sungguh kuat — kyaaa !?” (Gadis3)


Ketika mereka ingin berterima kasih kepada pak tua itu, mereka bersembunyi di belakang punggungku sembari berteriak. Pak tua yang melihat adegan itu, dia tidak diragukan lagi adalah pria yang mengalahkan bandit tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa dia sepertinya kecewa dengan bagaimana gadis-gadis itu bereaksi.


“Ap ... kenapa !? Meskipun mereka tidak melihatnya! Bukankah seharusnya kalian mengatakan 'terima kasih, Ojii-chan!'?” (Lior)

"Tidak, lihat tubuhmu, pak tua." (Bandit)


Dia berlumuran merah tua karena darah. Lebih parah lagi, jari-jari dan daging bandit melekat pada tubuhnya, Meskipun aku pernah mengalaminya, aku masih takut dengan adegan tadi.


“Tidaaaaak—! Aku ingin dipanggil sebagai Ojii-chan oleh seorang cucu! Emiliaaaa!" (Lior)


Seorang cucu ... adakah seorang cucu untuk pak tua yang terlihat seperti monster?

Ngomong-ngomong, siapa Emilia?



-



Setelah itu, kami mengumpulkan barang-barang berharga di persembunyian itu dan mengambil kereta kuda. Kemudian kami menuju ke kota terdekat.

Aku menjual barang-barang berharga yang aku kumpulkan, dan aku melaporkan bahwa pak tua itu melenyapkan kelompok bandit 'Wolf fang's' dan meminta hadiah. Mereka membantah karena tidak ada bukti tetapi kepala guild keluar di tengah jalan dan memaksaku keluar.

Pada hari berikutnya, aku mengumpulkan barang-barang pribadi para bandit dan membawanya kepada mereka. Pak tua yang merampas uang dari para penjaga membelanjakannya seperti yang dia suka dan gadis-gadis itu sekarang bukan budak lagi, mereka sudah menjadi orang biasa. Mereka mungkin akan menghadapi kesulitan tetapi meskipun hanya sedikit aku ingin mereka hidup seperti biasa.


“Terima kasih banyak… karena membelikan kami banyak hal.” (Gadis 1)

“Pak tua itu mengatakan untuk membelanjakannya seperti yang aku suka, jadi jangan pikirkan tentang itu. Namun, apa yang akan kalian lakukan mulai sekarang?” (Bandit)

“Dalam hal itu, kami ingin membalas kebaikanmu. Oleh karena itu, maukah kamu membawa kami bersamamu?” (Gadis 1)

"Apa?" (Bandit)


Organisasi bandit telah dimusnahkan, karena aku bukan bandit lagi, aku berencana untuk kembali ke kampung halamanku. Aku mendapat uang dan aku berencana membuka restoran di kampung halamanku. Dan aku memutuskan untuk mendukung Suster-kaasan secara finansial dengan uang yang aku dapatkan kali ini.

Gadis-gadis itu mengatakan mereka ingin ikut denganku.


“Aku juga, kumohon. Karena aku pasti akan membantu.” (Gadis 1)

“Apakah kamu memberi tau Ojii-chan bahwa kamu ingin membuka restoran? Jika itu yang terjadi, kamu pasti membutuhkan tenaga kerja dan aku bisa bekerja sebagai asistenmu." (Gadis 2)

“Apakah itu baik-baik saja? Kalian telah mendapatkan kebebasan, tau?” (Mantan Bandit)

“Kami telah memutuskan untuk mengikuti dirimu karena kami telah dibebaskan. Apakah itu tidak boleh?" (Gadis 1)

“Lakukan sesuka kalian. Hanya saja aku tidak tau apakah aku dapat membantu kalian atau tidak. Jadi kalian harus mempersiapkan diri. ” (Mantan Bandit)


Seperti yang dikatakan gadis-gadis, diperlukan tenaga kerja untuk menjalankan restoran, dan aku tidak bisa meninggalkan mereka. Jika akhirnya seperti ini, aku memutuskan untuk menyelamatkan para gadis jika mereka diculik lagi.


"" "Terima kasih banyak." "" (Para Gadis)


Aku merasa canggung dan tidak bisa merespon dengan apa pun dan kemudian pak tua itu muncul sedikit menjauh dari serikat petualang. Aku segera menyadarinya karena dia memiliki tubuh yang besar dan memanggul pedang besar.

Ngomong-ngomong, aku telah menjual berbagai macam barang dan mendapatkan hadiah karena memusnahkan bandit, jadi aku berencana untuk membagikan uang itu. Bahkan jika aku mengatakannya, pak tua itu adalah orang yang mendapat penghasilan sepenuhnya dengan cara kasar. Jadi, aku tidak punya hak untuk membuat keputusan. Karena itu adalah situasi di mana aku merawat para gadis, aku akan senang bahkan jika aku hanya menerima sedikit.


“Hei, ini bagianmu.” (Lior)

"Maafkan aku…. ehhh !?” (Mantan Bandit)


Ketika aku melihat kantong yang dilemparkannya dengan santai, itu dipenuhi dengan puluhan koin emas. Sedangkan untuk orang tua, ia hanya memiliki dua koin emas di tangannya.


"Yah, itu karena ukuran kelompok bandit yang cukup besar dan karena beberapa alasan aku telah diselamatkan, aku gampang mendapatkan uang." (Lior)

"... Bukankah ini koin emas putih?" (Mantan Bandit)
[TL Note: Arti harfiah dari kanjinya adalah emas putih tapi mungkin itu bisa menjadi platinum juga yak?]

"Apa yang kau katakan? Dengar, bukankah bagus ini sebuah koin emas? Apakah itu sudah cukup untuk kalian?” (Lior)


Pak tua ini mengatakan kebohongan ke sekitarnya dengan ekspresi terlihat jelas. Mungkin bisa dibilang bahwa aku akan dihadapkan pada orang-orang yang memiliki mata tajam ketika menyangkut uang, tetapi apa yang dia pikirkan? Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, porsi pak tua itu terlalu sedikit.

Gadis-gadis itu melihat ke dalam kantong itu tetapi aku menutup mulut mereka yang terkejut.


"Mengapa kau melakukan ini? Aku hampir tidak melakukan apa-apa?" (Mantan Bandit)

"Hmmm? Apakah kau akan merawat gadis-gadis itu? Jika itu yang terjadi, kau akan membutuhkan uang." (Lior)

"Apa katamu? Tapi tetap saja, aku menerima terlalu banyak." (Mantan Bandit)

“Jika itu dirimu, aku pikir itu berbeda, kan? Aku sendiri dapat mencari uang sebanyak yang aku suka sehingga kau tidak perlu khawatir tentang diriku. Aku tidak hanya sekali berurusan dengan para bandit, dan ada hutang kemarin di saat aku pingsan ..." (Lior)


... Dia putus asa.

Dia mengatakan kepadaku sembari tertawa bahwa sebelum dia pingsan, dia mencoba berburu monster untuk memakannya karena dia lapar tetapi monster lari dengan sekuat tenaga sehingga dia tidak bisa memburu mereka sama sekali.

Bagaimana aku harus mengatakan ini, apakah dia hidup seperti itu setiap hari? Aku melihat bahwa lima tahun perjuanganku lebih kecil dibandingkan dengan dirinya.


“Ngomong ngomong, jika kau tidak membebaskan para gadis dari perbudakan dan membiarkan mereka pergi, aku mungkin akan membunuhmu di tempat itu.” (Lior)


B-berbahaya! Apakah hidupku berisiko selama waktu itu? Aku senang aku tidak terlalu serakah.


“Hei, pembicaraan yang merepotkan itu berakhir di sini. Aku berencana untuk segera pergi setelah makan. Makan semua yang kau inginkan karena aku akan membayarnya.” (Lior)

"Apakah kau akan segera pergi?" (Mantan Bandit)

"Hmmm. Aku bepergian karena aku ingin menjadi kuat. Tidak ada orang yang lebih kuat di daerah ini dan aku berencana untuk mencari tempat lain." (Lior)

"Begitukah? Aku benar-benar berhutang budi kepadamu. Bagaimanapun, aku belum mendengar nama Jii-san. Bisakah kau memberitahunya padaku?" (Mantan Bandit)


Sebenarnya, aku menyadari tentang dirinya. Aku tidak bisa berpikir ada orang lain yang mengayunkan pedang besar dan benar-benar memotong bandit dengan kekuatan tak terukur seperti itu.

Dia adalah Lior, 'Pedang Terkuat'.

Orang tua ini tentu saja lelaki legendaris itu.


“Namaku Lio — tidak, bukan itu. Namaku adalah Ikkitousen. Untuk mengalahkan orang tertentu, aku hanya penantang biasa yang mencoba menjadi lebih kuat. " (Lior)
[TL Note: Ikkitousen juga bisa berarti 'seseorang yang setara dengan ribuan']


Demi semakin kuat, adakah seseorang yang lebih kuat dari pria legendaris ini !?

Tidak ... itu tidak masalah bagiku. Aku tidak berpikiran untuk menanyakannya dan karena dia ingin menyembunyikan namanya, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah mencocokkan ritmenya.


“Aku mengerti. Terima kasih banyak, Tousen-san. Aku benar-benar tidak akan melupakan kebaikan ini." (Mantan Bandit)

“Huhahaha, jangan pikirkan itu. Terlepas dari itu, bisakah kita makan? Oi, bawakan semua makanan di restoran ini!” (Lior)


Bahkan ketika dia memesan makanan sekali, aku pikir pria legendaris itu benar-benar luar biasa.

[TL Note: Saya nggak tau 'ordered' disini maksudnya kemana :v akhirnya saya sambung-sambungin ke makanan]



-



Pak tua itu memakan hidangan restoran dan dia akan membayarnya ...


"Totalnya menjadi tiga koin emas ..." (Pelayan?)

“Uangku tidak cukup! Pinjamkan kepadaku!" (Lior)

"... Nih." (Mantan Bandit)


Dan karena itu, aku sadar bahwa pria legendaris itu bodoh.



-



Extra


Lelaki itu tampaknya mengembalikan beberapa koin emas setelah itu karena itu adalah uang yang diperoleh Lior sebelumnya. 



[ Volume 8 Intermission 3 Selesai ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌
» Anda baru saja membaca: Novel World Teacher – Other World Style Education & Agent Intermission 3 Bahasa Indonesia

0 comments:

Post a Comment