Tuesday, 2 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 6

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 6


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 6 - Tujuan yang Dipilih


Di hutan dimana kabut menyelimuti pepohonan yang menjulang tinggi, dark-elf Ariane berjalan di depan dengan jubah abu-abunya yang berkibar tertiup angin, sementara di belakangnya, aku mengikutinya agar tidak tertinggal.

Saat ini jubah hitam yang menutupi armorku telah menjadi pakaian standar saat bepergian. Di atas pelindung kepalaku, Ponta menguap besar dengan matanya yang lelah ketika dia mencoba untuk tidak terjatuh.

Pagi ini, kami meninggalkan Desa Raratoia, kami berdua sekarang menuju Sungai Riburuto yang mengalir melewati hutan Canada.

Sebagai hasil dari diskusi semalam, diputuskan bahwa kami akan mencari wilayah para bangsawan yang namanya muncul di beberapa kontrak. Ada tiga nama yang muncul paling sering dalam kontrak, dan nama Ferris De Hoban adalah salah satu yang sangat dikenal Dylan.

Kota bernama Hoban diperintah oleh bangsawan itu, dan karena wilayah itu berada dalam Kerajaan Rhoden, telah diputuskan bahwa kami akan menuju ke sana terlebih dahulu.

Kota Hoban rupanya adalah salah satu kota di sepanjang jalan utama yang terhubung dengan mitra perdagangan resmi para elf di dalam kerajaan Rhoden, Rinburuto Archduchy.

Jarak kota itu cukup jauh dari Raratoia. Pertama-tama kami harus melewati desa elf Darutowa, yang berada di hilir Sungai Riburuto. Dari sana, setelah berjalan ke barat melalui sisi utara pegunungan Annette, dan melewati hutan yang luas setelah itu, pemberhentian pertama kami adalah kota manusia Cellist.

Meskipun dengan menggunakan peralatan sihir teleportasi untuk melakukan perjalanan dari Ratatoia menuju Darutowa bisa dalam waktu sekejap, kami memutuskan untuk tidak melakukannya karena kami tidak mengetahui bagaimana penduduk disana akan bereaksi terhadap seorang manusia yang mengetahui tentang rahasia itu.

Aku mungkin mengetahui sihir teleportasi para elf, dan terlebih bisa menggunakannya sendiri, tetapi di antara para elf, hanya sebagian kecil yang menyadari fakta itu, jadi masalah seperti itu tak terelakkan.

Selain dapat berteleportasi ke lokasi yang sudah pernah aku kunjungi sebelumnya menggunakan 【 Transfer Gate 】, ada juga 【 Dimensional Step 】 yang dapat digunakan untuk melakukan perjalanan jarak pendek ketika situasinya memungkinkan, jika ada seseuatu yang mengganggu, aku pikir itu akan menjadi masalah.

Namun, sekarang di tengah hutan dengan pepohonan yang lebat dan berkabut tanpa ada jalan, dua orang yang membawa tas di bahu mereka bersama dengan satu hewan terus berjalan tanpa berhenti. Meskipun dalam kasus Ponta, kau tidak bisa mengatakan bahwa ia benar-benar berjalan ...

Ada alasan mengapa 【 Dimensional Step 】 tidak bisa digunakan.

Tidak semua sihir bisa digunakan. Ariane mengatakan bahwa kabut yang ada didepan kami, yang menyelimuti kami, adalah penyebabnya.

Sangat mudah untuk kehilangan arahmu dalam kabut tebal ini. Tak jauh dari situ, pemandangan menjadi putih berkabut, sementara apa pun yang lewat tidak bisa terlihat di dalam kabut.

Dengan kabut yang menyelimuti hutan lebat dan lembah ini, aliran mana tampaknya menjadi terhambat, membuat sihir sulit dikendalikan, mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk menggunakan bahkan sihir yang terburuk sekalipun.

Namun, ini tampaknya menjadi masalah, terutama mempengaruhi manusia, karena sihir elf secara langsung dikendalikan oleh roh, monster dan binatang roh kebal terhadap efek kabut.

Sepertinya bertindak seperti partikel Minovsky ...
(TL Note: 'Minovsky' istilah yang ada di Gundam)

Menggunakan sihir dasar seperti menyalakan api biasa bukanlah masalah, jadi kabut ini mungkin hanya mempengaruhi jenis sihir yang sensitif.

Tak lama, aku mulai mendengar suara air mengalir dari balik tabir kabut. Entah bagaimana, kami mencapai tujuan pertama, Sungai Riburuto.

Ketika kami mendekati tepian sungai, lingkungan sekitar menjadi jelas. Berkat angin yang bertiup di sepanjang sungai, kabut di daerah ini jauh lebih tipis dibandingkan dengan di dalam hutan. Pemandangan dari hilir sungai sampai ke hulu dapat terlihat.

Namun, penglihatan yang jelas saja tidak menjadi sesuatu yang baik, karena kami melihat beberapa kelompok capung terbang di sekitar tepian sungai.

Capung-capung itu pasti merasa terancam oleh penyusup yang tiba-tiba muncul dari hutan. Dari rahang mereka, suara gesekan gigi 'gichigichi' terdengar dan disaat itu juga mereka terbang lurus menuju kami.

Dengan sayap besar transparan mereka yang lebar dan panjang tubuhnya sekitar dua meter, capung besar ini akan menjadi menakutkan bahkan jika kau tidak memiliki ketakutan terhadap serangga.


"Hati-hati, Arc!"

"Wo-Wow !?"


Ariane menarik Pedang Lion King dari sarung pedang di pinggangnya dengan cara yang terlatih, dan menghadapi capung yang mendekat. Rambut putih panjangnya yang indah melambai dengan cahaya keperakan setiap kali dia berlari, dengan sayap yang terputus dan tubuh yang terpotong capung-capung jatuh ke tanah di bawahnya.

Di sisi lain, aku secara naluriah menggunakan 【 Dimensional Step 】 untuk berteleportasi ke belakang salah satu capung yang telah meluncurkan serangan padaku. Untungnya, sungai dan tepiannya tidak terpengaruh oleh kabut, jadi aku dapat dengan aman berteleportasi ke belakang capung.

Karena mengambil jarak tetap setelah berteleportasi, aku bisa mengatur kembali postur tubuhku.

Sebenarnya aku tidak membenci serangga, tetapi di masa lalu, seekor kecoak terbang ke pakaianku, menempel di pakaianku; Trauma yang ku terima sejak saat itu menjadikan diriku memiliki perasaan tidak menyenangkan terhadap serangga secara refleks.

Aku langsung menarik pedang dari pinggangku dan memotong capung yang mendekat. Mata pedang dipenuhi dengan cahaya biru pucat saat aku mengayunkannya ke samping, membelah capung besar menjadi dua. Tubuhnya jatuh ke tanah, sementara sayapnya yang dipenuhi dengan vitalitas yang kuat mengepak dengan berisik di atas kerikil tepian sungai saat merayap. Sembari menghancurkannya dengan kakiku, aku mengayunkan pedangku pada sisa capung yang tersisa di udara.

Tak lama kemudian, capung-capung tersebut menilai bahwa mereka berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dan memencar di hulu, dengan dengungan sayap mereka yang berisik menghilang dari tempat itu.

Di tepian sungai, hanya terdengar suara air yang mengalir dan gemerisik dedaunan dari banyak pohon di sepanjang sungai, yang dihembuskan angin.

Setelah dengan hati-hati menyeka cairan tubuh serangga dari pedangnya dan menyarungkannya, dia berbalik untuk menghadapiku dan berteriak saat mendekat.


“Tampaknya sungai tidak terpengaruh oleh kabut. Jika seperti ini, kita bisa langsung melakukan perjalanan menuju hilir.”


Mengangguk menyetujui sarannya, dan setelah mengkonfirmasi bahwa Ariane memegang pundakku, aku memanggil 【 Dimensional Step 】 untuk berteleportasi menuju hilir Sungai Riburuto,

Ketika sinar matahari menyinari, kabut yang tadi menyelimuti hutan menghilang, pandangan disekeliling menjadi lebih baik.

Sekitar tengah hari, aku beristirahat sejenak dari menggunakan sihir teleportasi untuk berjalan menuju hilir sehingga kami dapat menikmati makan siang yang dibuat Glenys untuk kami berdua.

Segera setelah itu, sekitar saat matahari mulai menurun, sebuah pegunungan di sebelah kanan muncul di depan, tampak sangat besar. Bentuk gunung tampaknya cocok dengan yang aku dengar dengan sebutan Pegunungan Annette.

Di sisi timur pegunungan ada desa elf, Darutowa.

Penampilan luarnya kira-kira sama dengan tempat kelahiran Ariane, Raratoia, dengan hanya beberapa perbedaan. Perbedaan utamanya adalah adanya parit besar berisi air dari sungai terdekat yang mengelilingi dinding desa dan jembatan tarik yang terhubung ke pintu masuk. Jembatan itu diangkat untuk saat ini, mencegah siapa pun mendekati desa.

Ada sebuah alun-alun kecil di depan pintu masuk desa, tempat di mana beberapa bangunan berbentuk jamur serupa seperti yang terlihat di Raratoia.

Ariane tampaknya tidak terlalu peduli dengan pemandangan ini, dia kemudian berdiri depan jembatan gantung dan memanggil para elf yang ditempatkan di menara pengawas.


“Namaku Ariane Glenys Maple! Aku menuju kota manusia untuk sebuah misi! Aku ingin meminjam sebuah pondok untuk bermalam! ”


Setelah sapaannya, seorang pria di menara pengawas memberikan pandangan sekilas ke arah kami. Setelah berbicara tentang sesuatu kepada orang lain, pria itu menanggapi Ariane dari seberang parit.


"Selamat datang! Makan malam anda akan disiapkan di desa! Silakan gunakan pondok tamu yang anda sukai!


Setelah menerima jawaban itu, Ariane menunduk sebelum berbalik dan kembali ke sisiku.


“Malam ini, kita akan tinggal di pondok desa ini. Besok pagi, setelah kita berjalan melewati hutan di sebelah barat, kota Kerajaan Rhoden yang bernama Cellist akan terlihat.”

“Hrm, akhirnya. Kita sudah berjalan cukup jauh."

"Jujur saja, jika kau pergi ke sini dari Raratoia, biasanya butuh waktu empat hari dengan berjalan ..."


Sementara aku mengikuti di belakang Ariane ketika dia memilih sebuah pondok, aku bisa mendengar sedikit keheranan dalam suaranya.

Pondok berbentuk jamur yang dia pilih itu relatif lebih besar daripada yang lain, dengan pilar penopang tebal di tengah dan dapur dengan lantai batu di dalamnya yang juga memiliki perapian. Sebuah meja dan kursi untuk empat orang berada di sebelah kiri pilar, sementara di sebelah kanan di dekat jendela ada empat tempat tidur, tidak ada satu pun perabotan lain yang menonjol.

Ketika aku meletakkan tasku di dekat pilar dan duduk di tempat tidur, Ponta yang menempel di atas pelindung kepalaku turun, berjalan dengan perlahan saat dia memeriksa ruangan. Setelah Ponta mengangkat kakinya, dia memiringkan kepalanya dengan kebingungan saat dia menatap pada bekas-bekas jejak kaki yang dia tinggalkan.

Tampaknya pondok ini mungkin tidak dirawat atau dibersihkan secara teratur.

Aku membuka jendela sepenuhnya dan mengepakkan selimut di atas tempat tidur untuk membersihkan debu, menerbangkan mereka di udara. Mencoba mengusir udara yang berdebu, sihir Ponta menciptakan angin puyuh di dalam ruangan, tetapi itu hanya menyebabkan makin banyaknya debu yang menyelimuti ruangan.


“Uhuk, uhuk! … Karena aku harus bertemu dengan tetua Darutowa, untuk sementara waktu bisakah kau menangani debu-debu ini?”


Ariane menutup mulutnya dengan tangannya sembari melihat ke atas, menampilkan wajah yang memelas.


“Mhm. aku akan mengurusnya sehingga kita benar-benar bisa tidur di atas tempat tidur."


Dengan anggukan yang berlebihan, aku mengambil peran sebagai tukang bersih-bersih.

Setelah Ariane pergi, aku memasuki pondok sekali lagi. Aku menemukan sapu yang tergantung di samping perapian, dan mulai menggunakannya untuk menyapu lantai, membersihkan debu dari awal hingga akhir.

Begitu debu telah dibersihkan dari dalam pondok, aku mengambil sebuah ember kayu dan kain dari sudut ruangan di luar. Langit sudah diwarnai hampir merah, sementara hutan sudah berubah menjadi hitam pekat.

Aku mencoba mencari di sekitar pondok sebuah sumur tetapi aku tidak dapat menemukannya, jadi aku memutuskan untuk menggunakan air dari parit sebagai gantinya. Bahkan, ada tangga yang mengarah ke permukaan air, jadi aku mengambilnya dari sana.

Aku kembali menuju pondok dengan ember kayu, dan meremas lap yang dicelupkan ke dalam air. Pada saat aku selesai menyeka meja dan kursi, bagian dalam pondok telah berubah agak pas sebagai ruang santai yang bersih.


"Hrm, ya seperti ini ..."


Aku menyilangkan tanganku di dadaku setelah aku membuang air kotor dari ember kayu di luar pondok.

Setelah itu, jembatan gantung di depan gerbang Darutowa diturunkan saat Ariane berjalan kesini. Dia membawa panci tertutup dan apa yang tampak seperti keranjang kain di tangannya.


"Aku membawa makan malam."


Dia menyatakan itu sembari menunjukkan barang-barang yang dipegangnya, pipinya yang kemerahan disiram sedikit dengan semburat merah saat dia menunjukkan senyum dengan bibirnya yang seksi. Selanjutnya, rambut putihnya yang membawa jejak kelembaban berkibar tertiup angin, sementara aroma bunga yang samar melayang di atas angin sepoi-sepoi.


"Ka-kau habis mandi ya !?"


Menanggapi nadaku yang lebih keras dari biasanya, dia mengangguk lebar untuk menegaskannya.


“Bukankah kau juga sudah menggunakan yang ada di rumah orang tuaku di Raratoia? Manusia tampaknya tidak memiliki kebiasaan sering mandi ya.”

"Apa!? Ada pemandian di Raratoia… sungguh disesalkan… ”


Kata-kata Ariane yang mengejutkan membuatku tanpa malu-malu menunjukkan kepalaku yang menunduk, sementara dia memiringkan kepalanya ke satu sisi, menyaksikan pemandangan aneh itu dengan mata yang tajam.

Setelah datang ke dunia yang berbeda, aku belum pernah mandi yang sebenarnya. Namun, karena tubuh kerangka ini, aku tidak bisa sembarangan mengekspos diriku kepada orang lain.

Tanpa diduga ada pemandian di sebuah tempat tinggal di Raratoia… aku tidak memperhatikannya sama sekali.

Aku merasa seperti mengutuk diri sendiri karena kecerobohanku sendiri.


"... Apakah kau mungkin ingin mandi?"

"Mhm."

"... Apakah masuk akal mandi dengan tubuh kerangka seperti itu?"

"Sungguh tidak sopan! Aku suka kebersihan sejak saat aku memiliki tubuh manusia!"


Protesku dengan ringan disisihkan dengan "Ayo masuk ke dalam dan makan". Setelah mengeluarkan teriakan persetujuan, Ponta mengikuti Ariane kembali menuju pondok.

Kehilangan suara demokrasi, aku dengan enggan kembali menuju pondok.
(TL Note: Istilah kasarnya protesan si Arc di abaikan)

Ariane memegang panci tertutup berisi sup kacang dan bacon, sementara keranjang yang dibungkus berisi roti dan beberapa jenis buah merah di dalamnya.

Ketika dia menuangkan sup ke dalam mangkuk, aku mengamati ruangan itu sekali lagi, tetapi hal yang aku cari tidak muncul di hadapanku.


"... Pondok ini tidak memiliki pemandian."

“Yah mau bagaimana lagi. Awalnya, pondok ini dibangun bertujuan untuk tempat menginap manusia yang tersesat di sini.”


Menanggapi keluhanku, Ariane menjawab sembari memberi makan buah ke Ponta.

Lima puluh kilometer ke arah barat dari sini adalah kota Kerjaan Rhoden, Cellist, dilain sisi tiga puluh kilometer di sebelah selatan adalah Archduchy Rinburuto, jadi kemungkinan seorang manusia dikejar oleh monster dan tersesat sangat tinggi. Karena keadaan itu, pondok ini dibangun hanya untuk para manusia yang tinggal sementara.

Akibatnya, pondok ini hanya memiliki fasilitas minimum yang tertinggal; bahkan tidak ada lampu kristal seperti yang ada di rumah para elf di sini.

Hanya sebuah lampu minyak, yang bertindak sebagai sumber penerangan, yang berada di meja, menghasilkan sumber cahaya yang tidak dapat diandalkan.

─Jika aku tetap tinggal di Raratoia, saat ini aku bisa mandi…

Sementara rasa asin dari sup bacon dan kacang memasuki mulutku, tujuan baru perjalanan ini terukir dalam pikiranku.


[ Volume 2 Chapter 6 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌



» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 6

0 comments:

Post a Comment