Saturday, 17 November 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12

  Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12




Udah lama nggak update, hampir setengah bulan yak, yah  mau gimana lagi, sibuk euy.
Garapin skripsi beberapa orang, kan mayan tambah-tambah selagi nganggur  😂


Translator : Sai Kuze

Chapter 12 - Mengunjungi Hoban [Bagian 1]


Keesokan harinya, aku menggunakan 【 Transfer Gate 】 untuk berteleportasi dari Raratoia menuju save point di pohon besar yang aku buat kemarin.

Setelah itu, tidak ada masalah dan kami berhasil mencapai Hoban sebelum tengah hari.

Bahkan, tidak terlalu jauh dari lokasi bekas penyerangan yang aku temui kemarin.

Kota Hoban terletak di dataran luas antara gunung Annette di sebelah utara dan gunung Parnassus di selatan. Di masing-masing kaki gunung, timur dan baratnya terdapat hutan belantara.

Hoban berada di tengah-tengah dataran dan dikelilingi oleh dinding luar berbentuk persegi.

Hujan deras kemarin sudah berhenti dan matahari sore bersinar terang di atas kota, menyebabkan dinding batu memancarkan pantulan yang memukau.

Ponta duduk di kepalaku sementara Ariane yang menyamar dan aku berjalan di jalanan yang membelah sawah menuju Hoban. Ketika jarak antara kami dan kota secara berangsur-angsur berkurang, aku mulai menyadari ada atmosfer yang serius yang menutupi area itu.

Dinding kota tingginya sekitar lima belas meter dan dikelilingi oleh parit besar. Sebuah menara gerbang ditempatkan di kedua sisi parit dan penjaga mengamati semua orang yang masuk dan keluar melalui gerbang.

Di depan gerbang, sepasang penjaga dengan cepat memeriksa barang-barang orang sebelum ada yang diizinkan menyeberang jembatan parit. Berkat pemeriksaan, ada antrean panjang orang-orang yang berdiri di dekat sana dengan barang bawaan mereka, menunggu untuk memasuki kota.

Gerbang utara tidak terlalu besar, mungkin dua gerbong kereta kuda bisa melewatinya secara bersamaan. Karena jalan utama Hoban arahnya dari timur ke barat, mungkin gerbang itu lebih besar dari yang ini.

Tetapi gerbang timur dan barat pasti ramai juga karena kereta kuda sesekali akan melewati dari salah satu arah tersebut.

Tepat sebelum kami sampai di gerbang, seorang penjaga berjalan menuju kereta dan merobek jubah seseorang untuk melihat wajah orang itu dengan baik. Situasinya sangat mengerikan sehingga bahkan petualangan harus mengalah dan diperiksa satu demi satu.

Pemeriksaan ini lebih terasa seperti mereka mencari seseorang daripada mencari sebuah benda sederhana.

Bagaimanapun, tidak mungkin bagi kami untuk menyelinap ke kota di bawah pengawasan yang begitu ketat.

Aku melihat kembali Ariane dan jubah abu-abu yang dia kenakan untuk menyembunyikan fakta dirinya seorang dark-elf.

Meskipun perjanjian dengan Kerajaan Rhoden seharusnya melarang penangkapan dan penjualan elf, itu tidak berarti perjanjian itu ditegakkan dengan benar.

Dari apa yang aku pelajari, dark-elf akan dihargai lebih tinggi daripada elf biasa, dan potensi pembelinya ada di mana saja.

Dan di sini adalah wilayah dimana seseorang bernama Ferris De Hoban tertulis di kontrak penjualan elf. Feudal lord yang disebut Hoban, yang mengabaikan hukum nasional, jelas akan mencoba membeli elf yang terjajakan di kotanya.

Ada juga fakta diriku hanyalah skeleton di balik armor ini. Aku juga tidak bisa mengalah dan melepas pelindung kepalaku untuk pemeriksaan penjaga.


"Sepertinya tidak mungkin bagi kita untuk memasuki kota melalui gerbang."

"Ya."


Dari balik jubah abu-abunya, mata emas Ariane terfokus pada kota saat dia mengangguk.

Namun, kami tidak bisa pergi begitu saja tanpa mendapatkan informasi tentang elf yang telah dijual di sini, jadi kami tidak punya pilihan selain mengelilingi kota dan menemukan tempat untuk menyelinap masuk.

Jalan di sepanjang sisi parit ini memiliki lalu lintas pejalan kaki yang lebih besar, dan sepertinya tidak mungkin kami berteleportasi ke bagian atas dinding luar dari sini. Kami mungkin harus menunggu sampai senja dan memanfaatkan kegelapan malam untuk menyelinap tanpa terlihat.

Bersama dengan Ariane dan Ponta, kami berjalan di sepanjang dinding timur Hoban untuk mencari tempat dengan lebih sedikit penjaga.

Aku pikir kota ini cukup besar.

Tak lama kami tiba di gerbang timur, yang lebih dari dua kali ukuran gerbang utara.

Tak perlu dikatakan jembatan di depan gerbang dipenuhi dengan kereta kuda dan banyak orang.

Mungkin karena jumlah penjaga yang melakukan inspeksi, sepertinya lebih sedikit penjaga yang berjaga di atas dinding.

Akan lebih mudah untuk berteleportasi melalui gerbang saat ini dan memasuki kota, tetapi ada terlalu banyak orang yang menunggu pemeriksaan yang akan melihat kami.

Lekas bergerak bersama Ariane, kami menyelinap ke sisi selatan kota.

Gerbang selatan tidak terlalu besar dan sepertinya hanya digunakan oleh para petani untuk datang dan pergi ke lahan pertanian terdekat.

Sejumlah kecil lalu lintas pejalan kaki hanya terdiri dari para petani yang kelelahan dan bermata kosong.

Ketika aku berjalan di sepanjang jalan, semua petani Hoban yang tampak kelelahan melihatku dan memandangku dengan ketakutan atau mencoba menghindari kontak mata secara langsung.

Mereka tidak menunjukkan reaksi ketika mereka melihat Ariane, jadi mungkin pelindung kepala adalah masalahnya.

Armor yang mewah ditutupi oleh jubah hitamku, tapi pelindung kepalanya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.

Namun, penghindaran kontak mata mereka agak mudah untuk situasi kami saat ini.


“Ariane-dono, aku bisa berteleportasi ke dalam dari sini. Pegangan."

"Baik."


Saat mengkonfirmasi tidak ada yang memperhatikan, aku berlutut dan berbicara dengan Ariane. Dia menanggapiku sembari meletakkan tangannya di bahuku.


"【 Dimensional Step 】"


Saat mantera diaktifkan, pemandangan berubah dan sekarang kami berdiri di atas salah satu dinding kota, lalu aku menurunkan pandanganku untuk melihat sekeliling.

Karena kita tidak bisa tetap di dinding selamanya, aku segera mencari tempat yang cocok di dalam Hoban untuk berteleportasi.

Aku menemukan lokasi dekat beberapa rumah kumuh di sekitar gerbang selatan, mungkin tidak ada yang terlalu kaya tinggal di sekitar sana. Menggunakan 【 Dimensional Step 】 sekali lagi, aku menteleportasikan kami ke belakang salah satu rumah.


“Kita akhirnya berhasil memasuki Hoban ……”


Aku bergumam begitu aku melihat kembali dinding kota dari belakang rumah.


"Pertama, kita harus menemukan pria bernama Ferris De Hoban dan pembelinya."


Mengenakan jubah abu-abunya, Ariane menyatakan tujuan kami sembari mengamati sekitar.


"Karena namanya adalah Hoban, dia mungkin menjadi bagian dari keluarga feudal lord... untuk saat ini, mari kita mencari istana feudal lord."


Jika kami hanya bertanya tentang penangkapan elf ilegal di kota ini, aku ragu kami akan menemukan petunjuk yang berguna.

Akan lebih cepat untuk hanya memeriksa feudal lord dan rombongannya.

Karena kami mencoba menemukan kastil feudal lord, kami memutuskan untuk pergi ke pusat kota Hoban.

Dengan berpikir seperti itu, kami berangkat meninggalkan distrik kumuh ini. Jalanan dipagari dengan bangunan-bangunan kayu dengan kondisi rusak yang serupa dan ada sedikit sekali tanda kehidupan.

Ketika orang-orang di daerah ini melihat kami, mereka akan menunjukan ekspresi kaku sebelum lari. Penduduk di sini sedikit yang hampir terasa seperti kota hantu.

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, semua orang bereaksi dengan cara yang sama setiap kali mereka melihat pelindung kepala kesatriaku. Apakah kesateria Hoban suka membuat keributan di sini?

Aku memikirkan hal-hal seperti itu ketika kami berjalan dan setelah beberapa saat, kami tiba di tempat yang lebih hidup. Ada pertokoan di sepanjang jalan, dengan pembeli dan penjual yang sedang melakukan transaksi perdagangan. Orang-orang yang datang dan pergi beserta kereta kuda yang berlalu lalang menjadikan suasana di sekitar sini sangat hidup.

Namun, orang-orang dengan mata berbahaya kadang-kadang terlihat dan penjaga ditempatkan di mana-mana, menciptakan suasana yang agak tidak bersahabat.

Inspeksi di gerbang dan atmosfir aneh membuatku berpikir sesuatu pasti terjadi di kota ini.


“Suasananya agak serius ……”

"Jumlah penjaga pusat kota yang banyak membuat sulit untuk bergerak."


Ariane mengawasi kerumunan sementara kami berbicara dan berjalan di jalanan. Beberapa menit kemudian aku bisa melihat dinding kastil di dekat pusat kota.

Itu mungkin kastil feudal lord. Dindingnya hampir setinggi dinding kota dan mencegah kami melihat kastil itu sendiri. Ada parit yang digali di depan diding, membuatnya sulit untuk didekati.

Tatapanku mengarah ke jembatan bascule dan jumlah penjaga yang terlalu banyak mengintimidasi orang-orang di daerah itu. Tidak ada seorang pun di jembatan itu, dan para penjaga memberi kesan bagi siapa pun yang dengan sembrono mendekatinya akan mendapat bentakan kasar para penjaga.
(TL Note: Jembatan 'bascule', jembatan yang bisa diangkat kedua sisinya, biasanya buat lewat kapal)

Memasuki dari depan tidak mungkin, jadi aku mulai mencari titik penyusupan di sepanjang dinding saat kami berjalan di sekitar.

Namun, penjaga ditempatkan secara berkala di sepanjang parit dan bahkan di atas dinding.

Jalan di samping parit juga memiliki banyak lalu lintas pejalan kaki, membuat teleportasi ke lokasi terpencil cukup sulit.

Kami bisa mencoba berteleportasi pada malam hari dan terlindungi kegelapan malam, tetapi tidak akan ada banyak lokasi teleportasi jika cahaya bulan terlalu bersinar malam ini.

Aku hanya bisa berdoa agar cuacanya tidak seperti kemarin──

Lalu aku melihat ke langit.

Matahari terhalang oleh beberapa awan, tetapi masih ada cukup cahaya untuk dipantulkan air parit. Lega karena ketakutanku sia-sia, sebuah teriakan marah tiba-tiba menarik perhatianku.

Melihat ke arah teriakan, aku melihat sepasang penjaga memukuli seorang bocah laki-laki. Ada banyak orang yang menyaksikan, tetapi tidak ada yang melangkah untuk mengakhiri pemandangan yang tidak menyenangkan itu.


“Lihat kemana kau berjalan! Dasar berengsek!!”

“Bocah tengik sepertimu seharusnya tidak ada di sini! Kau merusak pemandangan!!”


Para penjaga mulai melontarkan hinaan yang kejam sembari menendang bocah yang meringkuk di tanah.

Anak laki-laki itu memiliki rambut hitam acak-acakan dan mengenakan pakaian kotor. Umur anak itu sekitar 13 atau 14 tahun. Darah mulai mengalir dari luka yang disebabkan oleh tendangan, namun bocah itu hanya melotot ke arah para penjaga. Tatapannya yang memberontak hanya membuat para penjaga lebih marah.


“Ada apa dengan tatapanmu itu! Sudah miskin, kurang aja pula.”


Aku tidak tahan melihat pemandangan yang tidak nyaman ini lagi.

Ketika salah seorang penjaga hendak menendang anak itu lagi, aku berbicara.


“Bisakah kalian menghentikannya sekarang juga? Sudah cukup untuk anak itu."

“Siapa yang mengatakan itu ?! Siapa yang berani menginterup---- !?”


Salah satu penjaga berbalik ke arah kerumunan untuk berteriak, tetapi perkataannya tiba-tiba berhenti.

Ketika para penjaga melihat sosok berjubah hitamku dengan sedikit armor perak yang terbuka saat aku menghunus Holy Thunder Sword, wajah mereka memucat.

Karena aku berpikir Ponta akan mengurangi penampilanku yang bermartabat, Ponta yang tidak bahagia telah ditinggalkan di dada Ariane


“…… Sudah cukup, kan?”


Setelah aku menghadapi penjaga dan menanyakan pertanyaan yang sama dengan nada yang lebih rendah, para penjaga dengan kaku berdiri dengan patuh dan memberi hormat sementara kepala mereka diturunkan hingga membentuk sudut 90°.


"Ya! Maaf sudah menyebabkan masalah! Kami akan undur diri!”


Para penjaga mengangkat kepala mereka sebelum mereka buru-buru meninggalkan tempat di mana bocah itu berada.

Efek dari armor itu lebih besar dari yang aku kira. Lagipula, tidak mungkin seorang ksatria biasa atau petualang akan mengenakan armor mewah seperti ini. Itu mungkin memberi kesan seorang ksatria kelas tinggi.

Armor ini tampaknya mempengaruhi orang-orang di sekitarnya juga, karena mereka dengan cepat pergi mengurusin urusan mereka dan segera kerumunan mulai menghilang.


"Jika kau terluka, aku bisa menyembuhkanmu dengan sihirku?"


Anak laki-laki itu terlihat ketakutan dengan armorku ketika aku mengajukan pertanyaan ini, namun dia entah bagaimana berhasil masuk ke posisi duduk dan menatapku ketika dia menjawab.


“Apa yang anda inginkan sebagai balasan ……”


Sembari menahan perutnya yang telah berulang kali ditendang para penjaga, bocah itu mencoba untuk berdiri tetapi tiba-tiba jatuh berlutut dengan meringis.


“Aku bukan bawahan feudal lord. Karena aku bisa menggunakan sihir penyembuhan, bukankah kau ingin lukamu hilang dalam sekejap mata?”


Menutupi armor dengan jubahku kembali, aku berlutut dan bertanya lagi, yang menyebabkan ekspresi bocah itu berubah.


"Sihir ...... penyembuhan ...... Jika anda menggunakan itu ...... bisakah luka separah ini disembuhkan?"

"Ya, luka seperti itu bisa disembuhkan."


Bahkan orang mati dapat dihidupkan kembali ketika aku menggunakan sihir, sehingga luka yang bahkan paling parah pun bisa disembuhkan. Membangkitkan terlalu banyak orang merupakan hal tabu, tetapi menyembuhkan anak yang terluka dengan sihir seharusnya baik-baik saja.

Ketika aku mengangguk pada pertanyaan anak itu, aku melihat secercah harapan memasuki matanya.

Apakah itu berarti ada orang lain yang bocah itu inginkan untuk disembuhkan?


“Aku akan menjual informasi pada anda …… untuk sihir penyembuhan. Maukah anda menyembuhkan adik perempuanku juga !?”

"Hmm, pada dasarnya aku tidak mengharapkan imbalan apa pun, apakah itu benar-benar perlu?"

"Aku akan membayar berapa pun harganya ... Aku tidak meminta dikasihani."


Meskipun dia menjadi sedikit keras kepala, di usianya itu bisa dilihat sebagai kebanggaan.

Baginya, itu hal yang wajar dirinya akan menawarkan sesuatu yang bernilai sama untuk memenuhi permintaannya.


"Kau mengatakan bahwa kau akan menjual informasi ...... Informasi apa yang kau tawarkan?"

“…… Jalan-jalan pinggiran, jalan rahasia ……”


Bibir bocah itu secara tidak sengaja melonggar saat dia mulai menuliskan apa yang bisa dia tawarkan.


"Hah? ...... Kau tidak akan tahu jalan rahasia menuju kastil feudal lord, kan?”


Ketika bocah itu mendengar pertanyaan itu, matanya terbuka lebar ketika dia dengan cepat melirik orang-orang yang tersisa di daerah itu. Dengan suara tenang, dia kemudian bertanya:


"...... Kenapa anda menanyakan itu?"


Anak laki-laki itu menatapku dengan ragu untuk sesaat.

Setelah menerima perlakuan seperti itu dari tangan penjaga feudal lord, tidak ada kemungkinan dia akan membocorkan percakapan kami kepada mereka.


“Aku mencari sesuatu di kastil ……”


Aku membiarkan kata-kataku melayang di ujungnya karena aku tidak ingin memberi petunjuk kepada anak itu tentang tujuan kami yang sebenarnya. Kerutan terbentuk di dahi anak itu ketika dia memikirkannya, tetapi dia mengangkat kepalanya begitu dia menemukan jawabannya.


“Baiklah …… Aku akan memberitahu anda jalan rahasia menuju kastil feudal lord. Namun, anda harus menyembuhkan adikku dulu.”

"Aku mengerti. Aku akan menerima informasi itu sebagai pembayaran untuk menyembuhkan adikmu dengan sihirku.”


Ketika rasa sakit itu akhirnya mulai kehilangan kendali atas bocah itu, dia berdiri dengan wajah meringis dan mulai berjalan di jalanan dengan sedikit sempoyongan pada langkahnya.


[ Volume 2 Chapter 12 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌

» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12

1 comments:

Post a Comment