Saturday, 2 February 2019

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 17

Translator : Sai Kuze

Chapter 17 - Ibukota Olav [Bagian 2]


Ada topi besar di kepalanya dan matanya menatap langsung ke arahku. Dia memiliki rambut hitam pendek dan mengenakan pakaian hitam yang sepertinya memudahkannya untuk bergerak.

Meskipun tingginya hanya sekitar 150 cm, sarung tangan di lengannya, pelindung kakinya dan belati di pinggangnya tidak memberikan kesan seorang gadis kota.


Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 17


Mata gadis itu tertuju pada Ponta sejenak sebelum menatapku kembali.

Aku mengingat mata biru tanpa emosi di suatu tempat.


“Hmm …… Aku rasa aku pernah menemuimu di suatu tempat tapi ……”

“…… Sepertinya semuanya berjalan bagus di Diento."


Gadis itu mempertahankan kontak matanya denganku ketika dia berbicara dengan suara yang monoton. Sosok ninja bertelinga kucing di markas penculik melintas di benakku.


"Oh, gadis ninja waktu itu."


Alisnya berkedut menanggapi responsku yang spontan.


"Ninja ...... jadi waktu itu aku tidak salah dengar ya."


Dia mengangkat lehernya sejauh yang dia bisa untuk menatapku saat sembari menggumamkan sesuatu.


“Aku ingin berbicara denganmu …… apakah kau keberatan meluangkan waktu untukku?


Ketika aku mengangguk pada pertanyaannya, dia menatapku dengan ekspresi serius sebelum dengan perlahan mendesakku menuju gang yang tidak terlalu ramai, membuat diriku patuh mengikutinya.

Dia mengamati sekeliling dan mulai berbicara setelah sedikit tenang.


“Maafkan aku karena terlambat untuk memperkenalkan diri. Namaku Chiome. Aku adalah anggota dari Blade Heart Clan, salah satu dari enam klan shinobi.”


Meskipun dia memberitahu namanya yang seperti bergaya Jepang──


"Klan Jin Shin?"


Aku secara tidak sengaja mengucapkan nama yang tidak aku kenal.


"'Jin' yang berarti 'Blade' dan 'Shin' berarti 'Heart', dan jika digabungkan artinya menjadi 'Mereka yang bertahan'."


Mau tak mau aku menyadari karakter dalam nama klannya membentuk kanji yang berarti 'Shinobi'.

Sementara aku berada di tengah-tengah pemikiran itu, mata biru jernih Chiome balas menatapku rupanya mendesakku untuk melakukan perkenalan.

Menanggapi desakannya, aku memperkenalkan diriku.


“Aku Arc sang petualang. Aku melakukannya hanya hanya untuk berkeliaran saja."

"Jadi begitu ya ...... Kalau begitu, Arc-dono, mengapa anda menyebutku ninja?


Aku balas menatap Chiome dengan telapak tangan yang berkeringat ketika aku mencoba mencari jawaban yang cocok untuk pertanyaannya.

Dia sepertinya tahu tentang keberadaan ninja tetapi kata itu sepertinya membawa arti yang berbeda baginya.


"Hmm, di negara asalku kami menyebut mereka yang berpakaian sepertimu dan melakukan operasi rahasia sebagai 'Ninja'."


Aku memperhatikan reaksinya terhadap jawabanku.

Chiome memejamkan mata dan mengangguk memahami jawabanku.


"Jadi begitu ...... Sebutan 'Ninja' secara rahasia telah diturunkan melalui klan kami selama beberapa generasi. Arc-dono bahkan mengetahuinya berarti anda pasti berasal dari negara yang sama dengan pemimpin klan generasi pertama.”


Ternyata, hanya Blade Heart Clan yang tahu kata 'Ninja'. Karena catatan itu hanya disimpan oleh satu klan, maka tidak perlu ragu lagi pasti seseorang yang mengajarkannya kepada mereka berasal dari dunia yang sama denganku ……

Pemimpin klan yang dia bicarakan pasti orang Jepang sepertiku, atau seseorang dari bumi yang tahu tentang ninja.

Meskipun dia telah memanggilnya pemimpin klan generasi pertama──


“Bisakah kau …… memberitahuku saat ini sudah generasi keberapa?”

“…… Menghitung dari generasi pemimpin klan pertama saat ini berada di generasi ke-22."


Aku menundukkan kepalaku atas jawaban Chiome.

Meskipun aku mengharapkan waktu berlalu, tidak mungkin pemimpin klan generasi pertama masih hidup setelah dua puluh satu generasi.

Bahkan dengan mengingat hal itu, aku tetap bertanya padanya.


"Mungkinkah pemimpin klan generasi pertama sudah tiada?"

"Benar sekali. Pemimpin pertama muncul 600 tahun yang lalu dan memimpin ras manusia kucing yang dianiaya membentuk klan baru. Klan itu nantinya akan dikenal sebagai Blade Heart Clan.”

"Hmm, jadi apakah itu yang ingin kau bicarakan?"


Menurut Dylan, anggota ras beastman diburu secara terang-terangan untuk dijadikan budak.

Sangatlah berisiko baginya untuk berbicara di tengah-tengah kota manusia, terutama karena dia berbicara tentang sejarah klannya di ibukota negara ini.


"Ada pekerjaan yang membutuhkan bantuan Arc-dono."


Sementara aku mempertanyakan maksudnya, Chiome memberikan jawaban yang berani untuk pertanyaanku.

Memikirkan tindakannya di Diento dan situasi saat ini, mudah untuk menebak keadaannya berada di kota ini dan pekerjaan yang dia sebutkan akan melibatkan penyusupan yang berisiko tinggi.


"Chiome-dono, apakah kau meminta manusia untuk membantumu dalam 'Pekerjaan' ini?"


Dia hanya menawariku anggukan bisu dan menatapku dengan mata biru tuanya.

Dia mungkin menginginkan bantuan untuk menyelamatkan bangsanya— yaitu, membebaskan Penduduk Dataran dan Pegunungan yang dijadikan budak.

Namun, karena manusia adalah orang-orang yang memperbudak mereka, aku malah penasaran mengapa dia meminta bantuan dariku.

Dia jelas memiliki agendanya sendiri, dan karena aku menawarkan dukunganku kepada Ariane dan para elf, aku tidak bisa menjawab dengan sembarangan.


“Saat ini aku bekerja sama dengan para elf. Itu bertentangan dengan keyakinanku untuk bekerja dengan orang lain di belakang mereka.


Setelah berpikir sebentar, dia mulai berbicara.


“Aku ingin berbicara dengan para elf yang sedang bekerja bersamamu. Arc-dono, jika anda menawarkan dukunganmu untuk tugas ini, aku akan menawarkanmu informasi yang anda cari sebagai hadiahnya.”


Meskipun hanya ada beberapa intonasi dalam suaranya, kata-katanya membawa sedikit tekanan di dalamnya.


"I-Informasi ……?"

"Anda mencari informasi tentang nama-nama yang tertulis di kontrak penjualan ...... bernakan?"


Kami saling menatap mata.


"Bagaimana kau bisa menebak itu ... kau pasti tahu dua dari tiga orang telah ditemukan."

"Begitukah ...... maka yang tersisa hanya Drusus De Barishimon."


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa sebagai respons ketika sudut mulutnya terangkat sedikit.

Lebih dari sekadar mengetahui isi kontrak, dia bahkan tahu tentang orang-orang yang disebutkan dan mampu menyimpulkan yang aku tidak dapat temukan tentang mereka.


"...... Bisakah aku mempercayaimu bahwa kau mengetahui keberadaan dan identitas orang itu──"

"Ya. Aku mengetahuinya."


Seperti yang kau harapkan dari seorang ninja.

Sementara kami tentu saja membutuhkan informasi itu, memperolehnya berarti membantu dalam pembebasan budak.

Aku tidak punya keraguan untuk bekerja sama dengannya, tetapi ada risiko aku terlalu menonjol selama operasi ini.

Jika tindakanku sampai saat ini terekspos publik, aku akan menjadi orang yang dicari dan akan sulit untuk bertualang.

Namun, ketika aku mengatakan bahwa dua orang dari kontrak telah ditemukan dia menyebut Barishimon tanpa ragu-ragu.

Dia pasti melakukannya karena dia percaya bahwa orang itu akan menjadi orang yang paling sulit ditemukan.

Bahkan jika aku dapat menemukan informasi tentang Barishimon melalui pencarian acakku di kota, berita tentang upayaku dapat menjangkau orang tersebut dan membuatnya makin dalam bersembunyi.

Dylan mengatakan gadis ini dan sejenisnya merupakan keturunan mata-mata. Itu berarti informasi mereka lebih baik daripada informasi yang telah kami dapatkan.

Untuk saat ini, aku harus kembali dan mendiskusikan ini dengan Ariane ……


"Aku perlu berkonsultasi dengan rekanku sebelum aku bisa memberikanmu jawaban."

"Kalau begitu, tolong izinkan aku menemanimu Arc-dono. aku ingin berbicara dengan rekanmu secara langsung."


Aku pikir aku bisa melihat sifat kekanak-kanakan dari mata birunya.

Seharusnya tidak ada masalah dengan memperkenalkan ninja ini kepada Ariane─── Kuharap sih begitu.

Meskipun aku masih ragu, kami harus bisa mengatasi masalah apa pun yang muncul.


"Aku mengerti. Baiklah, ikuti aku Chiome-domo."


Chiome dan aku kembali ke jalan utama dan kami menjauh dari dinding gerbang ketiga dengan langkah cepat. Meskipun bertubuh kecil, dia bisa mengikutiku.

Ponta tertidur di atas kepalaku pasti dia lelah setelah mendengar pembicaraanku dengan Chiome. Dalam perjalanan kembali ke penginapan, aku sesekali harus menahannya di tempatnya karena sesekali dia hampir terjatuh.

Ketika kami kembali, aku mengundang Chiome menuju kamarku di lantai tiga.

Dia duduk di satu-satunya kursi di ruangan itu, sementara aku duduk di tempat tidur.

Ponta terlihat benar-benar terjaga sekarang ketika dia memeriksa kelembutan di tempat tidur dengan cakar depannya.

Keheningan aneh segera menyelimuti ruangan itu.

Ninja Chiome dengan gelisah menatap Ponta karena suatu alasan.


"Chiome-dono, toiletnya ada di lantai satu."

"Bukan itu masalahnya!"


Meskipun aku hanya bermaksud untuk memecahkan kebekuan, dia menjadi sedikit memerah ketika dia menyuarakan penolakannya.

Bahkan jika itu hanya untuk sesaat, dia terlihat seperti seorang gadis muda.

Aku mengambil kantong kulit kecil dari tasku dan menyerahkan kepadanya.

Chiome mungkin juga mengerti maksudnya, mengingat betapa mudahnya melihat kebingungannya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dia membuka kantong dan melihat reaksi Ponta.

Ketika dia melanjutkan pandangan gelisahnya, aku mengambil kesempatan untuk memperkenalkan dirinya.


“Meskipun agak terlambat, fluffy fox ini adalah Ponta. Berry yang kau pegang itu merupakan makanan favoritnya.”


Ketika Chiome mendengarku mengatakan itu, dia menatap tajam ke arah Ponta saat dia perlahan mulai mengayunkan tangan penuh buah beri ke arah Ponta dengan mulut ternganga.

Ponta berdiri ketika dia melihat buah kering datang ke arahnya.

Chiome sepertinya tidak terbiasa duduk di kursi, tetapi dia akhirnya berhasil sedikit condong ke depan.

Ketika Chiome dengan takut-takut mendekatkan buah beri ditangannya, Ponta mulai mengibas-ngibaskan ekornya dengan gembira.

Ketika Ponta mulai menggigiti buah beri dengan sangat senang, Chiome menyipitkan matanya dan tersenyum tipis.


"Aku kagum Arc-dono berhasil menjinakkan binatang roh......"


Chiome membelai bulu Ponta sembari menggumamkan itu.


"Dia bertingkat seperti itu dengan semua orang ......"


Aku mencoba menjawab dengan tawa pahit, tetapi Chiome menggelengkan kepalanya.


“Tidak, binatang roh dapat mendeteksi niat jahat di dalam diri seseorang. Alasanku bisa merasa nyaman berada di tengah-tengah kota manusia bersamamu adalah karena kepercayaan mutlak yang dimiliki binatang roh ini padamu Arc-dono.”


Mendengar kata-katanya, aku menatap kembali Ponta─── dan malah melihatnya meminta lebih banyak buah beri.

Jika gadis ini mempercayaiku, maka kepercayaannya itu sepenuhnya bergantung pada Ponta.

Memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu terlalu lama, aku mengajukan pertanyaan lain kepadanya.


"Kurasa dia adalah alasanmu membantuku menyelamatkan para elf ketika kita pertama kali bertemu?"

Ketika kami pertama kali bertemu, dia tahu bahwa aku bukan salah satu dari penculik itu secara langsung.

Tidak akan aneh jika dia berasumsi bahwa diriku adalah seorang ksatria normal yang bekerja sama dengan para penculik.

Chiome menatap lurus ke mataku ketika dia mendengar pertanyaanku.


“Rasku, para elf, dan bahkan manusia memiliki aroma masing-masing. Aku mencium jejak tipis elf darimu ketika kita bertemu. Tapi── ”


Dia ragu-ragu sejenak ketika dia memikirkan pilihan kata-katanya sebelum berbicara lagi.


“Arc-dono, ada aroma unik yang datang darimu. Aroma yang belum pernah aku temui sebelumnya .......”


Mata Chiome menyipit ketika dia menatapku, seolah-olah dia mencoba melihat di balik pelindung helmku.

Fakta bahwa aku hanyalah kerangka mungkin menjadi sumber aroma khasku.

Sesuatu di matanya sepertinya menyarankan bahwa dia telah mendapatkan apa yang dia cari, tetapi itu bisa saja hanya imajinasiku───

Setelah itu, kami duduk diam sampai kami mendengar ketukan di pintu.



[ Volume 2 Chapter 17 SELESAI ]




Like Fanspage Facebook kami supaya tidak ketinggalan update!!
😌
» Anda baru saja membaca: Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 17

0 comments:

Post a Comment